Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Matahari pagi menyinari megahnya bangunan SMA Garuda Bangsa. Di balik pagar besi yang menjulang tinggi, ratusan murid baru berkumpul dengan seragam putih abu-abu yang masih kaku.
Di antara lalu lalang mobil-mobil mewah milik anak pejabat dan pengusaha yang mengantar hingga tepat di depan gerbang, Adel memilih turun di persimpangan jalan, dua ratus meter sebelum sekolah.
"Makasih ya, Pak Doni," ujar Adel ramah seraya menutup pintu mobil.
"Hati-hati di jalan, Non Adel. Ingat pesan Bos Ardio, kalau ada apa-apa..."
"Iya, Pak! Langsung tekan tombol darurat di jam tangan Adel," potong Adel cepat sambil memperlihatkan jam tangan hitam di pergelangan tangannya.
"Pak Doni tenang saja, Adel cuma mau sekolah kok, bukan mau perang!" kata Adel dengan senyum ceria.
Pak Doni hanya bisa senyum tipis, menyadari betapa miripnya sifat keras kepala gadis itu dengan sang majikan.
Adel membetulkan tali ransel hitamnya. Hari ini di mana ia bisa menjadi Adelia biasa, bukan putri tunggal dari seorang raksasa bisnis yang dikawal pria berjas hitam.
Begitu melangkahkan kaki melewati gerbang utama suasana sangat riuh.
Di lapangan basket, beberapa murid sibuk mencari nama mereka di papan pengumuman pembagian kelas.
Adel menyelip di antara kerumunan, menelusuri daftar nama di papan kelas X-A.
"A... Adelia..." bisik Adel pelan. Tangannya menunjuk baris ke-12. "Nah, ketemu! Kelas X-A!"
"Wah, kamu masuk kelas X-A juga?!" sebuah suara ceria terdengar dari sebelah kanannya.
Adel menoleh. Seorang gadis berambut pendek seleher dengan kacamata tersenyum lebar ke arahnya.
Tangan gadis itu memegang kotak susu strawberi yang setengah kosong.
"Eh? Iya, aku di kelas X-A," jawab Adel ramah, membalas senyuman itu.
"Kenalan dong! Aku Karin! Karin Anindya," ujar gadis itu antusias seraya menyodorkan tangannya yang agak lengket.
"Aduh, maaf, tanganku kena bekas susu!" Karin buru-buru menyapu tangannya ke rok seragamnya, membuat Adel tertawa renyah.
"Aku Adelia. Panggil saja Adel," sahut Adel sambil menjabat tangan Karin.
"Adel... nama yang cantik! Kamu tadi diantar naik apa, Del? Soalnya dari tadi aku perhatiin anak-anak di sini pada pamer mobil spor sama jemputan mewah. Gila ya, sekolah ini isinya anak sultan semua! Aku aja kapok diantar Ayah naik motor, macetnya parah banget!" kata Karin tanpa henti sambil memimpin jalan menuju koridor kelas X-A.
Adel tersenyum tipis.
"Aku... aku naik angkot dari depan kompleks, terus jalan kaki sedikit," dusta Adel rapi, memasang raut polos tanpa beban.
Mata Karin membelalak kagum. "Beneran?! Wah, keren banget! Jarang-jarang ada anak di sekolah ini yang mau naik angkutan umum. Berarti kita sama dong, kaum ramah kantong!" Karin tertawa lepas.
"Ayahmu kerja apa kalau boleh tahu, Del?" tanya Karin penasaran.
Adel terdis sejenak mencari alasan.
"Kalau aku bilang Papa itu pengusaha besar, pasti Karin bakal sungkan dan menganggapku anak manja," batin Adel.
"Ayahku cuma pengusaha kecil-kecilan, Rin. Sering luar kota, jadi jarang di rumah," jawab Adel pelan.
"Oalah, yang penting halal dan cukup kan, Del?" Karin menepuk bahu Adel akrab.
"Jujur ya, aku senang banget ketemu kamu. Dari tadi aku minder banget lihat anak-anak lain yang gaya bicaranya tinggi. Kita jadi sahabat ya, Del? Biar bisa bertahan hidup di sekolah para elit ini!" kata Karin tersenyum tulus.
Adel merasakan kehangatan yang tulus dari Karin.
Ini adalah pertemanan murni pertama yang ia dapatkan atas dirinya sendiri.
"Iya, Karin. Kita sahabat sekarang," ucap Adel mantap dengan senyum merekah indah.
Di dalam hatinya Adel "Aku bakal sembunyikan identitas Papa rapat-rapat. Aku tidak akan pernah membawa nama besar Papa atau pengaruh uang di sekolah ini. Aku ingin hidup tenang sebagai murid biasa bersama Karin."
Mereka berdua berjalan berdampingan memasuki kelas X-A, memilih meja di baris ketiga dekat jendela.
Karin langsung mengoceh, dari merek lipstik yang murah tapi bagus, hingga gosip tentang kantin sekolah yang katanya punya bakso paling enak.
Adel mendengarkan dengan mata berbinar, menikmati setiap detik momen sederhana itu.
Sementara itu, di luar jendela kelas yang tinggi, seorang pria paruh baya (petugas kebersihan sekolah) sedang menyapu dedaunan kering.
Di balik topi dan kacamata hitamnya, terdapat sebuah earpiece kecil yang terhubung langsung ke ruang kerja Ardio.
"Melaporkan, Bos. Non Adel sudah mendapatkan teman pertama bernama Karin Anindya. Situasi kelas X-A aman. Tidak ada ancaman," bisik janitor itu sangat pelan sambil terus menyapu.
Ardio mendengarkan laporan itu melalui pengeras suara.
Ia menatap layar monitor yang menampilkan wajah ceria Adel yang sedang tertawa bersama Karin.
Ardio mengulas senyum lembut, mengusap layar monitor tepat di pipi putrinya.
"Nikmatilah masa remaja mu, Adel. Tertawalah sepuasmu. Papa akan memastikan bahwa tidak ada satu orang pun yang berani merusak senyuman itu," janji Ardio.