Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.
Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.
Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Dinding sering kali dianggap sebagai akhir dari sebuah perjalanan, sebuah pembatas yang dibangun untuk menghentikan langkah kaki manusia agar tidak melampaui batas yang sudah ditentukan. Namun, bagi mereka yang pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan arah di tengah padang rumput yang luas, dinding justru bisa menjadi awal dari sebuah penemuan. Di balik dinding yang dingin, kaku, dan membosankan, seseorang dipaksa untuk berhenti melihat ke luar dan mulai melihat ke dalam. Karena di sana, di tengah kesunyian yang mencekik, suara yang paling nyaring bukanlah suara teriakan pengawal, melainkan gema dari pikiran kita sendiri yang selama ini kita abaikan.
Arlo Valerius duduk di tepian jendela tinggi Menara Barat, membiarkan satu kakinya menjuntai di atas udara yang kosong. Dari ketinggian ini, istana Aethelgard tampak seperti tumpukan balok mainan anak-anak yang disusun dengan sangat presisi namun rapuh. Angin laut yang membawa aroma garam dan kebebasan menyapu wajahnya, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang kini tidak lagi rapi. Tidak ada pelayan yang menyisirnya pagi ini. Tidak ada Lord Cedric yang mengingatkannya tentang etiket berpakaian.
Hanya ada Arlo, dinding batu yang lembap, dan selembar kain selimut kasar yang ia sampirkan di bahu.
Ia menunduk, menatap telapak tangannya. Lecet-lecet di sana sudah mulai mengering, membentuk keropeng tipis yang terasa perih setiap kali ia mengepalkan tangan. Bagi dunia luar, luka ini adalah bukti bahwa sang Putra Mahkota baru saja diserang oleh seorang tukang cat yang brutal. Namun bagi Arlo, setiap inci kulit yang mengelupas ini adalah medali kehormatan. Ini adalah bekas luka pertama yang ia dapatkan bukan karena latihan pedang yang dipaksakan, melainkan karena ia memilih untuk melakukan sesuatu dengan tangannya sendiri.
Arlo merogoh saku celananya, mengeluarkan tiga keping koin perunggu yang ia ambil dari sumur tua semalam. Ia meletakkan koin-koin itu di atas ambang jendela batu. Sinar matahari pagi yang pucat memantul di permukaannya yang kusam. Koin ini tidak berharga di pasar mana pun di Aethelgard. Bahkan seorang pengemis mungkin akan memandangnya sebelah mata. Tapi di mata Arlo, koin ini jauh lebih berkilau daripada tiara safir yang kini melingkar di kepala Helena.
Koin ini memiliki berat. Bukan berat secara fisik, tapi berat dari keringat, harga diri, dan air mata seorang gadis yang berani meludahi kemunafikan kerajaan.
"Kau sedang di mana sekarang, Kalea?" bisik Arlo pelan. Suaranya segera ditelan oleh deru angin.
Ia membayangkan sebuah kapal kayu kecil dengan layar yang sudah bertambal di sana-sini. Kapal itu mungkin sedang terombang-ambing di tengah Lautan Solandis. Di dalamnya, seorang gadis sedang duduk di dekat ayahnya, menatap garis cakrawala dengan perasaan takut namun penuh harapan. Arlo berharap angin hari ini berpihak pada mereka. Ia berharap tidak ada badai, tidak ada kapal patroli, dan tidak ada lagi debu kapur yang masuk ke paru-paru pria tua itu.
Arlo menarik napas panjang. Paru-parunya terasa penuh dengan udara menara yang pengap. Ia berbalik dari jendela, melompat turun ke lantai batu dengan suara buk yang berat. Ruangan di Menara Barat ini luas, namun isinya sangat minim. Sebuah tempat tidur dengan kasur yang keras, sebuah meja kayu tua yang permukaannya sudah retak-retak, dan sebuah kursi yang kakinya sedikit goyang. Arlo berjalan menuju meja itu, tempat ia meletakkan segelas air yang sudah dingin.
Ia menyesap air itu, merasakan sensasi dingin yang merambat di tenggorokannya. Matanya kemudian tertuju pada dinding di samping pintu besi. Di sana, goresan kecil yang ia buat semalam—sebuah retakan—masih ada. Ia mengambil sepotong batu kecil dari lantai, lalu menambahkan satu garis lagi pada gambar itu. Setiap detik yang ia habiskan di sini adalah garis baru. Ia ingin menghitung waktu bukan dengan jam atau matahari, tapi dengan seberapa banyak retakan yang sanggup ia ciptakan di dalam "penjaranya" sendiri.
Suara langkah kaki yang berirama tiba-tiba terdengar dari balik pintu besi. Bukan langkah kaki pengawal yang berat dan tidak beraturan, melainkan langkah kaki yang ringan, tegas, dan sangat terukur. Langkah kaki yang mengenakan sepatu hak tinggi dengan ujung runcing.
Arlo segera memasukkan koin-koin perunggunya kembali ke saku. Ia merapikan selimut di bahunya, duduk di kursi kayu yang goyang, dan memasang wajah yang paling hambar yang ia miliki.
Suara kunci besar diputar. Klek. Klek.
Pintu besi itu terbuka dengan derit yang memilukan telinga. Cahaya dari koridor luar menerobos masuk, menyinari debu-debu yang menari di udara. Seorang wanita berdiri di ambang pintu, siluetnya tampak begitu agung di tengah kegelapan menara. Ia tidak melangkah masuk secara terburu-buru. Ia berhenti sejenak, membiarkan matanya yang biru pucat menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya pandangannya tertuju pada Arlo.
Putri Helena.
Ia mengenakan gaun berwarna merah darah yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih porselen. Mantel bulu rubahnya tersampir di bahu, dan tangannya yang mengenakan sarung tangan renda memegang sekeranjang kecil buah-buahan. Rambut pirangnya ditata dalam sanggul rendah yang sempurna, dengan beberapa helai sengaja dilepaskan di sisi wajahnya untuk memberikan kesan "cemas" yang sangat dibuat-buat.
"Arlo," suaranya lembut, seperti sutra yang ditarik di atas kayu kasar.
Arlo tetap duduk, tidak berdiri untuk menyambutnya. "Kau tidak seharusnya ada di sini, Helena. Raja bilang tidak ada kunjungan."
Helena melangkah masuk, membiarkan pintu ditutup kembali oleh pengawal di luar. Bau parfum melatinya yang kuat segera menginvasi ruangan, bertarung dengan bau lembap dinding batu. Ia meletakkan keranjang buah di atas meja tua Arlo, lalu mengeluarkan sehelai saputangan kecil untuk menyeka debu di kursi sebelum ia duduk di depan Arlo.
"Aturan dibuat untuk ditaati oleh orang-orang yang tidak punya pengaruh, Arlo. Kau tahu ayahmu tidak akan pernah benar-benar menolak permintaanku," Helena tersenyum tipis. Ia menatap Arlo dengan tatapan yang seolah-olah sedang memeriksa barang pecah belah yang baru saja jatuh. "Lihatlah dirimu. Kau terlihat sangat... berantakan. Apakah kau benar-benar sedang merenung, atau kau sedang menikmati peranmu sebagai pahlawan yang terluka?"
Arlo menopang dagunya dengan tangan, menatap Helena datar. "Aku sedang menikmati kesunyian, Helena. Sesuatu yang sangat mahal harganya di istana ini."
Helena tertawa kecil, tawa yang tidak memiliki kehangatan. Ia meraih sebuah apel merah dari keranjangnya, memutarnya perlahan di bawah cahaya matahari. "Kesunyian sering kali digunakan untuk menyembunyikan kebohongan, bukan begitu? Aku sudah memeriksa Sayap Utara lagi pagi ini. Ukiran singa itu... kau melakukannya dengan sangat rapi. Sangat rajin untuk ukuran seorang pria yang baru saja diserang hingga pingsan."
Jantung Arlo berdegup sedikit lebih kencang, namun otot wajahnya tetap rileks. Ia tahu Helena sedang memancingnya. "Aku hanya mencoba memperbaiki apa yang dirusak oleh pekerja teledor itu. Aku tidak ingin aliansi kita dimulai dengan noda pada lambang kerajaan."
"Ah, aliansi kita. Kata-katamu selalu sangat diplomatis," Helena meletakkan kembali apel itu tanpa menggigitnya. Ia memajukan tubuhnya, memperpendek jarak di antara mereka hingga Arlo bisa melihat butiran bedak di atas hidung wanita itu. "Tapi ada satu hal yang mengusikku, Arlo. Lord Cedric bilang ayah gadis itu sudah dibawa pergi sejak tengah malam. Dan kau... kau berada di sana sepanjang malam. Tidak ada penjaga yang melihat kereta lewat, tidak ada suara yang mencurigakan."
Helena menyentuh lecet di telapak tangan Arlo dengan jarinya yang terbungkus renda. Sentuhannya dingin, seolah-olah tangannya tidak dialiri darah. "Batu ini kasar, Arlo. Dan luka di tanganmu ini... polanya lebih mirip dengan luka akibat memegang sikat kasar dalam waktu lama, bukan karena menangkis serangan mendadak."
Arlo menarik tangannya perlahan. "Kau sekarang jadi tabib forensik, Helena? Mengesankan."
"Aku hanya seorang wanita yang tidak suka dibohongi," Helena berdiri, berjalan perlahan mengelilingi ruangan kecil itu. Ia berhenti di depan jendela tempat Arlo duduk tadi. Ia menatap ke luar, ke arah pelabuhan yang jauh. "Gadis itu punya sesuatu yang membuatmu rela mengorbankan martabatmu. Aku tidak mengerti apa. Dia kotor, dia tidak berpendidikan, dan dia hanya seorang 'tikus' di dinding istanamu."
"Dia punya kejujuran, Helena. Sesuatu yang tidak kau miliki meski kau memakai tiara seberat satu ton," ucap Arlo, suaranya lebih tajam dari yang ia rencanakan.
Helena berbalik dengan cepat. Wajahnya tidak lagi tenang. Ada kilatan amarah yang murni di matanya, retakan pertama pada topeng porselennya. "Kejujuran? Kau menyebut penghinaan terhadap kerajaan sebagai kejujuran? Kau menyebut seorang kriminal yang menyerang putra mahkota sebagai orang jujur? Kau benar-benar sudah gila, Arlo!"
Helena melangkah mendekati Arlo, jari telunjuknya menunjuk tepat ke wajah Arlo. "Dengarkan aku baik-baik. Kau mungkin bisa menyelamatkannya malam ini. Kau mungkin bisa membiarkan dia kabur ke mana pun dia mau. Tapi ingat satu hal: dunia ini kecil untuk orang-orang seperti dia. Dan aku punya mata di setiap pelabuhan, di setiap penginapan kumuh, dan di setiap pasar gelap."
"Jika aku menemukan dia lagi, Arlo... aku tidak akan menyerahkannya pada pengadilan. Aku akan memastikan dia memohon padaku untuk membunuhnya karena apa yang akan kulakukan padanya jauh lebih buruk daripada kematian," bisik Helena, suaranya kini terdengar sangat berbisa.
Arlo berdiri, kali ini ia yang memajukan tubuhnya hingga Helena terpaksa mundur satu langkah. Arlo jauh lebih tinggi, dan bayangannya kini menutupi sosok Helena sepenuhnya. "Jika kau menyentuhnya seujung kuku pun, Helena, aku akan memastikan Vandellia tidak akan pernah melihat putrinya kembali. Aku akan merobek setiap kertas aliansi yang ada, dan aku akan membakar setiap tiara yang kau miliki di depan matamu sendiri."
Ruangan itu seketika menjadi sangat sunyi. Hanya suara desis napas mereka yang terdengar. Untuk pertama kalinya, Arlo menunjukkan taringnya secara terang-terangan. Ini bukan lagi soal pemberontakan kecil; ini adalah pernyataan perang.
Helena menelan ludah, tenggorokannya bergerak naik turun. Ia tampak terkejut dengan intensitas ancaman Arlo. Namun, sebagai seorang putri yang dibesarkan di lingkungan politik yang kejam, ia tidak membiarkan rasa takutnya bertahan lama. Ia kembali menegakkan punggungnya, merapikan mantel bulunya, dan tersenyum sinis.
"Jadi benar. Kau mencintainya," ucap Helena dengan nada yang penuh dengan kemenangan yang getir. "Si Putra Mahkota Aethelgard yang agung jatuh cinta pada seorang gadis tukang cat. Luar biasa. Skandal ini akan menjadi cerita paling menarik di benua ini selama seratus tahun ke depan."
"Cinta adalah kata yang terlalu mewah untukmu, Helena," Arlo kembali duduk, memalingkan wajahnya ke arah dinding yang retak. "Sekarang pergilah. Keranjang buahmu mulai merusak pemandangan di mejaku."
Helena tidak segera pergi. Ia berdiri di sana selama satu menit penuh, menatap Arlo seolah-olah ia sedang mencoba menghafal setiap inci wajah pria itu sebelum ia menghancurkannya. "Kau akan menikahiku, Arlo. Kau akan berdiri di sampingku di altar, kau akan mengucapkan sumpahmu, dan kau akan menghabiskan sisa hidupmu di tempat tidur yang sama denganku sambil memikirkan gadis itu. Dan itulah hukuman yang paling pantas untukmu."
Helena berbalik dan melangkah keluar. Pintu besi itu ditutup dengan bantingan yang sangat keras, menggetarkan seluruh ruangan. Suara kunci yang diputar terdengar seperti vonis terakhir.
Arlo tetap diam. Ia tidak bergerak selama berjam-jam. Ia hanya menatap keranjang buah yang ditinggalkan Helena. Ia mengambil satu buah apel, menimbangnya di tangan, lalu melemparkannya ke sudut ruangan hingga buah itu hancur dan airnya membasahi lantai batu.
Ia merasa sangat sesak. Bukan karena dinding menara ini, tapi karena kenyataan bahwa Helena benar tentang satu hal: ia akan tetap menikah. Mahkota ini tidak akan terlepas dari kepalanya hanya karena ia menyelamatkan satu nyawa. Perjodohan ini adalah sebuah mesin raksasa yang tidak peduli pada perasaan individunya.
Arlo berjalan menuju jendela lagi. Matahari kini sudah mulai terbenam, mewarnai langit dengan warna jingga dan ungu yang menyakitkan. Ia mengeluarkan koin perunggunya lagi. Ia memegang koin itu erat-erat, merasakan pinggirannya yang tajam menekan kulitnya.
"Setidaknya kau bebas, Kalea," gumam Arlo.
Ia membayangkan Kalea sedang berada di geladak kapal, merasakan angin laut yang sama dengan yang ia rasakan sekarang. Ia membayangkan Kalea sedang menatap bintang-bintang, mungkin sedang mengutuk namanya, atau mungkin—jika ia beruntung—sedang memikirkan saat-saat mereka berada di balik pilar besar di Sayap Utara.
Arlo mengambil batu kecil lagi. Ia menggoreskan satu garis lagi di dinding. Hari pertama. Garis itu tampak tidak sejajar dengan garis sebelumnya, mencerminkan pikirannya yang sedang kacau.
Malam mulai turun menyelimuti Aethelgard. Lampu-lampu istana mulai dinyalakan, namun Menara Barat tetap gelap. Arlo tidak meminta pelayan untuk membawakannya lampu. Ia lebih suka berada di dalam kegelapan. Di dalam kegelapan, ia tidak perlu melihat pantulan dirinya yang mengenakan sutra. Di dalam kegelapan, ia bisa berpura-pura bahwa ia sedang berada di suatu tempat yang jauh, di sebuah rumah kecil dengan dinding yang tidak perlu dicat ulang, bersama seseorang yang memanggilnya hanya dengan nama "Arlo".
Tiba-tiba, ia mendengar suara ketukan halus di jendela menaranya.
Arlo tersentak. Tidak mungkin ada orang yang bisa memanjat dinding setinggi ini tanpa alat. Ia segera berdiri dan mendekati jendela.
Di sana, seekor burung merpati kecil sedang hinggap di ambang jendela. Di kakinya, ada secarik kertas kecil yang diikat dengan benang kasar—benang yang sama dengan yang digunakan Kalea untuk mengikat rambutnya.
Tangan Arlo gemetar hebat saat ia meraih burung itu. Ia melepaskan ikatannya dengan sangat hati-hati, seolah-olah kertas itu adalah benda paling berharga di seluruh alam semesta. Ia membuka lipatan kertasnya di bawah cahaya bulan yang masuk dari celah jendela.
Hanya ada satu kalimat yang tertulis di sana dengan tulisan tangan yang kaku dan penuh noda tinta:
"Singa itu sekarang sudah tidak lagi berdebu, Arlo. Terima kasih karena telah menjadi retakan yang paling nyata dalam hidupku. Hiduplah, agar suatu hari nanti aku bisa menghinamu lagi."
Arlo memejamkan matanya, menempelkan kertas itu ke dadanya. Air mata yang selama ini ia tahan di depan Helena, di depan ayahnya, dan di depan seluruh dunia, akhirnya jatuh membasahi kertas kusam itu. Ia tertawa pelan di tengah isak tangisnya.
Kalea benar. Ia adalah seorang pangeran yang bodoh. Ia adalah pengecut yang dibungkus sutra. Tapi malam ini, di dalam penjara yang paling sunyi, Arlo Valerius merasa bahwa ia adalah pria paling kaya di dunia.
Ia memiliki sebuah retakan. Dan dari retakan itulah, cahaya akhirnya mulai masuk ke dalam hidupnya yang selama ini gelap.
Arlo berlutut di lantai, menatap burung merpati yang kini terbang kembali menuju kebebasan. Ia tahu perjuangannya baru saja dimulai. Helena mungkin punya mata di mana-mana, tapi Kalea punya hati yang tidak akan pernah bisa ditaklukkan. Dan Arlo bersumpah, ia akan menanggung setiap hari di menara ini, setiap detik di samping Helena, dan setiap beban mahkota ini, asalkan ia tahu bahwa di suatu tempat di luar sana, seorang gadis tukang cat sedang bernapas dengan lega.
Upacara pernikahan itu mungkin akan terjadi. Aliansi itu mungkin akan berjalan. Tapi Aethelgard tidak akan pernah sama lagi. Karena pangerannya tidak lagi memburu rusa; ia sedang memburu sebuah janji yang ditulis di atas kertas kusam.
Retakan itu kini telah merayap hingga ke langit-langit, dan Arlo menunggu saat yang tepat ketika seluruh bangunan ini runtuh untuk membebaskannya.