Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Dan, ketika kegelapan itu datang...
Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISI KONTRAK YANG SESUNGGUHNYA
Lampu-lampu gantung di area rooftop mulai berpendar keemasan seiring tenggelamnya matahari di ufuk barat. Yasmin merapikan celemeknya, sesekali menyeka keringat tipis di dahi.
Baru dua minggu ia mengadu nasib di resto mewah ini, ia sesekali mengagumi pemandangan kota dari ketinggian ini. Namun ketika sebuah suara melengking memecah lamunannya, Yasmin tersentak.
"Yasmin!" teriak Ratih, rekan kerjanya, dari ambang pintu menuju tangga.
Yasmin menoleh, sedikit terkejut. "Iya, Mbak?"
"Kamu dipanggil Pak Tomi ke ruangannya. Sekarang, ya," ujar Rheina dengan nada yang sulit diartikan—antara kasihan dan enggan.
"Oh, iya. Makasih ya, Mbak," jawab Yasmin polos. Ia mengangguk patuh, mengira mungkin ada evaluasi kerja untuk karyawan baru atau sekadar instruksi mengenai jam shift malam.
Ia mulai meletakkan nampan di atas meja kasir, lalu berjalan menuruni anak tangga, dan menyusuri lorong menuju ruangan yang di maksud Rheina—ruangan Pak Tomi yang semakin jauh ia melangkah, semakin membawanya menuju ke tempat yang baru dikenalinya.
Yasmin tertegun sambil melihat sekitar. Ia belum tahu bahwa di balik kemewahan interior kayu dan kenyamanan kafe ini, ada sebuah tempat dimana cahaya lampu klasik tadi berganti oleh cahaya remang dan sesak.
Terdengar langkahnya di sepanjang selasar, hingga akhirnya membawa dirinya yang masih lugu menuju ruang Pak Tomi.
"Ini, ruangannya?" Tanya Yasmin pada dirinya sendiri.
Bulat bola matanya menatap sebuah pintu yang terlihat sangat kontras dengan keramahan area luar resto. Daun pintu tersebut berwarna abu-abu gelap dengan finishing matte yang halus.
Tok. tok. tok.
"Masuk!" Suara bariton dari dalam menyambutnya.
Dengan sedikit ragu, Yasmin mulai memegang gagang minimalis berwarna hitam yang terpasang rendah itu.
Glek.
Yasmin menelan saliva dengan susah payah dan rasa takut yang perlahan menghantui.
Apa aku melakukan kesalahan?
Atau, Pak Tomi hanya ingin menilai pekerjaan pertamaku kemarin?
"Masuk Yasmin! Gak si kunci." Seru suara berat itu lagi.
Ceklek.
Pintu itu mengayun terbuka tanpa suara, menyingkap isi ruangan yang berbau aroma maskulin—campuran antara parfum mahal dan sisa asap cerutu. Di balik meja kerja besar yang tertata rapi, Pak Tomi yang tadi duduk menyandar, menatap Yasmin dengan senyum yang sulit diartikan, kini beranjak menghampirinya.
Sementara, Yasmin masih mematung di posisinya. Matanya bergerak liar, menyisir setiap sudut ruangan Pak Tomi yang terasa semakin asing di penglihatannya. Ada sesuatu yang janggal, sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang pelan.
Meja dan kursi kantor yang kokoh di tengah ruangan itu memang tampak wajar, selayaknya ruang kerja pada umumnya. Namun, pemandangan di sekelilingnya mulai mengusik logika Yasmin. Dinding ruangan itu dipenuhi dengan lukisan-lukisan wanita dalam berbagai pose yang terlalu artistik. Belum lagi deretan etalase kaca yang memamerkan botol-botol minuman beralkohol dari berbagai merek ternama, berkilauan tertimpa lampu sorot yang redup.
"Ayo, kemari. Duduk," suara Pak Tomi memecah keheningan, terdengar lebih seperti perintah daripada ajakan.
Yasmin hanya bisa mengangguk kaku. Langkah kakinya terasa berat saat berjalan menuju sofa panjang berbahan kulit yang terletak di area sudut. Namun, baru saja ia hendak mengambil tempat, langkahnya mendadak terkunci. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
Ternyata ada seorang pria lain di sana.
Pria itu duduk santai di balik sandaran sofa yang tinggi, sosoknya tadi tersembunyi dari pandangan Yasmin saat ia baru masuk. Pria berusia yang terpaut sekitar tiga atau mungkin empat tahun lebih tua darinya itu tampak tenang, menyesap gelas berisi cairan amber di tangannya sambil menatap Yasmin dengan tatapan menilai dingin.
Yasmin berdiri dengan bahu yang menegang. Auranya yang lugu amat kontras dengan atmosfer berat di ruangan itu. Wajahnya memiliki kecantikan yang lembut dan alami, dengan kulit bersih yang tampak bersinar di bawah lampu ruangan.
Matanya yang jernih memancarkan kepolosan, namun lambat laun, tatapan pria yang dihadapannya perlahan membuat ragu dan cemas yang tertahan dengan bibirnya yang tipis dan terkatup rapat, semakin menunjukkan rasa canggung yang besar.
"Ini dia orangnya, Tom?" tanya pria itu dengan suara rendah yang berat, matanya tidak lepas dari wajah Yasmin yang mulai memucat.
Glek!
Yasmin menelan ludah lagi dengan susah payah. Di ruangan yang tertutup rapat itu, ia merasa seperti seekor pelanduk yang baru saja masuk ke dalam kandang dua singa sekaligus. Kepolosan yang selama dua minggu ini menyelimutinya kini mulai terkoyak oleh rasa waswas yang luar biasa.
"Ma-maaf." Yasmin akhirnya membuka suara dengan sangat gugup. Jemarinya meremas pinggiran celemek cokelatnya, sementara matanya menatap takut-takut ke arah Pak Tomi yang masih berdiri tegak di hadapannya. "Ba-Bapak... panggil saya ada apa, ya?"
"Yasmin," seru Pak Tomi. Pria itu tampak sangat berkuasa dalam balutan jas hitam slim-fit yang mahal dan licin. Bahunya tegap, dan setiap gerak-geriknya memancarkan dominasi yang menekan.
Ia lalu melangkah mendekat, menebarkan aroma parfum maskulin yang tajam, dan kini menusuk indra penciuman Yasmin.
"Kamu sudah menandatangani kontrak kerja itu dua minggu lalu," lanjutnya dengan nada dingin yang berat. "Itu artinya, kamu sudah menyetujui serangkaian pekerjaan di sini. Seluruhnya."
Yasmin mengerutkan kening, rasa tidak enak mulai menjalar di perutnya. "Maksud Bapak...?"
Pak Tomi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Kontrak itu tidak hanya untuk melayani pelanggan di meja resto, Yasmin. Resto ini eksklusif. Pelayanan kami melampaui pintu ruang makan. Kamu terpilih untuk melayani tamu-tamu VIP kami... di tempat yang lebih pribadi."
Mata Yasmin membelalak. Tubuhnya gemetar hebat saat menyadari arah pembicaraan pria itu. "T-tapi... melayani di tempat pribadi? Maksud Bapak... tidur dengan mereka?"
Pak Tomi tidak menjawab, hanya menatapnya dengan pandangan menilai yang merendahkan.
"Maaf, Pak! Saya tidak bisa! Di kontrak tidak disebutkan hal seperti itu!" Yasmin berseru, suaranya pecah karena ketakutan. "I-Ini penipuan."
Wajah Pak Tomi seketika berubah gelap. Rahangnya mengeras. "Kamu menentang saya? Kamu sudah menerima uang muka dan menandatanganinya, Yasmin. Tidak ada jalan keluar."
"Nggak, Pak! Saya berhenti! Saya keluar!" Yasmin menggeleng kuat-kuat, air mata mulai menggenang. Ia pun segera melepaskan apron yang sedari tadi memeluk pinggangnya kuat, kini terlepas ke lantai. Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan memutar gagang pintu dengan kasar.
"Hey! Yasmin! Kembali!" teriak Pak Tomi menggelegar.
Yasmin tidak peduli. Ia berlari keluar dari ruangan itu, mengabaikan tatapan heran rekan kerjanya di lorong. Jantungnya berpacu, ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari tempat terkutuk ini.
Di dalam ruangan, Pak Tomi menggeram. Ia segera menyambar ponsel di atas meja dan menekan sebuah nomor dengan cepat.
"Tahan perempuan yang lari keluar! Jangan sampai dia lepas dari gerbang depan! CEPAAAAT!"
****