Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.
Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.
Rania menolak.
Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.
Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.
Sistem ingin Rania mengikuti takdir.
Rania justru memilih menolaknya.
Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12— Perbatasan Malam
Bab 12— Perbatasan Malam
Perjalanan menuju perbatasan Arkapura ditempuh dalam kegelapan yang hanya diterangi obor yang dibawa dua pengawal Mukti.
Rania duduk di belakang Mukti dalam satu kuda, tangannya berpegangan erat pada pelana sementara angin malam yang dingin menampar wajahnya. Pikirannya masih dipenuhi kata-kata terakhir dari kertas yang terbakar sebagian itu Arkapura, sebelum terlambat.
"Berapa lama lagi?" tanya Rania, suaranya nyaris tenggelam oleh derap kuda.
"Sebentar lagi," jawab Mukti. "Tapi begitu sampai perbatasan, kita nggak bisa langsung masuk. Ada pos penjagaan."
Benar saja, tidak lama kemudian mereka melihat cahaya obor lain di kejauhan—sebuah gerbang kayu besar dengan beberapa prajurit berseragam biru gelap berdiri berjaga, lambang Arkapura tersemat jelas di dada mereka.
Rombongan kecil itu berhenti beberapa meter dari gerbang. Salah satu prajurit maju dengan tombak siaga.
"Berhenti. Siapa kalian, dan apa keperluan kalian malam-malam begini?"
Mukti turun dari kuda, berusaha terlihat setenang mungkin meski jelas gugup. "Aku Pangeran Mukti Samudera dari Wanunggalih. Ini Putri Wening Sasikirana. Kami butuh bertemu Raden Ji Aryasatya, ini menyangkut keadaan darurat."
Prajurit itu menatap mereka curiga, jelas tidak terbiasa dengan kunjungan mendadak tengah malam dari kerajaan tetangga yang hubungannya masih tegang.
"Tunggu di sini," katanya akhirnya, memberi isyarat pada rekannya untuk berlari masuk menyampaikan pesan.
Menit-menit berikutnya terasa seperti berjam-jam. Rania meremas ujung kainnya, gelisah, sesekali melirik ke arah gerbang berharap ada tanda-tanda pergerakan.
"Kalau dia nggak mau nemuin kita?" bisik Rania pelan pada Mukti.
"Maka kita coba jalan lain," jawab Mukti, meski nada suaranya sendiri tidak terlalu yakin.
Akhirnya, suara derap kuda terdengar dari dalam gerbang. Beberapa prajurit membuka gerbang kayu itu, dan sesosok yang sudah dikenali Rania muncul dari baliknya—Aryasatya, masih mengenakan pakaian hitam sederhana meski malam sudah larut, wajahnya datar seperti biasa, namun matanya tajam menyapu mereka berdua.
"Putri Wening," katanya, suaranya tenang seperti biasa. "Aku tidak menyangka kunjungan berikutnya akan seperti ini."
"Raden," Rania melangkah maju, mencoba mengabaikan detak jantungnya yang tiba-tiba tidak karuan. "Maaf mengganggu malam-malam. Tapi ini penting."
Aryasatya menatap Mukti sejenak, sesuatu yang dingin berkelebat di matanya sebelum kembali datar. "Pangeran Mukti. Jarang sekali kalian berkunjung bersama."
"Ini bukan kunjungan biasa," Mukti menjawab tegas. "Kami mengejar seseorang yang kami yakin melarikan diri ke arah sini."
Alis Aryasatya sedikit terangkat. "Siapa?"
"Nyonya Ratih," jawab Rania cepat. "Sepupu Permaisuri Wanunggalih. Kami punya bukti kuat dia terlibat dalam percobaan pembunuhanku, dan mungkin juga terkait kasus lama—penggelapan muatan kapal dagang yang hilang bertahun-tahun lalu."
Sesuatu berubah di wajah Aryasatya. Halus, nyaris tak terlihat, tapi Rania sudah cukup mengenalnya untuk menangkap perubahan itu.
"Ikut aku," kata Aryasatya akhirnya, berbalik menuju gerbang. "Kita bicara di dalam."
***
Ruang kerja sementara Aryasatya di dekat perbatasan sederhana namun rapi—peta-peta wilayah tergantung di dinding, sebuah meja kayu besar dipenuhi dokumen yang tersusun teratur. Aryasatya duduk di baliknya, sementara Rania dan Mukti duduk di kursi seberang.
"Ceritakan semuanya," kata Aryasatya, nada suaranya tidak lagi seringan basa-basi di pasar.
Rania mengeluarkan kertas surat yang setengah terbakar dan sisa abu yang ia kantongi dari kediaman Nyonya Ratih, meletakkannya di atas meja.
"Kami menemukan ini di kamarnya. Dia kabur, dan kami yakin arahnya ke sini, mungkin menuju pelabuhan terdekat."
Aryasatya mengambil kertas itu, membacanya dengan teliti, matanya berhenti lama di bagian yang menyebut Arkapura.
"Ini bukan pertama kalinya nama itu muncul terkait kasus ini," gumam Aryasatya, lebih pada dirinya sendiri.
Rania mengerutkan kening. "Maksud Raden?"
Aryasatya menatap mereka berdua, lalu menghela napas panjang—gestur yang jarang sekali Rania lihat darinya.
"Aku sudah menyelidiki kasus kapal hilang itu sejak dua tahun lalu," katanya akhirnya. "Bukan atas nama Wanunggalih atau Arkapura. Tapi atas namaku sendiri."
"Kenapa?" tanya Mukti, suaranya menajam curiga.
Aryasatya menatapnya lurus. "Karena salah satu awak kapal yang hilang malam itu adalah sepupuku. Ibunya orang Wanunggalih, menikah dengan pamanku dari Arkapura. Dia ikut kapal itu untuk urusan dagang keluarga."
Rania membeku. Informasi itu sama sekali tidak pernah muncul dalam semua yang ia ketahui sejauh ini.
"Kau nggak pernah bilang soal ini," kata Rania pelan.
"Karena aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya," jawab Aryasatya datar. "Termasuk kalian berdua, sampai beberapa menit lalu."
Mukti menyipitkan mata. "Kalau begitu, reputasimu sebagai... yang dikenal sebagai sosok yang menakutkan di pasar dan di antara rakyat, itu juga bagian dari penyamaran?"
Untuk pertama kalinya, sesuatu yang mirip senyum tipis muncul di sudut bibir Aryasatya—getir, bukan geli.
"Lebih mudah menyelidiki diam-diam kalau orang-orang terlalu takut untuk bertanya macam-macam," jawabnya. "Reputasi itu... tidak sepenuhnya aku ciptakan sendiri. Tapi aku tidak pernah repot-repot meluruskannya."
Rania menatapnya lama, potongan-potongan gambar besar mulai tersambung di kepalanya. Kecurigaan Aryasatya terhadapnya bukan karena niat jahat. Sikap protektifnya yang aneh—"jangan sentuh dia dulu"—bukan karena dia mengincar sesuatu darinya, tapi karena dia sendiri sedang berusaha memecahkan misteri yang sama, dari sisi yang berbeda.
"Jadi," Rania berkata pelan, "sejak awal, kita berdua sebenarnya nyari hal yang sama."
Aryasatya menatapnya, untuk sesaat matanya kehilangan sedikit ketenangannya yang biasa. "Sepertinya begitu."
Mukti berdeham, memecah momen itu dengan nada yang sedikit terlalu tegas. "Kalau begitu, Raden, bisa bantu kami cari Nyonya Ratih sebelum dia kabur lewat pelabuhan?"
Aryasatya mengangguk, kembali ke nada tegasnya yang biasa. "Aku sudah punya orang yang mengawasi jalur pelabuhan sejak dua tahun lalu, untuk alasan yang sama sepertimu. Kalau Nyonya Ratih memang menuju ke sana, kita akan tahu dalam hitungan jam."
Ia berdiri, memanggil salah satu pengawalnya yang menunggu di luar pintu. Beberapa perintah singkat diberikan dalam bahasa yang lebih formal, sebelum pengawal itu bergegas pergi menjalankan tugas.
"Sementara menunggu kabar," kata Aryasatya, kembali duduk, "ada baiknya kalian ceritakan semua yang kalian temukan di Cilangkap. Aku ingin dengar versi lengkapnya."
Rania dan Mukti bergantian menceritakan pertemuan mereka dengan Ki Sura, kisah tentang kapal yang hilang karena badai bukan karena kesalahan desa, bukti cincin keluarga Ratih, dan motif tersembunyi soal kebakaran yang merenggut keluarga Nyonya Ratih dua tahun sebelum insiden kapal.
Aryasatya mendengarkan dengan seksama, sesekali mengetukkan jarinya di meja—gestur yang sama seperti yang dilakukannya di dalam kereta beberapa hari lalu, saat menyusun teori tentang Rania untuk pertama kalinya.
Setelah semua cerita selesai, ruangan itu hening cukup lama.
"Kebakaran itu bukan kecelakaan," kata Aryasatya akhirnya, suaranya pelan namun pasti.
Rania menatapnya tajam. "Kau tahu sesuatu soal itu?"
"Aku menyelidikinya juga, secara tidak sengaja, saat mencari informasi soal kapal hilang." Aryasatya menatap ke luar jendela, ke arah kegelapan malam yang menyelimuti perbatasan. "Gudang yang terbakar itu menyimpan catatan-catatan lama milik keluarga Ratih—termasuk bukti transaksi mencurigakan yang melibatkan pejabat istana Wanunggalih."
"Pejabat siapa?" tanya Mukti cepat.
Aryasatya menatapnya lama, seolah mempertimbangkan apakah informasi berikutnya aman untuk diucapkan di ruangan ini.
"Aku belum yakin sepenuhnya," katanya akhirnya. "Tapi namanya muncul berkali-kali dalam catatan yang berhasil kuselamatkan sebelum benar-benar hancur."
"Siapa?" desak Rania.
Sebelum Aryasatya sempat menjawab, pintu ruangan terbuka mendadak. Pengawal yang tadi diutus kembali dengan napas terengah, wajahnya pucat.
"Paduka. Kami menemukan sesuatu di pelabuhan."
"Nyonya Ratih?" tanya Aryasatya cepat.
Pengawal itu menggeleng. "Bukan, Paduka. Kami menemukan kapal kecil yang baru saja berangkat sebelum kami tiba. Menurut penjaga pelabuhan, penumpangnya seorang wanita paruh baya, ditemani seorang pria berpakaian resmi istana."
Rania merasakan jantungnya berhenti sejenak. "Pria berpakaian resmi istana? Istana Wanunggalih?"
Pengawal itu mengangguk. "Penjaga pelabuhan sempat melihat lambang di jubahnya. Lambang keluarga kerajaan."
Rania menoleh cepat ke arah Mukti, pikiran mengerikan mulai terbentuk di kepalanya.
Mukti balas menatapnya, wajahnya sama pucatnya.
"Itu bukan aku," katanya cepat, seolah membaca tuduhan tak terucap di mata Rania. "Aku semalaman bersamamu."
Rania tahu itu benar—tapi rasa lega yang seharusnya muncul justru digantikan ketakutan baru yang lebih besar.
Kalau bukan Mukti, siapa lagi di istana yang punya akses ke jubah resmi kerajaan, dan cukup dekat dengan Nyonya Ratih untuk membantunya kabur di saat-saat terakhir?
Aryasatya berdiri cepat, wajahnya kini benar-benar serius tanpa sisa ketenangan biasanya.
"Kita belum bisa mengejar kapal itu malam ini," katanya. "Tapi kita bisa mulai mencari tahu siapa pria itu."
Ia menatap Rania lurus-lurus, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ada sesuatu yang terasa seperti kekhawatiran tulus di matanya.
"Wening," katanya pelan, "mulai sekarang, kau tidak boleh percaya pada siapa pun di istana sampai kita tahu siapa orang dalam yang membantu Nyonya Ratih."
Rania menatapnya balik, merasakan dingin yang menjalar di tengkuknya.
Termasuk kau? ingin ia bertanya. Tapi entah kenapa, pertanyaan itu terasa tidak perlu diucapkan. Untuk pertama kalinya sejak sampai di dunia ini, Rania merasa yakin bahwa orang di depannya bukanlah ancaman yang harus ia waspadai.
Ancaman sesungguhnya, ternyata, mungkin jauh lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.