Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Malam harinya, Kenzo perlahan menuruni tangga dengan kaki telanjang. Tangan kecilnya menggenggam erat sebungkus kue kering buatan Tante Nadia yang sengaja ia sisakan untuk sang papa. Malam itu, ia berniat mengetuk pintu ruang kerja Arvin yang berada di lantai bawah.
Namun, baru saja kakinya menapak di anak tangga terakhir, langkah Kenzo mendadak terhenti.
Dari arah dapur, Jovan muncul dengan segelas air dingin di tangannya. Begitu melihat si bungsu berdiri di dekat tangga, tatapan Jovan seketika berubah tajam.
Kenzo langsung membeku di tempat. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, sementara jemarinya semakin erat mencengkeram kantong kue di depan dada karena takut.
"Apa lihat-lihat?" desis Jovan.
Jovan melangkah maju beberapa langkah, membuat Kenzo refleks mundur satu langkah.
"Masih berani kamu keluyuran di depan muka aku, anak pembawa sial?" gumam Jovan pelan.
Kenzo berdiri mematung di tengah koridor yang remang. Bibir mungilnya gemetar menahan tangis, tetapi ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak mengeluarkan suara. Dadanya naik turun menahan sesak, namun ia berusaha menguatkan hati dan kembali melangkah pelan menuju pintu ruang kerja Arvin.
Sesampainya di depan pintu, Kenzo mengangkat tangan kecilnya lalu mengetuk permukaan kayu yang tebal itu perlahan. Tiga ketukan kecil terdengar nyaris tak bersuara.
"Permisi... Pa? Boleh Kenzo masuk?" cicitnya dari balik pintu.
Dari dalam ruangan, suara berat Arvin terdengar.
"Masuk, Kenzo."
Kenzo mendorong pintu perlahan. Di balik meja kerja yang dipenuhi tumpukan berkas, Arvin tampak kelelahan dengan kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya. Kenzo melangkah masuk dengan ragu, lalu meletakkan sebungkus kue kecil yang dibawanya di atas meja sang papa.
"Ini... ada kue buat Papa," ucap Kenzo pelan.
Arvin melirik bungkus kue tersebut, lalu mengalihkan pandangan kepada putra bungsunya dengan dahi sedikit berkerut.
"Kue dari mana ini?"
"Dari Tante di toko kue seberang sekolah," jawab Kenzo jujur.
Anak kecil itu menggoyangkan tubuhnya dengan canggung. Ia meremas jemari sendiri, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan sesuatu yang sejak tadi ingin dikatakannya.
"Pa... Kenzo boleh minta sesuatu?"
"Minta apa?"
"Kenzo... mau diisikan uang jajan setiap pergi sekolah, Pa."
Arvin mengangkat sebelah alisnya. Ia tampak heran mendengar permintaan tersebut.
"Uang jajan? Untuk apa, Kenzo? Bukankah dari sekolah sudah disediakan katering dan camilan siang? Pak Adam juga selalu membawakan bekal dari rumah."
Kenzo menunduk semakin dalam, menyembunyikan wajahnya yang mendadak memerah.
"Soalnya... Kenzo punya utang sama Tante penjual kue itu, Pa..."
"Utang?" Arvin sedikit memajukan tubuhnya, kini memberikan perhatian penuh kepada putra bungsunya.
"Iya..." cicit Kenzo dengan suara yang semakin pelan. "Kenzo kan sering mampir ke toko Tante itu kalau Pak Adam terlambat jemput. Tante sering kasih Kenzo susu hangat, kue stroberi, sama makan siang... tapi Kenzo nggak pernah bayar karena nggak punya uang jajan."
Kenzo terdiam sejenak. Ia menelan ludah, lalu melanjutkan dengan suara lirih.
"Kenzo malu, Pa. Kenzo mau bayar makanan yang sudah Kenzo makan..."
Arvin tertegun.
Penjelasan polos dari mulut putra bungsunya itu terasa menghantam dadanya cukup telak. Pria itu perlahan melepaskan kacamata bacanya, kemudian menyandarkan tubuh ke kursi sambil menatap Kenzo lekat-lekat.
Ada rasa bersalah yang perlahan menyelinap ke dalam hati Arvin. Selama ini, ia berpikir semua kebutuhan Kenzo sudah terpenuhi. Ada katering sekolah, bekal, pakaian, tempat tinggal, dan berbagai fasilitas lainnya. Ia tak pernah benar-benar memikirkan hal-hal kecil seperti uang jajan.
Lebih dari itu, ia baru menyadari bahwa putranya sering menunggu sendirian di tempat asing ketika penjemputnya terlambat.
"Tante penjual kue itu... yang kasih kamu kue ini?" tanya Arvin pelan sambil menunjuk bungkus kue di atas mejanya.
Kenzo mengangguk.
"Iya, Pa. Tante Nadia baik banget. Tapi Kenzo merasa bersalah kalau terus-terusan makan gratis di sana. Makanya Kenzo mau bayar utang Kenzo..."
Arvin menghela napas panjang. Wajah tegasnya perlahan melunak.
Ia membuka laci meja kerja, mengambil dompet kulit hitam, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang. Setelah itu, ia mengisyaratkan Kenzo untuk mendekat.
"Sini, Kenzo," panggil Arvin.
Dengan ragu, Kenzo melangkah maju. Arvin meraih tangan kecil putranya dan meletakkan beberapa lembar uang ke telapak tangannya.
"Ini uangnya. Besok berikan kepada Tante Nadia untuk membayar semua kue dan susu yang sudah kamu makan, ya," ucap Arvin dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya.
"Lain kali, kalau Kenzo butuh uang jajan atau membutuhkan apa pun, bilang langsung kepada Papa. Jangan dipendam sendiri."
Mata bulat Kenzo seketika berbinar. Wajahnya yang semula murung perlahan berubah cerah.
"Benaran, Pa? Terima kasih, Papa!"
"Iya. Sekarang masuk kamar dan tidur. Sudah malam," kata Arvin.
Tangannya kemudian terangkat untuk mengusap pelan kepala Kenzo.
Gerakan sederhana itu mungkin tampak sepele bagi Arvin, tetapi bagi Kenzo, sentuhan tersebut terasa begitu berarti. Sebuah gestur langka dari sang papa yang membuat hatinya menghangat.
Kenzo mengangguk mantap dengan senyum yang merekah di wajah kecilnya.
"Selamat malam, Papa."
"Selamat malam."
......................
Jam empat pagi. Langit di luar jendela masih pekat dan seluruh rumah tenggelam dalam keheningan, tetapi ketenangan Nadia harus hancur seketika.
Brak! Brak! Brak!
"Nadia! Bangun!"
Nadia mengerang, menutupi seluruh kepalanya dengan selimut. "Ya ampun..."
Ketukan di pintunya semakin menjadi-jadi. Dengan mata berat dan rambut berantakan, Nadia bangkit lalu membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
"Bu... ini baru jam empat pagi," keluh Nadia dengan suara serak.
"Makanya bangun! Mandi, keramas, dandan, dan pilih baju terbaikmu," cecar Mayang tanpa basa-basi.
Nadia melongo tak percaya. "Pertemuannya kan jam delapan bu! Empat jam sebelum acara aku harus bangun? Memangnya mau pergi ke luar kota?"
"Laki-laki itu yang minta bertemu jam delapan pagi. Dia bukan sembarang orang, Nadia. Kamu harus kasih kesan pertama yang sempurna!" Mayang menerobos masuk, langsung memilah-milah isi lemari pakaian putrinya. "Jangan sampai dia lihat kamu kusut dan lusuh lalu tidak tertarik."
"Kalau dia hilang ketertarikan cuma gara-gara aku biasa-biasa aja berarti dia memang bukan orang yang cocok buat aku!" sahut Nadia datar, menyandarkan tubuhnya di kusen pintu.
"Jangan keras kepala! Ibu lakukan ini supaya kamu diterima!"
Nadia terkekeh pelan. "Memangnya aku semenyedihkan itu sampai harus memohon-mohon supaya diterima? Semalam Ibu yang memaksaku menerima perjodohan ini. Sekarang, bahkan sebelum bertemu, Ibu sudah bertingkah seolah aku mau melamar dia."
"Nadia!" tegur Mayang tajam. "Setidaknya jangan bikin malu Ibu."
Kata-kata itu membuat Nadia bungkam sejenak. Ia menatap ibunya dengan pandangan menusuk.
"Kenapa setiap kali mau bertemu orang, yang ada di pikiran Ibu cuma gengsi? Kenapa selalu takut aku bikin Ibu malu?"
Mayang bungkam. Tak mau membalas ucapan anaknya itu.
Nadia menyambar handuknya lalu berjalan menuju kamar mandi. "Aku mandi. Tapi ingat ya, Bu, aku mau dia melihat wajah asliku, bukan topeng."
Sebelum ibunya sempat membalas, pintu kamar mandi sudah tertutup rapat.
Di luar, Mayang membuang napas panjang lalu menarik sebuah dress berwarna lembut lengkap dengan kardigan dan beberapa aksesori dari lemari. Ia meletakkannya di atas tempat tidur.
Beberapa menit kemudian, Nadia keluar dengan rambut basah dan wajah polos tanpa riasan. Matanya membelalak begitu melihat tumpukan pakaian di atas kasurnya.
"Bu... ini mau ketemu calon suami atau mau ikut audisi?"
"Sudah, pakai saja!" Mayang mendekat, jemarinya perlahan merapikan helai rambut basah putrinya. Suaranya mendadak melunak. "Ibu cuma ingin kamu dapat kehidupan yang baik."
Nadia tertegun. Kalimat sederhana itu berhasil melumpuhkan sanggahannya.
Namun, momen haru itu runtuh ketika Mayang menambahkan, "Pokoknya senyum, bersikap sopan, dan jangan tunjukkan kalau kamu terpaksa."
Nadia menarik napas pasrah seraya mengambil pakaian tersebut. "Iya, Bu. Tapi kalau laki-laki itu menyebalkan, jangan salahkan aku kalau aku langsung pulang."
"Baru juga bilang iya, sudah disuruh ikut seleksi," gumamnya jengkel. "Semoga laki-laki itu setidaknya tidak lebih menyebalkan daripada Ibu."