NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Empat keping koin perunggu itu masih tergeletak di atas meja kayu yang miring, bersandar pada mangkuk sup yang sudah dingin dan menyisakan lapisan lemak tipis di pinggirnya. Arlo menatap logam kusam itu cukup lama, membiarkan matanya merekam setiap goresan dan warna kecokelatan yang tidak lagi berkilau. Di Aethelgard, koin-koin seperti ini adalah sampah yang memenuhi kantong para pengemis di bawah jembatan kota, sesuatu yang bahkan tidak akan dilirik oleh bendahara istana saat menghitung pajak tahunan. Namun, saat Arlo mencoba menggerakkan jemarinya untuk menyentuh koin itu, rasa sakit yang tajam menusuk dari pangkal telapak tangannya, mengingatkannya bahwa empat keping ini adalah bayaran untuk setiap tarikan napasnya yang sesak di antara debu jati kemarin.

Arlo mengerang pelan, sebuah suara yang tertahan di tenggorokan agar tidak membangunkan Pak Elara yang masih bernapas dengan teratur di dipan sebelah. Ia memaksakan tubuhnya untuk tegak, namun tulang belikatnya terasa seolah dikunci oleh pasak besi yang panas. Setiap kali ia mencoba meluruskan punggung, otot-otot di pinggangnya berdenyut hebat, mengirimkan sinyal kelelahan yang luar biasa ke otaknya. Ia menatap kakinya yang terjuntai di tepi dipan jerami; kulitnya kini dipenuhi noda hitam yang meresap ke dalam pori-pori, jenis noda yang tidak akan bisa hilang hanya dengan sekali basuhan air dingin.

Ia menoleh ke arah jendela. Langit Solandis masih berwarna kelabu tua, belum ada tanda-tanda semburat jingga, namun suara riuh di dermaga bawah sudah mulai terdengar—suara rantai kapal yang ditarik, teriakan mandor yang membagi shift, dan deru mesin uap yang baru dinyalakan. Arlo meraba lebam di pipinya yang kini mulai menguning. Rasa sakit itu sudah tumpul, tertutupi oleh rasa kaku di sekujur tubuhnya yang jauh lebih mendominasi.

"Jangan dipaksakan kalau kau ingin pingsan di tengah jalan," suara Kalea terdengar datar dari arah sudut ruangan yang remang.

Arlo tersentak sedikit, matanya mencari sosok gadis itu. Kalea duduk di lantai, sedang mengasah sebuah pisau kecil dengan batu asah yang ia bawa dari Aethelgard. Rambutnya sudah diikat rapi, wajahnya tampak segar meskipun ia jelas terjaga lebih lama dari Arlo semalam. Di sampingnya, terdapat sepasang sepatu bot kulit tua yang tampak sangat kuat namun sudah banyak tambalan.

"Aku hanya sedang... melakukan pemanasan," dusta Arlo. Ia berdiri, membiarkan bunyi krek keras terdengar dari sendi lututnya. Ia melangkah menuju meja, meraih empat koin perunggu itu dan memasukkannya ke dalam saku kemeja katunnya yang sudah robek di bagian bahu.

Kalea berdiri, mendekati Arlo sambil membawa sebuah botol kecil berisi cairan hijau pekat yang baunya sangat menyengat—campuran minyak kayu dan akar-akaran yang ia beli dari pasar gelap pelabuhan kemarin sore. Ia tidak meminta izin, ia hanya menarik kerah kemeja Arlo ke bawah, memperlihatkan bahu kiri Arlo yang membiru akibat beban kayu jati.

"Thomas bilang kau memaksakan diri memikul balok sendirian sore kemarin," Kalea mengoleskan cairan itu dengan telapak tangannya yang kasar.

Arlo memejamkan mata, giginya bergeletuk menahan rasa panas yang seketika membakar kulitnya. Sensasinya seperti disiram air mendidih, namun sedetik kemudian, rasa kaku di ototnya mulai sedikit melonggar. "Kami kekurangan orang, Kalea. Kalau balok itu tidak segera dipindahkan ke area pengeringan, Silas akan memotong upah seluruh tim."

"Dan kalau bahumu patah, kau tidak akan punya upah sama sekali selama sebulan," balas Kalea sambil memberikan tekanan lebih kuat pada otot Arlo yang menegang. "Kau bukan lagi pangeran yang dilindungi oleh asuransi kerajaan, Arlo. Di sini, tubuhmu adalah modal satu-satunya. Jika modalmu rusak, kau bangkrut."

Arlo menarik napas panjang, aroma jamu itu masuk ke paru-parunya, sedikit menyesakkan namun membantu fokusnya kembali. "Aku tahu. Aku sedang belajar menjadi mesin, seperti katamu semalam."

Kalea melepaskan tangannya, menyeka sisa minyak di bajunya sendiri. Ia menatap Arlo dengan tatapan yang sulit diartikan—ada sedikit rasa hormat yang ia sembunyikan di balik wajah datarnya. "Makan ubi ini di jalan. Kita tidak punya waktu untuk duduk di kedai bawah."

Mereka keluar dari penginapan saat angin laut yang paling dingin mulai berembus, membawa kabut tipis yang menutupi pandangan hingga jarak lima meter. Arlo berjalan dengan langkah yang sedikit diseret, mencoba menyesuaikan ritme langkahnya dengan Kalea yang tampak sangat gesit menembus kerumunan buruh pelabuhan. Di Solandis, fajar bukan tanda dimulainya hari, melainkan tanda bahwa kau sudah terlambat untuk mendapatkan posisi terbaik di galangan.

Sesampainya di dermaga barat, suasana jauh lebih kacau dari kemarin. Beberapa kapal patroli Solandis sedang bersandar untuk perbaikan darurat. Arlo melihat Mandor Silas sedang berdiri di atas tumpukan peti, memegang daftar nama yang sudah penuh coretan arang.

"Nomor 84! Ke bagian pengamplasan lambung!" teriak Silas tanpa menoleh saat Arlo menyerahkan kepingan logamnya. "Bawa alatmu di gudang C. Cepat!"

Pengamplasan lambung. Arlo tahu ini adalah pekerjaan yang jauh lebih membosankan namun menuntut ketelitian fisik yang luar biasa. Ia berjalan menuju gudang C, mengambil sebuah blok kayu yang dilapisi kertas amplas kasar dan sebuah kikir besi. Tugasnya hari ini adalah menghaluskan permukaan lambung kapal yang baru saja dikikis kerangnya kemarin.

Arlo berdiri di bawah perut kapal yang raksasa, menatap serat-serat kayu yang masih kasar dan penuh noda air laut. Ia mengangkat tangannya, memulai gerakan mengamplas dari atas ke bawah. Srek. Srek. Srek. Dalam lima menit pertama, debu kayu yang halus mulai menempel di wajahnya, masuk ke lubang hidungnya, dan membuat matanya perih. Ia harus mengenakan secarik kain kusam untuk menutupi mulut dan hidungnya agar tidak sesak napas.

Waktu seolah membeku di antara gerakan tangan yang berulang. Arlo tidak lagi memikirkan waktu; ia hanya memikirkan inci demi inci kayu yang harus ia buat menjadi halus. Setiap kali tangannya bergerak, bahunya yang sudah diolesi minyak semalam kembali berdenyut, namun ia tidak berhenti. Ia belajar untuk memindahkan beban tenaganya ke pinggang, seperti yang diajarkan Jono semalam.

Di sebelahnya, seorang pekerja lain—pria paruh baya dengan tato jangkar di lengannya—sedang menggerutu tentang harga gandum yang naik. Arlo hanya mendengarkan tanpa menanggapi. Ia merasa aneh; di istana, percakapan selalu tentang aliansi, pengkhianatan, atau pajak. Di sini, perang terbesar manusia adalah tentang seberapa banyak gandum yang bisa mereka bawa pulang sore nanti.

"Kau pendatang baru yang bikin heboh itu, ya?" tanya pria di sebelahnya tanpa menghentikan gerakan amplasnya.

Arlo berhenti sejenak, menyeka peluh di dahinya dengan lengan baju. "Heboh?"

"Katanya kau berani membantah perwira kerajaan kemarin. Nyalimu besar, Nak. Tapi nyali tidak akan mengisi perutmu kalau Silas memecatmu karena kerjamu lambat," pria itu meludah ke tanah, lalu kembali fokus pada kayunya.

Arlo tidak menjawab. Ia kembali menekan blok amplasnya ke kayu. Ia tidak ingin dikenal karena "nyalinya". Ia ingin dikenal karena kerjanya.

Saat matahari mencapai puncaknya, panas di bawah lambung kapal terasa seperti di dalam oven. Udara menjadi statis, tidak ada angin yang masuk ke celah-celah dok perbaikan. Arlo merasa kepalanya mulai berputar. Ia menyandarkan keningnya yang berkeringat pada kayu kapal yang dingin untuk sejenak mencari kesadaran. Tangannya sudah tidak terasa lagi; jari-jarinya seolah mati rasa karena terus-menerus memegang blok amplas yang kasar.

"Istirahat, Pangeran. Kau akan pingsan kalau terus begitu."

Jono muncul membawa sebuah ember kecil berisi air bersih. Pria tua itu tidak bekerja di bagian pengamplasan, ia di bagian pengecatan, namun ia tampak selalu punya waktu untuk memeriksa kondisi Arlo.

Arlo menerima gayung berisi air dari Jono, meminumnya dengan rakus hingga air itu tumpah ke dadanya yang dipenuhi debu kayu. "Terima kasih, Jono. Aku hanya... butuh sedikit udara."

"Pekerjaan ini memang membosankan, tapi ia menguji mentalmu lebih daripada memikul balok," Jono duduk di atas kotak peralatan, menyalakan sebatang tembakau lintingannya sendiri. "Kalau kau bisa membuat kayu ini halus seperti pipi bayi, kau akan dihargai oleh pemahat kapal. Itu pekerjaan yang lebih bersih dan bayarannya lebih bagus."

Arlo menatap hasil kerjanya. Bagian yang sudah ia amplas tampak berwarna cokelat kemerahan yang indah, serat-serat kayunya mulai terlihat jelas. Ada kepuasan aneh yang muncul di dadanya—sebuah perasaan bahwa ia telah mengubah sesuatu yang kasar menjadi sesuatu yang indah dengan tangannya sendiri.

"Aku akan mencobanya," gumam Arlo.

Sore harinya, saat otot-ototnya sudah mencapai batas toleransi rasa sakit, Arlo menyelesaikan bagian lambung yang ditugaskan kepadanya. Ia meraba permukaannya dengan telapak tangan yang kasar. Halus. Tidak ada lagi serpihan yang menonjol. Ia bangkit berdiri, membersihkan debu kayu di pakaiannya, lalu berjalan menuju Silas.

Silas memeriksa hasil kerja Arlo dengan sangat teliti. Ia menyentuh kayu itu, menggosoknya dengan ujung jari, lalu ia menatap Arlo dengan pandangan yang sedikit lebih lunak. "Kerja bagus, Nomor 84. Kau punya ketelitian yang jarang dimiliki buruh kasar. Besok, kau bantu tim pemahat di galangan D. Upahmu hari ini lima koin perunggu."

Lima koin perunggu.

Arlo menerima koin-koin itu, merasakan logamnya yang terasa jauh lebih hangat daripada koin kemarin. Ia membungkuk sedikit—bukan sebagai tanda menghamba, tapi sebagai tanda terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Ia berjalan meninggalkan galangan kapal dengan tubuh yang terasa sangat ringan meskipun kakinya sangat pegal.

Dalam perjalanannya kembali ke penginapan, Arlo melewati pasar pusat Solandis. Ia berhenti di sebuah gerai kain kecil. Matanya tertuju pada sepotong tali rambut berwarna biru tua, warnanya persis seperti noda cat di kain milik Kalea. Harganya satu koin perunggu.

Arlo ragu sejenak. Ia hanya punya lima koin. Empat koin harus digunakan untuk membayar sisa biaya penginapan dan makanan ayahnya. Sisa satu koin seharusnya disimpan untuk cadangan. Namun, saat ia membayangkan wajah Kalea yang selalu mengikat rambutnya dengan tali kain kusam yang sudah hampir putus, Arlo membuat keputusannya.

Ia menyerahkan satu koin perunggu itu pada pedagang kain.

Sesampainya di penginapan, Arlo menaiki tangga dengan perasaan yang berdebar. Ia masuk ke kamar, menemukan Kalea sedang duduk di samping ayahnya yang sedang mencoba meminum sup tanpa bantuan. Pak Elara tampak jauh lebih kuat, wajahnya sudah tidak sepucat kemarin.

"Kau pulang terlambat lagi," Kalea berdiri, ia hendak mengambil handuk basah seperti biasa, namun Arlo menahan tangannya.

"Tunggu," Arlo merogoh sakunya, mengeluarkan tali rambut biru itu dan menyerahkannya pada Kalea.

Kalea terdiam. Ia menatap tali rambut itu, lalu menatap Arlo yang wajahnya masih kotor oleh debu kayu. "Apa ini?"

"Tali rambutmu yang lama sudah hampir putus. Aku membelinya di pasar tadi," Arlo bicara dengan nada yang sangat biasa, seolah-olah membeli barang adalah hal yang ia lakukan setiap hari.

Kalea menerima tali rambut itu. Ia menyentuh teksturnya yang halus. "Satu koin perunggu?"

"Ya."

"Arlo, kau bodoh," Kalea mengembuskan napas panjang, namun Arlo bisa melihat senyum kecil yang dipaksakan di sudut bibirnya. "Kita butuh setiap keping koin untuk bertahan hidup, dan kau menghabiskannya untuk barang seperti ini?"

"Aku menghasilkan lima koin hari ini, Kalea. Silas memindahkanku ke tim pemahat besok," Arlo duduk di samping Pak Elara, tersenyum pada pria tua itu. "Kita akan baik-baik saja."

Pak Elara tertawa kecil, suara tawanya masih terdengar serak. "Biarkan dia, Kalea. Seorang pria harus punya cara untuk menunjukkan bahwa dia masih memiliki hati, bahkan di tempat sekasar Solandis."

Kalea tidak membalas. Ia berbalik, melepas tali kain lamanya, dan mengikat rambutnya dengan tali biru pemberian Arlo. Rambutnya kini tampak lebih rapi, dan warna biru itu sangat cocok dengan kulitnya yang sawo matang. Ia kembali menghampiri Arlo, menyerahkan handuk basah dengan gerakan yang lebih lembut dari biasanya.

"Terima kasih," bisik Kalea pelan, hampir tidak terdengar di tengah bisingnya jalanan di bawah penginapan.

Malam itu, di bawah cahaya lampu minyak yang temaram, Arlo tidur dengan perasaan yang sangat utuh. Ia tahu tangannya akan semakin kapalan. Ia tahu hidup di Solandis akan tetap keras. Namun saat ia melihat Kalea yang tidur dengan tali rambut biru itu di dipan seberang, Arlo menyadari bahwa mahkota emas yang ia tinggalkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa bangga karena bisa memberikan sesuatu dari hasil keringatnya sendiri.

Ia memejamkan mata, membiarkan suara debu yang jatuh dari langit-langit menjadi nina bobonya. Retakan itu kini sudah mulai terisi oleh sesuatu yang lebih kuat dari sekadar semen—ia terisi oleh sebuah harapan yang ia bangun perlahan-lahan di atas tanah yang merdeka.

Arlo Valerius, sang pria tanpa mahkota, akhirnya benar-benar memahami bahwa kemuliaan tidak datang dari apa yang kau warisi, melainkan dari apa yang kau perjuangkan sampai titik darah terakhir. Dan di Solandis, perjuangannya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!