NovelToon NovelToon
Jalan Kaisar Semesta

Jalan Kaisar Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Tarian Darah dan Abu di Hutan Menangis

​Malam tidak pernah memihak pada mereka yang ragu. Di Hutan Kabut Menangis, keraguan setara dengan undangan terbuka bagi malaikat maut.

​Ledakan dari pijakan kaki Shen Yuan menghancurkan tanah beku, mengirimkan gelombang kejut yang menyapu kabut di sekitarnya. Bagi ketiga pembunuh bayaran itu, dunia seolah kehilangan suaranya. Yang tersisa hanyalah dengingan panjang di telinga mereka dan siluet iblis berbaju sutra yang membelah udara dengan kecepatan tidak masuk akal.

​Langkah Penghancur Bayangan.

​Pembunuh di sisi kiri—seorang pria bertopeng di Lapisan Kelima—bahkan belum sempat mengangkat pedangnya untuk menangkis. Otaknya baru saja mengirimkan sinyal bahaya, namun kenyataan bergerak jauh lebih cepat dari pada saraf manusia.

​Wush!

​Sebuah bayangan hitam muncul tepat di samping kirinya. Angin dingin yang dibawa oleh pergerakan itu membelai lehernya.

​Shen Yuan tidak menggunakan senjata. Ia tidak memadatkan Qi-nya menjadi Tinju Runtuh Gunung. Menghadapi Lapisan Kelima, ia hanya butuh kekuatan fisik murni yang telah ditempa oleh lumpur sumsum dan esensi serigala. Tangan kirinya melesat ke depan, kelima jarinya membentuk cakar elang, dan langsung mencengkeram tenggorokan pembunuh itu.

​"Satu," bisik Shen Yuan di telinga korbannya.

​KRAAAK!

​Bunyi tulang leher yang diremukkan terdengar seringkih ranting pinus yang diinjak. Tanpa jeda sedetik pun, Shen Yuan menggunakan mayat yang masih mengejang itu sebagai pijakan. Ia menendang dada mayat tersebut, meminjam momentum tolakannya untuk melesat mengubah arah di udara, langsung menuju pembunuh kedua di sisi kanan.

​Pembunuh kedua membelalak ngeri. Kematian rekannya terjadi dalam waktu kurang dari dua tarikan napas. Panik mengambil alih akal sehatnya. Ia mengayunkan pedangnya secara membabi buta, melepaskan seluruh Qi-nya untuk membentuk tebasan energi berbentuk bulan sabit.

​"Jangan mendekat, Monster!" teriaknya histeris.

​Shen Yuan yang sedang melayang di udara hanya memiringkan tubuhnya sedikit. Ia membiarkan tebasan energi itu menyayat bagian bahu mantel kusamnya. Tepat ketika ia berada di atas pembunuh kedua, Shen Yuan menukik turun. Lutut kanannya ditekuk tajam, menghantam lurus ke arah ubun-ubun musuhnya layaknya godam baja yang jatuh dari langit.

​BUMM!

​Kepala pembunuh itu melesak ke dalam bahunya sendiri. Darah segar meledak dari balik topeng kainnya, mewarnai salju di bawah kakinya dengan warna merah tua yang pekat. Tubuhnya ambruk ke tanah tanpa suara rintihan, mati seketika.

​Hanya butuh lima detik. Dua ahli bela diri Lapisan Kelima telah direduksi menjadi seonggok daging tak bernyawa.

​Shen Yuan mendarat dengan mulus di atas salju. Ia perlahan menegakkan tubuhnya, memutar lehernya hingga berbunyi kretek pelan. Matanya yang segelap dasar jurang kini menatap lurus ke arah sang pemimpin pembunuh yang berdiri mematung sepuluh tombak di depannya.

​Sang pemimpin—pria bersusuk Lapisan Ketujuh—merasakan udara di paru-parunya membeku. Tangannya yang memegang pedang tipis beracun itu kini gemetar hebat. Segala arogansi yang ia bawa dari keluarga Lin telah menguap tanpa sisa.

​"Kau... kau iblis dari aliran mana?" suara pemimpin itu bergetar. Ia menelan ludah dengan susah payah. "Kekuatan fisik seperti itu, kecepatan siluman itu... kau bukan manusia normal!"

​Shen Yuan melangkah maju dengan ritme yang lambat dan teratur. "Aku adalah manusia yang belajar bahwa langit tidak akan memberimu keadilan, jadi aku harus mengambilnya sendiri dengan tanganku. Kau berada di Lapisan Ketujuh. Tunjukkan padaku perbedaan antara pelayan rendahan dan elit keluarga Lin."

​Harga diri sang pemimpin yang tersisa akhirnya tersengat oleh ejekan itu. Ketakutannya bermutasi menjadi amarah putus asa. Benar, ia berada di Lapisan Ketujuh! Ada perbedaan kuantitas Qi yang mutlak antara Lapisan Keenam dan Ketujuh. Jarak ini adalah batas antara kultivator kelas menengah dan kelas atas di sekte luar.

​"Jangan sombong, Bocah! Kau baru berada di Lapisan Keenam!" raungnya.

​Pemimpin itu menggigit ujung lidahnya sendiri, membakar sedikit esensi darahnya untuk memaksa Qi-nya meledak ke batas maksimal. Aura berwarna hijau lumut memancar dari tubuhnya, menciptakan pusaran angin beracun di sekitarnya.

​Seni Pedang Angin Beracun: Tarian Ular Seribu Bayangan!

​Pemimpin itu menerjang maju. Pedang tipisnya bergetar di udara, menciptakan puluhan bayangan pedang yang tampak nyata. Setiap bayangan membawa desisan angin yang menusuk telinga, mengunci seluruh rute pelarian Shen Yuan dari segala arah.

​Shen Yuan menyipitkan matanya. Cepat. Sangat cepat. Lapisan Ketujuh memang bukan pajangan.

​Ia mundur selangkah, menghindari gelombang pertama tusukan pedang tersebut. Namun, jangkauan pedang itu terlalu luas. Salah satu bayangan pedang berhasil menembus pertahanannya, menggores pipi kirinya.

​Rasa panas yang menyengat langsung terasa di kulitnya. Racun mulai merayap.

​Namun, tepat saat racun itu mencoba memasuki aliran darahnya, Benih Hitam di Dantian Shen Yuan berputar dengan ganas, langsung melahap invasi racun tersebut seolah itu hanyalah camilan ringan. Racun yang seharusnya melumpuhkan gajah dewasa, bahkan tidak membuat Shen Yuan berkedip.

​"Mati!" Pemimpin itu melihat darah di pipi Shen Yuan dan mengira kemenangannya sudah di depan mata. Ia memusatkan seluruh sisa Qi Lapisan Ketujuhnya ke tusukan terakhir yang mengarah tepat ke jantung Shen Yuan.

​Ini adalah momennya. Waktu bermain-main telah usai.

​Shen Yuan tidak mundur lagi. Ia menghentikan langkahnya dengan sangat kasar hingga tanah di bawahnya retak. Ia menarik lengan kanannya ke belakang. Energi emas gelap yang maha berat dan purba meluap dari Dantian-nya, membanjiri tulang lengan kanannya dengan kompresi yang menyiksa.

​Urat-urat nadi di tangannya menonjol hitam. Lengan sutranya robek berkeping-keping akibat tekanan energi dari dalam. Panas yang luar biasa menguapkan darah di buku-buku jarinya.

​"Kau mengandalkan angin dan racun," ucap Shen Yuan datar, suaranya terdengar bersamaan dengan laju pedang yang tinggal sejengkal dari dadanya. "Tapi pernahkah kau melihat gunung yang runtuh tertiup angin?"

​Seni Tinju Runtuh Gunung.

​Shen Yuan melepaskan pukulannya, lurus menghantam ujung pedang tipis yang melaju ke arahnya.

​Tinju daging beradu dengan besi tempa yang dilapisi Qi Lapisan Ketujuh.

​TRRAAANG—BZZZTTT!!!

​Pertemuan dua kekuatan yang berbeda ranah itu menciptakan gelombang kejut yang menyapu bersih salju di seluruh lapangan. Pohon-pohon pinus mati di sekeliling mereka berderak patah dan tumbang.

​Mata pemimpin pembunuh itu melebar hingga ujung kemampuannya. Ia merasakan pedangnya—pedang yang terbuat dari baja dingin seribu tempa—tertahan sepenuhnya oleh kepalan tangan daging pemuda itu.

​Lalu, kengerian yang sesungguhnya dimulai.

​Kekuatan dari tinju Shen Yuan tidak meledak ke luar. Ia merambat.

​KRAAAAK!

​Pedang tipis itu tidak bengkok, melainkan hancur menjadi serbuk besi berkilauan dari ujung hingga ke pangkalnya. Ledakan energi tumpul yang merambat masuk itu tidak berhenti di gagang pedang. Ia terus mengalir layaknya arus sungai yang murka, menerobos masuk ke lengan kanan sang pemimpin pembunuh.

​"A-Apa ini—AAAAARRGHH!"

​Jeritan penderitaan yang melampaui batas kewarasan manusia merobek keheningan malam. Lengan kanan pemimpin itu meledak dari dalam. Tulang, daging, dan meridiannya hancur menjadi serpihan darah yang menyembur ke udara. Tubuhnya terlempar ke belakang, berguling-guling di atas tanah yang kotor sebelum akhirnya menabrak bongkahan batu es.

​Keheningan kembali mengambil alih Hutan Kabut Menangis. Hanya suara gemerisik daun dan rintihan pelan dari sang pemimpin yang memecah kesunyian.

​Shen Yuan berdiri dengan napas yang sedikit memburu. Ia melihat tangan kanannya. Kali ini, tangannya tidak robek parah seperti saat ia melawan Lin Feng. Meridiannya telah beradaptasi, tulangnya telah mengeras. Ia berhasil meredam Lapisan Ketujuh dengan hanya menyisakan rasa kebas dan kulit yang memerah.

​Ia berjalan perlahan menghampiri sang pemimpin yang kini hanya memiliki satu lengan. Pria bertopeng itu berbaring telentang, batuk darah bercampur serpihan organ dalamnya sendiri. Topengnya telah terlepas, memperlihatkan wajah pria paruh baya yang kini dipenuhi oleh air mata keputusasaan.

​"T-Tuan Muda Lin... benar-benar... menendang plat besi yang salah," rintih pemimpin itu tersendat-sendat. Ia menatap Shen Yuan layaknya menatap dewa kematian. "B-Bunuh aku... Beri aku akhir yang cepat."

​Shen Yuan berlutut di sebelah pria itu. Wajahnya sedingin batu nisan.

​"Keluarga Lin mengirimmu ke dalam kegelapan, tapi mereka lupa memberimu lentera," ucap Shen Yuan lembut. "Tapi jangan khawatir. Di dalam diriku, tidak ada rasa sakit yang tersia-sia."

​Shen Yuan menempelkan telapak tangan kirinya ke dada pria yang sekarat itu.

​Ia tidak repot-repot menyembunyikan identitas aslinya lagi. Benih Hitam di perutnya berputar dengan kebuasan absolut.

​Kitab Penelan Surga: Telan.

​Pria itu bahkan tidak sempat menjerit untuk yang terakhir kalinya. Tubuhnya tersentak hebat, matanya memutih. Seluruh esensi darah, sisa Qi Lapisan Ketujuh yang sangat besar, dan vitalitas kehidupannya disedot paksa masuk ke dalam telapak tangan Shen Yuan layaknya badai yang menelan debu.

​Hanya dalam tiga tarikan napas, tubuh pria paruh baya yang tadinya kekar itu mengering, layu, dan berubah menjadi sekumpulan kulit dan tulang yang membungkus abu kelabu.

​Shen Yuan memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa mual akibat menyerap karma manusia kembali menyerangnya, namun kali ini jauh lebih kuat. Energi Lapisan Ketujuh terlalu besar dan terlalu buas. Energi itu mengamuk di dalam Dantian-nya, mencoba merobek meridiannya dari dalam.

​"Giling!" perintah Shen Yuan di dalam benaknya. Benih Hitam merespons, menjepit dan memurnikan energi kotor itu dengan kejam. Tetes demi tetes energi emas murni jatuh ke dalam lautan Dantian-nya yang sudah penuh sesak.

​Dinding pembatas menuju Lapisan Ketujuh yang selama ini kokoh, mulai bergetar. Retakan halus mulai terbentuk di sana.

​Shen Yuan membuka matanya. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia bangkit berdiri, menendang abu di depannya hingga terbang terbawa angin. Ia lalu berjalan menuju dua mayat lainnya, dan tanpa keraguan sedikit pun, ia menelan esensi mereka hingga bersih tanpa jejak.

​Tiga nyawa. Tiga pembunuh keluarga Lin. Hilang ditelan hutan seolah mereka tidak pernah dilahirkan ke dunia.

​Lautan Qi di perut Shen Yuan kini bergejolak ganas, berada di ambang batas ledakan menuju Lapisan Ketujuh. Ia harus bermeditasi dengan tenang, atau tubuhnya sendiri yang akan meledak malam ini.

​Ia bersiul pelan. Kuda hitam kurusnya yang sedari tadi meringkik ketakutan diikat di pohon, kini perlahan menenangkan diri.

​Shen Yuan kembali mengenakan mantel kusamnya yang robek, naik ke atas pelana, dan memacu kudanya menembus sisa-sisa kabut malam. Ngarai Angin Melolong masih jauh di utara. Di sanalah, di kedalaman tambang besi yang berdarah, ia akan mendobrak batasan menuju Lapisan Ketujuh, dan bersiap memanen apa pun misteri yang disembunyikan oleh sekte di sana.

1
@arv_65
Salam Untuk pembaca, mohon maaf karena beberapa hal author iseng, mengunakan istilah modrn di bab 1-100 dan nantinya kedepanya istilah itu author kurangi karena di bab keatasnya adalah mendalami sebuah Dao, jadi mohon maaf jika pembaca agak tidak enak membacanya dan mohon maaf juga jika nantinya bab untuk MC di sekte ada 80+ bab namun author sudah melakukan uplod lebih dari dua bab setiap harinya agar pembaca tidak bosan mohon maaf dari author🙏
Hazard
seru bangettt
A 170 RI
tolong jangan hiatus lg ya thor net💪💪
@arv_65: iya maaf sebelumnya karena bencana jadi hiatus, ini untung akunya masih bisa di pulihkan🙏🏽
total 1 replies
Kaisar Abadi
bang mampir bang
@arv_65: okeeh
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
@arv_65: Terima kasih🤭
total 1 replies
Blue
Hasil Ai
Blue
Hasil Ai
@arv_65: tapi tenang cuma sebatas perbaikan kata👍
total 2 replies
@arv_65
😴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!