NovelToon NovelToon
Goresan Takdir

Goresan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:46.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fernanda Syafira

Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Memulai Perlawanan

"Sasa mau rambut seperti Bunda." Pinta Sasa saat melihat gelungan rapi rambut Astri.

"Ini sudah rapi, Nduk." Ujar Raden Daksa.

"Enggak! Sasa Mau yang kayak Bunda, Yah." Kata Sasmaya sambil melepas ikat rambutnya.

"Gusti Allah..." Lirih Raden Daksa saat melihat rambut Sasmaya kembali berantakan.

Astri hanya bisa terkikik geli melihat wajah Raden Daksa. Suaminya itu, tampak lucu ketika menghadapi tingkah Sasmaya yang terkadang kerap membuatnya tak bisa berkata-kata.

"Sini, Bunda rapikan rambutnya, Nduk." Kata Astri yang kemudian meminta Sasmaya untuk duduk di depan meja rias.

Dengan telaten, Astri mengepang dan menggelung rambut Sasmaya yang cukup panjang. Setelah di botaki waktu bayi, Raden Daksa memang tak memperbolehkan Sasmaya untuk memotong rambutnya. Hanya sesekali di rapikan bagian ujungnya saja.

Raden Daksa tersenyum, melihat bagaimana Astri dengan telaten mengurus putri sambungnya. Astri juga meladeni ocehan Sasmaya yang tak pernah berhenti.

"Sudah selesai." Ujar Astri setelah memasangkan hiasan berbentuk kupu-kupu di bagian gelungan rambut Sasmaya. Sasmaya pun tersenyum puas setelah melihat hasil karya dari Bundanya.

"Sasa sudah cantik seperti Bunda belum, Ayah?" Tanya Sasmaya sambil melihat Raden Daksa dari pantulan cermin.

"Sampun, Nduk. Sasa sudah cantik seperti Bunda." Jawab Raden Daksa yang membuat Sasmaya tersenyum senang.

"Mas gak dirapikan juga rambutnya, Dek Ayu? Ini berantakan." Ujar Raden Daksa yang sengaja mengacak-acak rambutnya. Astri pun tertawa kecil, melihat tingkah suaminya yang tak mau kalah dengan putrinya.

"Sini, Mas. Aku rapikan rambutnya." Kata Astri.

Raden Daksa pun berganti duduk di kursi meja rias. Astri kemudian menyisiri rambut Raden Daksa dan sedikit merubah tatanan rambutnya hingga membuat penampilan Raden Daksa terlihat lebih segar.

Setelah selesai dengan rambut Raden Daksa, Astri kemudian menyemprotkan parfum ke tubuh suaminya.

"Kamu beli parfum baru, Dek Ayu?" Tanya Raden Daksa.

"Njih. Ngapunten, parfum Mas tertinggal. Jadi aku pesan parfum dan di antar kesini." Jawab Astri.

"Mas ndak suka wanginya?" Tanya Astri kemudian.

"Mas suka. Wanginya segar dan tidak terlalu menyengat. Matur suwun njih, Sayang." Ucap Raden Daksa yang kemudian mengecup pipi istrinya.

"Kok Ayah cium Bunda? Sasa juga mau cium Bunda!" Seru Sasmaya.

"Gak mau Ayah cium, kayak Ayah cium Bunda?" Tanya Raden Daksa yang langsung dijawab dengan gelengan cepat oleh Sasmaya.

"Sini, anak wedok (perempuan) Bunda." Ujar Astri yang kemudian menyodorkan pipinya pada Sasmaya.

Setelah selesai bersiap, mereka kemudian keluar dari kamar dan menuju ke Pendopo Utama sebelum nantinya Astri dan Sasmaya akan pergi ke Pendopo wanita.

Ketiganya berjalan sambil sesekali bercanda. Sasmaya tampak begitu bahagia bergurau dengan Astri yang berjalan di sebelah Raden Daksa.

"Ingat, nanti harus manut kalih Bunda (menurut pada Bunda) ya, Nduk." Pesan Raden Daksa.

"Njih, Ayah." Jawab Sasmaya sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada, lalu sedikit membungkuk ke arah Raden Daksa.

"Itu ada Paklik Dwipa dan Bulik Serayu." Ujar Sasmaya sambil tersenyum dan menunjuk ke arah Raden Dwipa yang baru keluar dari kamarnya.

Terasa atmosfer kecanggungan ketika mereka berempat bertemu. Terlebih lagi Raden Dwipa yang kembali merasa cemburu saat melihat Astri menggandeng lengan Kakaknya.

"Mas... Mbak..." Sapa Raden Dwipa dengan canggung. Serayu sendiri hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Paklik.... " Seru Sasmaya yang kemudian menghampiri Raden Dwipa.

Raden Dwipa segera berjongkok dan merentangkan tangannya untuk menyambut kedatangan Sasmaya yang berlari kecil ke arahnya.

"Jangan lari-lari, Cah Ayu." Kata Raden Dwipa yang kemudian menangkap tubuh Sasmaya dan menggendongnya.

Dwipa memang cukup dekat dengan keponakannya itu. Mereka berdua sering kali menghabiskan waktu bersama saat Sasmaya berada di rumah utama.

"Sasa cantik sekali." Puji Serayu sambil menjawil dagu Sasmaya yang berada di gendongan suaminya.

"Matur suwun, Bulik." Jawab Sasmaya.

"Ayo kita ke Pendopo Utama." Ajak Raden Daksa.

Raden Dwipa mengangguk. Ia yang masing menggendong Sasmaya, kemudian berjalan lebih dulu, sementara Raden Daksa dan Astri berjalan di belakang Serayu.

Saat para tetua sampai, mereka yang berusia lebih muda, menyambut dan menyalami para tetua. Setelah itu, barulah para wanita bersama-sama berpindah ke pendopo wanita.

"Cari apa, Dek Ayu?" Tanya Raden Daksa.

"Sendalku sebelahnya ndak ada, Mas." Jawab Astri.

Raden Daksa pun segera mencari sendal milik istrinya yang ternyata terjatuh di selokan kecil yang ada di pendopo. Untung saja selokan itu dalam kondisi kering hingga tak membuat sendal Astri kotor.

"Sini Mas bantu pakaikan." Ujar Raden Daksa yang kemudian berlutut di depan istrinya.

"Mas, jangan." Tolak Astri sambil mundur satu langkah dan melihat sekelilingnya.

Tindakan Raden Daksa yang berlutut pada Astri untuk membantu memakaikan sendal, merupakan sebuah pantangan di aturan keluarga Soeradiningrat. Pria tidak boleh berlutut atau merendah pada istrinya.

Maka dari itu, Astri yang sudah mengetahui hal itu buru-buru menari kakinya. Namun, Raden Daksa justru terlihat 'menantang' aturan.

"Jangan takut. Tidak apa-apa." Kata Raden Daksa. Ia menarik kaki Astri, membersihkan telapak kakinya sekilas, lalu memakaikan sendal sepatu di kaki Astri.

Banyak tetua yang melihat hal itu, hingga membuat Astri merasa canggung. Namun, ia tak bisa apa-apa karena Raden Daksa yang memaksanya.

Setelah memakaikan sendal pada Astri. Raden Daksa berdiri, ia kemudian merangkul pinggang Astri dan mendaratkan kecupan di dahi istrinya.

"Mas! Yang Mas lakukan itu-"

"Melanggar aturan?" Potong Raden Daksa.

"Mas tidak merendahkan diri. Mas hanya menunjukkan salah satu bentuk kasih sayang dari suami pada istrinya. Kita sudah dewasa, harusnya bisa membedakan mana sebuah act of service dan mana yang disebut dengan merendahkan diri." Jawab Raden Daksa dengan tenang. Ia sengaja menyelipkan sindiran dengan tujuan untuk merubah mindset dari para tetua yang terlalu kolot di era ini.

Mendengar ucapan Raden Daksa, membuat para Sesepuh yang ada disana terdiam. Tentu mereka merasa tersentil dengan apa yang di sampaikan Raden Daksa. Pria itu mulai terang-terangan melawan aturan kolot yang mengikat.

Marini memalingkan wajahnya. Ia terlihat geram dengan perubahan putranya yang tampak menggilai istrinya.

"Benar-benar tidak punya etika kamu, Astri. Keluarga Kartawidjaja memang membesarkan anak-anak mereka tanpa tata krama. Bisa-bisanya dia mengubah sikap putraku yang bisanya selalu manut (patuh) pada aturan dalam waktu singkat." Gerutu Marini.

"Cukup Ibu!" Ujar Raden Daksa yang mendengar gerutuan Ibunya.

"Jangan menyalahkan Astri dan membawa-bawa nama keluarganya. Setiap keluarga pasti mengusahakan yang terbaik untuk membesarkan anak-anak mereka." Ujar Raden Daksa. Ia kemudian maju satu langkah di depan Astri, untuk melindungi istrinya.

"Semua tindakan yang aku lakukan ini, murni atas pemikiranku. Tidak semua hal yang dilakukan di keluarga ini benar. Kita harus bisa memilah, mana yang masih bisa di terima pada era ini, dan mana yang harus kira tinggalkan." Imbuh Raden Daksa.

"Sudah cukup-" Raden Soebroto membuka suara hingga suasana menjadi hening meskipun tak bisa menutupi atmosfer ketegangan di dalamnya.

"Silahkan menuju ke Pendopo wanita. Sebentar lagi tamu undangan kita sampai. Tolong jangan membuat keributan. Jaga martabat keluarga Soeradiningrat di depan tamu undangan." Titah Raden Soebroto.

1
Santi Seminar
panas membara
Fisca vis vis
novel ini bnyak adegan mantap2nya 🤣, mngkin karna raden daksa pak duda sndiri di bnding tokoh novel yg lain jdi dibuat beda 🤣🤣🤭
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
novel yang ini lebih byk adetan mantap2nya dr yang sebelum nya. pasangan hp mereka.
Rahmawati
hareudang hareudang
Nyai Aksara 👩‍🦯
Ealah, kenapa gini terus adrgannya
This Is Me
Jadi kepikiran, apakah Yg dikandung istrinya itu anak Dwipa?
🤔🤔
ika
Peh ...
othor kie...🤣😄
Sukarti Wijaya
cuaca sudah panas tambah panas...🤭😄🤣
Intan Nurwulan
Hareudang gini ka othor,,jdi pengen honeymoon lg😂😍
citraalief
fanasss oeyyyy.... fanasss...🤣🤣🤣 maternuwun Kak sampun up seng puanass... puanassss🥰🙏
Reni Setia
hot hot haredang 😄😄
citraalief
😘 Semangat Up Kakk👍🙏💪
Nur Wakidah
pasangan teruwuuuuu😍😍😍😄😄😄
Rahmawati
itulah rasa iri timbul karna ketidakadilan, , tambah lope lope deh sama raden daksa
This Is Me
Astri & Daksa pasti jadi pasangan ortu idaman 🩷🩷
Rahmawati
astri. harus rajin olahraga biar bisa ngimbangi raden Daksa yg sll on fire😂
This Is Me
Terlalu lama puasa nih🤣
Reni Setia
raden Daksa lagi maruk,,, maklum duda lama 😄😄
🟢Rafifah
bsk sblm honeymoon terakhir mantap2 ny di kolam renang nich pasti seru
ika
wadowwww🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!