NovelToon NovelToon
Ixevons

Ixevons

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Action
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Riahe

"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROLOG: KERUNTUHAN CAKRAWALA IXEVON

Langit di atas Ixevon tidak lagi berwarna biru safir yang menjadi kebanggaan rakyatnya. Malam itu, cakrawala seolah robek, menumpahkan lautan api merah darah yang menelan kemegahan menara-menara kristal istana. Bau belerang dan besi yang terbakar memenuhi udara, menghancurkan aroma wangi bunga lavender yang biasanya menari di sela-sela angin pegunungan.

Di kejauhan, raungan makhluk-makhluk bayangan yang merangkak keluar dari kegelapan abadi Malakor bersahutan dengan jeritan keputusasaan para prajurit yang jatuh satu per satu.

Di pusat aula utama yang kini mulai runtuh, Thomas Ixevon berdiri tegak sebagai benteng terakhir yang tak tergoyahkan. Setiap helai jubah emasnya telah koyak, dan baju besi peraknya berlumuran darah hitam milik entitas bayangan.

Thomas, yang dulunya menyandang nama Thomas Hidstone sebelum menerima marga sakral Ixevon saat naik takhta, bukanlah raja yang hanya memerintah dari balik meja kayu.

Di sekeliling tubuhnya, delapan patahan besi raksasa melayang dengan suara berdenging yang mematikan. Dengan gerakan jari yang presisi, Thomas mengendalikan patahan-patahan itu layaknya bagian dari tubuhnya sendiri.

Patahan besi itu berubah bentuk dalam sekejap mata; menyempit menjadi bilah silet yang membelah kegelapan, melebar menjadi perisai kokoh untuk menahan gempuran energi hitam, atau mengumpul membentuk bor raksasa yang menghancurkan barisan musuh.

Skala besi-besi itu terus mengecil dan membesar sesuai kehendaknya, menciptakan tarian baja yang offensive sekaligus defensive di tengah badai serangan.

"Kau tidak akan pernah menyentuh putraku, Malakor!" raung Thomas, suaranya menggelegar melebihi dentuman sihir yang menghancurkan dinding istana.

Di sampingnya, Ratu Rebecca berdiri dengan sisa-sisa kekuatannya. Cahaya putih menyilaukan memancar dari telapak tangannya, mengalirkan energi Absolute Healing yang terus-menerus menutup luka-luka di tubuh Thomas.

Namun, kekuatan itu memiliki harga yang mengerikan. Setiap detik Rebecca mempertahankan nyawa suaminya, staminanya terkuras hingga ke titik nadir. Wajahnya pucat pasi, dan keringat dingin membasahi dahinya, namun sorot matanya yang penuh cinta tidak pernah goyah sedikit pun.

"Thomas... staminaku... aku tidak bisa menahan mereka lebih lama lagi," bisik Rebecca parau, meski tangannya tetap stabil memancarkan cahaya suci.

Di tengah kekacauan itu, Geralt, sang ajudan setia yang telah bersumpah nyawa, berlari menembus puing-puing aula dengan sebuah bungkusan kain sutra di pelukannya. Di dalam bungkusan itu, bayi Riezky tertidur lelap, sama sekali tidak menyadari bahwa ia adalah satu-satunya alasan mengapa dua orang paling berkuasa di negeri itu sedang bertarung melawan maut.

Geralt membawa bayi itu menuju ruang bawah tanah, tempat sebuah altar kuno yang menyimpan gerbang teleportasi acak berada.

"Geralt, jalankan perintahku!" teriak Thomas tanpa menoleh. "Bawa dia sejauh mungkin! Jangan pernah biarkan ramalan itu mati di sini!"

Malakor, sang musuh abadi yang dipenuhi rasa iri karena Thomas selalu lebih diakui sebagai ksatria sejati, tertawa mengejek dari balik kabut hitamnya. "Anak itu adalah akhir bagiku, dan aku akan mengakhirinya sekarang! Ramalan tidak akan menjadi kenyataan jika Ixevon terakhir lenyap dari sejarah!"

Malakor memerintahkan ribuan "perintilan"—makhluk bayangan kecil yang lincah—untuk mengejar Geralt. Saat Geralt mengaktifkan segel altar dan pusaran teleportasi terbuka, beberapa makhluk bayangan itu berhasil melompat masuk ke dalam portal tepat sebelum Riezky terhisap ke dalam koordinat yang tak terpetakan.

Melihat putranya telah pergi, Thomas dan Rebecca saling memandang untuk terakhir kalinya. Sebuah tatapan yang merangkum ribuan janji dan kenangan manis selama hidup mereka.

Dengan sisa stamina terakhir yang diberikan Rebecca dalam satu sentuhan terakhir pada bahunya, Thomas memusatkan seluruh kekuatannya.

"ABSOLUTE CAGE!"

Kedelapan patahan besi itu berpendar sangat terang hingga membutakan mata. Besi-besi itu pecah menjadi ribuan serpihan yang melesat dengan kecepatan cahaya, membungkus tubuh Malakor dalam sebuah peti mati baja yang tak terpatahkan. Serpihan besi itu menjahit setiap partikel kegelapan Malakor, mengunci persendiannya, dan membuatnya kaku seperti patung di tengah reruntuhan. Malakor tidak mati, namun ia tersegel dalam keabadian yang hanya bisa dicairkan oleh satu orang di dunia ini: sang pewaris senjata itu, Riezky.

Tahun-tahun telah berlalu sejak badai besar itu, namun bagi Lyra, luka lama tidak pernah benar-benar sembuh. Pagi itu, ia berjalan menyisir garis pantai Aethelgard bukan untuk mencari kerang atau memeriksa jaring yang tersangkut. Ia datang ke sana untuk sebuah ritual sunyi yang selalu ia lakukan setiap tahun: mengenang suami dan putra kecilnya yang ditelan samudera bertahun-tahun silam.

Langkah kakinya berat, meninggalkan jejak di atas pasir basah yang dingin. Ia berhenti di sebuah tanjung karang yang menjorok ke laut, tempat biasanya ia menaburkan bunga liar sebagai tanda penghormatan bagi orang-orang tercintanya yang kini menjadi milik laut. "Aku masih di sini," bisiknya pelan pada deburan ombak yang tak menjawab.

"Masih menunggu, meski aku tahu laut tak pernah mengembalikan apa yang telah ia ambil."

Namun, hari ini laut seolah ingin membantah ucapannya.

Saat matahari mulai mengintip dari balik cakrawala, menyebarkan cahaya oranye yang memantul di atas permukaan air yang masih bergejolak sisa badai semalam, Lyra melihat sesuatu yang asing di antara celah karang tajam. Sebuah keranjang anyaman halus, terbungkus kain sutra yang masih memancarkan pendaran redup meski telah terombang-ambing di lautan dimensi.

Lyra mendekat dengan ragu, jantungnya berpacu. Di dalam keranjang itu, seorang bayi laki-laki menatapnya dengan tenang. Tidak ada tangisan, tidak ada ketakutan. Hanya sepasang mata heterochromia yang berkilauan—satu biru elektrik dan satu merah membara—yang seolah sedang menilai dunia barunya.

Lyra gemetar saat mengangkat bayi itu. Perhatiannya tertuju pada kain sutra yang menyelimuti tubuh mungil sang bayi. Di sudut kain tersebut, terdapat sulaman benang emas yang sangat halus, membentuk sebuah nama: RIEZKY.

Namun, di samping nama itu, terdapat jejak luka bakar yang cukup parah. Seolah-olah ada energi panas yang sangat besar telah menghanguskan sisa kata di sana.

Hanya tersisa huruf "I...VON" yang nyaris tak terbaca, seolah-olah nama besar yang seharusnya mendampingi bayi itu sengaja dihapuskan oleh takdir agar ia bisa bertahan hidup sebagai orang biasa.

"Riezky..." bisik Lyra, jemarinya yang kasar mengusap sulaman nama itu. "Namamu Riezky."

Lyra melihat ke sekeliling, berharap menemukan tanda-tanda kapal karam atau orang tua bayi ini, namun pantai itu tetap sepi.

Hanya ada beberapa bayangan hitam kecil yang bergerak cepat di kejauhan—perintilan Malakor yang mulai menyusup ke pulau—namun Lyra terlalu fokus pada bayi di pelukannya untuk menyadari ancaman itu.

Bagi Lyra, ini bukan sekadar kebetulan. Di hari ia datang untuk menangisi keluarganya yang hilang, laut justru menitipkan nyawa baru ke dalam pelukannya. Rasa hampa di dadanya mendadak terisi oleh sebuah tujuan baru.

"Ibu tidak tahu dari mana asalmu, Nak. Ibu juga tidak tahu apa yang terjadi dengan nama belakangmu yang terbakar ini," ucap Lyra sambil mendekap bayi itu erat-erat ke dadanya yang hangat.

"Tapi mulai hari ini, kau adalah putraku. Kau tidak akan sendirian lagi di dunia ini."

Selama dua puluh tahun berikutnya, rahasia tentang kain sutra yang terbakar itu tersimpan rapat di dasar peti kayu milik Lyra. Riezky tumbuh tanpa pernah mengetahui bahwa ia memiliki marga yang sanggup menggetarkan benua.

Ia hanya tahu bahwa ia adalah putra seorang nelayan janda di Aethelgard.

Lyra mendidik Riezky dengan penuh kasih, meski ia sering kali merasa ngeri melihat kekuatan aneh yang sesekali muncul dari tangan putranya. Setiap kali Riezky tanpa sengaja membakar kayu bakar hanya dengan sentuhan atau menciptakan percikan listrik saat ia gembira, Lyra akan segera menutupinya dan berpesan, "Hanya di dalam rumah, Riz. Di luar sana, kau hanya nelayan biasa."

Riezky pun tumbuh menjadi pemuda yang pendiam namun memiliki wibawa yang tak bisa disembunyikan. Ia menjadi nelayan yang paling tangguh di Aethelgard, yang sanggup menarik jaring sendirian saat badai datang, sambil tetap menjaga rahasia bahwa di balik kulitnya yang putih bersih, tersimpan kekuatan warisan Ixevon yang sedang tertidur, menunggu pemicu yang tepat untuk bangkit dan menagih takdirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!