“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
Tetap jadi musuh di kantor.
Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
Dilarang jatuh cinta!
Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mati Lampu (Lagi)
Malam itu, Jakarta baru saja dibilas oleh hujan badai yang menyisakan aroma aspal basah dan udara dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di dalam apartemen unit 12-B, Sinta sedang duduk di meja makan, keningnya berkerut dalam saat menatap layar laptop yang menampilkan tabel proyeksi kredit yang seolah tidak ada habisnya. Di sudut lain, Jingga sedang sibuk dengan peralatan restorasi motor klasiknya—sebuah karburator tua yang ia bongkar dengan saksama di atas koran bekas.
PET!
Dalam sekejap mata, dunia mereka berubah menjadi hitam pekat. Suara dengung AC yang konstan mendadak lenyap, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Hanya ada suara rintik hujan sisa badai yang sesekali menghantam kaca jendela.
Sinta terpaku. Jantungnya berdegup kencang, sebuah trauma kecil dari masa kecilnya yang takut akan kegelapan total mendadak muncul. Namun, alih-alih berteriak histeris seperti kejadian mati lampu pertama kali mereka tinggal di sini—saat ia menuduh Jingga sengaja tidak membayar tagihan listrik—Sinta hanya menghela napas panjang.
"Lagi?" gumam Sinta pelan. Suaranya terdengar pasrah, bukan marah.
"Sepertinya gardu utama di bawah kena petir tadi," suara bariton Jingga terdengar dari arah ruang tamu. Tidak ada nada jengkel dalam suaranya. Sinta mendengar suara gesekan benda, lalu cahaya kecil dari ponsel Jingga menyala, membelah kegelapan.
"Lu oke?" tanya Jingga. Cahaya ponselnya diarahkan ke lantai, bukan ke wajah Sinta, agar tidak menyilaukan.
"Oke. Cuma kaget aja. Gue baru mau save kerjaan tadi," jawab Sinta sambil menutup laptopnya yang kini layarnya sudah gelap karena baterainya memang sudah sekarat.
Jingga berjalan mendekat. Sinta bisa melihat bayangan tinggi pria itu bergerak di dinding. Jingga meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah, menciptakan pendaran cahaya redup yang cukup untuk membuat mereka saling melihat siluet satu sama lain.
"Jangan berdiri dulu. Takut kaki lu nyandung kursi," peringat Jingga. Ia kemudian berjalan ke arah dapur, mengambil sebuah lilin besar yang memang sudah mereka siapkan di laci darurat sejak kejadian pertama.
Cring. Suara korek api gas bergema. Api kecil muncul, menari-nari ditiup angin sepoi dari celah ventilasi. Jingga menempelkan lilin itu di atas piring kecil dan meletakkannya di tengah meja makan. Cahaya oranye yang hangat seketika menyelimuti ruangan, memberikan kesan dramatis sekaligus menenangkan.
"Duduk di sini aja dulu. Di luar masih hujan, paling sebentar lagi teknisinya benerin," ucap Jingga sambil menarik kursi di depan Sinta.
Sinta menopang dagunya, menatap api lilin yang bergoyang. "Inget nggak pertama kali kita mati lampu di sini? Gue ampe maki-maki lu karena gue pikir lu lupa bayar iuran."
Jingga terkekeh pelan. "Gimana bisa lupa? Lu teriak kenceng banget sampe gue pikir ada maling masuk. Lu bahkan hampir lempar gue pake bantal sofa karena lu pikir gue hantu."
"Habisnya lu diem aja kayak patung di pojokan!" balas Sinta sambil tertawa kecil. "Sekarang... kok rasanya beda ya? Nggak semenakutkan waktu itu."
"Mungkin karena sekarang lu tahu kalau di kegelapan ini, lu nggak sendirian," sahut Jingga santai, namun kata-katanya menyentuh sesuatu yang sensitif di hati Sinta.
Hening sejenak. Kesunyian kali ini tidak terasa canggung. Ada semacam ketenangan yang mendalam, seolah kegelapan ini adalah ruang aman bagi mereka untuk sejenak melepas topeng "karyawan teladan" dan "suami-istri kontrak".
"Dingin ya," gumam Sinta sambil memeluk lengannya sendiri. Daster tipis yang ia kenakan memang tidak dirancang untuk menghadapi suhu Jakarta pasca-hujan tanpa bantuan pemanas ruangan.
Jingga berdiri tanpa bicara. Ia masuk ke kamarnya sebentar dan kembali dengan sebuah selimut tebal bermotif kotak-kotak. Tanpa menunggu persetujuan, ia menyampirkan selimut itu ke bahu Sinta.
"Pake. Nanti lu masuk angin, besok malah gue yang repot kalau lu absen kerja," ucap Jingga, kembali ke mode ketus khasnya untuk menutupi perhatiannya.
Sinta tersenyum di balik kegelapan. Ia menarik selimut itu erat-erat. Bau parfum maskulin Jingga yang bercampur dengan aroma kopi samar tercium dari kain selimut itu. Anehnya, aroma itu justru membuatnya merasa lebih tenang daripada aroma aromaterapi mahal yang biasa ia gunakan.
"Makasih, Jingga," bisik Sinta.
"Sama-sama."
Mereka berdua duduk bersampingan, menatap keluar jendela besar apartemen. Di luar sana, Jakarta tampak seperti lautan kunang-kunang. Lampu-lampu jalan dan gedung-gedung yang tidak terkena pemadaman tampak berkilauan, kontras dengan kegelapan di dalam unit mereka.
"Kadang gue mikir," Sinta membuka suara lagi, suaranya lembut, hampir tenggelam dalam suara rintik hujan. "Dunia ini berisik banget ya. Lampu kantor yang terlalu terang, suara klakson, tuntutan target... pas mati lampu begini, baru kerasa kalau sebenernya kita butuh tenang sebentar."
Jingga mengangguk setuju. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, tangannya terlipat di depan dada. "Di kantor, semua orang nuntut kita buat jadi 'sesuatu'. Pak Adrian nuntut lu jadi mesin pencetak nasabah, Luna nuntut gue jadi temen yang selalu ada... tapi di sini, dalam gelap, kita nggak perlu jadi siapa-siapa."
Sinta menoleh ke arah Jingga. Dalam cahaya lilin yang remang, garis rahang Jingga tampak lebih tegas, namun tatapan matanya terlihat lebih lembut. "Lu ngerasa capek nggak sih, Jingga? Pura-pura terus?"
Jingga terdiam cukup lama. Ia menatap api lilin yang hampir padam tertiup angin, lalu dengan sigap ia melindungi api itu dengan telapak tangannya. "Capek. Banget. Tapi setiap kali gue pulang dan tahu ada kopi buatan lu besok paginya, rasa capek itu... agak berkurang."
Sinta merasakan dadanya berdesir. Ini adalah pengakuan paling jujur yang pernah ia dengar dari Jingga. Tidak ada nada bercanda, tidak ada nada mengejek. Hanya kejujuran murni dari seorang pria yang juga sedang berjuang di tengah kerumitan hidup.
"Gue juga," aku Sinta lirih. "Setiap kali gue ngerasa stres di kantor karena Pak Adrian makin agresif, gue selalu mikir... seenggaknya nanti malam gue bisa debat lagi sama lu soal siapa yang lupa buang sampah. Hal-hal kecil itu yang bikin gue ngerasa masih punya 'rumah', meski rumah ini dibangun di atas kebohongan."
Mati lampu kali ini benar-benar memicu ketenangan yang berbeda. Tidak ada teriakan kemarahan, tidak ada saling menyalahkan. Yang ada hanyalah dua jiwa yang sedang mencoba bersandar satu sama lain di tengah kegelapan yang menyelimuti Jakarta.
Tiba-tiba, suara guntur menggelegar di kejauhan, membuat Sinta sedikit terlonjak. Tanpa sadar, ia memegang lengan Jingga. Jingga tidak menarik lengannya. Ia justru membiarkan tangan Sinta di sana, bahkan memberikan tepukan ringan di punggung tangan Sinta untuk menenangkannya.
"Cuma guntur. Nggak apa-apa," bisik Jingga.
Sinta tidak melepaskan pegangannya. Ada rasa aman yang luar biasa yang ia rasakan dari sentuhan itu. Rasa aman yang tidak bisa ia dapatkan dari kemewahan restoran tempat Adrian sering mengajaknya makan malam, atau dari pujian-pujian manis Luna di kantor. Ini adalah rasa aman yang nyata, yang hadir di tengah kesederhanaan dan kegelapan.
"Jingga..."
"Ya?"
"Makasih ya udah ada di sini. Maksud gue... di kehidupan gue sekarang. Walaupun awalnya kita dipaksa, tapi gue bersyukur yang jadi 'pasangan' gue itu lu."
Jingga menatap Sinta lekat-lekat. Dalam keremangan itu, seolah-olah hanya ada mereka berdua di dunia ini. "Gue juga, Sin. Gue nggak bisa bayangin kalau gue harus sandiwara begini sama orang lain selain lu."
Lilin di tengah meja mulai memendek, menyisakan lelehan lilin di piring. Namun, kehangatan di antara mereka justru semakin terasa nyata. Di tengah mati lampu yang kembali terjadi ini, mereka justru menemukan cahaya yang selama ini tertutup oleh terangnya lampu-lampu sandiwara di luar sana.
Sinta memejamkan matanya, menikmati keheningan dan kehangatan selimut pemberian Jingga. Di dalam kegelapan ini, ia tidak lagi merasa takut. Karena ia tahu, di sampingnya, ada seorang pria yang—meski kaku dan sering ketus—akan selalu memastikan api lilin tidak akan padam tertiup angin.
Kesunyian malam itu menjadi saksi bisu bahwa hubungan mereka telah melampaui sekadar kontrak di atas kertas. Mereka mulai menemukan kenyamanan dalam ketenangan, dan kejujuran dalam kegelapan. Dan bagi Sinta, mati lampu malam ini adalah momen terbaik yang pernah ia alami di apartemen 12-B.
Namun, ia tidak tahu bahwa ketenangan ini hanyalah awal dari sesuatu yang lebih dalam. Karena sesaat lagi, kegelapan ini akan memancing mereka untuk menggali lebih jauh ke dalam masa lalu masing-masing, membuka luka-luka lama yang selama ini mereka simpan rapat-rapat.
"Sin," panggil Jingga pelan.
"Hmm?"
"Lu mau denger cerita nggak? Tentang kenapa dulu gue benci banget waktu awal-awal kita pindah ke sini?"
Sinta membuka matanya, menatap Jingga dengan rasa ingin tahu yang besar. "Mau. Cerita aja."
Dan di tengah kegelapan malam yang masih menyelimuti Jakarta, dimulailah sebuah percakapan yang akan mengubah cara mereka memandang satu sama lain selamanya.