Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.
Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Ya sudah," kata Rian dingin. "Aku mau bawa koper-koper ini ke kamar dulu. Ayo, Nad."
Rian menggandeng tangan Nadia dengan erat, menuntunnya menaiki tangga menuju kamar utama mereka di lantai dua. Saat melangkah di tangga, Nadia sempat melirik ke bawah dan mendapati Sarah serta Bu Ratna sedang berbisik-bisik seraya menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Di dalam kamar, Rian langsung menutup pintu dan menguncinya. Ia meletakkan koper begitu saja, lalu berbalik menghampiri Nadia dan menggenggam kedua bahunya.
"Nad, maafkan aku ya," ucap Rian penuh penyesalan. "Aku benar-benar tidak tahu kalau Ibu bakal membawa Sarah ke sini tanpa izin kita."
Nadia tersenyum tipis, merapikan kerah kemeja Rian. "Nggak apa-apa, Mas. Sarah kan emang sepupumu. Cuma... jujur, aku agak kaget aja."
"Aku tahu kamu risih," Rian mengusap pipi Nadia lembut. "Aku janji, aku bakal carikan Sarah tempat kos secepatnya begitu dia dapat kerjaan. Rumah ini milik kita berdua, Nad. Aku nggak mau ada orang lain yang bikin kamu stres lagi, apalagi kita sedang program untuk punya momongan."
Nadia mengangguk pelan, menyandarkan dadanya ke tubuh Rian. "Iya, Mas. Yang penting kita berdua tetap satu suara dan saling percaya. Aku nggak takut selama Kamu selalu ada di sampingku."
"Pasti, Sayang. Aku selalu ada buat kamu," janji Rian, mengecup kening Nadia dengan penuh kasih sayang.
Namun, di dalam hatinya, Nadia tidak bisa memungkiri adanya perasaan cemas yang mulai merayap. Kehadiran Sarah yang tiba-tiba, ditambah dengan sikap Bu Ratna yang semakin terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya, seolah menjadi sinyal bahwa ujian rumah tangga mereka belum sepenuhnya usai.
Rasa lelah pasca penerbangan masih bergelayut di tubuh Nadia. Matanya terasa sepet dan kepalanya sedikit pening akibat jetlag. Namun, belum sempat ia merebahkan badan di kasur empuknya, suara ketukan keras di pintu kamar merusak ketenangannya.
"Nadia! keluar!" seru Bu Ratna dari luar tanpa memedulikan kondisi menantunya. "Sudah mau jam enam sore. Cepat masak untuk makan malam! Ada Sarah di sini, bikin masakan yang enak!"
Nadia mendesah pelan, hendak bangkit dari tempat tidur. Namun, tangan Rian menahannya dengan lembut. Pria itu menatap Nadia dengan raut wajah tidak tega.
"Kamu istirahat saja, Nad. Wajahmu pucat banget," bisik Rian perhatian.
"Tapi ibumu, Mas..."
"Biar aku yang urus," potong Rian tegas.
Rian melangkah keluar kamar dan menghampiri ibunya di lorong. "Bu, Nadia masih capek banget habis perjalanan jauh. Malam ini kita pesan makanan online saja ya. Aku yang traktir."
Bu Ratna membelalakkan mata, tidak terima. "Loh! Kenapa harus beli? Ada menantu di rumah kok malah buang-buang uang! Manja sekali istrimu itu!"
"Aku bilang tidak, Bu. Nadia butuh istirahat, tidak hanya aku yang lelah." balas Rian dingin, tak memberikan ruang untuk bantahan. Pria itu langsung mengambil ponselnya dan memesan beberapa porsi makanan dari restoran terdekat.
Tak berapa lama, makanan pun tiba. Suasana makan malam di meja makan berlangsung sangat canggung dan sarat ketegangan. Sarah, yang duduk di sebelah Rian, tampak sengaja terus-menerus mencari perhatian.
"Mas Rian, coba deh ayamnya. Bumbunya meresap banget," ujar Sarah dengan nada manja seraya menyendokkan lauk ke piring Rian tanpa diminta.
Rian menggeser piringnya sedikit, merasa sangat risih. "Nggak usah, Sarah. Aku bisa ambil sendiri."
"Ih, Mas Rian kok gitu sih? Dulu waktu kecil kan kita sering makan bareng," cerocos Sarah lagi, tubuhnya makin condong mempet ke arah Rian hingga bahu mereka nyaris bersentuhan.
Nadia hanya menunduk, mengunyah makannya perlahan. Dadanya terasa sesak melihat tingkah sepupu suaminya itu. Rian yang menyadari ketidaknyamanan Nadia, mendadak berdeham keras dan sengaja menggeser kursinya agak menjauh dari Sarah, lalu meraih tangan Nadia di bawah meja dan menggenggamnya erat.
Anehnya, Bu Ratna yang melihat tingkah Sarah justru hanya tersenyum-senyum, seolah sengaja membiarkan ketidaknyamanan itu terjadi untuk memanasi perasaan Nadia.
Setelah makan malam usai, Bu Ratna dan Sarah langsung berdiri begitu saja dari kursi. Tanpa rasa canggung, mereka meninggalkan piring-piring kotor menumpuk di atas meja makan dan melangkah santai menuju ruang keluarga.
Nadia menghela napas panjang. Demi menghindari konflik yang lebih panjang di hari pertama kepulangan mereka, ia memilih mengalah. Nadia mulai mengangkat piring-piring kotor itu satu per satu membawa mereka ke wastafel dapur.
Saat Nadia baru menyalakan keran air, Rian sudah berdiri di sampingnya. Pria itu gulung lengan kemejanya hingga ke siku.
"Mas, kamu mau apa?" tanya Nadia kaget.
"Bantu kamu cuci piring," jawab Rian santai seraya mengambil spons cuci dan menuangkan sabun.
"Eh, nggak usah, Mas! Nanti ibumu lihat—"
"Biarkan saja," potong Rian cepat. "Ini tugas kita bersama, Nad. Kamu tidak boleh ngerjain semuanya sendiri lagi."
Dari arah ruang keluarga, suara Bu Ratna melengking memanggil anaknya. "Rian! Sini! Ini Sarah mau cerita soal rencana kerjanya di Jakarta! Sini duduk sama Ibu dan Sarah!"
Rian berpura-pura tidak mendengar. Tangannya tetap lincah membilas piring-piring kotor bersamamu.
"Rian! Kamu denger Ibu tidak sih?!" panggil Bu Ratna lagi dengan nada lebih tinggi dan ketus.
"Iya, Bu! Nanti dulu, Aku lagi sibuk!" sahut Rian tanpa berpaling dari wastafel.
Nadia menatap Rian dari samping, ada rasa haru yang menyelusup di hatinya. Kehadiran Rian yang pasang badan untuknya malam ini sedikit mengobati rasa kesalnya pada Bu Ratna dan Sarah.
Begitu cucian piring selesai, Nadia yang sudah terlalu lelah secara fisik dan emosional memilih untuk langsung memundurkan diri. "Mas, aku ke kamar duluan ya. Aku nggak mau ikut ngumpul."
"Iya, Sayang. Istirahatlah. Aku nyusul sebentar lagi," balas Rian seraya mengusap lembut rambut Nadia.
Nadia mengangguk lalu melangkah naik ke lantai dua tanpa menoleh sedikit pun ke arah ruang keluarga.
Guna menjaga dinamika keluarga dan bersikap netral, Rian melangkah ke ruang keluarga dan duduk di sofa single, berjarak dari Sarah dan ibunya.
"Kamu ini gimana sih, Rian? Dipanggil-panggil malah ngurusin piring kotor di dapur. Itu kan tugasnya Nadia!" omel Bu Ratna begitu Rian mendaratkan tubuhnya.
"Nadia bukan pembantu di rumah ini, Bu," potong Rian tenang namun menusuk. "Dan sekadar memberitahu Ibu dan kau Sarah... mulai besok pagi, akan ada asisten rumah tangga yang datang ke rumah ini jadi nggak usah nyuruh-nyuruh istriku melakukan pekerjaan seperti itu lagi. Dan kau Sarah, seharusnya kamu tau posisimu. Kamu hanya tamu yang numpang disini. Jadi, nggak usah sok jadi tuan rumah. Kerjakan pekerjaanmu sendiri."