Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.
Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.
Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: BERCAK MERAH PERTAMA
Suhu udara di dalam ruang sidang yang dingin dan formal terasa begitu kontras dengan ingatan yang mendadak melintas di benak Ranti. Saat majelis hakim membacakan tata tertib dan memeriksa kelengkapan berkas kedua belah pihak, pikiran Ranti justru melayang kembali ke masa delapan bulan lalu.
Masa di mana benang-benang kebohongan Sony baru pertama kali terurai, berawal dari sebuah noda kecil yang tampak sepele, namun menjadi retakan pertama dari dinding rumah tangga mereka.
Delapan Bulan Lalu – Keranjang Pakaian Kotor
Malam baru saja beranjak larut. Suara gemericik air hujan yang menetes di atap teras beradu dengan deru mesin cuci di ruang laundry belakang. Ranti, yang baru saja menidurkan Bima, melangkah menuju area mesin cuci untuk memilah pakaian kotor suaminya.
Sony baru saja tertidur lelap di kamar atas, mengaku kelelahan setelah "rapat maraton dengan investor luar kota" selama dua hari berturut-turut.
Dengan ketelatenan seorang istri yang terbiasa mengurus rumah, Ranti mengambil kemeja kerja Sony berwarna putih bersih yang tergantung di keranjang. Seperti biasa, Ranti selalu memeriksa setiap saku dan lengan kemeja sebelum memasukkannya ke dalam mesin cuci—memastikan tidak ada kertas kuitansi, uang kertas, atau pulpen yang tertinggal.
Namun, saat jemarinya membalikkan bagian pergelangan tangan (cuff) kemeja sebelah kanan, langkahnya mendadak terhenti.
Sebuah goresan garis berwarna merah kecokelatan menggaris tebal di lipatan kain putih itu. Noda itu tidak terlalu besar, tetapi warnanya sangat pekat dan mencolok.
Ranti mendekatkan lipatan kemeja itu ke hidungnya. Bau detergen dan pewangi baju bercampur dengan aroma parfum maskulin milik Sony. Namun, ada keharuman lain yang samar-samar tercium dari noda merah itu—aroma manis buah ceri dan vanilla yang sangat spesifik.
Ranti menyentuh noda itu dengan ujung jarinya. Teksturnya sedikit lengket dan pekat.
Lipstik.
Jantung Ranti berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia segera berbalik menuju meja riasnya di dalam kamar mandi bawah, mengambil koleksi lipstik dan pemulas bibir miliknya. Ranti mencocokkan warna noda di kemeja Sony dengan seluruh warna lipstik yang ia punya.
Nude, peach, merah muda lembut. Ranti tidak pernah menggunakan lipstik berwarna merah gelap kecokelatan dengan tekstur matte sepekat itu. Warna itu terlalu mencolok dan berani untuk selera Ranti yang selalu menyukai riasan natural.
"Ini... bukan warna lipstikku," gumam Ranti pelan pada dirinya sendiri.
Sebuah pertanyaan besar mendadak menggantung di benaknya. Bagaimana bisa noda lipstik wanita lain menempel di pergelangan baju bagian dalam kemeja Sony?
Jika itu hanya akibat ketidaksengajaan saat berdesakan di lift kantor atau bersalaman dengan rekan kerja, noda itu seharusnya berada di bahu luar atau dada kemeja. Tetapi ini terletak di pergelangan baju bagian dalam—posisi yang hanya bisa tersentuh jika lengan baju itu berada sangat dekat, memeluk, atau menyangga tubuh seseorang.
Kenyataan yang sebenarnya tak pernah Ranti bayangkan malam itu: noda merah tersebut ditinggalkan oleh Raya pada sore harinya. Sore di mana Sony dan Raya pertama kali menyerahkan diri mereka pada hawa nafsu di sebuah kamar hotel melati di pinggiran kota. Raya, yang saat itu tersengal dalam dekapan Sony, tanpa sengaja menggoreskan bibirnya ke pergelangan tangan kemeja Sony saat pria itu melepas pakaiannya terburu-buru.
Ranti memegang kemeja putih itu erat-erat. Merasa ada yang tidak beres, ia mematikan mesin cuci dan melangkah perlahan menuju kamar utama di lantai dua.
Sony tertidur pulas di atas ranjang king size. Wajahnya tampak begitu tenang di bawah remang lampu tidur. Ranti berdiri di samping ranjang, menatap suaminya dengan perasaan yang mulai bergemuruh.
"Mas... Mas Sony," panggil Ranti pelan seraya menepuk bahu Sony lembut.
Sony bergumam pelan, menyesuaikan matanya dengan siluet Ranti. "Eung... Ranti? Ada apa, Sayang? Jam berapa sekarang?"
"Mas, bangun sebentar. Ada yang mau aku tanyakan," tutur Ranti, suaranya diusahakan setenang mungkin.
Sony mengusap mukanya yang masih diliputi kantuk, lalu duduk bersandar pada kepala ranjang. "Kenapa, Ran? Bima rewel?"
Ranti mengangkat kemeja putih yang ia pegang dan menyodorkan bagian pergelangan tangannya tepat di depan mata Sony.
"Ini noda apa, Mas?" tanya Ranti lurus.
Sony berkedip beberapa kali, mencoba memfokuskan pandangannya. Saat menyadari noda merah pekat di lipatan kemejanya, raut wajah Sony seketika menegang selama beberapa detik. Pupil matanya membesar—sebuah gestur tubuh refleks dari seseorang yang terkejut dan terancam.
Namun, sebagai pria yang mahir bersilat lidah, Sony dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya. Ia terkekeh pelan, tawa yang terdengar sedikit dipaksakan.
"Astaga, Ranti... kamu membangunkan aku malam-malam cuma gara-gara noda di kemeja?" keluh Sony seraya meregangkan otot lehernya.
"Aku cuma tanya, Mas. Ini noda lipstik siapa?" cecar Ranti tanpa terkecoh oleh reaksi santai suaminya. "Warna ini bukan milikku. Dan bau parfum di noda ini juga beda."
Sony mendesah napas panjang, menunjukkan mimik wajah seolah-olah ia sedang dituduh secara tidak adil. Ia meraih tangan Ranti dan memegangnya erat.
"Sayang, coba dengarkan dulu," kata Sony dengan nada suara yang sangat lembut dan penuh kehangatan meyakinkan. "Tadi siang, waktu rapat dengan tim pemasaran dan klien baru, sekretaris Pak Wijaya tidak sengaja tersandung pas mau menyajikan kopi. Tangan dia hampir jatuh dan menyenggol tanganku."
"Sekretaris Pak Wijaya?" ulang Ranti, alisnya bertaut.
"Iya, Ran," potong Sony cepat tanpa ragu. "Dia latah dan panik, refleks pegang lengan kemejaku supaya tidak jatuh. Wajahnya sempat dekat banget sama tanganku. Aku sendiri baru sadar kalau lipstiknya nempel di baju. Kenapa? Kamu curiga sama aku?"
Sony menatap mata Ranti dengan tatapan polos dan penuh kasih sayang yang begitu manipulatif.
"Ranti... kamu tahu betul betapa aku mencintai kamu dan Bima," lanjut Sony seraya mengelus pipi Ranti lembut. "Aku kerja keras banting tulang dari pagi sampai malam itu demi kalian. Apa masuk akal kalau aku macam-macam di luar sana?"
Ranti membisu. Tatapan mata Sony begitu jernih, suara dan gestur tubuhnya sangat meyakinkan. Tidak ada tanda-tanda kegugupan terbuka dari pria yang telah menemaninya bertahun-tahun itu.
Apakah aku yang terlalu berburuk sangka? bisik Ranti dalam hatinya.
"Kamu ragu sama suami kamu sendiri?" bisik Sony lagi, mengikis sisa-sisa kecurigaan di kepala Ranti. "Kalau kamu tidak suka, besok aku minta Pak Wijaya ganti sekretaris lain saja saat rapat. Biar kamu tidak pikiran."
Ranti menarik napas panjang, rasa bersalah mendadak menyeruak di dadanya karena telah menuduh suaminya yang lelah bekerja.
"Maaf ya, Mas," ucap Ranti akhirnya, suaranya melunak. "Aku cuma... kaget saja melihat noda itu. Aku terlalu sayang sama kamu, jadi aku takut."
Sony tersenyum manis, menarik tubuh Ranti ke dalam pelukannya yang hangat. Ia mencium puncak kepala istrinya dengan penuh kelembutan.
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku senang kalau kamu cemburu, artinya kamu masih sangat cinta sama aku," bisik Sony di telinga Ranti. "Tapi tolong percaya sama aku, ya? Di hati aku cuma ada kamu."
Di dalam dekapan Sony malam itu, Ranti mengangguk dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Ia tidak menyadari bahwa di balik punggungnya, Sony menghembuskan napas lega yang sangat panjang, sembari menyunggingkan senyum kemenangan yang licik.
Malam itu, Ranti memilih untuk percaya. Ia membiarkan intuisi kewanitaannya terbungkam oleh kata-kata manis dan manipulasi yang rapi. Ia mencuci kemeja putih itu hingga nodanya hilang, tanpa menyadari bahwa noda merah pertama itulah yang menandai berawalnya kehancuran besar dalam hidupnya.
Kembali ke Masa Kini – Ruang Sidang Pengadilan Agama
Ketukan palu hakim berbunyi nyaring.
"Dengan ini, sidang pemeriksaan berkas perkara gugatan cerai dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap Hakim Ketua dengan suara berat yang menggema.
Ketukan palu itu menghancurkan seluruh ingatan masa lalu Ranti. Ia mengedipkan matanya, kembali berada di dalam realitas ruang sidang yang dingin.
Ranti melirik ke sebelah kanannya. Sony duduk di kursi tergugat dengan wajah tertunduk layu. Pria yang delapan bulan lalu begitu lihai membohonginya dengan alasan "sekretaris klien", kini tak mampu lagi menyusun satu kalimat pun untuk membela diri.
Ranti menyunggingkan senyum tipis yang penuh kemenangan.
Kamu pikir kamu berhasil membodohiku waktu itu, Mas, batin Ranti dengan tekad yang kian membaja. Tapi hari ini, di ruangan ini, tidak ada lagi kebohonganmu yang bisa menyelamatkanmu.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.
pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
pengacara ranti yg kurang keren
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.
ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.