Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.
Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.
Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: PELABUHAN DI BAWAH HUJAN
BAB 27: PELABUHAN DI BAWAH HUJAN
Hujan deras malam itu menghantam atap seng gudang-gudang tua di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa bagaikan ribuan jarum es yang berjatuhan tanpa henti. Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam yang pekat bercampur bau solar dan karat besi.
Di kegelapan dermaga yang sepi, siluet Gudang Nomor Empat tampak berdiri kaku, dikelilingi oleh tumpukan kontainer karat yang menjulang tinggi laksana benteng raksasa.
Dua unit SUV hitam VPCI berhenti tersembunyi di balik bayangan kontainer, berjarak sekitar lima puluh meter dari pintu utama gudang. Lampu kendaraan dipadamkan total.
Di dalam kabin mobil yang remang-remang, Reno Devano duduk tegak di kursi pengemudi, matanya menatap tajam ke arah pintu gudang di mana dua orang penjaga bersenjata lengkap berpatroli mengenakan jas hujan hitam.
"Sistem pengawasan mereka menggunakan kamera inframerah portabel di setiap sudut atap kontainer," bisik Dion 'Zero' Prasetya melalui earpiece dari markas pusat. Dion sedang meretas jalur komunikasi nirkabel para penjaga.
"Gue sudah menyusupkan virus perusak sinyal ke frekuensi radio mereka. Kalian punya waktu tepat tiga menit sebelum mereka menyadari gangguan di sistem internal."
Reno menoleh ke kursi samping. dr. Sara Maheswari sedang mengenakan sarung tangan taktisnya di bawah temaram lampu dasbor. Jas laboratorium putihnya diganti dengan jaket tahan air berwarna gelap, namun tas medis darurat yang dibawanya tetap tergantung rapi di bahunya.
"Mikro chip data di dalam jasad Hartanto Kusuma itu terbungkus oleh enkripsi biologis, Reno," ucap dr. Sara tenang, menatap manik mata sang detektif dengan keyakinan yang membaja.
"Jika mereka mencoba mengambilnya secara paksa tanpa prosedur medis yang tepat, chip itu akan menghancurkan dirinya sendiri lewat mekanisme thermal-self-destruct."
"Itu sebabnya kita harus merebut jasad itu sebelum mereka sempat menyentuhnya, Sara," jawab Reno dingin. Ia meraba besi pertahanan di pinggangnya, lalu menoleh ke kursi belakang.
"Bara, bagi dua tim. Kita bergerak senyap lewat jalur samping kontainer."
"Siap, Bos," sahut Bara Aksara mantap, memberikan isyarat tangan kepada dua personel taktis amfibi di belakangnya.
Satu per satu, anggota VPCI menyelinap menembus derasnya air hujan. Gelap malam dan suara gemuruh air hujan yang menghantam genangan air di pelabuhan menjadi penyamaran sempurna bagi langkah kaki mereka.
Reno bergerak di barisan terdepan. Insting psychometry-nya berdenyut samar, merasakan gelombang ketegangan yang pekat dari dalam gudang nomor empat sebuah pertanda bahwa target berada tepat di depan mata.
Tanpa suara, Reno melumpuhkan penjaga pertama di dekat pintu samping dengan kuncian leher cepat, sementara Bara menangani penjaga kedua sebelum sempat mengangkat senapan mereka.
Tubuh kedua penjaga itu diseret pelan ke balik tumpukan palet kayu.
Klek.
Bara menggunakan alat pembuka kunci senyap untuk melumpuhkan gembok magnetik pintu samping gudang. Pintu bergeser perlahan, membiarkan mereka menyelinap masuk ke dalam ruang utama gudang yang berukuran luas.
Suasana di dalam gudang jauh lebih mencekam. Lampu gantung tunggal yang tergantung di tengah ruangan memancarkan pendar kuning redup, menyoroti sebuah meja otopsi darurat yang terbuat dari baja di tengah ruangan.
Di atas meja baja itu, terbaring jasad Hartanto Kusuma yang ditutup kain terpal hitam. Di samping meja, berdiri tiga orang pria berjubah hitam berkerudung, sementara seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan bekas luka bakar di pipi kiri pemimpin sisa faksi 'Mata Timbangan' tengah memegang sebuah perangkat pemindai digital canggih.
"Cepat cari letak mikro chip itu!" bentak pria berbekas luka itu dengan suara serak yang menggema di dalam gudang yang luas. "Jika faksi Ordo Bayangan Hitam yang lain mengetahui kita memegang data ini terlebih dahulu, kepala kita semua akan dipenggal!"
"Ketua, enkripsi biologis pada jaringan dada korban terlalu kuat," lapor salah seorang anak buahnya, memegang pisau bedah di atas jasad.
"Kita butuh waktu sepuluh menit lagi untuk mem-bypass sistemnya."
Reno memberi isyarat tangan. Bara dan tim taktis langsung mengambil posisi di balik tumpukan kontainer dalam ruangan, mengarahkan moncong senjata tepat ke arah para penjahat.
"Waktu kalian sudah habis," suara tegas Reno membelah keheningan gudang, menggema tajam di antara tetesan air hujan yang merembes dari atap bocor.
Keempat pria berjas hitam itu terperanjat kaget. Mereka serentak berbalik, mencabut senjata api dari sarungnya.
"VPCI!" seru Bara lantang. "Letakkan senjata kalian sekarang juga!"
Pemimpin faksi 'Mata Timbangan' itu tidak menunjukkan rasa takut. Alih-alih menyerah, ia justru menyeringai lebar, menempelkan ujung pisau bedahnya tepat di atas dada jasad Hartanto Kusuma.
"Maju satu langkah lagi, dan aku akan merobek dada mayat ini beserta mikro chip di dalamnya!" ancam pria berbekas luka itu dengan mata memerah penuh kenekatan.
"Data rahasia ini akan hancur bersama kami!"
Reno melangkah maju perlahan, tidak memedulikan ancaman senjata tersebut. Manik hitamnya menatap tajam penuh otoritas.
"Kalian sudah terpojok, jaringan kalian di Zurich dan Selat Malaka sudah hancur. Menyerah lah, dan nyawa kalian akan diselamatkan oleh hukum."
"Hukum?" tawa pria itu pecah, menggema sinis. "Hukum dunia tidak pernah berlaku bagi kami, Detektif Reno Devano! Hartanto adalah pengkhianat, dan kamu... adalah anak bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang kematian orang tuamu!"
Mendengar kata-kata itu, kilasan memori masa lalu menyambar kepala Reno. Namun, ia tidak kehilangan fokus.
Dengan kecepatan kilat yang tidak disangka oleh musuh, Reno menarik pin granat kejut (flashback) dari sabuk taktisnya dan melemparkannya lambung tinggi ke udara di atas kepala para penjahat!
TIDAK!
BOOM!
Kilatan cahaya putih menyilaukan mata disertai ledakan suara memekakkan telinga meledak seketika di dalam gudang!
Keempat pria berjas hitam itu menjerit kesakitan, menutup mata mereka yang silau dan kehilangan keseimbangan seketika.
"Serbu!" teriak Bara.
Bara dan tim taktis bergerak secepat kilat. Dalam hitungan detik, tembakan bius dan hantaman popor senapan melumpuhkan ketiga anak buah faksi 'Mata Timbangan' hingga tersungkur jatuh ke lantai semen.
Pemimpin berbekas luka itu, meski matanya masih berkunang-kunang akibat flashbang, merangkak nekat dan menghujamkan pisau bedahnya langsung ke dada jasad Hartanto Kusuma untuk menghancurkan mikro chip!
"Tidak akan!"
dr. Sara Maheswari yang berlari di belakang Reno melompat menerjang maju, menghantam tangan pria itu dengan koper medisknya hingga pisau bedah tersebut mental jauh ke lantai.
Reno menyusul cepat, mencengkeram kerah jaket pria berbekas luka itu, dan menghantamkan pukulannya telak ke rahang sang pemimpin sindikat hingga pria itu jatuh pingsan tak berdaya di genangan air lantai gudang.
Suasana gudang kembali hening, hanya menyisakan suara deru napas memburu dari anggota VPCI dan deran hujan lebat di luar bangunan.
Bara dan anak buahnya segera memborgol seluruh penjahat dan mengamankan area.
dr. Sara dengan sigap membuka penutup terpal jasad Hartanto Kusuma.
Ia mengeluarkan perangkat pemindai mikro medis steril dari tas taktisnya, lalu dengan kepresisian tangan seorang ahli bedah forensik jenius, ia memasukkan jarum penarik khusus ke sela-sela tulang dada korban.
BIP!
Lampu hijau kecil menyala pada perangkat pemindai dr. Sara. Sebuah silinder mikro chip data kecil berukuran sebutir beras berhasil diekstrak keluar dengan aman tanpa merusak sedikit pun enkripsinya.
dr. Sara menghela napas lega, mengangkat mikro chip itu dengan pinset dan memasukkannya ke dalam tabung pengaman khusus. Ia mendongak, menatap Reno yang berdiri di sampingnya dengan senyuman hangat penuh kemenangan.
"Mikro chip data rahasia berhasil diamankan seratus persen, Detektif," ucap dr. Sara lembut, suaranya terdengar begitu menenangkan di tengah dinginnya malam pelabuhan.
Reno menatap dr. Sara, lalu mengukir senyum tipis yang tulus. Ketegangan di wajahnya perlahan mencair.
Ia tahu, sekali lagi, perpaduan antara keberanian taktis, ketajaman insting, dan kepresisian sains forensik telah menyelamatkan kebenaran dari cengkeraman kegelapan.
Di luar gudang, deru sirene polisi patroli mulai terdengar mendekat membelah hujan malam Jakarta. Kasus pencurian jenazah dan konspirasi mikro chip faksi 'Mata Timbangan' resmi ditutup, menyisakan keadilan yang berdiri kokoh di bawah naungan VPCI.