NovelToon NovelToon
Tale Of Mumei

Tale Of Mumei

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Liang Hou

Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Bisikan di Dasar Sumur

Bau tanah kering dan jerami terbakar menyambut langkah Mumei saat ia memasuki wilayah Desa Kamisugi di pinggiran Provinsi Omi.

Matahari siang membakar tanpa ampun. Di kiri dan kanan jalan setapak, petak-petak sawah yang seharusnya menghijau kini terbelah-belah bagaikan retakan pada tembikar tua. Batang-batang padi menguning layu, merunduk kaku menanti kematian. Tak ada suara kepakan sayap burung atau cicit serangga; yang ada hanyalah desir angin panas yang memutar debu-debu kering di udara.

Mumei membetulkan letak topi kori-zukin putihnya. Jubah pertapa Onmyouji-nya yang tipis mulai berdebu di bagian kelim bawah. Di punggungnya, pedang kayu yang terbungkus kain rami terasa agak menekan bahunya yang mungil.

Anak perempuan duabelas tahun itu melangkah perlahan menuju pusat pemukiman. Rumah-rumah panggung beratap jerami tampak sepi dan tertutup rapat.

Di bawah naungan pohon persik tua yang meranggas, Mumei melihat seorang wanita paruh baya sedang berlutut di samping sebuah timba kayu kosong. Wajah wanita itu tirus, matanya cekung dengan bibir yang pecah-pecah memutih. Di sampingnya, seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar lima tahun terbaring lemas dengan napas satu-satu.

Mumei berhenti sepuluh langkah di depannya. Ia mengingat nasihat Ogen di pintu gerbang Kurama: 'Belajarlah bicara, belajarlah mendengarkan, dan belajarlah memahami arti hidup manusia biasa.'

Mumei menelan ludah. Tenggorokannya sendiri terasa agak kering, namun dorongan untuk menyapa manusia biasa pertama dalam perjalanannya membuat dadanya berdebar halus.

"Permisi..." suara Mumei meluncur pelan, agak kaku dan terlambat satu detik dari wajarnya. "Apakah... apakah di desa ini tidak ada air?"

Wanita itu mendongak perlahan. Matanya yang suram menatap jubah putih dan topi pertapa yang dikenakan Mumei dengan tatapan penuh keraguan dan keheranan. Pemandangan seorang anak kecil bergaun Onmyouji dengan tongkat kain rami di punggungnya jelas bukan hal yang biasa di desa terpencil itu.

"Seorang... pertapa kecil?" bisik wanita itu parau, suaranya nyaris habis. "Pergilah, Nak... Tidak ada air di sini. Sudah dua bulan langit tidak menurunkan hujan, dan tiga minggu lalu... sumur-sumur kami mendadak berubah menjadi racun hitam lalu mengering total."

Mumei melangkah dua tapak lebih dekat. Ia berlutut di tanah kering, menyejajarkan tingginya dengan anak kecil yang terbaring lemas itu. Mumei merogoh kantong kulit di pinggangnya, mengeluarkan sebuah wadah air dari labu kayu yang diberikan Biksu Tenkai, lalu membukanya.

"Ini... minum," ujar Mumei pendek, menyodorkan wadah air itu.

Mata wanita itu membelalak. Dengan jemari gemetar dan Isak tangis yang pecah, ia menerima labu air itu dan meminumkannya perlahan ke mulut anaknya. Anak kecil itu mengusap bibirnya yang basah, lalu menatap Mumei dengan mata bulat jernih yang memancarkan rasa terima kasih yang begitu murni.

"Terima kasih... Terima kasih banyak, Pertapa Kecil!" tangis wanita itu seraya membungkukkan kepalanya berkali-kali ke tanah berdebu. "Nama hamba Chiyo... Kami tidak punya apa-apa lagi untuk membalas kebaikanmu..."

Mumei tertegun. Di Gunung Kurama, ia berlatih bertarung, memotong dahan kayu, dan menghafal mantra gaib. Tak ada yang pernah membungkuk padanya karena seteguk air. Ada rasa hangat yang asing merayap di dalam dadanya—sebuah perasaan yang tidak pernah diajarkan oleh latihan pedang mana pun.

"Aku... Mumei," sebutnya pelan, mencoba mengukir senyuman tipis meski bibirnya masih agak kaku. "Kenapa sumurnya... berubah hitam?"

Sebelum Chiyo sempat menjawab, suara derap langkah kaki keras dan bisikan-bisikan panik bergaung dari arah balai desa. Beberapa penduduk pria bertubuh kurus membawa cangkul dan bambu runcing tampak berlari terburu-buru.

"Kepala Desa! Kepala Desa! Sumur utama di kuil tua kembali meletupkan uap busuk!" jerit seorang warga berbadan bungkuk.

Seorang pria tua berkumis putih yang dipanggil Kepala Desa melangkah keluar dari balai desa dengan wajah sepucat mayat. "Tutup sumur itu dengan batu raksasa! Jangan biarkan siapa pun mendekati Kuil Suiseki!"

Mumei berdiri perlahan. Ia merasakan sesuatu dari arah perbukitan belakang desa—sebuah denyut energi dingin, tajam, dan amis yang teramat familier di inderanya.

"Chiyo-san..." Mumei berpaling menatap wanita itu. "Kuil Suiseki... ada di atas sana?"

"Jangan ke sana, Mumei-sama!" cegah Chiyo panik, memegang tepi jubah putih Mumei. "Kuil itu adalah kuil pelindung mata air kami selama berabad-abad. Tapi sejak pasukan perang melintas di provinsi ini lima tahun lalu dan membakar kuil-kuil kecil di perbatasan... tempat itu menjadi terkutuk. Siapa pun yang mendekati sumur kuil akan mendengar suara bisikan meratap, lalu tubuh mereka akan demam tinggi hingga tewas!"

Mumei menatap ke arah perbukitan. Mata kanannya—yang berada di balik bayangan topi pertapa—berdenyut halus. Di mata biasanya, bukit itu hanya tampak seperti hutan kering. Namun dalam penglihatan spiritualnya, sebuah selubung uap berwarna kelabu pekat bercampur noda hitam keunguan melayang-layang merayap menutupi mata air desa.

Itu bukan sekadar kemarau alami. Itu adalah bekas penderitaan Perang Odawara yang membusuk di bawah tanah.

"Aku... ingin melihatnya," kata Mumei pelan namun tegas pada Chiyo.

"Tapi Mumei-sama, itu berbahaya!"

"Aku seorang Onmyouji," jawab Mumei, menggunakan gelar yang diberikan Tenkai untuk pertama kalinya. Suaranya kini terdengar sedikit lebih mantap. "Aku harus tahu... apa yang membuat air kalian hilang."

Mumei melangkah menyusuri jalan desa, melewati belasan warga yang menatapnya dengan campuran rasa takut, penasaran, dan harapan tipis. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Mumei tidak bertindak sebagai bayangan yang bersembunyi dari manusia, melainkan melangkah di tengah-tengah mereka—membawa cengkeraman pedang kayu di punggungnya dan segel mata air spiritual di jiwanya untuk menyingkap tabir kegelapan pertama di tanah Omi.

***

"Siapa yang merobek segel di atas batu sumur ini, Kepala Desa?"

Suara Mumei meluncur jernih namun dingin, membelah keheningan mencekam di pelataran Kuil Suiseki. Anak perempuan itu berdiri tepat di depan lingkar sumur batu tua yang telah retak-retak. Angin kering yang berhembus dari arah hutan kayu persik meredup seketika, berganti dengan aroma busuk yang menyerupai bau belerang bercampur darah mengering.

Di belakang Mumei, Kepala Desa dan tiga warga pria melangkah sangat hati-hati, memegang erat gagang cangkul mereka dengan tangan gemetar. Wajah sang Kepala Desa sepucat kain kafan, matanya enggan menatap lubang sumur yang gelap gulita.

"T-Tuan Pertapa Kecil..." bisik Kepala Desa dengan bibir bergetar. "Tiga minggu lalu, lima prajurit pelarian dari perang timur datang ke desa kami. Mereka mendengar rumor bahwa klan Hojo menyimpan peti emas rahasia di dalam sumur kuil-kuil Kanto dan Omi. Mereka merobek tali shimenawa dan papan segel kayu tua di atas sumur ini secara paksa..."

"Lalu di mana prajurit-prajurit itu sekarang?" tanya Mumei seraya melangkah satu tapak mendekati bibir sumur.

"Malam setelah mereka membongkar segel itu..." suara Kepala Desa menciut hingga nyaris menjadi bisikan tak berwujud, "...jeritan mereka menggelegar dari dalam kuil. Besok paginya, kami menemukan kelimanya tergeletak kaku di pelataran ini. Tubuh mereka menghitam bagaikan kayu terbakar, dan mata mereka mendelik ketakutan. Sejak hari itu, air sumur berubah menjadi cairan hitam pekat sebelum akhirnya mengering total."

Mumei menundukkan kepalanya, mengamati dasar sumur yang kelam.

Mata kanannya di balik bayangan topi pertapa berdenyut halus. Dalam pendaran penglihatan spiritualnya, Mumei tidak melihat sekadar lubang batu kosong. Di dasar sumur setinggi sepuluh meter itu, tergumpal lautan asap kelabu-hitam yang sangat pekat—kabut rasa benci dan penderitaan dari ribuan jiwa prajurit yang tewas mengenaskan selama perang lima tahun lalu, yang tersedot dan terperangkap ke dalam celah mata air yang terbuka.

Mumei merogoh kantong kulit di pinggangnya. Jemari lenturnya menarik selembar kertas mantra ofuda kuning bertuliskan kaligrafi darah raksa.

"Biksu Tenkai mengajariku mantra penyucian dasar..." gumam Mumei pelan pada dirinya sendiri.

Dengan gerakan anggun yang terukur, Mumei menyilangkan dua jarinya, menempelkan kertas ofuda itu di depan dada, lalu menghembuskan napas pelan.

"On abokya beiroshanou makabodara mani handoma jinbara harabari taya un..."

BZZZZT!

Kertas mantra di jemarinya mendadak menyala dengan pendaran cahaya keunguan yang bersih dan lembut. Mumei melempar kertas itu tepat ke tengah-tengah lubang sumur.

BUMM!

Sebuah letupan cahaya keunguan meletus di dasar sumur. Gelombang udara dingin berhembus keluar, menyapu pelataran kuil dan melenyapkan bau belerang yang menyengat dalam hitungan detik. Asap hitam pekat di sekitar bibir sumur memudar, menyisakan batu-batu dinding sumur yang kini tampak lebih bersih dari noda hitam.

Kepala Desa dan para warga menahan napas. "A-Airnya... apakah airnya sudah kembali?!"

Seorang warga berlari mendekat dengan timba kayu, menjatuhkannya ke dasar sumur dengan harapan yang meluap-luap. Namun, saat timba ditarik kembali ke atas... yang terdengar hanyalah benturan kering kayu bertemu batu.

Timba itu kosong. Tak ada setetes air pun yang naik.

Mumei menatap dasar sumur dengan kening berkerut halus. Udara di sekitar sumur memang terasa lebih segar, dan rasa menyengat dari roh jahat telah menipis di permukaan, namun denyut mata air utama jauh di dasar bumi masih membeku total.

"Pembersihan sederhana ini... tidak cukup," ucap Mumei pelan, berpaling menatap Kepala Desa. "Aku hanya membersihkan racun yang ada di permukaan mulut sumur. Tetapi energi penderitaan di dasar tanah terlalu pekat... penderitaan itu telah menggumpal dan menyumbat inti mata air di dalam rongga batu."

"Lalu... lalu apa yang harus kami lakukan, Tuan Pertapa?!" jerit Kepala Desa panik, meremas jubahnya. "Apakah desa kami memang ditakdirkan untuk mati kehausan?!"

Mumei terdiam. Ia meraba gagang pedang kayunya yang terikat di punggung. Ia menyadari bahwa mantra dari atas tanah tidak akan pernah bisa menjangkau akar dari kegelapan ini.

Mumei menatap ke dalam kegelapan sumur tua itu sekali lagi, merasakan cengkeraman dingin dari roh penderitaan yang menunggu di dasar bumi.

"Aku harus turun ke dalam..." bisik Mumei, suaranya tenang namun menyimpan tekad besi yang tak tergoyahkan.

1
Friend_A
bagus
Xiao Qiao
ngakak tengil bnget nih bocah wkwk🤣
Liang Hou: sesuai sifat aslinya kak 😭😭
total 1 replies
Xiao Qiao
bentar banget thor pertarungannya
Liang Hou: masih agak bingung bikin pertarungan panjang lawan Yokai 🙏
total 1 replies
Xiao Qiao
hmm lumayanlah untuk fiksi sejarah, tapi politiknya terlalu kental jadi agak susah dicerna
Liang Hou: thanks udah baca
total 1 replies
Liang Hou
🤏
penajalanan_
gak jelas banget authornya arc 1 gini doang
penajalanan_
kurang menarik
penajalanan_
bertele-tele sampah
penajalanan_
campur aduk, ini cerita sejarah apa fantasi sih. Sejak kapan tengu ikut perang, lagian mana ada tengu di desa tengu itu tinggal di gunung
penajalanan_
sotoi, Takenaka Hanbei aja udah meninggal tahun 1579 masa ketemu sama Hanbei saat menuju Yamazaki emangnya bisa hidup lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!