NovelToon NovelToon
Mate Takdir Sang Werewolf

Mate Takdir Sang Werewolf

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 2]

Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'

"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Pria Misterius

"Tentu saja, Ayah juga melihatnya dengan sangat jelas," bisik Lucas dengan suara rendah yang hampir tercekat di kerongkongan. Ia mengingat-ingat catatan buku kuno kakek buyutnya. Asap hitam itu menyerupai tanda segel sihir hitam kuno yang terlepas.

Ketakutan dan ketegangan di antara mereka berdua akhirnya mencapai titik puncaknya ketika tubuh yang tadinya terbujur kaku tak bernyawa itu secara tiba-tiba tersentak hebat.

Gasph!

Laki-laki tampan berambut cokelat gelap itu bergerak. Dadanya membusung ke atas dengan sentakan kasar, seolah baru saja dipaksa menghirup pasokan oksigen dalam jumlah besar setelah tenggelam dalam waktu lama. Kemudian, secara perlahan namun pasti, ia membuka kedua kelopak matanya.

Begitu sepasang mata itu terbuka, White merasakan sebuah hantaman gelombang tak kasat mata yang luar biasa kuat menghantam dinding kesadarannya. Pria itu tidak memiliki warna mata manusia biasa pada umumnya.

Sepasang manik matanya berwarna hitam pekat, begitu pekat layaknya malam tanpa bintang, namun memancarkan kilau tajam dan aura dominasi mutlak yang teramat mengintimidasi.

Sorot mata hitam pekat itu langsung bergerak mengunci, menatap Lucas dan White secara bergantian dengan intensitas yang sangat dingin. Sebuah tatapan yang seolah sanggup menembus hingga ke kedalaman sukma mereka yang paling dalam.

Pria misterius itu mulai bangkit berdiri dari posisinya di atas tanah. Gerakannya pada awalnya tampak sedikit kaku akibat efek pembekuan yang lama, namun setiap gestur tubuhnya memancarkan keanggunan yang teramat elegan dan berwibawa. Ia terlihat seolah-olah adalah seorang penguasa tertinggi yang baru saja terbangun dari ritual tidur panjang selama ribuan tahun.

Ia mengangkat tangannya sebentar, menatap telapak tangannya sendiri dengan dahi berkerut dalam. Setelah itu, ia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling hutan dengan ekspresi wajah dingin yang sama sekali tidak bersahabat.

"Di mana... di mana aku sekarang?"

Pertanyaan yang meluncur tenang namun sarat akan gaung otoritas berat itu bertindak bak detonator yang memicu ledakan kepanikan instan di kepala Lucas dan White.

"AAAAAAA!"

Lucas dan White berteriak serempak. Koor jeritan mereka yang melengking tinggi memecah kesunyian malam yang mencekam, menggetarkan keheningan hutan.

Tanpa berpikir dua kali untuk mencerna logika yang ada, keduanya langsung berbalik arah. Mereka berlari tunggang-langgang, memisahkan diri secepat mungkin dari tepian sungai terkutuk yang menakutkan itu.

White, yang beberapa menit lalu masih meringis kesakitan akibat pergelangan kaki kanannya yang terkilir parah, mendadak kehilangan seluruh rasa sakitnya seketika. Pasokan adrenalin yang memuncak ekstrem di dalam aliran darahnya memaksa otot-otot kaki gadis itu untuk bekerja melampaui batas normal manusia biasa.

Ia berlari melesat secepat angin malam membelah semak-semak lebat. Gadis itu tidak memedulikan lagi ranting-ranting pohon ek yang menggores pergelangan tangannya atau paru-parunya yang mulai terasa terbakar di setiap embusan napas. Pikirannya benar-benar kosong dari hal lain; ia hanya ingin menjauh sejauh-jauhnya dari sosok pria asing nan rupawan yang baru saja bangkit secara abnormal dari dekapan kematian tersebut.

"Cepat masuk, White! Cepat!" seru Lucas dengan sisa napasnya yang terputus-putus sesampainya mereka di depan undakan teras rumah kayu mereka.

Rumah kayu tua itu berdiri kokoh di atas perbukitan sunyi, menghadap langsung ke arah hamparan ladang kentang yang kini telah sepenuhnya ditelan oleh kegelapan malam yang pekat.

Begitu tubuh mereka berhasil menembus ambang pintu, Lucas segera membanting daun pintu kayu yang tebal itu dengan keras. Ia memutar kunci besi dua kali hingga terdengar bunyi klik yang nyaring, lalu menyandarkan seluruh bobot punggungnya di sana.

Di tengah badai kepanikan yang melanda itu, Lucas benar-benar melupakan keberadaan kereta kuda tuanya yang masih terparkir pasrah di tepi ladang. Kereta itu ditinggalkan begitu saja lengkap dengan puluhan karung rami berisi kentang hasil panen yang seharusnya ia distribusikan ke pasar kota malam ini demi uang obat sang istri.

Dengan langkah kaki yang gontai dan lemas, ayah dan anak itu berjalan menuju ruang tamu kecil mereka. Mereka kemudian menjatuhkan diri bersamaan ke atas permukaan sofa tua yang langsung berderit keras memprotes beban tubuh keduanya.

White terduduk lemas dengan pundak merosot total, mencoba meredakan debaran jantungnya yang gila. Wig hitam tiruannya bergeser sedikit miring akibat guncangan hebat saat berlari tadi, dan wajah cantiknya tampak pucat pasi, dibanjiri oleh kombinasi peluh dingin serta coretan debu tanah ladang yang mengering.

"Jangan-jangan... pria yang membeku tadi itu adalah sesosok makhluk abadi klan malam, Ayah?" tanya White dengan nada suara yang bergetar hebat di sela-sela desah napasnya yang memburu tak beraturan.

"Tidak mungkin manusia biasa yang sudah kaku dan mati bisa hidup kembali seefektif itu. Ayah sendiri tahu, aku sudah memastikan lewat jariku tadi kalau dia sama sekali tidak bernapas! Kulitnya seputih pucat mayat, dan seluruh tubuhnya sedingin es kutub! Dan matanya... mata itu hitam seolah tidak memiliki dasar!"

Otak remajanya mendadak memanggil kembali potongan-potongan cerita mitologi kuno tentang makhluk bayangan pengisap energi kehidupan yang sering diceritakan anak-anak desa.

Meskipun premis itu terdengar sangat tidak masuk akal dalam realitas kehidupan nyata, namun bagi White saat ini, hanya mitologi itulah satu-satunya penjelasan paling logis yang bisa diterima oleh akal sehatnya yang sedang terguncang hebat.

Lucas menggelengkan kepalanya dengan lemah. Pria paruh baya itu menyandarkan tengkuknya pada bantalan sofa yang keras demi mencoba menarik pasokan oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam rongga dada. Jalur menanjak yang curam dari bibir sungai menuju rumah mereka di atas bukit benar-benar telah menguras habis sisa energi fisiknya malam ini.

"Ayah tidak tahu, White. Mungkin saja tebakanmu itu benar, atau mungkin juga tidak," jawab Lucas dengan nada suara rendah yang terdengar parau dan lelah.

"Namun, makhluk abadi klan malam dan monster seperti itu biasanya hanya eksis di dalam dongeng kuno pengantar tidur, Nak. Dunia nyata tidak bekerja seperti fiksi. Yang jelas dan pasti, Ayah tidak mau lagi terlibat atau bertemu dengan makhluk macam apa pun itu. Mulai detik ini, jangan pernah coba-coba menginjakkan kakimu kembali ke sungai itu lagi!"

White menelan ludahnya dengan susah payah. Ia merasakan tenggorokannya mendadak sangat kering dan mencekat. Dengan punggung tangannya yang masih kotor tertutup noda tanah, ia mengusap tetesan keringat dingin di dahinya.

"Sebenarnya aku juga hanya asal bicara karena terlalu panik, Ayah," aku White dengan suara lirih.

"Aku juga bersumpah tidak akan pernah mau kembali ke sungai itu lagi. Tapi... bagaimana dengan Pengawal Kota yang tadi sempat Ayah hubungi? Bagaimana kalau mereka datang ke tempat kejadian dan tidak menemukan jasad beku, melainkan makhluk mengerikan yang hidup kembali itu?"

Lucas sontak tersentak hebat dari posisi duduknya. Pria paruh baya itu menepuk dahinya sendiri, baru teringat kembali akan laporan darurat yang sempat ia lakukan melalui cermin komunikasi saku miliknya tadi.

"Astaga, kamu benar, White! Ayah harus segera membatalkan laporan penemuan jasad tersebut. Bisa berubah menjadi urusan yang sangat repot dan panjang jika para Pengawal Kota itu sampai datang meneliti ke sana," ucap Lucas panik.

Dengan jemari tangan yang masih sedikit gemetar akibat sisa adrenalin yang bergejolak, Lucas merogoh saku kemeja kerjanya. Ia mengeluarkan cermin komunikasi perak kecilnya dengan tergesa. Ia segera mengusap permukaannya untuk menghubungkan sihir komunikasi kepada teman lamanya yang bertugas di markas Pengawal Kota.

Di dalam sambungan itu, Lucas buru-buru menyusun kebohongan instan; mengatakan bahwa ia telah salah lihat akibat minimnya pencahayaan senja di dalam hutan purba. Setelah memutus bauran sihir pada cermin tersebut, Lucas mengembuskan helaan napas lega yang teramat panjang.

[Kilas Balik Selesai]

****

Kembali ke masa kini, di malam yang senyap sebelum keberangkatan White menuju Kota Vespera. Lucas menatap White dengan tatapan yang teramat serius. Pria itu beralih sepenuhnya pada topik krusial yang jauh lebih mendesak: masa depan dan keselamatan putrinya.

"Besok... Ayah hanya bisa mengantarkan langkahmu sampai ke depan gerbang sekolah barumu saja di perbatasan, White," ucap Lucas dengan nada suara yang kini merendah, sarat akan kehangatan sekaligus kepedihan yang mendalam.

"Mengenai urusan barang-barang bawaan dan koper pakaianmu, Ayah yang akan mengantarkannya langsung menggunakan kereta kuda barang ke rumah kakek buyutmu di Kota Vespera setelah semua urusan administrasi di desa ini selesai."

White menatap lurus ke dalam manik mata ayahnya. Ia bisa menangkap guratan kecemasan mendalam sekaligus rasa bersalah yang teramat besar yang terukir di wajah pria paruh baya yang telah merawatnya selama ini.

"Maafkan Ayah, White. Ayah benar-benar tidak bisa menunggumu sampai jam pulang sekolahmu selesai besok. Kamu mengerti situasi rumah kita saat ini, kan? Ayah tidak mungkin tega meninggalkan ibumu terlalu lama sendirian di dalam rumah ini tanpa pengawasan siapa pun. Jadi... bisakah kamu pergi menuju alamat rumah kakek buyutmu itu sendirian setelah bel pulang sekolah berbunyi?"

White mengangguk pelan tanpa ada keraguan sedikit pun di wajah cantiknya. Ia menjulurkan tangannya yang kurus, meraih jemari tangan ayahnya yang kasar lalu meremasnya dengan lembut. Ia berusaha menyalurkan sisa kekuatan yang ia miliki untuk menenangkan pria itu.

"Aku sangat mengerti, Ayah. Jangan mengkhawatirkan kondisiku di sana nanti. Aku pasti bisa menjaga diriku sendiri dengan baik."

"Kamu masih menyimpan secarik kertas alamat rumahnya dengan baik, kan?" tanya Lucas memastikan sekali lagi, seolah takut ada detail penting yang terlewat.

"Iya, Ayah. Alamat lengkap itu tersimpan dengan sangat aman di dalam saku bagian dalam tas ranselku. Aku juga sudah menghafalnya dengan baik di luar kepala," jawab White dengan nada tegas.

Meskipun di dalam sudut hatinya yang terdalam masih dipenuhi oleh rasa takut yang mencekat akibat peristiwa abnormal di sungai tiga hari lalu, ia sadar betul bahwa meninggalkan Desa Arcania adalah satu-satunya jalan keluar terbaik. Ini adalah satu-satunya cara agar ia dan ayahnya bisa terus bertahan hidup dari kehancuran keluarga mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!