NovelToon NovelToon
Takhta Kaisar Langit

Takhta Kaisar Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.

Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.

Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Penjaga reruntuhan

Langkah kaki Ye Chan teredam oleh debu setebal satu inci yang melapisi lantai ruang inti. Begitu ia melintasi ambang pintu batu yang baru saja terbuka, hawa dingin yang menusuk tulang langsung menyambut.

Ruangan ini luas, berbentuk oktagon dengan pilar-pilar batu hitam yang tertanam kokoh di setiap sudut, menyangga langit-langit yang tak terlihat ujungnya dalam kegelapan.

Di tengah ruangan, sebuah sosok berdiri mematung. Penjaga itu tampak seperti tumpukan batu yang dipahat kasar menjadi bentuk manusia, namun urat-urat logam berwarna biru tembaga menjalar di sela-sela bebatuan tersebut. Ia tidak bernapas. Ia tidak bergerak.

Ye Chan mendekat, langkahnya hati-hati, memastikan tumpuan kakinya berada di atas lempengan batu yang aman.

Begitu jaraknya mencapai tiga depa dari pusat ruangan, garis-garis formasi di lantai yang tadinya redup mendadak berpendar terang dengan cahaya biru elektrik.

Suara gesekan batu yang berat bergema ke seluruh penjuru ruangan.

Penjaga itu membuka matanya. Tidak ada bola mata, hanya celah kosong yang menyala dengan intensitas yang sama seperti garis lantai. Tanpa aba-aba, sosok itu menerjang.

Ye Chan merasakan ancaman bahkan sebelum tubuh batu itu bergerak. Ia melompat ke samping, memutar tubuhnya tepat saat sebuah pukulan telak menghantam tempat ia berdiri tadi.

Debu beterbangan. Lantai batu yang tebal itu retak membentuk jaring laba-laba, dengan lubang menganga di tengahnya.

'Cepat sekali,' pikir Ye Chan, detak jantungnya berpacu liar.

Belum sempat ia memulihkan keseimbangan, Penjaga sudah melancarkan serangan susulan. Ye Chan mencabut pedang besinya, menangkis pukulan yang datang menghujam dari atas.

Denting logam beradu dengan batu keras menghasilkan percikan api yang menyilaukan.

Lengan Ye Chan mati rasa.

Hentakan itu begitu kuat hingga ia terdorong mundur lima langkah, tumitnya terseret di atas lantai.

Ia menatap pedang besinya. Hanya ada goresan tipis di permukaan batu Penjaga, sementara pedang itu sendiri sudah menunjukkan tanda-tanda retak.

'Serangan langsung tidak akan berhasil. Tubuhnya terlalu keras dan tenaga Qi-nya jauh di atasku.'

Ye Chan mengatur napasnya yang mulai pendek. Ia tidak mencoba melawan balik secara membabi buta. Ia justru mulai mengamati gerak-gerik sang Penjaga.

Setiap kali sosok itu melangkah, kakinya selalu mengikuti jalur garis biru yang terukir di lantai. Tidak ada improvisasi. Tidak ada gerakan tambahan.

Ia adalah mesin, diprogram untuk menjaga.

Ye Chan mulai memancing Penjaga itu menjauh dari tengah ruangan. Ia berlari kecil, memancing serangan demi serangan, sengaja membiarkan Penjaga itu membentur pilar-pilar batu.

Setiap kali Penjaga itu melintas di atas jalur formasi tertentu, Ye Chan memperhatikan bagaimana cahayanya meredup sejenak.

'Jadi, itu titik lemahnya,' batin Ye Chan.

Ia memutar arah.

Tiga pilar di sisi kiri ruangan ternyata menjadi penghubung aliran energi utama. Jika ia bisa memutus aliran itu, gerakan Penjaga pasti akan tersendat.

Penjaga kembali menerjang.

Kali ini, Ye Chan tidak menghindar ke belakang. Ia justru meluncur masuk ke bawah lengan raksasa yang mencoba mengayun.

 Ia menerima luka sayatan di bahu akibat gesekan sudut tajam siku Penjaga, namun ia berhasil sampai ke posisi pilar penghubung.

Tanpa membuang kesempatan, ia mengalirkan seluruh sisa Qi-nya ke ujung pedang dan menebas tepat di atas garis formasi yang tertanam di kaki pilar.

Suara jeritan energi yang tertahan memenuhi ruangan.

Gerakan Penjaga mendadak melambat, kaku seperti engsel berkarat. Ini kesempatan yang ia tunggu. Ye Chan memusatkan fokusnya pada dada Penjaga, tempat pendaran cahaya paling terang berada.

'Itu inti energinya.'

Ia melompat, menahan rasa sakit di meridiannya yang mulai meronta karena pemaksaan penggunaan Qi.

Penjaga mencoba membalas dengan pukulan lurus, namun Ye Chan justru memanfaatkan momentum tersebut. Ia bergeser ke samping, membiarkan tinju batu itu menghantam pilar hingga hancur berkeping-keping.

Puing pilar runtuh, memutus jalur energi utama secara total.

Penjaga tertegun. Cahaya biru di tubuhnya berkedip hebat, tidak stabil. Dada batu itu terbuka lebar, memperlihatkan inti kristal yang berpendar redup.

Ye Chan menusukkan pedangnya dengan sisa tenaga terakhir. Bilah besi itu menembus kerasnya dada batu dan menghujam inti kristal di dalamnya.

Penjaga mencoba meraih bahu Ye Chan, namun tangannya terkulai sebelum sempat menyentuh. Tubuh batu itu mulai retak dari dalam, runtuh menjadi serpihan batu biasa dan serbuk logam.

***

Ye Chan jatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal hingga paru-parunya terasa seperti terbakar. Ia memuntahkan sedikit darah ke lantai. Meridian di lengan kanannya terasa panas, tanda ia telah mendorong batas kemampuan tubuhnya terlalu jauh.

Ia tidak langsung beranjak. Ia membiarkan napasnya stabil, menunggu hingga sensasi ngilu di nadinya sedikit mereda. Setelah beberapa saat, ia merangkak ke tumpukan puing, mencari pecahan kristal yang tadi ditusuknya.

Ia menemukan inti energi seukuran kepalan tangan, masih terasa hangat. Energi di dalamnya padat dan murni, jauh melampaui apa pun yang pernah ia serap sebelumnya. Ia menyimpannya, menyadari bahwa benda ini adalah aset berharga untuk kultivasi ke depannya.

Kemenangan ini terasa mahal. Ia harus menanggung luka dalam yang membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk sembuh jika tidak ditangani dengan benar.

Ye Chan bangkit dengan tertatih, mengabaikan nyeri di bahunya. Pintu batu di belakang ruangan yang tadinya tertutup rapat, kini terbuka perlahan. Ia melangkah masuk, menyusuri lorong pendek yang berakhir di sebuah ruang penyimpanan kecil.

Di sana tidak ada gunung emas atau artefak megah. Ruangan itu lebih mirip gudang kebutuhan darurat. Rak-rak kayu tua masih berdiri, menampung beberapa botol porselen berisi pil yang sudah mengering, kantong-kantong mineral mentah, dan beberapa gulungan bambu kuno.

Ye Chan memeriksa satu per satu. Ia mencari catatan teknik pengobatan. Jemarinya berhenti pada sebuah gulungan usang yang terbuat dari kulit hewan. Ia membukanya, membaca isinya dengan saksama.

'Bahan ini... tanaman akar matahari dan embun kristal es?' matanya memicing.

Salah satu bahan yang tertulis dalam resep untuk memulihkan meridiannya yang rusak permanen ternyata ada di sini, di antara debu-debu tak berharga ini. Namun, ia menyadari bahwa untuk menyempurnakan ramuan tersebut, ia masih membutuhkan bahan pelengkap yang tidak ada di dalam lembah.

Tujuannya sekarang bergeser. Ia tidak lagi sekadar bertahan hidup di dalam jeruji alam ini. Ia memiliki motif untuk keluar.

Di sudut ruangan, ia menemukan sebuah peta kuno yang digulung rapi.

1
Gunadi Hudaya
gaya penulisannya enak
Gunadi Hudaya: hahahaha.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!