Time travel seorang gadis yang terpeleset di acara festival lampion kampus.
Karya Fantasi kedua setelah Petualangan Mayanza, semoga berkenan di baca tiap episode nya... 🤍😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 2 Ibukota
Kehidupan di desa sangatlah Indah,
Tapi ayahku harus pindah ke Ibu Kota karena diangkat menjadi Mentri Keuangan.
Ayahku dan Ibuku selalu meninggalkanku pergi berdagang, penjualan mereka bagus sehingga aku dari kecil sudah menjadi anak yang memiliki apa yang kuinginkan.
Aku anak satu-satunya di keluarga ini, putri satu-satunya.
"Xiu Ren...kau sudah menyelesaikan pelajaran menulismu hari ini? Ibu mendapatkan laporan kau tidak mengerjakan sedikitpun, kau sibuk menggambar" kata Ibu.
"Nanti akan kukerjakan bu...aku tidak mengerti" kataku.
"Xiu Ren kau sudah dewasa seharusnya kau tidak sibuk dengan hal-hal yang tidak penting, bajumu dan barang-barangmu sudah banyak mau di simpan dimana?" tanya Ibu.
"Bu..kan ini gratis dari toko dan aku suka kenapa tidak boleh?" tanyaku.
"Ya sudah, anak manis...setelah selesai menggambar kita makan bersama" kata Ibu.
**
Aku menang melukis di istana ketika umur 6 tahun, rasanya senang sekali pertama kali ke istana.
hanya saja orang-orang disana banyak yang tidak aku kenal.
Ibu menyuruhku untuk taat aturan sejak itu tau tata krama,sebenarnya aku juga sudah malas ikut aturan, aku senang menari itupun karena melihat perayaan di istana suatu saat pasti aku akan menari dengan indah di Istana.
Namun sekarang, aku lebih suka tinggal di desa, rasanya aku tidak ingin pergi.
"Besok pagi, kita ke Ibu kota, disana ada beberapa guru yang akan mengajarimu" kata Ayah.
"Ayah.. benarkah ayah akan menjadi mentri?" tanyaku.
"Iya, ayah akan menjadi mentri, kau harus menjadi anak yang baik" kata Ayah, aku hanya duduk diam.
Aku malas belajar, rasanya kepalaku penuh jika diminta belajar.
Aku lebih senang bermain, dari kecil aku juga tidak sekolah.
"Nona, nanti tangan nona tertusuk jika menyulam di kereta" kata Dayang May.
"Tidak, coba kau lihat bunga mawar ini indah kan?" kataku menanyakan sulaman di kerah baju yang aku buat.
Dayang May mengangguk setuju.
Dayang May lebih muda dariku setahun, dia bagaikan sahabat bagiku.
Dayang May selalu ikut denganku kemanapun pergi dan orang tuanya juga pelayan di kediaman kami.
**
kami sudah tinggal di ibukota, hari ini hari pertama.
Aku mengenakan bajuberwarna biru muda dan jepit rambut berwarna putih.
Aku juga sudah meminta uang dengan ibu, kalau hari ini aku mau jalan-jalan belanja makanan.
"May, bagaimana kalau hari ini kita keluar?" tanyaku dengan May.
"Boleh nona..kita kemana?" tanya Dayang May.
"Ke pasar" kataku.
Aku dan may diantar naik kereta begitu turun banyak sekali barang yang cantik di sana.
Aku membelinya dengan uang yang diberikan ibu, pasar ibukota sungguh lengkap.
Aku juga membeli makanan, "Kenyang..." kataku menyentuh perutku yang penuh.
Bukan karena di rumah tidak ada makanan tapi karena aku mau mencoba makanan.
Gadis-gadis ibukota sangat modern, aku malu melihat mereka, aku menunduk karena mungkin mereka akan melihatku sebagai anak kampung.
Aku dan dayang may pulang ke rumah, "May, besok kita belanja lagi ya.." kataku.
"Nona, ini sudah banyak" kata Dayang May.
"Satu gaun ini untukmu" kataku menyerahkan gaun berwarna coklat keemasan.
"Cantik sekali nona, ini mahal" kata Dayang May.
"Sudahlah..kita harus terlihat seperti anak kota, kau lihat mereka melihat kita" kataku
"Ya, seperti melihat sesuatu yang aneh" kata Dayang May.
"Ha...apa aku bilang, aku punya perasaan yang sama" kataku.
**
"Xiu Ren, hari ini ikut ayah dan ibu ke istana, bibimu mau bertemu" kata Ibu
"Betul, bu...asik...aku boleh ikut" kataku antusias.
"Boleh" kata ibu,
Aku bersiap dengan gaun terbaikku yang baru kubeli, bahan sutra berwarna ungu, jepit rambut kupu-kupu berwarna emas.
"Permaisuri, ini putriku Xiu Ren" aku memberi salam duduk rapi memberi hormat.
Anak bangsawan lain berdatangan mereka juga terlihat cantik dengan gaun mereka,
Pangeran dan Putra Mahkota juga hadir, kami jamuan minum teh hari ini.
Ternyata acara membaca puisi, aku diminta membaca satu baris.
"Ba..ba. gai ma...en ana...Bagaimana Ka..." aku mengeja bacaan di buku.
Semua orang menertawakanku.
"Xiu Ren anak mentri tidak bisa membaca, katanya dia juga tidak pernah belajar" kata mereka membicarakan aku.
Aku malu...
Aku pulang menangis, "Ibu...." kataku
"Sudahlah besok kau berlatih belajar lagi jangan malas" kata Ibu memelukku di kereta.
Ibu membayar seorang guru untukku.
Aku tidak mau malu lagi, kasihan Ayah pasti malu atas perbuatanku.
Tapi aku tidak mengerti kepalaku terasa buntu.
Berbeda dengan menyulam dan menggambar, aku tidak pernah merasa kepalaku sampai pusing.
**
"Xiu Ren, Ayah dan Ibu akan pergi ke Selatan, kau tinggal di rumah jangan pergi kemana-mana" kata ibu.
"Tapi kalau aku pergi berbelanja alat melukis, boleh kan yah?" tanyaku.
"Iya...boleh" kata Ayah.
Mereka pergi, aku dan dayang pergi ke Pasar Ibukota,
"Nona, bukankah tuan muda yang disana Putra Mahkota dan Pengawalnya, lihat wanita-wanita itu tidak tau malu berkerumun di sekitarnya" kata Dayang Mar, aku melihat Pangeran, hanya sekilas.
"Mungkin..." jawabku.
Lalu aku mengangkut barang belanjaan bersama Dayang May.
Bersambung...