NovelToon NovelToon
Tak Setara

Tak Setara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman Terakhir

Setelah tujuh hari yang dipenuhi berbagai kegiatan, tawa, dan tantangan kreatif, akhirnya perjalanan mereka di resort itu sampai pada akhirnya.

Waktu yang singkat di resort ini telah mengubah banyak hal—tawa, perdebatan, ide-ide yang lahir, hingga kenangan kecil yang mungkin tidak akan mudah dilupakan.

Pagi ini semua peserta bersiap untuk kembali ke kota. Barang-barang sudah dikemas dan siap untuk berangkat dengan kapal menyebrangi pulau.

Aluna menatap kembali resort itu, villa yang penuh kenangan, pantai yang memiliki banyak cerita dan dermaga kayu yang sedang ia pijak saat ini—

Menjadi saksi bisu yang menciptakan kenangan pahit bersama Arka.

"Aluna, kenapa malah melamun?"

Pak Damar selaku sekretaris perusahaan, menepuk pundak Aluna.

Aluna tersenyum padanya.

"Pasti ada rasa sedih ingin meninggalkan tempat ini?" ucap Damar.

"Karna ini momen pertama saya," balasnya.

Damar hanya tersenyum dan kembali melihat Resort itu sekilas sebelum akhirnya ia mengajak Aluna masuk kedalam dek kapal.

Sesampainya di pelabuhan.

Semua peserta berpindah ke dalam bus pariwisata.

Aluna mengantri untuk memasuki bus selanjutnya.

Saat kakinya hendak melangkah ke pintu bus, tangannya ditarik dari belakang.

Aluna menoleh, ia menemukan Arka yang tengah memegangi tangannya.

Arka memberikan isyarat kepada kenek bus untuk segera berangkat karena semua peserta sudah naik.

"Pak, tapi saya belum naik."

Arka tidak menjawab, ia menuntun Aluna menuju mobil miliknya.

Arka membukakan pintu mobilnya, menunggu Aluna masuk.

Aluna terlihat ragu.

"Pak, saya..."

Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, Arka mendorong tubuhnya masuk.

Mereka pun berangkat dengan mobil.

Sepanjang perjalanan, hening merayap diantara keduanya.

Arka fokus menyetir, Aluna hanya diam menatap lurus kedepan.

"Kamu suka lagu apa?"

Tangannya menyentuh layar audio di dashboard, mencari playlist.

Aluna berpikir sesaat,

“Ballad,” jawab Aluna pelan. “Yang slow… yang sedikit sedih.”

Arka tertawa kecil, "pantas saja.. hidup mu selalu suram."

Lagu pelan mengalun dari speaker mobil—lagu indie yang sendu, jenis musik yang selalu disukai Aluna.

Aluna menyenderkan kepalanya di kaca pintu mobil. Alunan musik yang diputar membuat dadanya sesak, pikirannya penuh oleh hal-hal yang menantinya dirumah.

Ia belum siap untuk menatap Gavin, ia belum siap untuk kemungkinan pahit yang akan ia terima.

Arka sesekali menoleh ke arahnya.

Ia tahu perempuan itu sedang memikirkan sesuatu.

Sampai kemudian ia melihatnya—setetes air mata yang jatuh perlahan di pipi Aluna.

Aluna segera menunduk, seolah berusaha menyembunyikannya. Wajahnya dibenamkan lebih dalam, menahan agar tangisnya tidak benar-benar terdengar.

Arka membawa mobilnya memotong sebuah jalan setapak.

Pohon pinus di sisi kiri dan kanan jalan menutupi cahaya matahari, menciptakan suasana menjadi sedikit gelap.

Lalu mobil itu berhenti tepat di sebuah jurang yang menghadap laut.

Aluna menegakkan tubuhnya, matanya menyapu sekeliling area itu.

Arka sudah turun dari mobil. Ia berdiri di depan kap mobil dengan kedua tangan tersilang di dada, menatap hamparan laut yang terbentang di hadapannya.

Aluna pun turun dari mobil, mendekati pria itu.

"Kenapa kita kesini?"

"Kenapa setiap kali melihatmu menangis, dadaku terasa sakit?" potong Arka.

Aluna tercekat mendengarnya.

Ia diam beberapa saat lalu kembali berbicara.

"Bukankah Pak Arka sering membuat saya menangis?"

"Membuat mu menangis dan melihat mu menangis itu, dua hal yang berbeda."

Matanya masih menatap kedepan.

Aluna mengerutkan keningnya, ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud pria itu.

Ia menghela nafas, menyenderkan punggungnya di kap mobil.

"Terserah Bapak saja."

Nadanya terdengar pasrah.

Arka menoleh. Ia memperhatikan wajah Aluna yang diterpa angin laut, beberapa helai rambut menari di pipinya, membuatnya terlihat begitu memikat.

Ia melangkah mendekat hingga berhenti tepat di depan Aluna.

Aluna yang sedang memandangi laut sedikit terkejut saat sosok tinggi itu tiba-tiba berdiri di hadapannya, menutup pandangannya pada garis laut di kejauhan

Reflek tubuh Aluna mundur kebelakang namun tertahan oleh mobil.

Jemari Arka menyentuh helai rambut Aluna.

"Aku tidak suka saat orang lain membuat mu menangis."

Dada Aluna berdegup kencang.

Ia diam membisu, seolah bibirnya tidak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Jemari Arka terangkat, ujung jarinya menyentuh bibir Aluna dengan lembut.

Ia mendekat sedikit demi sedikit, hingga tanpa sadar Aluna terdorong mundur. Punggungnya akhirnya bersandar pada kap mobil yang masih hangat.

Aluna meraih tangan Arka yang menyentuh bibirnya. Namun pria itu malah menahan tangannya dengan lembut di antara jemarinya.

Wajahnya semakin mendekat, hingga napas mereka bercampur dalam jarak yang nyaris tak ada.

“Pak Arka,” Aluna memalingkan wajahnya. “Saya tidak ingin terlihat sama dengan suami saya.”

Arka menatap perempuan yang sedikit gemetar itu.

“Kamu tidak sama dengannya,” katanya pelan.

Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan,

“Dan ini… bukan karena dia.”

Hening menggantung di antara mereka.

“Aku hanya ingin satu hal ini,” lanjut Arka pelan.

“Sebelum kita benar-benar berjalan ke arah yang berbeda.”

Kalimat terakhir yang terucap dibibir Arka, membuat Aluna menoleh padanya.

Kedua mata itu saling menatap lama sebelum akhirnya bibir mereka bertemu dan kali ini tanpa paksaan.

Arka menghentikan ciumannya, "ku harap setelah ini kamu tidak lagi terlihat bodoh."

Jemarinya mengusap bibir Aluna.

"Agar ketika aku kembali... Kamu sudah menjadi seseorang yang jauh lebih baik."

Arka memeluk erat tubuh Aluna, seolah tubuh kecil itu akan menghilang dari hidupnya begitu ia melonggarkan pelukannya.

Aluna hanya diam menerima dengan wajah yang kebingungan.

***

Aluna menyeret kopernya menuju pintu rumah.

Setelah beberapa kali mengetuk pintu, ia disambut oleh perempuan paruh baya.

Aluna mencium punggung tangan perempuan itu, kemudian masuk kerumahnya.

"Gavin.. tidak dirumah, Bu?" tanyanya sebelum ia masuk ke kamar.

"Gavin jarang dirumah selama kamu tidak ada."

Aluna terdiam sesaat, pikirannya kembali pada sosok perempuan di foto itu.

Setelah Aluna beristirahat sebentar di kamarnya, ia pergi ke dapur.

Matanya tertuju pada kulkas miliknya, kulkas itu dibuka namun ia tidak menemukan apapun disana. Hanya es batu yang hampir sepenuhnya membeku karena belum dibersihkan.

Sesaat kemudian ibu mertuanya datang.

"Aluna lihat kulkasnya kosong. Memangnya ibuk nggak belanja?"

Tanyanya dengan nada lembut.

Ibu mertuanya meneguk segelas air.

"Buat apa belanja?"

"Loh.. memangnya selama Aluna tidak ada, kalian makan apa?"

"Beli diluar."

Aluna membeku.

"Beli itu kan boros, Bu."

“Ibuk beli karena nggak ada yang masak di rumah,” katanya dengan nada meninggi.

“Ibuk juga jarang di rumah. Arisan, rapat PKH…”

Aluna mendengarkan tanpa ingin menjawab.

"Oh iya... Uang yang kemarin kamu kasih, sudah habis," lanjutnya. "Ibuk bisa saja minta pada suami mu... Tapi ibuk nggak tega. Karena pasti dia juga sudah menanggung kebutuhan yang lain."

Aluna memahami maksud mertuanya.

"Iya.. nanti Aluna siapkan uangnya."

Setelah perdebatan di dapur berakhir, Aluna diam di kamarnya, memeluk kedua lututnya, tubuhnya bersandar di bawah ranjang.

Sesekali ia melirik jam dinding di kamarnya.

Pukul 12 malam. Namun sepertinya seseorang yang ia tunggu-tunggu sedari tadi tidak kunjung kembali.

Kepalanya penuh, ia memikirkan bagaimana caranya membahas masalah foto itu kepada suaminya.

Ia tidak ingin bertengkar, apalagi saat ini mereka tidak lagi hanya tinggal berdua.

Aluna hanya takut jika emosi suaminya lebih besar daripada dirinya.

Sampai lamunannya dikagetkan oleh suara pintu yang terbuka.

Sontak Aluna menoleh.

"Aluna."

Gavin terlihat kaget melihat istrinya sudah berada dirumah.

"Kamu sudah pulang? Kenapa tidak memberitahu ku?" tanyanya sambil mendekati perempuan yang terduduk di lantai itu.

Aluna terdiam menatap lama wajah suaminya.

Wajah yang ia percayai selama bertahun-tahun, rasanya sulit untuk menerima pengkhianat darinya.

"Kamu kenapa baru pulang?" tanyanya dengan wajah datar.

"Habis main sama temen... Soalnya selama kamu nggak ada, aku kesepian," jelasnya.

"Kesepian? Lalu dengan mudahnya meniduri orang lain?"

Namun kalimat itu tidak pernah terucap.

"Oh begitu."

Aluna mengangguk ingin mempercayai.

Gavin memeluk tubuh istrinya, "aku merindukanmu." Bisiknya.

Ia menciumi leher Aluna, aroma mawar yang melekat di kulitnya membuat Gavin semakin menginginkannya.

Ia mengecup setiap tubuh Aluna, hingga kecupan itu berhenti pada bibirnya.

Mereka saling melepaskan kerinduan yang sudah tertahan selama sepekan.

Dengan satu dorongan di dada, tubuh Aluna terhuyung ke belakang hingga akhirnya terlentang di lantai.

Aluna menahan tangan suaminya, "Gavin..."

Gavin menghentikan aktivitasnya.

"Ada apa?"

"Jangan malam ini. Aku lelah."

Dengan berat hati, Gavin menuruti keinginan istrinya. Mereka berakhir tidur tanpa melakukan apapun.

Aluna yang tidur membelakangi suaminya, tiba-tiba terisak tanpa suara.

Ia menolak Gavin bukan karena benar-benar lelah, namun ingatannya tentang foto itu membuat pikirannya kacau.

Aluna ingin memastikan suaminya telah tidur.

Ia meraih ponsel milik Gavin yang tergeletak di meja samping ranjang.

Aluna membuka ponsel itu,

Galery.

Kontak.

WhatsApp.

Sosial media.

Tidak ada apapun disana.

Ia meletakkan kembali ponsel itu pada tempatnya, namun tiba-tiba tangannya diraih oleh Gavin.

Sontak Aluna kaget.

"Kamu sedang apa?" tanya Gavin dengan wajah yang terlihat kesal.

"Aku...," nadanya terbata. "Hanya ingin melihat ponsel mu."

"Untuk apa?"

"Hanya melihat-lihat saja."

"Nggak biasanya kamu peduli pada ponsel ku."

Gavin mencengkram tangan Aluna, membuat perempuan itu mendesah pelan.

"Memangnya salah jika aku melihat ponsel suamiku sendiri?"

Nadanya kini terdengar tegas.

"Nggak ada yang salah, sayang."

Gavin menarik tubuh Aluna hingga menindih tubuhnya. "Yang salah hanyalah sikap mu yang tiba-tiba seperti ini."

Aluna menjatuhkan wajahnya di dada Gavin. Membenamkan seluruh wajahnya.

Gavin mengelus rambut Aluna, ia merasakan sesuatu yang berbeda dari istrinya.

"Ada sesuatu yang mengusik mu?"

Aluna terdiam memikirkan foto itu.

Rasanya seperti seseorang menarik lantai dari bawah kakinya. Aluna tahu apa yang ia lihat… tapi sebagian dari dirinya masih berharap itu hanya salah paham.

Ia mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang foto itu.

Bisa saja itu foto lama...sebelum bersama. gumamnya.

***

1
Gira Hurary
sukaaaa alurnya... author ini berani beda, tetep semangat ya thor
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Gira Hurary
semangaaaat
Rini
Lanjut thor🤭
Rini
Baru diawal bagus bgt, setiap kata-katanya tersusun rapi mudah dipahami😍 semangat thor💪
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Annida Annida
lanjut tor
Dian
lumayan bagus
Lass96: Terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Senang sekali kalau ceritanya bisa kamu nikmati.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!