Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.
Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Namun dada Su Yuhan sama sekali tidak memberikan respons kehidupan.
Rombongan medis itu masuk ke dalam ruang ICU yang hanya berjarak belasan meter dari tempat Jiang Chen bersembunyi.
Pintu kaca otomatis ruang ICU langsung tertutup rapat, namun Jiang Chen masih bisa melihat kekacauan di dalamnya.
"Apa yang terjadi padanya? Bukankah dia jatuh di atap dengan aman?" batin Jiang Chen bingung.
Tubuhnya tanpa sadar melangkah keluar dari balik pilar dan mendekati dinding kaca ruang ICU.
Di dalam ruangan, para dokter terlihat semakin panik.
"Tekanan darah terus menurun! Detak jantung nol!" teriak salah satu perawat.
"Siapkan defibrilator sekarang! Pengisian daya dua ratus joule!" perintah dokter kepala yang baru saja tiba.
Alat kejut jantung itu ditempelkan ke dada Su Yuhan.
Bzzzt.
Tubuh ramping Su Yuhan tersentak ke atas akibat sengatan listrik bertegangan tinggi tersebut.
Tit.
Namun garis di monitor detak jantung tetap lurus tanpa ada gelombang sama sekali.
"Naikkan menjadi dua ratus lima puluh joule! Cepat!" teriak dokter kepala dengan keringat dingin mengucur di dahinya.
Bzzzt.
Tubuh wanita itu kembali tersentak, namun hasilnya tetap nihil.
"Kita kehilangan dia, organ jantungnya sudah menolak untuk berdetak," ucap dokter kepala dengan suara gemetar.
Di luar ruangan, Jiang Chen menempelkan kedua telapak tangannya di kaca ruang ICU.
"Dia benar-benar mati?" gumam Jiang Chen tidak percaya.
Usahanya mempertaruhkan nyawa dan kehilangan pekerjaan besok pagi ternyata menjadi sia-sia.
Wanita itu akhirnya tetap mati meskipun tidak melompat dari gedung.
Tiba-tiba, rasa panas yang luar biasa menjalar di kedua bola mata Jiang Chen.
Sret.
Pandangannya menembus dinding kaca ruangan dan langsung tertuju pada dada Su Yuhan.
Dalam sekejap, Jiang Chen tidak lagi melihat pakaian atau kulit wanita itu.
Dia melihat struktur pembuluh darah, otot jantung, dan jaringan saraf yang tergambar jelas layaknya anatomi tiga dimensi.
"Apa-apaan ini? Kenapa mataku bisa melihat isi tubuhnya?" batin Jiang Chen dengan penuh kepanikan.
Matanya menangkap sebuah gumpalan energi berwarna hitam pekat yang menyumbat aliran darah utama menuju jantung Su Yuhan.
Teks kuno berwarna keemasan tiba-tiba muncul dan melayang di udara tepat di depan pandangan Jiang Chen.
"Sumbatan Qi Kematian, menutup gerbang meridian jantung."
"Penyelesaian, buka titik akupunktur Shenmen dan Juque secara bersamaan dengan tekanan kuat."
Jiang Chen membaca teks kuno tersebut tanpa sadar.
Otaknya secara otomatis mencerna informasi itu seolah dia telah mempelajari ilmu medis kuno tersebut selama puluhan tahun.
"Dia tidak mengalami serangan jantung biasa, ada energi asing yang mencekik jantungnya dari dalam," gumam Jiang Chen pelan.
Ilmu medis modern yang mengandalkan alat kejut listrik tidak akan pernah bisa menghilangkan sumbatan energi kuno tersebut.
Jika dibiarkan selama tiga menit lagi, otak Su Yuhan akan mengalami kematian permanen.
"Sialan, kenapa hal merepotkan seperti ini harus terus menimpaku," gerutu Jiang Chen.
Dia tahu bahwa mencampuri urusan medis di rumah sakit mewah ini bisa membuatnya berakhir di penjara.
Tapi dia juga tidak bisa membiarkan wanita yang sudah susah payah dia selamatkan mati begitu saja di depan matanya.
"Persetan dengan tagihan rumah sakit dan penjara, aku tidak akan membiarkan kerja kerasku sia-sia."
Jiang Chen memutar gagang pintu ruang ICU dan mendorongnya dengan kasar.
Brak.
Suara pintu yang terbuka lebar membuat seluruh dokter dan perawat di dalam ruangan langsung menoleh.
"Waktu kematian dicatat pada pukul, tunggu, siapa kau?!" teriak dokter kepala yang baru saja akan mengumumkan kematian Su Yuhan.
"Keluar dari ruangan ini sekarang juga! Ini area steril khusus staf medis!" bentak perawat wanita yang tadi melakukan CPR.
Jiang Chen sama sekali tidak mempedulikan teriakan mereka.
Matanya hanya terfokus pada titik akupunktur di dada wanita yang terbaring kaku di atas tempat tidur itu.
Dia melangkah maju dengan cepat, mengabaikan tatapan marah dari seluruh orang di ruangan tersebut.
"Minggir, kalian semua hanya membuang-buang waktu dengan alat setrum mainan itu," ucap Jiang Chen dingin.
"Apa kau sudah gila? Panggil pihak keamanan sekarang juga!" perintah dokter kepala dengan wajah merah padam.
Dua orang perawat pria langsung melangkah maju untuk menangkap Jiang Chen.
Namun gerakan Jiang Chen jauh lebih cepat dari yang bisa mereka bayangkan.
Dia menyelinap di antara kedua perawat itu dengan gerakan yang sangat licin layaknya seekor belut.
Dalam hitungan detik, Jiang Chen sudah berdiri tepat di samping ranjang Su Yuhan.
"Hei, hentikan! Jangan berani menyentuh pasien VIP kami!" teriak dokter kepala sambil mencoba menarik kerah baju Jiang Chen.
Jiang Chen menepis tangan dokter itu dengan santai namun bertenaga.
Tepisannya yang terlihat ringan membuat tubuh dokter kepala itu terhuyung mundur hingga menabrak meja peralatan medis.
Prang.
Nampan besi dan berbagai alat medis jatuh berserakan di lantai, menciptakan suara bising yang memekakkan telinga.
Suasana ruang gawat darurat itu seketika berubah menjadi sangat kacau.
Jiang Chen menarik napas panjang, memusatkan seluruh konsentrasinya pada ilmu baru di kepalanya.
Dia menyatukan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.
Ada sebuah sensasi hangat yang aneh mengalir dari pusarnya, merambat naik ke lengan, dan berkumpul tepat di ujung jari-jarinya.
"Semoga perpustakaan kuno di kepalaku ini bukan sekadar halusinasi orang miskin yang kelaparan," batin Jiang Chen.
Dia tidak menggunakan jarum akupunktur sama sekali.
Dengan kecepatan kilat, Jiang Chen menusukkan dua jarinya tepat ke titik meridian Juque di bagian bawah dada Su Yuhan.
Bruk.
Tekanan yang sangat keras membuat tubuh Su Yuhan sedikit terangkat dari kasur.
"Kau baru saja membunuhnya, dasar psikopat!" teriak perawat wanita itu histeris melihat tindakan brutal Jiang Chen.
Jiang Chen tidak mempedulikan teriakan itu.
Jarinya kembali bergerak menyentuh titik meridian Shenmen di area pergelangan tangan wanita itu secara bersamaan.
Energi hangat yang berkumpul di jarinya langsung ditembakkan masuk ke dalam tubuh Su Yuhan.
Aliran energi murni itu bekerja layaknya sebuah bor listrik bertenaga tinggi yang menghantam dinding es.
Gumpalan energi hitam yang menyumbat jantung wanita itu langsung hancur berkeping-keping dalam sekejap mata.
Aliran darah yang sempat terhenti kini kembali membanjiri ruang jantung Su Yuhan.
Tit. Tit. Tit.
Layar monitor yang sebelumnya hanya menampilkan garis lurus kini perlahan kembali memunculkan gelombang hijau.
Suara detak jantung yang pelan namun stabil menggema di ruangan yang tiba-tiba menjadi sangat sunyi itu.
Dokter kepala yang baru saja bangkit dari lantai langsung mematung di tempatnya.
Mulutnya terbuka lebar hingga lalat bisa masuk ke dalamnya.
"Tunggu, itu tidak mungkin, garisnya kembali bergerak?" gumam dokter kepala itu dengan suara bergetar tak percaya.
Seluruh staf medis di ruangan itu menatap layar monitor seolah sedang melihat mukjizat yang turun dari langit.
Pasien yang secara klinis sudah dinyatakan meninggal beberapa detik lalu kini kembali memiliki detak jantung.
Jiang Chen menarik napas lega sambil menyeka keringat dingin di dahinya.
"Syukurlah, ternyata ilmu kuno ini benar-benar berfungsi dengan baik," batin Jiang Chen.
Namun tiba-tiba, kelopak mata Su Yuhan bergetar pelan dan perlahan terbuka.
Mata wanita yang masih terlihat sayu itu langsung menatap lurus ke arah Jiang Chen.
Posisi Jiang Chen saat ini benar-benar sangat canggung.
Tubuhnya mencondong ke depan, dengan satu tangan masih menekan dada wanita itu dan tangan lainnya memegang pergelangan tangannya.
Su Yuhan menatap tangan Jiang Chen yang berada di dadanya, lalu kembali menatap wajah Jiang Chen.
Suasana sunyi di ruangan itu seketika berubah menjadi sangat canggung dan menegangkan.