Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.
Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.
bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Suasana Mapolda Metro Jaya pagi itu terasa lebih tegang dari biasanya. Davino berdiri di depan papan tulis digital di ruang Satuan Jatanras, menatap titik-titik koordinat yang ditandai dengan warna merah. Salah satu titik itu adalah Rumah Sakit Medika Utama, tempat Alisa bekerja.
"Target 'Tahap Dua' sudah mulai bergerak, Vin," suara Alvin memecah konsentrasi Davino. Alvin melemparkan sebuah map berisi foto-foto hasil pengintaian balik tim mereka. "Mobil sedan perak itu... pemiliknya terdaftar atas nama perusahaan cangkang. Tapi kita tahu siapa di baliknya. Kelompok Black Cobra tidak pernah benar-benar mati."
Davino mengambil salah satu foto. Di sana terlihat Alisa sedang berjalan menuju parkiran, dan di sudut foto, terlihat moncong lensa kamera yang mengarah pada istrinya. Rahang Davino mengeras. Rasa protektif yang selama ini ia sebut sebagai 'tugas' kini mulai terasa lebih personal, meski ia belum mau mengakuinya.
"Satu hal lagi," Alvin menepuk pundak Davino. "Mutasimu ke Kalimantan resmi dibatalkan oleh Jenderal. Suratnya baru keluar sepuluh menit yang lalu. Posisi di sana akan diisi oleh Bagas. Kamu tetap di sini, tapi bukan sebagai penyidik lapangan biasa. Kamu ditarik ke Satgas Khusus penumpasan sel tidur Black Cobra. Artinya, kamu punya akses penuh untuk menjaga Alisa tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi dari institusi."
Davino mengangguk pelan. Ada sedikit rasa lega di sudut hatinya yang terdalam. Jika ia pergi ke Kalimantan, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi pada Alisa. Namun, ia tahu, tetap di Jakarta berarti ia membawa Alisa langsung ke pusat badai.
Di Rumah Sakit Medika Utama, Alisa sedang berjuang dengan rasa lelahnya. Sebagai dokter bedah residen, shift malam adalah makanan sehari-hari. Namun, gangguan dari luar mulai merusak fokusnya.
Saat sedang berjalan menuju kantin untuk mencari kafein, Alisa dihentikan oleh Suster Ningsih, perawat senior yang sudah lama mengenalnya.
"Dokter Alisa, tunggu sebentar," bisik Suster Ningsih dengan wajah serba salah. "Pria itu... Mas Raka, datang lagi tadi pagi. Dia titip ini untuk Dokter."
Ningsih menyodorkan sebuah kotak bekal mewah dan sebuah kartu ucapan. Alisa menatap benda itu dengan perasaan muak.
"Sudah berapa kali aku bilang, Sus. Jangan diterima. Kenapa Mas Raka masih bisa tanya-tanya soal saya?"
"Duh, maaf Dok... Mas Raka itu bicaranya manis sekali. Dia bilang dia khawatir karena Dokter Alisa sekarang sering terlihat murung. Dia tanya apa suaminya Dokter jahat atau tidak... perawat-perawat muda jadi kasihan melihatnya terus-terusan menunggu di lobi," jelas Ningsih.
Alisa memijat pelipisnya. Raka menggunakan taktik manipulatif untuk mendapatkan informasi lewat staf rumah sakit. Ia merasa privasinya benar-benar dilanggar. Namun, sebelum ia sempat membalas, sesosok pria muncul dari balik pilar lobi. Raka.
"Alisa, kita perlu bicara," ucap Raka dengan nada menuntut yang lembut.
Alisa menarik napas panjang, mencoba menahan amarah agar tidak meledak di area publik. "Raka, berhenti melakukan ini. Aku sudah menikah. Mengertilah."
"Aku tahu kamu tidak bahagia, Al. Aku melihat bagaimana suamimu itu menatapmu di parkiran kemarin. Dingin. Seperti sedang mengawal tahanan. Kamu layak mendapatkan seseorang yang menghargaimu, bukan seseorang yang memperlakukanmu seperti objek keamanan," Raka mencoba meraih tangan Alisa.
Alisa mundur selangkah. "Jangan pernah bandingkan suamiku dengan siapapun. Kamu tidak tahu apa-apa."
Di sudut lain kantin, Fani sedang duduk sendiri, menatap layar ponselnya yang menampilkan pesan dari pengacara ibunya. Fani, sahabat Alisa yang selalu terlihat ceria dan penuh energi, ternyata menyimpan rahasia yang sama kelamnya dengan Alisa.
Fani berasal dari keluarga broken home yang berantakan karena perselingkuhan ayahnya bertahun-tahun lalu. Baginya, rumah bukanlah tempat berlindung, melainkan medan perang antara ego ayah yang dominan dan ibu yang depresi. Trauma itu membuatnya tumbuh menjadi wanita yang sinis terhadap komitmen, berbeda dengan Alisa yang justru mencari stabilitas lewat pernikahan meskipun lewat perjodohan.
Fani melihat Alisa dari kejauhan sedang berdebat dengan Raka. Ia segera berdiri dan menghampiri mereka.
"Heh, Mas Mantan!" suara melengking Fani memecah suasana tegang itu. "Belum kapok juga ya? Mau saya panggilkan satpam atau mau saya panggilkan suaminya Alisa yang polisi itu biar Mas langsung 'diamankan'?"
Raka menatap Fani dengan sebal. "Ini urusan aku dan Alisa, Fan."
"Urusanmu sudah selesai Ka, sejak Alisa resmi jadi istri orang, ingat?" balas Fani telak. "Ayo Al, kita pergi. Pasienmu sudah menunggu."
Fani menarik Alisa menjauh. Begitu sampai di ruang dokter, Alisa terduduk lemas.
"Makasih ya, Fan. Aku benar-benar pusing," keluh Alisa.
Fani menghela napas, ia duduk di samping Alisa dan mulai membuka rahasianya sendiri. "Al... kamu tahu kenapa aku benci melihat pria seperti Raka atau bahkan suamimu yang kaku itu? Karena aku melihat ayahku dalam diri mereka. Ayahku dulu juga posesif tapi selingkuh, atau kadang kaku seperti batu tapi menghancurkan perasaan Ibu setiap hari. Keluargaku hancur karena ego, Al. Dan aku tidak mau kamu mengalami hal yang sama."
Alisa menatap sahabatnya dengan kaget. Ia tidak tahu Fani menyimpan beban seberat itu. "Aku pikir cuma aku yang punya trauma keluarga, Fan."
"Kita semua punya luka, Al. Itulah kenapa aku jadi dokter. Aku ingin memperbaiki apa yang rusak, meskipun yang rusak itu seringkali adalah hati, bukan organ tubuh," Fani tersenyum pahit. "Hati-hati, Al. Aku melihat ada orang yang terus memperhatikanmu dari parkiran tadi. Dan kurasa itu bukan orangnya Davino."
Sore harinya, Davino benar-benar muncul di rumah sakit. Ia tidak masuk ke dalam, melainkan berdiri di samping mobil jipnya di area parkir yang agak sepi. Ia sudah tahu soal pertemuan Alisa dan Raka lewat laporan Alvin.
Alisa berjalan menuju mobilnya dengan langkah gontai. Saat melihat Davino, ia sempat terkejut namun tidak punya tenaga lagi untuk berdebat.
"Mas Davino? Kenapa di sini? Masih mengintai istrinya sendiri?" sindir Alisa pelan.
Davino tidak membalas sindiran itu. Ia melihat mata Alisa yang sembap. "Masuk ke mobilku. Kita bicara di jalan."
"Mobilku bagaimana?"
"Mang Asep akan mengambilnya nanti malam," jawab Davino singkat.
Di dalam mobil, Davino tetap diam sampai mereka keluar dari area rumah sakit. Keheningan itu justru membuat Alisa semakin gelisah. Ia benci keheningan yang mengandung amarah yang tertahan.
"Mutasiku dibatalkan," ucap Davino tiba-tiba.
Alisa menoleh. "Batal? Kenapa?"
"Karena situasimu tidak aman. Dan mutasi itu diserahkan ke Bagas," Davino memutar kemudi dengan tenang. "Aku akan tetap di sini, menjagamu. Tapi dengan syarat, Alisa... berhenti menemui Raka. Dia bukan hanya gangguan untuk pernikahan kita, tapi dia adalah lubang dalam sistem keamananku."
"Aku tidak menemuinya, Mas! Dia yang datang!" Alisa mulai merasa sesak. "Dan Mas bicara soal keamanan terus. Kapan Mas bicara soal aku? Soal bagaimana perasaanku setiap kali Mas membentakku di depan gerbang atau menginterogasiku seperti kriminal?"
Davino terdiam Ia menyadari bahwa setiap nada tingginya adalah belati bagi mental Alisa yang sudah rapuh sejak kecil.
"Aku tidak bermaksud membentakmu karena benci, Alisa," suara Davino kini jauh lebih rendah, hampir berbisik. "Aku hanya tidak punya cara lain untuk menunjukkan betapa mendesaknya situasi ini. Di duniaku, keraguan adalah maut. Aku tidak ingin maut itu menyentuhmu."
Alisa menunduk. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. "Mas tahu? Fani juga berasal dari keluarga yang hancur. Dia mengingatkanku hari ini bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dijalani dalam ketakutan dan ego. Kalau Mas memang mau melindungiku, lindungilah perasaanku juga. Bukan cuma ragaku."
Davino merasakan sesuatu berdenyut di dadanya. Sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia ingin meraih tangan Alisa, namun ia menahan dirinya. Batas satu tahun itu masih ada. Guling pembatas itu masih ada.
"Aku akan mencoba," ucap Davino pelan. "Mulai besok, Satgas khusus akan mulai bekerja secara terbuka. Maura juga akan di bawah perlindungan. Kamu tidak perlu takut lagi pada Raka, aku akan memberinya peringatan terakhir malam ini."
"Jangan gunakan kekerasan, Mas. Tolong," mohon Alisa.
"Aku punya cara lain," jawab Davino dengan senyum miring yang misterius.
Malam itu, saat mereka sampai di rumah, Maura sedang asyik belajar di ruang tengah. Melihat kakak dan kakak iparnya pulang bersama, ia tersenyum lebar. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, sebuah sedan perak baru saja melintas perlahan, dan di kursi pengemudinya, seseorang sedang melaporkan bahwa Davino Narendra telah membatalkan mutasinya.
"Target tetap di posisinya. Eksekusi tahap dua: libatkan anggota keluarga yang lain," suara di radio itu terdengar dingin.
Di dalam kamar, Alisa merapikan tempat tidur sementara Davino keluar dari kamar mandi, kali ini ia sudah mengenakan kaos lengkap, mencoba menghargai batasan Alisa. Meski mereka masih tidur dengan jarak yang lebar, malam itu keheningan di antara mereka terasa sedikit lebih hangat. Sandiwara itu masih ada, namun perlahan-lahan, benang-benang takdir mulai mengikat mereka lebih kuat dari yang mereka duga.
Bersambung