Ini adalah cerita tentang seorang Putra Suci dari aliran lurus yang dikhianati gurunya sendiri. Tubuhnya dihancurkan dan tulangnya dicabut satu per satu sebelum ia dibuang hidup-hidup ke dasar Kegelapan.
Namun, ia tidak memilih mati.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mencabut tulang fananya yang rapuh dan menggantinya dengan tulang para musuh yang telah ia bunuh.
Setiap tulang menjadi sumber kekuatan baru. Setiap rasa sakit membawanya selangkah lebih dekat pada jalan kultivasi yang menentang kehendak langit.
Di sisinya berdiri seorang iblis wanita yang menguasai Seni Darah. Dengan sihir terlarang itu, ia menyatukan kembali tubuh sang Putra Suci yang telah hancur dari dalam.
Bersama, mereka menapaki jalan berdarah menuju Surga Sembilan Lapis.
Ia tidak kembali untuk menuntut keadilan.
Ia kembali untuk mencabut tulang punggung para dewa dan menjadikannya singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Kehancuran Lembah Obat Abadi
Di tengah es yang mencair dan genangan darah, Ketua Sekte Xuan Ji terbaring tak berdaya. Separuh tubuhnya masih membeku. Napasnya tersengal dan darah terus mengalir dari sudut bibirnya.
Mo Xie berdiri tepat di hadapannya.
Cakar obsidian Lengan Harimau Kegelapan berlumuran darah. Setelah menerima aliran Qi gabungan dari Ling'er, kekuatan di dalam tubuhnya telah jauh lebih stabil. Luka-lukanya juga mulai pulih.
“Tidak ada dewa dari Surga Sembilan Lapis yang akan datang menyelamatkanmu malam ini, Xuan Ji.”
Suara Mo Xie terdengar tenang.
Xuan Ji menatapnya dengan mata penuh ketakutan.
“Ampuni... jiwaku...”
Ia tidak lagi memohon agar nyawanya diselamatkan.
Yang ia inginkan hanyalah mempertahankan Inti Jiwa agar masih memiliki kesempatan untuk bereinkarnasi.
Mo Xie membungkuk dan menatap wajahnya.
“Tempo hari aku sudah mengatakan hal yang sama kepada Tetua Kota Awan Jatuh.”
Ia mendekat.
“Di bawah tahtaku, bahkan jiwa seorang Jiwa Baru Lahir tidak berhak bereinkarnasi.”
Cakar obsidian terangkat.
Krak!
Lima bilah cakar menancap tepat ke tengkuk Xuan Ji.
Mo Xie menghentakkan kaki kanannya ke tanah.
“Hukum Penghancur Gunung.”
Tekanan berat seketika menindih tubuh Xuan Ji.
Cakar Mo Xie mencengkeram tulang tengkuknya lalu menarik dengan paksa.
Kraak!
Tulang leher Xuan Ji tercabut bersama sebagian tulang bahunya.
Darah keemasan menyembur ke udara.
Tubuh sang Ketua Sekte terkulai dan Inti Jiwanya hancur bersama tubuh yang selama ini menjadi wadahnya.
Mo Xie mengangkat tulang yang masih berlumuran darah itu.
Aura Yang murni mengalir dari dalamnya.
Tatapannya kemudian beralih kepada bahu kirinya. Bahu tersebut masih ditopang tulang fana.
Sudah waktunya menggantinya.
Mo Xie mencengkeram bahunya sendiri dengan Lengan Kera Iblis.
Krak!
Tulang fana di dalamnya langsung remuk.
Ia mencabut pecahannya tanpa ragu, lalu menancapkan tulang Xuan Ji ke dalam luka yang terbuka.
Kali ini prosesnya jauh lebih mudah.
Darah gabungan Ling'er mengalir melalui meridiannya dan segera menyelimuti tulang baru tersebut. Qi Yang yang terkandung di dalam tulang Xuan Ji menyatu dengan kekuatan Mo Xie tanpa sedikit pun perlawanan.
Daging dan urat mulai tumbuh kembali, kemudian Mo Xie menggerakkan bahu kirinya.
Tulang tersebut telah menyatu sempurna. Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi kelemahan pada bahu kirinya.
Di belakangnya, Xue Ling'er masih melayang di atas permukaan es.
Rambut merah darahnya berkibar perlahan. Tatapannya tertuju pada mayat mantan gurunya.
Tidak ada kebencian. Tidak ada penyesalan.
Dendam yang telah membelenggunya selama puluhan tahun akhirnya lunas.
Namun satu hal masih tersisa.
Lembah Obat Abadi.
“Kau berjanji kepadaku.” Suara Ling'er terdengar lembut. “Bahwa lembah ini tidak hanya akan hancur.”
Ia menatap bangunan sekte yang berdiri.
“Kau berjanji akan menenggelamkannya dalam darah.”
Mo Xie berbalik menatapnya. “Dunia ini milikmu, Ling'er.”
Ia mengangkat tangannya. “Mulailah.”
Senyum tipis muncul di wajah Ling'er. Ia merentangkan kedua tangannya.
Darah merah keemasan mengalir dari telapak tangannya.
Begitu menyentuh tanah, darah itu berubah menjadi ribuan akar yang merayap ke segala penjuru.
Akar-akar tersebut menembus seluruh Lembah Obat Abadi.
Mereka melewati Taman Obat Surgawi, Paviliun Alkimia, kediaman para murid, hingga menembus Penjara Ekstraksi yang tersembunyi jauh di bawah tanah.
Dalam sekejap, seluruh lembah berubah menjadi kehancuran.
Herbal yang telah tumbuh selama ratusan tahun mulai layu.
Ginseng Roh, Teratai Salju, dan berbagai tanaman langka kehilangan Qi spiritualnya. Dalam hitungan napas, semuanya mengering lalu berubah menjadi abu.
Para murid yang berada di dalam paviliun terbangun dalam kepanikan.
Mereka mencoba melarikan diri, tetapi akar darah telah menyebar ke seluruh penjuru.
Qi di dalam tubuh mereka tersedot keluar. Satu demi satu tubuh mereka melemah.
Jeritan menggema di seluruh lembah.
Namun ketika akar darah mencapai Penjara Ekstraksi, kekejaman itu berhenti.
Di tempat itulah Ling'er menemukan mereka.
Para kultivator yang selama bertahun-tahun disiksa oleh Lembah Obat Abadi.
Mereka telah kehilangan hampir seluruh harapan untuk hidup.
Ling'er tidak membiarkan akar darahnya melukai mereka.
Akar-akar itu menembus tubuh para tahanan dengan lembut dan menyerap sisa Qi Yin serta penderitaan yang telah mereka tanggung selama bertahun-tahun.
Tidak ada rasa sakit.
Tidak ada jeritan.
Satu demi satu, mereka mengembuskan napas terakhir dengan tenang.
Untuk pertama kalinya, mereka terbebas dari kutukan yang diciptakan Lembah Obat Abadi.
Sementara itu, seluruh Qi, darah, dan esensi kehidupan dari lembah terus mengalir menuju pusat kawah.
Semuanya masuk ke dalam tubuh Ling'er.
Aura Ratu Teratai Darah semakin dalam.
Zirah darahnya bersinar merah keemasan, sementara rambut merahnya berkibar di tengah aliran energi yang semakin dahsyat.
Dalam waktu kurang dari sebatang dupa, perubahan telah menyelimuti seluruh Lembah Obat Abadi.
Taman yang dahulu dipenuhi tanaman spiritual kini berubah menjadi tanah tandus.
Paviliun-paviliun giok runtuh satu demi satu.
Pohon-pohon mengering. Burung-burung menghilang dari langit.
Jeritan yang sebelumnya memenuhi lembah perlahan mereda. Kemudian semuanya menjadi sunyi.
Hujan abu mulai turun dari langit. Lembah Obat Abadi telah berubah menjadi tanah mati.
Sekte yang telah berdiri selama berabad-abad di Surga Sembilan Lapis akhirnya lenyap hanya dalam satu malam.
Mo Xie berjalan melewati reruntuhan.
Ia mengumpulkan mayat kelima Tetua Inti Emas Puncak dan membawanya ke tengah kawah. Mayat Xuan Ji diletakkan paling atas.
Setelah itu, tatapannya tertuju pada sebuah bendera sutra yang masih berdiri di antara reruntuhan.
Lambang awan emas terukir di permukaannya.
Lambang Istana Dao Surgawi.
Mo Xie melompat ke udara dan merobek bendera tersebut dari tiangnya.
Ia kemudian berjalan menuju tumpukan mayat.
Dengan langkah tenang, Mo Xie menaiki tumpukan tersebut dan menancapkan tiang bendera yang patah menembus rongga leher Xuan Ji.
Bendera Istana Dao Surgawi yang telah terkoyak berkibar di atas tumpukan mayat.
Mo Xie berdiri di bawahnya. Ini bukan sekadar kemenangan. Ini adalah tantangan.
Ia menatap langit yang gelap.
“Leluhur Transformasi Ilahi.” Suaranya terdengar dingin. “Ini baru permulaan.”
Ling'er melayang mendekat dan mendarat di hadapannya.
Hujan abu jatuh di atas rambut merah darahnya.
Mo Xie turun dari tahta mayat tersebut. Ia mengangkat tangan kanannya dan menyentuh pipi Ling'er.
Tangannya dingin.
Namun Ling'er justru memejamkan mata dan menyandarkan wajahnya pada telapak itu.
“Kau memberikan nyawamu untukku malam ini,” kata Mo Xie.
Ling'er membuka matanya, dan ia tersenyum lembut.
“Sumpah kita telah terikat oleh darah dan tulang, Mo Xie.”
Tatapannya menembus mata Mo Xie.
“Jika langit runtuh besok, aku akan memungut pecahannya dan menjadikannya pijakanmu.”
Mo Xie menariknya mendekat.
Di tengah kawah yang telah berubah menjadi lautan abu, keduanya berdiri berdampingan.
Beberapa saat kemudian, Mo Xie melepaskan Ling'er dan menatap ufuk timur.
Cahaya fajar mulai muncul di balik pegunungan.
“Biarkan para dewa Istana Dao Surgawi meratap malam ini.”
Ia mulai berjalan meninggalkan kawah.
“Urusan di sini sudah selesai.”