Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 3
Di dalam ruang kerjanya yang luas dan dingin, Khadafy baru saja menyesap keningnya yang berdenyut pelan. Belum sempat ia menyentuh berkas di mejanya, ponsel mahalnya berdering nyaring.
Nama Niken tertera di layar. Khadafy menggeser tombol hijau lalu mengaktifkan mode speaker sambil berjalan menuju jendela besar yang menghadap kota.
"Halo, Niken?" sapa Khadafy dengan suara berat khasnya.
"Mas Khadafy! Aku mau kasih tahu sesuatu!" suara Niken terdengar melengking dari balik telepon, diiringi riuh suara hairdryer dan bising kru di latar belakang.
"Soal acara makan malam nanti bersama keluargamu... kayaknya aku enggak bisa ikut hadir deh."
Khadafy mengerutkan dahi, rahangnya mengeras. "Maksudmu tidak hadir? Niken, ini acara hantaran awal dan silaturahmi keluarga besar saya. Keluarga besar saya datang jauh-jauh khusus untuk bertemu denganmu sebagai calon pengantin."
"Ya ampun, Mas! Kamu kan tahu jadwal photoshoot terakhirku sebagai model profesional itu hari ini dan dua hari kedepan!" potong Niken tanpa rasa bersalah.
"Ini project cover majalah ternama sebelum aku resmi menikah! Masa aku batalkan secara sepihak? Bisa rusak reputasiku di dunia modelling!"
"Tapi kita sudah merencanakan acara nanti malam ini sejak dua minggu yang lalu, Niken," tegas Khadafy, nada suaranya menekan dingin.
"Bagaimana bisa calon pengantin wanitanya justru tidak ada di rumah?"
"Kan ada Mama, Papa, sama saudara-saudaraku yang lain di rumah, Mas! Mereka bisa menyambut keluarga kamu kok," sahut Niken santai.
"Lagipula, dapur juga udah diurus sama Zhea. Dia kan dari subuh udah masak rendang sama sup buntut buat keluarga kamu. Jadi makanan pasti aman, kami tidak memesan dari catering dan hal itu aku rasa cukup untuk membuat keluarga kamu terkesan!"
Khadafy mendadak terdiam. Alisnya bertaut tajam. Seketika ingatan tentang Zheana, stafnya yang tadi pagi hampir tertabrak mobilnya dengan wajah pucat bagai mayat dan mata sembap terlintas jelas di kepalanya.
"Zheana yang masak?" tanya Khadafy pelan, suaranya berubah sangat menusuk.
"Iya, siapa lagi? Zhea kan jago masak. Lagian dia cuma kerja kantoran biasa, gampang lah disuruh-suruh bantu rumah," jawab Niken ceroboh tanpa beban.
"Pokoknya Mas Khadafy bilangin ke Mama kamu ya, maafin aku banget enggak bisa menyambut. Nanti selesai photoshoot malam banget, aku langsung istirahat biar pas akad wajahku tetap glowing. Oke sayang? Dah!"
TUT... TUT... TUT...
Panggilan diputus sepihak oleh Niken. Suasana ruangan kerja Khadafy seketika menjadi hening dan mencengkeram.
Khadafy menurunkan ponselnya perlahan. Matanya menatap tajam ke luar jendela, teringat bagaimana Zheana yang merupakan adik Niken diperlakukan seperti pembantu, bahkan harus mengorbankan waktu istirahat dan fisiknya di saat Niken bersenang-senang mengejar karir modelnya.
Tangan Khadafy mengepal erat di samping tubuhnya.
"Jadi... anak itu disiksa pekerjaan rumah dari subuh cuma demi keegoisan ini? Kenapa Niken tidak pernah berubah? Bahkan di saat ada acara penting pertemuan keluarga, dia malah memiih untuk mengutamakan perkerjaannya?" gumamnya dingin.
Belum sempat amarah Khadafy meredam, layar ponsel di genggamannya kembali menyala. Notifikasi pesan masuk dari Niken muncul, menyertakan beberapa lembar foto beresolusi tinggi.
Khadafy menggeser layarnya. Seketika dahinya berkerut dalam, mata tajamnya menatap layar dengan tatapan tak percaya.
Foto itu memperlihatkan Niken yang sedang melakukan fitting gaun pengantin. Gaun malam bergaya modern barat itu memiliki potongan strapless yang sangat rendah di bagian dada, serta punggung yang terbuka lebar hingga ke pinggang. Kain transparan berhias payet hanya menutupi sebagian kecil kulitnya.
Ponsel Khadafy kembali bergetar, sebuah pesan suara masuk dari Niken.
"Gimana, Mas? Bagus banget kan gaunnya? Ini rancangan desainer ternama, lho! Aku sengaja pilih konsep glamor dan sexy biar kelihatan memukau di pelaminan nanti!"
Khadafy langsung menekan tombol telepon, menempelkan benda pipih itu ke telinganya. Begitu panggilan terhubung, suaranya terdengar begitu menekan.
"Niken, apa-apaan gaun ini?" tanya Khadafy langsung tanpa basa-basi.
"Kenapa, Mas? Cantik banget kan? Aku kelihatan jenjang dan elegan banget pakai ini!" sahut Niken di ujung telepon dengan nada bangga.
"Ini terlalu terbuka, Niken," tegur Khadafy tegas.
"Keluarga besar saya dan keluarga kamu itu keluarga baik-baik yang menjunjung sopan santun. Kita memang bukan keluarga kyai, tapi bukan berarti kamu bisa memakai baju terbuka seperti ini di depan ratusan tamu dan orang tua kita!"
"Duh, Mas Khadafy! Jangan kuno deh!" sungut Niken, suaranya langsung berubah manja berpura-pura kesal.
"Ini kan seni! Tren gaun pengantin zaman sekarang memang seperti ini. Aku ini model profesional, Mas! Kalau aku pakai baju kurung yang tertutup rapat, nanti teman-teman sesama model mengejekku kaku dan ndeso!"
"Ini pernikahan kita, Niken, bukan ajang catwalk," Khadafy memijat pangkal hidungnya yang berdenyut makin kencang.
"Ibu saya sangat memperhatikan kesopanan. Beliau tidak akan suka melihat calon menantunya mengumbar aurat di hari bahagia kita."
"Mas Khadafy kok malah bawa-bawa Ibu sih?!" potong Niken dengan nada mulai meninggi.
"Kamu kan udah janji dari awal pacaran kalau kamu bakal selalu dukung karir dan selera fashionku! Masa cuma gara-gara gaun impianku ini kamu mau merusak kebahagiaanku?"
Khadafy menghela napas panjang, meresapi rasa lelah yang teramat sangat. Setiap kali ada perbedaan pendapat, Niken selalu menggunakan kartu janji dan kebahagiaan sepihak untuk menyudutkannya. Selama bertahun-tahun berhubungan, Khadafy selalu menjadi pihak yang mengalah demi menjaga kedamaian dan menghargai perasaan calon istrinya itu.
"Niken, setidaknya minta perancangmu menambahkan furing atau kain penutup di bagian dada dan punggung," bujuk Khadafy, mencoba mencari jalan tengah walau hatinya sangat tidak setuju.
"Enggak mau, Mas! Kalau ditutup kain tambahan, estetika dan garis gaunnya jadi rusak!" tolak Niken mentah-mentah.
"Pokoknya aku mau pakai gaun ini! Kalau Mas Khadafy beneran cinta dan sayang sama aku, Mas harus nurut. Oke? Aku mau lanjut pemotretan lagi. Bye, sayang!"
Khadafy memejamkan mata rapat-rapat, menggenggam ponselnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Lagi-lagi ia mengalah. Lagi-lagi ego Niken yang menang.
Khadafy bersandar pada meja kerjanya, menatap kosong ke sudut ruangan. Pikiran tentang Niken yang sibuk dengan gaun bukaan dan foto-fotonya, berbanding terbalik dengan Zheana yang harus mandi keringat di dapur dari subuh, membuat dada Khadafy terasa semakin sesak. Tapi rasa cintanya kepada Niken mengalahkan segalanya. Dia terlalu mencintai Niken, apapun demi melihat Niken bahagia. Dia tak bisa melihat Niken bersedih ataupun merajuk dan marah padanya.