"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu Gerbang Harrington dan Hutan Pinus Keluarga Pendagron
Sedan hitam Matthew melaju pelan membelah jalanan setapak yang ditumbuhi oleh pepohonan yang rimbun. Suasana kota perlahan menghilang, berganti dengan pemandangan pegunungan yang makin asri dan sejuk.
Evelyn menatap luar jendela. Namun, alih-alih merasa rileks, ada perasaan tidak enak yang makin berdesir di ceruk dadanya. Jalanan ini terasa asing tapi juga terasa familiar di mata Evelyn, seakan ia pernah melewati jalanan ini sebelumnya.
Mobil itu akhirnya melambat dan berhenti tepat di depan gerbang besi tinggi yang teramat megah dengan lambang naga emas bersayap—lambang kebanggaan Keluarga Harrington—terpampang gagah di sana. Ketika gerbang sudah mulai terbuka, Matthew mengendarai mobilnya dengan lambat agar Evelyn bisa menikmati keindahan lampu-lampu kecil yang sudah dia minta pelayan siapkan agar Evelyn merasa masuk ke dalam negeri dongeng dan melupakan kengerian memori kematiannya. Karena Matthew tahu, bahwa disinilah Evelyn delapan kali mati.
Di sisi lain, Evelyn tercekat saat pertama kali matanya menatap gerbang naga emas bersayap itu. Ingatan Evelyn mulai perlahan kembali. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Gerbang ini...
Hutan pinus di belakang sana...
"Lampu-lampunya indah kan Eve?" tanya Matthew membuyarkan lamunan Evelyn yang cuman bisa mengangguk dan tersenyum sebentar ke arah Matthew sebelum kembali tenggelam dalam ingatan malam itu.
Jalanan ini sangat indah. Seperti masuk ke dalam negeri dongeng. Lampu-lampu kecil warna warm white yang disusun sedemikian rapi disepanjang jalan sampai di pintu masuk mansion. Ada air mancur di dekat pintu masuk. Lagi-lagi patung naga emas bersayap yang indah dengan banyak bunga mawar. Aroma wanginya bunga mawar menusuk hidup Evelyn.
Evelyn turun dari mobil. Pandangannya tidak ke dalam pintu mansion, tapi ke arah hutan pinus yang gelap. Ada gerbang putih sebelum berjalan ke hutan. Gerbang putih yang indah karena terbuat dari bunga bugenville yang sengaja dibentuk seperti gerbang.
Itu dia. Tempat itu. Tempat yang selalu membayangi mimpi buruknya selama ini.
Rasa dingin merambat cepat dari ujung kakinya menuju dada. Evelyn panik, ingatan tentang kejadian mengerikan di kehidupan pertamanya mendadak mencengkeram kepalanya. Lokasi gerbang naga emas tadi, mansion, air mancur, patung, gerbang bunga, dan...hutan pinus.
Semuanya sama persis dengan area berbahaya di mana dia dulu diminta Cedric menunggu. Cedric berkata bahwa dia mau mengambil beberapa dokumen dan uang cash di dalam mansion, makanya Evelyn diminta menunggu dulu di hutan pinus. Evelyn yang polos, yang tidak tahu apa-apa menunggu dengan sabar. Hingga akhirnya tembakan peluru terdengar. Dan satu butir peluru itu bersarang di pundak Evelyn.
Satu peluru yang mampu membuat nya mengalami pendarahan hebat. Satu peluru yang membuat nyawanya direnggut. Satu peluru itu ditembakkan oleh Cedric. Dan Leonor ibunya ada disana. Dia mengarahkan Cedric menembaknya. Dia mati dijebak tanpa tahu alasan kematiannya.
Tiga tahun bersama Cedric bukan waktu yang singkat. Dan di masa tiga tahun itu, Leonor tidak pernah sekalipun menerima keberadaanya. Hingga pesta tahunan bangsawan elit itu diadakan. Evelyn menerima ajakan Cedric untuk hadir dan memperkenalkannya sebagai pacar sekaligus tunangan resmi Cedric.
Tetapi, kenyataan pahit harus dialami Evelyn. Karena di pesta itu, dia bertemu Samantha, tunangan politik Cedric sekaligus adik Matthew.
Keringat dingin mulai membahasi dahi Evelyn. Napasnya cepat dan tidak beraturan. Rasa was was yang amat sangat mulai menghantuinya. Kenapa Matthew membawanya kesana?
"Eve?"
Suara berat Matthew membuat Evelyn tersadar.
"Eve, kamu kenapa? Wajahmu pucat banget," tanya Matthew, tangannya bergerak cepat menyentuh lengan Evelyn yang gemetar hebat.
Sentuhan hangat itu membuat Evelyn kaget dan tanpa sadar menepis dengan kasar tangan lembut Matthew. Tapi Matthew tidak marah karena ia tahu.
"Maaf Matthew.." kata Evelyn terbata-bata, suaranya bergetar hebat. "Ini mansion siapa Matthew?"
Belum sempat Matthew menjawab pertanyaan Evelyn, Sebastian pelayan pribadi Matthew sudah membukakan pintu dan menyambut kedatangan keduanya. Sebastian bersama beberapa pelayan menunduk hormat ke arah Grand Duke dan tamu nya Evelyn dan mengarahkan mereka masuk karena suasana diluar sudah mulai dingin.
Matthew menggenggam tangan dingin Evelyn untuk masuk ke dalam mansion. Tanpa berkata apapun, Matthew membawa Evelyn ke kamar utama, kamar sang Grand Duke.
"Bawakan cokelat hangat dan air putih, Sebastian" kata Matthew
"Baik Tuan Muda"
Kamar Matthew didominasi warna abu-abu dan sage, menonjolkan ke eleganan seorang bangsawan. Ada beberapa lukisan terpampang di dinding. Kalau ditanya berapa luas kamarnya. Bahkan apartemen Evelyn saja masih kalah luas.
Matthew menyalakan kayu bakar di tungku perapian di dalam kamarnya agar kamar ini agak hangat. Karena Matthew khawatir Evelyn kedinginan. Evelyn diam saja memperhatikan Matthew yang dari tadi sibuk sambil duduk di sofa empuk di dekat ranjang.
Setelah menyalakan perapian, Matthew pun duduk menemani Evelyn yang masih saja diam mematung. Kemudian dia menggenggam tangan Evelyn dan meraihnya ke dalam pelukan. Tanpa sadar air mata Evelyn mengalir. Matthew tidak berkata apa-apa, hanya memeluknya, membiarkan Evelyn minum coklat hangat yang sudah tersedia di atas meja. Kemudian Matthew memeluknya sampai ia tertidur dan memapahnya ke ranjang.
Matthew tetap berada di samping Evelyn, dan ikut tertidur sambil membiarkan gadis itu berada di dekapannya.