Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...
Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VIRAL
Rofik lupa jika pentas seni yang diadakan di Desa Maju Bersama sebagai acara penutup kegiatan Agustusan dihadiri oleh beberapa warga dari desa lain, dan juga dengan kemajuan teknologi hampir semua warga kini sudah aktiv menggunakan media sosial, baik itu tua dan muda sehingga apa yang terjadi pada Liana, menyebar dengan cepat.
Ia tak tahu jika diantara kerumunan warga yang ikut dirinya ke gudang perlengkapan belakang balai desa, ada seorang warga yang kebetulan tengah melakukan siaran langsung dan melihat ada kejadian heboh, iapun langsung meluncur ke lokasi kejadian hingga banyak orang yang melihat bagaimana upaya penjebakan yang dilakukan oleh Liana terhadap pak kades Maju Bersama tersebut gagal dan malah berbalik kepadanya karena adanya bukti rekaman video yang tak sengaja merekam semua aksi Liana dalam mencemarkan nama baik Dirga.
Fitri yang sebenarnya sangat ingin melihat langsung kemeriahan acara pentas seni tersebut hanya bisa puas dengan kiriman video dan melihat siaran langsung dari beberapa warga yang memang dikenalnya.
Tiba-tiba ketika ia tak sengaja menscroll halaman siaran langsung di media sosialnya, ia melihat sebuah tayangan dimana para netizen yang berkomentar menyebutkan nama kepala desa Maju Bersama, membuat iapun lansung menghentikan aksi scroll nya dan segera masuk kedalam siaran langsung tersebut.
“Umi!! Gawat mi! Gawat!!!”, teriak Fitri, membuat umi Sholicha dan Abah Munir yang tengah bersantai di ruang keluarga terkejut hingga mereka memegangi dadanya akibat suara teriakan putri bungsu mereka yang sangat keras itu.
“Astagfirullah…Fit, ada apa sih teriak-teriak begitu, membuat Umi jantungan saja”, omel umi Sholicha.
Fitri yang khawatir dengan kakaknya segera duduk diantara umi Sholicha dan Abah Munir.
“Lihat ini, mi. Mas Dirga, mi. Mas Dirga…Mas Dirga difitnah”, ucap Fitri sambil memperlihatkan siaran langsung salah satu warga ketika video yang merekam aksi Liana tanpa sengaja mulai diputar.
deg deg deg
Jantung umi Sholicha berdegub kencang. Ia melihat bagaimana gilanya gadis itu, hanya demi bisa memberikan bayinya seorang ayah ia tega menjebak Dirga, anaknya. Membuat umi Sholicha hanya bisa meremas gamisnya dengan erat.
“Bi, cepat hubungi Dirga. Tanya bagaimana kondisinya sekarang?”, ucap umi Sholicha penuh kekhawatiran.
Abah Munir yang juga sama cemasnya dengan istrinya pun segera menghubungi ponsel Dirga. Tapi semua panggilan darinya tak ada satupun yang Dirga angkat karena memang ponsel Dirga saat ini sedang dalam mode senyap sehingga ia tak tahu jika Abah Munir menelponnya.
Melihat telepon suaminya tak diangkat, Umi Sholicha yang sudah merasa sangat cemas pun segera menarik tangan suaminya agar bangkit dari duduknya dan segera mengajaknya pergi.
“Ayo bi, kita ke Desa Maju Bersama sekarang. Umi gak tenang jika belum melihat kondisi Dirga secara langsung”.
Abah Munir yang menyadari kekhawatiran istrinya pun segera bangkit dan mengambil kunci mobilnya sementara umi Sholicha bergegas ke belakang untuk berpamitan kepada ART nya jika malam ini ia tak akan pulang dan menyuruhnya untuk segera mengunci semua pintu dan jendela rumah dan segera beristirahat.
Fitri yang juga tak mau ketinggalan segera masuk kedalam kamar dan menyiapkan keperluannya dengan cepat kemudian segera bergabung dengan kedua orang tuanya yang sudah berjalan menuju garasi mobil.
Ketiganya pun segera meluncur ke Desa Maju Bersama dengan kecepatan penuh. Untungnya pada malam hari kondisi jalan raya kabupaten Santosa sangat lenggang dan sepi, membuat Abah Munir tak kesulitan untuk menembus kegelapan malam dengan cepat.
Sementara itu di Desa Maju Bersama, setelah pemotongan tumpeng sebagai rasa syukur atas kemenangan dalam lomba hias desa juga sebagai bentuk perayaan puncak hari kemerdekaan negara tercinta, semua warga segera menyantap hidangan yang tersaji didepan mereka.
Tak hanya warga Desa Maju Bersama saja yang ikut makan, beberapa warga dari desa lain yang kebetulan hadir dan belum pulang juga ikut serta, meski ad beberapa yang menolak karena merasa tak enak dan segan, tapi itu semua tak mempengaruhi kehangatan dan keakraban warga.
Selama proses makan, tak jarang warga kembali membicarakan masalah tindakan Liana dan pak camat dari kecamatan Tentrem tersebut.
Dirga dan seluruh orang yang sebelumnya mendapatkan ancaman dari Rofik tak bisa berbuat apapun karena yang menyebarkan berita tersebut bukan mereka jadi marahpun tak ada gunanya karena semua aksi buruk Liana dan kebobrokannya telah menyebar luas dan tak bisa diredam.
Keluarga Dirga yang baru saja tiba di Desa Maju Bersama segera memacu mobilnya menuju pendopo desa dimana acara pentas seni diadakan.
Melihat kedatangan keluarga Dirga, Baruna yang kebetulan baru saja keluar segera masuk kedalam pendopo mencari keberadaan Dirga.
Begitu melihat kepala Desa Maju Bersama tersebut ada diantara beberapa staf balai desa, Baruna pun datang menghampiri.
"Pak kades, ada keluarga bapak di depan pendopo", ucap Baruna sambil mengarahkan jempolnya kearah luar dimana keluarga kecil Dirga berada.
Melihat keberadaan kedua orang tua dan adiknya dalam pakaian rumahan, dimana umi Sholicha saat ini memakai daster yang warnanya sudah pudar dengan jilbab instan pendek seadanya sementara abahnya hanya mengenakan sarung kos oblong yang biasanya dipakai santai didalam rumah serta adiknya yang biasanya sangat memperhatikan penampilannya kini keluar dengan menggunakan baby doll gambar boneka lengkap dengan sandalnya, membuat Dirga yakin jika ketiganya datang ke Desa Maju Bersama dengan tergesa-gesa.
Dirga yang sudah tahu penyebab apa yang membawa keluarganya datang ke pendopo pun segera bangkit dan berjalan menghampiri.
"Abah, Umi...", sapa Dirga sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya dengan takzim.
"Semuanya susah beres, aman dan terkendali jadi Abah dan umi tak perlu khawatir, semua sudah Dirga tangani dengan baik", Dirga berkata dengan lembut agar kecemasan kedua orang tuanya sedikit berkurang.
Umi Sholicha yang melihat ketenangan Dirga, merasa lega meski sedikit kekhawatiran masih melekat dihatinya.
"Kamu itu ya le, hp itu jangan di mode senyap. Jika ada hal besar seperti ini, umi dan abahmu ini sangat cemas karena tak bisa menghubungimu ", Umi Sholicha pun segera mengeluarkan uneg-uneg dalam hatinya.
"Ngapunten (maaf), Umi..., Abah....Dirga sudah membuat umi dan Abah khawatir. Sebenarnya Dirga ingin menyelesaikan semua ini secara diam-diam agar tak membuat kekhawatiran semua orang, tapi tak menyangka ada yang melakukan siar langsung dan langsung meledak, membuatnya viral dimedia sosial", ucap Dirga menjelaskan.
"Lalu, apa langkah yang akan kamu ambil. Masalah korupsi dana bantuan ini, tak sederhana. Banyak pihak terkait, Abah sarankan kamu bertindak hati-hati dan jangan gegabah. Apalagi dengan keluarga Wandi, mereka itu orang-orang nekat dan akan melakukan apapun untuk mengamankan keluarganya", pesan Abah Munir.
Dirga sendiri sudah mempertimbangkan semuanya dengan cermat termasuk mengenai keluarga Wandi yang ia yakini tak akan membiarkan masalah ini begitu saja mengingat Wandi, keluarga yang telah membuat mereka hidup nyaman selama pria tersebut menjadi kepala desa, tentu tak akan tinggal diam dan kemungkinan Dirga serta warga Desa Maju Bersama akan terkena imbasnya jika Wandi benar-benar ditahan dan masalah ini terbongkar.
"Abah tenang saja, saya sudah menyiapkan antisipasi untuk masalah ini", jawab Dirga penuh ketegasan.
TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️
SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA