Seorang Kaisar pengendali petir menyamar menjadi kuli bangunan demi membangun kembali bangsanya, namun ia justru menemukan cinta yang memaksanya meruntuhkan tradisi kuno demi seorang pria biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anton Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: LAMARAN YANG MENGGUNCANG TRADISI
Udara di dalam Aula Agung Kekaisaran Ser terasa lebih berat daripada biasanya. Ruangan luas yang mampu menampung ribuan orang itu kini diselimuti keheningan yang mencekam. Di atas takhta emas yang berkilau, Serena Arrinra duduk dengan tegak. Mengenakan pakaian kebesaran yang paling formal—jubah sutra hitam dengan sulaman naga petir perak—wajahnya tampak seperti pahatan marmer yang dingin. Di samping bawah takhtanya, berdiri Anton Firmansyah. Pemuda itu telah mengenakan pakaian bangsawan tingkat rendah yang bersih, namun kegelisahan terpancar jelas dari caranya menggenggam tangannya sendiri.
Di depan mereka, ratusan menteri, adipati, dan tetua adat berdiri dengan wajah masam. Menteri Agung Laksmana, sang pemimpin faksi konservatif, maju selangkah. Tongkat kayunya yang berujung permata membentur lantai marmer dengan bunyi tok yang bergema.
"Yang Mulia," suara Laksmana terdengar serak namun penuh otoritas. "Kami telah berkumpul di sini sesuai perintah Anda. Namun, beredar kabar yang sangat mengusik telinga kami. Kabar yang mengatakan bahwa Anda berniat menodai silsilah darah murni dinasti Arrinra dengan... sesuatu yang tidak masuk akal."
Serena mengangkat dagunya. "Menteri Laksmana, kata 'menodai' adalah pilihan kata yang sangat buruk untuk diucapkan di hadapan Kaisarmu. Katakan dengan jelas, apa yang mengusik pikiranmu?"
Laksmana menatap Anton dengan pandangan merendah, seolah-olah sedang melihat serangga di atas ubin mahal. "Pemuda ini. Anton Firmansyah. Seorang kuli bangunan. Rakyat jelata tanpa silsilah, tanpa gelar, dan tanpa kontribusi politik bagi Kekaisaran Ser yang luasnya dua juta kilometer persegi ini. Benarkah desas-desus bahwa Anda berniat menjadikannya pendamping hidup Anda?"
Aula itu seketika riuh dengan bisikan-bisikan tajam. Serena berdiri dari takhtanya. Kilatan listrik kecil mulai menari-nari di ujung jemarinya, sebuah tanda bahwa emosinya sedang diuji.
"Benar," suara Serena lantang, memotong semua bisikan. "Aku, Serena Arrinra, hari ini mengumumkan kepada seluruh penjuru kekaisaran bahwa aku telah memilih Anton Firmansyah sebagai calon suamiku. Dia akan menjadi Konsorsium Kekaisaran Ser."
BRAKK!
Seorang adipati tua memukul mejanya hingga retak. "Ini gila! Ini adalah penghinaan terhadap leluhur! Yang Mulia, apakah Ilmu Petir Langit telah merusak kewarasan Anda? Sejak zaman pendiri kekaisaran, darah Arrinra hanya boleh bersatu dengan darah bangsawan pilihan atau ksatria agung. Menikahi kuli bangunan adalah bunuh diri politik!"
Serena melangkah turun dari tangga takhta, mendekati barisan menteri. "Ksatria agung, katamu? Di mana para ksatria agung saat Jenderal Karsa membantai keluargaku sepuluh tahun lalu? Di mana para bangsawan saat rakyat di Distrik Utara mati kelaparan karena lumbung dipindah ke gudang pribadi kalian? Anton melakukan apa yang tidak dilakukan oleh satu pun dari kalian: dia melindungi Kaisarnya dengan nyawanya sendiri tanpa meminta imbalan apa pun. Dia memiliki integritas yang tidak bisa dibeli dengan gelar."
"Integritas tidak bisa menjaga stabilitas negara, Yang Mulia!" Laksmana berteriak, suaranya gemetar karena marah. "Jika Anda menikahi dia, kedaulatan kita di mata kekaisaran tetangga akan runtuh. Mereka akan menertawakan kita! Rakyat jelata akan merasa mereka bisa setara dengan kita, dan itu akan memicu anarki!"
Suara dari Rakyat Jelata
Di tengah perdebatan panas itu, Anton, yang sejak tadi diam, akhirnya melangkah maju. Ia berdiri tepat di samping Serena. Meskipun ia tidak memiliki kekuatan magis atau gelar, sorot matanya menunjukkan keberanian yang lahir dari kerja keras bertahun-tahun.
"Mohon izin, Yang Mulia, dan para tuan yang terhormat," suara Anton terdengar rendah namun stabil.
"Diam kau, rakyat jelata! Kau tidak punya hak bicara di Aula Agung!" bentak seorang menteri muda.
"Biarkan dia bicara!" Serena menghardik. "Siapa pun yang memotong ucapannya akan berhadapan langsung dengan pedang Raijin."
Aula kembali hening. Anton mengatur napasnya. "Saya tahu siapa saya. Saya tahu bau keringat saya tidak akan pernah hilang sepenuhnya dari ingatan lantai marmer ini. Saya memang hanya seorang kuli bangunan yang terbiasa mengangkat beban berat demi sesuap nasi bagi adik-adik yatim saya."
Anton menatap Laksmana dengan berani. "Tuan Menteri bilang saya tidak punya kontribusi politik. Mungkin benar. Tapi saya tahu bagaimana rasanya melihat jembatan yang runtuh karena semennya dikorupsi oleh orang-orang berpangkat seperti Anda. Saya tahu bagaimana rasanya tidur di tanah saat kalian berpesta di atas sutra. Jika Yang Mulia Serena memilih saya, itu bukan karena saya ingin kekuasaan. Saya justru takut dengan beban ini. Namun, saya bersedia memikul beban ini karena saya mencintai wanita ini, bukan hanya takhtanya."
"Cinta?" Laksmana tertawa sinis. "Di istana ini, cinta adalah racun. Di sini yang ada hanyalah aliansi dan kepentingan."
"Itulah sebabnya istana ini terasa seperti makam bagi rakyatnya selama puluhan tahun," balas Anton tajam. "Karena kalian lupa bahwa pemimpin adalah manusia, dan manusia butuh hati, bukan sekadar aliansi."
Ketegangan di Ruang Rahasia
Setelah sidang yang berakhir buntu tersebut, Serena menarik Anton ke ruang perpustakaan pribadi di balik ruang takhta. Paman Bram sudah menunggu di sana dengan wajah yang sangat pucat.
"Yang Mulia, ini benar-benar guncangan besar. Laksmana dan faksi bangsawan baru saja keluar dari istana dan mereka langsung menuju kediaman rahasia. Saya yakin mereka sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada sekadar protes lisan," lapor Bram.
Serena menghempaskan dirinya ke kursi kayu jati. "Biarkan mereka merencanakan apa pun. Aku tidak akan mundur. Anton, apakah kau masih yakin dengan ini? Kau baru saja melihat bagaimana mereka menatapmu. Mereka ingin menghancurkanmu."
Anton mendekati Serena, berlutut di depannya, dan menggenggam tangan Serena yang dingin. "Serena, sejujurnya, aku ingin lari sekarang juga kembali ke gubukku. Tapi jika aku lari, aku membiarkan mereka menang. Aku membiarkan mereka membuktikan bahwa rakyat jelata memang pengecut. Aku akan tetap di sini, di sampingmu, selama kau menginginkanku."
Serena tersenyum sedih. "Aku tidak menyangka lamaran ini akan menjadi awal dari perang saudara yang tak kasat mata. Paman Bram, perketat penjagaan di paviliun Anton. Aku tidak ingin ada satu pun pelayan yang tidak kita kenal mendekatinya."
"Sudah terlambat untuk sekadar penjagaan fisik, Yang Mulia," bisik Bram. "Laksmana telah memanggil dukun-dukun dari perbatasan utara. Mereka tidak akan menyerang dengan pedang, tapi dengan santet dan makhluk astral. Mereka ingin Anton mati sebelum pernikahan itu sempat direncanakan."
Serena mengepalkan tangannya. "Mereka berani menggunakan ilmu hitam di istanaku?"
"Bagi mereka, tradisi kasta adalah agama. Mereka merasa sedang 'membersihkan' kekaisaran dari aib," sahut Bram.
Dialog di Bawah Rembulan
Malam itu, Serena dan Anton duduk di balkon paviliun. Langit Arrinra sedang cerah, namun bagi Serena, awan badai seolah-olah selalu menggantung di atas kepala mereka.
"Kenapa kau begitu keras kepala, Serena?" tanya Anton lembut. "Kau bisa saja menikah dengan pangeran dari negeri seberang, memperluas wilayahmu menjadi tiga juta kilometer persegi, dan hidup tenang."
"Karena pangeran itu tidak akan pernah mengerti arti dari jembatan yang sedang kita bangun, Anton," jawab Serena. "Dia akan melihat rakyat Ser sebagai angka-angka dalam pajak. Aku butuh seseorang yang mengingatkanku setiap hari bahwa aku adalah pelayan rakyat, bukan pemilik mereka. Dan itu adalah kau."
Anton menatap bintang-bintang. "Kau tahu, teman-temanku di proyek bangunan tertawa saat mendengar berita ini. Mereka pikir itu hanya lelucon atau drama untuk mengambil hati rakyat kecil. Tapi saat mereka melihat prajurit istana menjemputku, mereka diam. Mereka takut, Serena. Mereka takut kalau aku menjadi 'salah satu dari kalian', aku akan melupakan mereka."
"Dan apakah kau akan melupakan mereka?"
"Tidak akan pernah. Karena aku tahu bagaimana rasanya lapar. Dan aku ingin memastikan tidak ada kuli lain yang harus melihat anaknya tidur dalam keadaan perut kosong hanya karena pejabat istana ingin membeli kereta kuda baru."
Serena menyandarkan kepalanya di bahu Anton. "Itulah alasan kenapa lamaran ini harus terjadi. Ini bukan hanya tentang kita, Anton. Ini tentang meruntuhkan tembok yang selama ribuan tahun memisahkan mereka yang di atas dan mereka yang di bawah."
Ancaman yang Tak Terlihat
Tiba-tiba, suhu di balkon menurun drastis. Lampu-lampu minyak di sekitar mereka berkedip-kedip lalu padam secara serentak. Serena segera berdiri, tangannya secara insting mencari gagang pedang Raijin.
"Anton, masuk ke dalam sekarang!" perintah Serena.
"Ada apa?"
"Udara ini... ini berbau busuk. Bau kematian."
Dari kegelapan taman di bawah balkon, muncul kabut hitam yang menggumpal. Suara tawa yang parau dan dingin bergema di udara. “Arrinra akan tetap murni... Arrinra tidak butuh darah lumpur...”
Serena menarik pedangnya. Cahaya biru elektrik segera menyinari wajah mereka berdua. "Keluar kau, budak Laksmana! Jangan bersembunyi di balik mantra!"
Sesosok makhluk astral dengan wajah hancur dan tubuh yang terbuat dari asap hitam merayap naik ke balkon. Anton terperangah, ini adalah pertama kalinya ia melihat horor supranatural secara langsung. Namun, alih-alih lari, ia justru mengambil sebuah kursi kayu berat dan berdiri di depan Serena.
"Jangan berani menyentuhnya!" teriak Anton.
"Anton, mundur! Itu bukan makhluk fisik!" Serena melompat maju. Dengan satu tebasan pedang Raijin yang dialiri listrik tegangan tinggi, ia membelah asap hitam itu.
Makhluk itu menjerit menyayat hati dan menghilang, namun asapnya meninggalkan noda hitam di lantai marmer yang mulai mendesis seperti air keras.
"Ini baru peringatan kecil," gumam Serena, napasnya memburu. "Laksmana benar-benar sudah gila. Dia lebih memilih menghancurkan istana ini dengan setan daripada melihatmu duduk di sampingku."
Anton melihat noda hitam di lantai itu dengan ngeri. "Serena, apakah ini sepadan? Jika nyawamu terancam karena aku..."
Serena berbalik, menatap Anton dengan tatapan yang membakar. "Ini bukan lagi hanya tentang kau atau aku, Anton. Ini tentang siapa yang berhak menentukan masa depan Arrinra. Apakah rakyat, atau setan-setan berbaju bangsawan itu? Lamaran ini akan tetap dilanjutkan. Besok, aku akan mengumumkan tanggal pernikahan kita di alun-alun kota."
Guncangan Tradisi yang Sesungguhnya
Keesokan paginya, seluruh Ibukota Arrinra gempar. Pengumuman resmi ditempel di setiap sudut kota. Pernikahan agung akan dilaksanakan dalam satu bulan. Rakyat jelata bersorak, merasa mendapatkan kemenangan simbolis. Namun di distrik-distrik bangsawan, suasana seperti sedang berkabung.
Menteri Laksmana berdiri di depan altar hitam di kediamannya. Di depannya, tujuh dukun paling sakti di Kekaisaran Ser sedang melakukan ritual.
"Pernikahan itu tidak boleh terjadi," desis Laksmana. "Jika Serena ingin menantang tradisi, maka biarlah tradisi itu sendiri yang membunuhnya. Siapkan Kutukan Tujuh Turunan. Kita akan menyerang titik terlemahnya: sang kuli itu. Jika Anton mati di malam sebelum pernikahan, rakyat akan menganggap alam tidak merestui hubungan haram ini."
Perang telah dideklarasikan. Bukan di medan laga dengan kavaleri dan infanteri, melainkan di lorong-lorong istana yang gelap dan di alam mistis yang mengerikan. Serena Arrinra telah mengguncang pondasi kekaisarannya sendiri demi sebuah prinsip dan cinta, dan kini ia harus bersiap menghadapi badai yang jauh lebih besar daripada badai yang mengiringi penobatannya dulu.
Kekaisaran Ser sedang berada di persimpangan jalan. Antara masa lalu yang kaku dan masa depan yang berani. Dan di tengah-tengahnya, seorang kuli bangunan dan seorang kaisar wanita berdiri bergandengan tangan, menantang dunia yang ingin memisahkan mereka.