NovelToon NovelToon
CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Ning sopiah

Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.

Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Garis Di Tengah Badai

Rumah sakit itu terlalu besar untuk hatiku yang sempit.

Aku berdiri di lorong poliklinik kandungan dan onkologi yang jadi satu. Lampu putihnya terlalu terang. Aroma desinfektan menusuk hidungku sampai ke ubun-ubun, membuat kepalaku pening. Orang-orang lalu lalang. Ada ibu-ibu hamil yang perutnya besar dipegangi suaminya, ada anak kecil yang menangis karena disuntik, ada perawat yang mendorong kursi roda dengan suara roda berdecit.

Tapi aku hanya fokus ke satu pintu di depanku. Pintu kayu coklat bertuliskan *RUANG PEMERIKSAAN DOKTER SPESIALIS KANDUNGAN - ONKOLOGI*.

Di dalamnya ada Ning Ummah. Dan Gus Azam.

Gus Azam yang sejak berangkat tadi terlihat paling tegar, paling kuat, pundaknya paling kekar, tangannya yang selalu jadi sandaran kami semua. Hari ini aku melihat tangan Gus Azam sedikit gemetar saat menggandeng Ning Ummah masuk.

"Piah, tunggu di sini ya," kata Gus Azam pelan sebelum masuk, menatapku dalam.

Aku mengangguk. "Ngih, Gus."

Pintu itu tertutup. Aku ditinggal sendiri di kursi besi dingin yang panjang.

Dan di saat itulah, perutku bergejolak.

Bukan gejolak lapar. Ini mual yang naik dari ulu hati, yang sudah kutahan sejak dari mobil. Aroma desinfektan ini membuatku semakin tidak tahan. Aku berusaha menarik nafas panjang, menatap langit-langit, tapi tidak bisa.

_Hoek..._

Aku menutup mulutku cepat-cepat. Jangan sampai Ning Ummah dengar. Jangan sampai Gus Azam khawatir. Hari ini bukan hariku untuk sakit.

Tapi mual kedua datang lebih kuat. Aku tidak kuat lagi.

Aku berlari, setengah berjalan setengah berlari mencari tanda toilet. Sandalku hampir lepas. Aku masuk ke toilet wanita, mengunci pintu, dan muntah.

Lama. Sampai perutku kosong dan mataku berkaca-kaca.

Aku terduduk lemas di lantai toilet yang dingin. Nafasku ngos-ngosan. Tanganku memegangi wastafel.

Dan tiba-tiba, kepalaku menghitung.

Malam itu. Malam dimana aku ikhlas melayani Gus Azam. Malam dimana aku bilang di dalam hati, "Gus, jika Allah izinkan, izinkan Piah memberi penerus untuk Darunnajah." Malam itu adalah... 5 minggu yang lalu.

Dan aku baru sadar, aku sudah telat 1 minggu. Harusnya 7 hari yang lalu aku datang bulan. Tapi karena sibuk mengurus Ning Ummah, mengurus asrama, mengurus dapur yang ditinggal Ning Ummah, aku lupa menghitung diriku sendiri.

Tanganku bergetar. Dengan langkah masih lemas, aku keluar dari toilet, menuju apotek yang ada di lobi rumah sakit itu.

"Mba, testpack yang paling sensitif satu," bisikku ke apoteker, suaraku hampir tidak terdengar.

Aku membayar dengan uang yang kuselipkan di dalam map coklat berkas Ning Ummah. Lalu aku kembali masuk ke toilet yang sama.

Dengan tangan gemetar, dengan jantung yang berdegup seperti mau lompat, aku buka kotaknya. Aku baca bismillah 3 kali.

Satu menit terasa seperti satu tahun.

Aku pejamkan mata, lalu buka lagi.

Dua garis.

Dua garis merah yang sangat jelas, sangat tebal, tidak samar sama sekali.

Aku langsung menutup mulutku. Air mataku tumpah.

"Ya Allah..." bisikku.

Antara senang dan sedih, campur aduk menjadi satu ledakan di dadaku.

Senang, karena akhirnya... akhirnya setelah 2 tahun menikah dengan Gus Azam sebagai istri kedua, setelah penantian panjang, setelah doa-doa di sepertiga malam, Allah titipkan amanah ini di rahimku. Aku bisa memberikan Gus Azam keturunan. Penerus Darunnajah. Sesuatu yang selama ini Ning Ummah belum bisa berikan karena sakitnya.

Tapi sedih... sedih sekali.

Bagaimana aku bisa tersenyum bahagia di depan pintu ruangan dimana Ning Ummah sedang divonis sakit keras? Bagaimana aku bisa bilang "Gus, aku hamil" saat Ning Ummah baru saja menangis karena merasa dirinya rusak?

Tidak. Tidak boleh.

Aku lap air mataku, aku simpan testpack itu dalam-dalam di dalam tas kecilku, di balik dompet. Aku cuci muka, aku pakai bedak sedikit biar tidak terlihat pucat. Aku harus kuat. Cerita ini hanya untuk Gus Azam, nanti, saat kami hanya berdua. Bukan sekarang.

Aku keluar dan duduk lagi di kursi besi dingin itu. Tepat saat itu, pintu kayu coklat itu terbuka.

Gus Azam keluar pertama. Dan pemandangan itu menghancurkan hatiku.

Tubuh kekar Gus Azam, tubuh yang selalu tegak saat memimpin apel santri, saat mengimami sholat, saat menggendong santri kecil... hari ini merunduk. Pundaknya turun. Peci hitamnya sedikit miring. Matanya merah.

Di belakangnya, Ning Ummah dipapah perawat. Wajah Ning Ummah yang biasanya cantik bersinar, hari ini pucat pasi seperti kertas. Tangannya menggenggam hasil lab sampai kertasnya lecek.

Aku langsung berdiri.

"Gus? Ning Ummah?"

Gus Azam menatapku, tidak bisa bicara. Hanya menyodorkan kertas hasil laboratorium itu padaku.

Aku baca.

_Nama Pasien: Fatimah Zahra_

_Diagnosis: Kista Ovarium Curiga Ganas / Ovarian Carcinoma_

_Stadium: Stadium 2_

_Rekomendasi: Persiapan Operasi Pengangkatan dan Kemoterapi_

Dunia ku berhenti.

Kanker ovarium stadium 2.

Ning Ummah yang melihat aku membaca itu, langsung jatuh terduduk di kursi dan menangis pecah.

"Gus... maafkan Ummah ya Gus... Ummah rusak... Ummah gak bisa kasih Gus anak... malah Ummah ngerepotin... Ummah sakit begini..." isak Ning Ummah menjadi-jadi, bahunya terguncang hebat.

Suara tangis Ning Ummah membuat beberapa orang di lorong menoleh.

Gus Azam langsung berlutut di depan Ning Ummah. Gus Azam yang tidak pernah mau terlihat lemah di depan santri, hari ini berlutut di lantai rumah sakit yang dingin.

Gus Azam memegang kedua bahu Ning Ummah erat.

"Ummah... lihat Gus... lihat Gus, Ummah," suara Gus Azam serak, menahan tangis.

Ning Ummah mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.

"Jangan pernah bilang rusak lagi. Kamu dengar? Kamu tidak rusak. Kamu sedang diuji Allah karena Allah sayang sama Ummah. Allah tau Ummah kuat. Jadi Allah kasih ujian ini ke Ummah, bukan ke orang lain."

Gus Azam menarik Ning Ummah ke dalam pelukannya, membiarkan jilbab Ning Ummah basah oleh air matanya sendiri.

"Tak apa Ummah... kamu yang kuat ya... kita hadapi bersama. Ingat, di sini ada Piah yang sangat menyayangi mu. Ada Tifah yang dari subuh tadi sudah nangis di Ndalem nungguin kabar Ummah. Ada 200 santriwati yang nunggu Ummah pulang."

Aku tidak kuat lagi. Aku ikut berlutut di samping Ning Ummah. Aku genggam tangan Ning Ummah yang dingin itu.

"Ning Ummah... Ning Ummah Berliannya Darunnajah, ingat kata Piah tadi pagi? Berlian itu kalau tergores, kita gosok bareng-bareng sampai kinclong lagi. Sekarang Berliannya lagi diuji, biarin kami yang gosok ya? Biarin Piah yang jagain."

Ning Ummah memelukku. Kami bertiga berpelukan di lorong rumah sakit yang ramai itu. Tidak peduli orang melihat.

Di dalam pelukan itu, aku merasakan tas kecilku yang berisi testpack bergaris dua itu menempel di perutku. Rahasia kecil yang tumbuh di dalam perutku, di saat yang bersamaan rahim kakakku, Ning Ummah, sedang sakit.

Ya Allah, betapa kompleks skenario-Mu.

Gus Azam akhirnya berdiri, mengusap air matanya cepat-cepat dan kembali menjadi sosok pemimpin.

"Kita pulang dulu. Kita kasih kabar ke Tifah dan ke dewan pengasuh. Dokter bilang operasi masih 2 minggu lagi, kita masih ada waktu ikhtiar. Kita akan bawa Ummah ke dokter terbaik."

Aku mengangguk sambil tetap menggenggam tangan Ning Ummah.

Dalam hati aku berbisik, "Gus, sabar ya... nanti malam, saat Ning Ummah sudah tidur di Ndalem, saat hanya ada kita berdua di pendopo... Piah akan kasih kabar yang insyaAllah akan jadi kekuatan baru buat Gus. Bahwa di tengah badai ini, Allah ternyata masih titipkan pelangi kecil di rahim Piah."

Dan kami berjalan keluar dari rumah sakit besar itu, Gus Azam memapah Ning Ummah di kanan, aku di kiri, membawa dua rahasia besar: satu tentang sakit, satu tentang kehidupan baru yang akan datang di Darunnajah.

___Bersambung___

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!