Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman Kilat
Rangga menyambar kunci mobil di atas meja kaca teras dengan gerakan impulsif. Bunyi dentang logam itu memecah keheningan malam, bertabrakan dengan gemuruh yang kecamuk di dadanya. Ia tak sanggup lagi berlama-lama tertahan di teras itu, terhimpit oleh amarah Viona yang membekas di balik pintu kaca dan tangis lelap Thresia yang seolah menghakimi ketidakhadirannya secara emosional.
Mesin mobil meraung pelan saat Rangga memutarnya. Tanpa arah yang jelas, ia memundurkan kendaraan melintasi pagar rumahnya, melaju menembus jalanan kota yang kian lengang dan dingin.
Pandangannya kabur, bukan hanya oleh bayang-bayang lampu jalan yang berpendar silau, melainkan karena fokusnya yang sudah benar-benar lenyap. Logikanya memperingatkan bahaya berkendara dalam kondisi sekacau ini, namun jemarinya yang mencengkeram erat lingkar kemudi bergerak di luar kendali akal sehat.
Tanpa sadar, setiap belokan yang diambinya seolah digerakkan oleh insting yang terlarang. Bukan jalan berputar untuk menenangkan diri yang ia tempuh, melainkan rute familiar yang membuatnya berusaha ingin kubur dalam-dalam. Arah setir mobilnya secara konsisten menuntunnya menuju satu titik, kediaman Winta.
Sementara itu, di dalam rumah milik Winta, hening malam terasa membekukan.
Dinda baru saja kembali ke kamarnya setelah perdebatan panjang yang menyisakan luka di dada mereka berdua. Winta masih terduduk di tepi ranjang, meremas kain sarungnya yang lusuh. Pipinya masih basah oleh sisa air mata penyesalan.
Teguran Dinda memukulnya tepat di bagian paling rentan, mengingatkannya akan statusnya sebagai seorang ibu dan nenek yang seharusnya sudah selesai dengan urusan rasa.
Namun, ketika ia memejamkan mata, yang terbayang bukanlah garis kerut di wajahnya sendiri, melainkan tatapan mata Rangga di lorong toilet tadi siang. Tatapan pria plontos yang menyimpan rindu yang sama besarnya, sama merusaknya.
Tiba-tiba, dari kejauhan, dengung halus mesin mobil yang berhenti di seberang jalan depan rumahnya memecah sunyi. Winta tersentak. Jantungnya berdegup kencang secara tak wajar.
Ia bangkit perlahan, melangkah ragu menuju jendela ruang tamu yang tertutup tirai tipis. Dari balik celah kain, ia melihat sebuah mobil hitam terparkir dengan lampu utama yang mendadak dimatikan.
Di dalam mobil itu, Rangga terduduk kaku. Tangan pria itu masih bertengger di atas setir, napasnya memburu saat menatap pendar lampu teras rumah Winta. Ia tahu melangkah keluar dari mobil ini adalah sebuah kehancuran, namun berbalik arah pun rasanya sudah terlalu lambat.
Jari-jemari Winta gemetar hebat saat membuka kunci layar ponselnya. Dengan perasaan campur aduk, ia melangkah ke menu pengaturan dan membuka blokir nomor WhatsApp Rangga yang sudah beberapa hari ini ia asingkan.
Seketika, rentetan notifikasi membanjiri layarnya. Puluhan panggilan tak terjawab dan barisan pesan singkat dari Rangga bermunculan, memperlihatkan betapa frustrasinya pria itu di balik ketenangannya yang semu.
Dengan dada yang semakin sesak, Winta mengetik pesan balasan.
"Abi ngapain kesini?"
Tak sampai sedetik, tanda dua centang biru berubah menjadi dibaca. Pesan balasan dari Rangga masuk hampir seketika.
"Apa Dinda udah masuk kamar umi, bisa gak umi keluar sebentar atau Abi ketuk pintu bertamu."
Jantung Winta berdegup kencang, serasa hendak melompat keluar dari dadanya. Ia berdiri kaku di balik jendela, panik dan kebingungan setengah mati. Jika Rangga nekat mengetuk pintu rumahnya malam-malam begini, Dinda pasti akan mendengar dan kekacauan besar yang jauh lebih mengerikan akan meledak. Tapi jika ia menemuinya, ia tahu ia sedang melangkah masuk ke dalam api yang siap membakar mereka berdua.
Melihat bayangan mobil Rangga yang masih terdiam kaku di kegelapan luar, Winta menghela napas panjang yang sarat akan kepasrahan. Tak punya pilihan lain, ia mengunci pintu ruang tamu secara perlahan agar tak menimbulkan suara, lalu mengendap-endap keluar menembus dinginnya udara malam.
Setiap langkah kaki Winta menuju pagar terasa begitu berat, seolah dipasangi pemberat besi. Begitu ia mendekati mobil, pintu penumpang sebelah depan langsung terbuka dari dalam.
Dengan jemari yang dingin dan gemetar, Winta melangkah masuk dan menutup pintu dengan sangat pelan. Udara di dalam kabin mobil terasa begitu pekat, bercampur aroma parfum khas Rangga dan sisa tembakau yang samar.
Belum sempat Winta bersuara atau menatap wajah pria itu, Rangga langsung menarik tubuh Winta ke dalam pelukannya.
Rangga merengkuh wanita itu begitu erat, seolah-olah dunia di luar sana sedang runtuh dan Winta adalah satu-satunya pegangan yang tersisa.
Desah napas Rangga yang memburu berembus hangat di ceruk leher Winta, menyalurkan rindu, penyesalan, dan keputusasaan yang tertahan puluhan tahun.
"Umi..."
bisik Rangga parau.
Tanpa mampu menahan letupan emosi yang membakar dadanya lagi, Rangga merangkup kedua pipi Winta. Ia menatap lekat mata wanita yang kini dipenuhi genangan air mata itu, sebelum akhirnya mendaratkan ciuman yang dalam dan penuh kerinduan di bibir Winta.
Winta sempat menahan napasnya, tertegun oleh kehangatan terlarang yang merayapi seluruh tubuhnya. Logikanya memprotes keras, namun ketidakberdayaannya di hadapan rasa yang sama membuat seluruh pertahanannya runtuh seketika dalam heningnya malam.
Bersambung