NovelToon NovelToon
Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.

Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.

Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.

Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

06. Rencana Ibu Dan Anak

Beberapa jam sebelumnya….

Pesawat itu akhirnya mendarat. Raina masih duduk diam di kursinya meski sebagian besar penumpang sudah mulai meninggalkan kabin. Tatapannya terpaku pada jendela, memandangi tanah yang selama delapan tahun hanya berani ia lihat dari kejauhan.

Negaranya… tempat yang pernah menjadi rumah. Tempat yang juga pernah menjadi alasan terbesar mengapa ia pergi. Delapan tahun, waktu yang cukup lama untuk membuat seseorang berubah.

Cukup lama untuk mengubur kenangan, menghapus luka, dan berpura-pura bahwa masa lalu tidak pernah terjadi. Namun, bagi Raina, delapan tahun ternyata tidak cukup untuk membuat satu nama menghilang dari ingatannya. Nama ayah dari dua anak yang kini berdiri di sampingnya.

"Mamah."

Suara kecil itu membuat Raina tersadar. Ia menoleh, dimana Sean berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jaket kecilnya. Rambutnya sedikit berantakan setelah penerbangan panjang, tetapi justru membuat bocah itu terlihat semakin menggemaskan. Dengan wajah tampan yang mewarisi garis wajah ayahnya, Sean memiliki aura percaya diri yang anehnya sudah terlihat sejak kecil.

Di sebelahnya, Shia memeluk boneka kelinci kesayangannya. Berbeda dengan Sean, gadis kecil itu tampak seperti putri kecil yang baru saja keluar dari negeri dongeng. Rambut panjangnya tergerai, matanya besar dan jernih, sementara gaun kecil yang dikenakannya membuat beberapa penumpang yang lewat tidak tahan untuk melirik.

"Kenapa kita belum turun?" tanya Sean.

Raina tersenyum tipis. "Karena Mamah sedang mengingat sesuatu."

"Papah?"

Pertanyaan itu membuat senyum Raina lenyap. Sean terlalu pintar, hingga terkadang bahkan terlalu mirip dengan pria yang berusaha ia lupakan.

Raina bangkit dari kursinya dan mengambil koper. "Sudah waktunya."

Mereka bertiga berjalan keluar dari pesawat. Begitu pintu terminal terbuka, udara yang berbeda langsung menyambut mereka. Raina berhenti sesaat. Ia menghirup napas dalam-dalam.

“Selamat datang kembali,” gumam Raina lirih.

Namun kali ini, ia tidak datang untuk meminta maaf. Ia tidak datang untuk memohon. Dan ia juga tidak datang untuk melupakan masa lalu. Ia datang untuk mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya sejak delapan tahun lalu.

Sebuah mobil hitam mengilap telah menunggu di depan terminal. Seorang pria bersetelan hitam segera turun dan membungkuk sopan. "Nona Raina."

Raina hanya mengangguk. "Bagasinya."

"Baik."

Sean dan Shia masuk lebih dahulu. Begitu pintu mobil tertutup, suasana di dalam terasa jauh lebih tenang. Kursi kulit yang empuk membuat kedua anak itu langsung duduk nyaman di sisi kanan dan kiri Raina.

...****************...

Mobil mulai bergerak. Beberapa menit pertama berlalu tanpa percakapan. Sean menatap keluar jendela. Shia juga melakukan hal yang sama. Sampai akhirnya Sean berbalik.

"Mamah."

"Hm?"

"Kita mau ke mana?"

Raina menatap kedua anaknya melalui kaca spion kecil di depan. Ia sudah memikirkan pertanyaan itu sejak mereka meninggalkan bandara. “Menemui Papah kalian."

Shia memeluk bonekanya lebih erat. "Benarkah?" tanyanya lirih.

Raina mengangguk. "Benar."

"Jadi..." Sean mengerutkan kening. "Kita akhirnya akan bertemu dengan Papah?"

"Iya."

Mata Shia langsung berbinar. "Apakah Papah tampan?"

Raina terdiam. Pertanyaan itu justru membuat Sean tertawa kecil. "Shia, itu bukan hal pertama yang harus kamu tanyakan. Seharusnya kau bertanya apakah Papah orang kaya atau tidak?"

"Tapi aku ingin tahu."

Raina menghela napas. "Tampan dan sangat sangat kaya."

Sean mengangguk puas. "Bagus. Berarti aku mewarisi ketampananku dari Papah. Dan sekarang aku datang untuk mewarisi kekayaannya juga. Hahahaa…"

Raina hampir tersedak. "Percaya diri sekali."

Sean menyeringai. "Aku hanya mengatakan fakta."

Shia tiba-tiba mengangkat tangannya. "Mamah."

"Ya?"

"Apakah Papah tahu kalau kita akan datang?" Pertanyaan itu membuat suasana di dalam mobil berubah.

Raina memandang ke luar jendela. "Tidak."

Sean langsung menegakkan tubuh. "Jadi kita akan mengejutkannya?"

"Bisa dibilang begitu."

"Apakah dia tahu tentang kami?"

Raina tidak menjawab. Sebab bagaimana Sion akan mengetahui tentang kedua anak kembar itu kalau ia saja menghilang setelah malam itu. Ia tidak memberi kabar, tidak ingin mencari tahu ataupun ingin pria itu tahu tentang keberadaan darah dagingnya. Sampai sebuah kabar tentang pria itu terdengar dan berhasil mengubah semua keputusannya selama ini.

Sean mengerti. "Belum yah?"

Raina akhirnya menatap putranya. "Ya, belum."

Keheningan kembali memenuhi mobil. Delapan tahun… selama delapan tahun, pria itu tidak pernah tahu bahwa ada dua anak yang lahir dari hubungan mereka. Dua anak yang kini tumbuh menjadi alasan Raina kembali.

Shia menggigit bibir kecilnya. "Kenapa Mamah tidak pernah memberitahu Papah kalau kami ada?"

Raina menunduk saat mendapati pertanyaan dari putrinya itu. Alasannya sudah sangat jelas, karena dulu ia terlalu terluka. Karena dulu ia pergi dengan tangan kosong. Karena keluarga pria itu telah membuatnya merasa bahwa dirinya tidak pantas berdiri di samping mereka. Dan karena saat itu, Raina tidak punya cukup kekuatan untuk melawan.

Namun sekarang berbeda. Sekarang ia tidak sendirian. Ia memiliki Sean, Ia memiliki Shia dan kali ini, ia akan datang melalui pintu depan.

"Karena dulu Mamah belum kuat dan siap," jawab Raina akhirnya.

Sean mengangguk pelan. "Lalu sekarang?"

Raina menatap kedua anaknya. "Sekarang Mamah sudah menjadi kuat dan juga siap."

Mobil terus melaju. Beberapa saat kedua anak itu berhenti bertanya dan kembali sibuk menatap ke arah luar jendela mobil. Sampai Shia bertanya dengan polos, "Kalau begitu, kenapa kita tidak langsung pergi ke rumah Papah?"

Raina tersenyum tipis. "Karena Papah kalian sedang tidak berada di rumah sekarang."

"Di mana?"

Raina menatap jalanan di depan. "Di tempat yang jauh lebih menarik."

Sean langsung tertarik. "Di mana itu?"

Raina menjawab dengan tenang. "Di sebuah hotel."

"Untuk apa? Apakah Papah sedang melakukan pertemuan bisnis seperti Paman Ryland?"

Raina tersenyum, “Bukan, tapi untuk menikah lagi."

Sean dan Shia membeku. Kemarahan mulai terlihat di raut wajah keduanya. Hingga Raina tak kuasa menahan senyum melihat wajah menggemaskan kedua anaknya. Ia benar-benar tidak menyangka ide gila yang ia lakukan sebelum meninggalkan Sion akan membuatnya mendapatkan pelindung terhebat seperti Sean dan Shia.

"Menikah?" ulang Sean. "Dengan siapa?"

"Seorang wanita yang menjadi cinta pertama Papah kalian."

Shia mengedipkan mata beberapa kali. "Lalu... Mamah?"

Raina tersenyum. "Apa?"

"Mamah tidak marah?"

Raina tertawa kecil. "Marah?"

Ia menyandarkan kepalanya ke kursi. "Bagaimana menurut, Shia? Apakah Mamah terlihat marah. Dan apa kalian lupa kenapa kita datang menemuinya hari ini?"

Sean menyipitkan mata. Senyum nakal mulai muncul di wajahnya. "Jadi... kita akan menghentikan pernikahannya?"

Raina menatap putranya. Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan bandara, senyum Raina terlihat benar-benar hidup. "Kurang lebih seperti itu."

Shia langsung mendekat. "Bagaimana caranya? Mamah pasti sudah memiliki rencana yang bagus, bukan?"

Bersambung….

1
Budhe Satryo
rayna jngan terkena jebakan kamu harus bisa nglawan Calista ma anak"nya
Sri Yatun
kalo tau rencana mau menyingkirkan dan membunuhnya bakal kamu yg d usir kemungkinan besar kamu yg mati duluan ibu tiri dan saudara tiri
Budhe Satryo
makin seruuu crtanya
Budhe Satryo
misi perang dimulai rayna
Budhe Satryo
keluarga bahagia❤️❤️❤️
Budhe Satryo
adiknya yg selama ini menjadi pendukung setia rayna
Budhe Satryo
gpp salah paham dulu biar makin cinta
Budhe Satryo
misi Lum dimulai lho ...dah panas az Calista ni
Budhe Satryo
good rayna biar papah si kembar ush Dewe 😄😄😄
Budhe Satryo
moga rayna TDK mudah dijebak
Budhe Satryo
waspada rayna musuh dpn mata
Budhe Satryo
wah bisa jadi kerja sama dngn Calista tu sih laura
Budhe Satryo
akhirnya Sion bisa takluk dngn si kembar 😍😍😍
Budhe Satryo
y ampun pemilik dianggap gelandangan 🤣🤣🤣
Budhe Satryo
misi dimulai si kembar 😄😄😄
Budhe Satryo
mungkin Calista dan lea yg JD musuh dlm selimut
Budhe Satryo
bibit mafia emang g ad obat 🤣
Budhe Satryo
duo s JD pembela mamanya donk
Budhe Satryo
mulai seruuu ni 😊😊😊😍😍😍
Budhe Satryo
moga tidak JD menikah dngn laura
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!