Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.
Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.
Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.
Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.
Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Hantu Masa Lalu dan Jas yang Kebesaran
Seminggu setelah insiden "pembersihan" di kantor Batubara Group, suasana rumah tangga Devan dan Nika terasa seperti madu yang tumpah—manis, kental, dan membuat siapa pun yang melihatnya merasa iri. Pagi itu, Nika sedang sibuk di depan cermin besar di kamar mereka, mencoba mengenakan salah satu jas milik Devan. Ia menenggelamkan tubuh kecilnya di dalam kain wol mahal berwarna biru dongker itu, menggulung lengannya berkali-kali hingga tangannya muncul di ujung.
"Mas! Lihat! Aku terlihat seperti bos besar, kan?" seru Nika sambil berputar-putar, membuat jas yang kebesaran itu melambai-lambai lucu.
Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di bahu, terpaku di ambang pintu. Ia menahan tawa melihat istrinya yang tampak seperti anak kecil sedang bermain kostum. "Nika, itu jas untuk rapat pemegang saham, bukan untuk main petak umpet. Kamu tenggelam di dalamnya, Sayang."
Nika mengerucutkan bibirnya, berjalan mendekat dan mencoba merapikan kerah jas itu di lehernya sendiri. "Habisnya, jas ini bau kamu. Aku mau bawa bau ini ke kantor biar kalau paman-paman yang lain macam-macam, aku tinggal cium kerah ini dan merasa berani."
Devan melangkah maju, melingkarkan lengannya di pinggang Nika yang terbalut jas raksasa itu. Ia menunduk, mencium kening Nika lama sekali. "Kalau kamu mau bauku, tidak perlu pakai jas itu. Cukup peluk aku sepuluh menit sebelum berangkat. Itu lebih efektif daripada parfum mana pun."
"Sepuluh menit? Mana cukup!" Nika tertawa, menyembunyikan wajahnya di dada telanjang Devan yang hangat. "Mas, aku rasa aku mulai kecanduan sama kamu. Ini bahaya buat produktivitas butikku."
Namun, momen manis itu sedikit terusik saat ponsel Nika bergetar di atas nakas. Sebuah pesan dari nomor luar negeri yang tidak dikenal muncul di layar: "Aku sudah mendarat di Jakarta, Ni. Janji di bawah pohon maple itu... masih berlaku, kan?"
Wajah Nika seketika berubah kaku. Senyumnya luntur. Ia mengenal gaya bicara itu. Itu adalah Rendy—mantan kekasihnya saat kuliah di London, pria yang dulu ia tangisi siang malam sebelum akhirnya dipaksa pulang oleh ayahnya untuk menikah dengan Devan. Rendy adalah satu-satunya orang yang pernah membuat Nika merasa "bebas", meskipun kebebasan itu semu.
Devan menyadari perubahan atmosfer itu. Ia melirik ponsel Nika sekilas sebelum Nika sempat mematikannya. "Siapa?" tanya Devan, suaranya kembali datar, sebuah mekanisme pertahanan yang otomatis muncul.
"Bukan siapa-siapa, Mas. Hanya teman lama yang baru kembali," jawab Nika cepat, mencoba bersikap biasa saja. Ia segera melepas jas Devan dan mengembalikannya ke gantungan. "Ayo sarapan, aku sudah buatkan roti bakar... yang kali ini tidak gosong."
Sepanjang sarapan, Devan lebih banyak diam. Kecemburuan yang ia pendam selama berbulan-bulan seolah bangkit kembali. Ia tahu tentang Rendy. Ia tahu Nika pernah sangat mencintai pria itu. Dan meskipun sekarang Nika sudah menunjukkan cintanya, bayangan masa lalu itu tetap terasa seperti duri dalam daging.
Kejutan sesungguhnya terjadi siang itu di kantor Adiguna Group. Nika sedang mampir untuk membawakan makan siang untuk Devan—sebuah kebiasaan baru yang sangat ia sukai. Saat ia keluar dari lift, ia melihat seorang pria tampan dengan gaya bohemian sedang duduk di lobi, beradu argumen dengan Siska.
"Nika!" Pria itu berdiri, matanya berbinar melihat sosok Nika.
"Rendy?" Nika mematung di tempat. "Kenapa kamu ke sini? Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?"
"Aku cari kamu ke butik, tapi kata asistenmu kamu ke sini. Ni, aku datang untuk menjemputmu. Aku dengar pernikahanmu hanya kontrak bisnis, kan? Aku sudah sukses sekarang, aku bisa membawamu pergi," Rendy melangkah maju, mencoba meraih tangan Nika.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar dan kokoh mencengkeram pergelangan tangan Rendy sebelum menyentuh Nika. Devan muncul dari arah belakang, tatapannya sedingin es kutub utara.
"Siapa Anda?" tanya Devan, suaranya sangat tenang namun penuh ancaman.
"Aku Rendy, orang yang seharusnya menjadi suami Nika kalau saja Anda tidak membelinya dengan uang," balas Rendy berani.
Nika merasa dunianya runtuh. Ia melihat rahang Devan mengeras. "Mas, jangan dengarkan dia—"
"Siska," panggil Devan tanpa melepaskan tatapannya dari Rendy. "Tolong panggilkan keamanan. Beritahu mereka ada gangguan lingkungan di lobi kita. Dan Rendy... Nika bukan barang yang bisa dibeli. Dia adalah istriku, pemilik sebagian besar saham di perusahaan ini, dan orang yang paling aku cintai. Jadi, silakan keluar sebelum saya kehilangan kesabaran saya yang sangat terbatas hari ini."
Setelah Rendy diusir paksa oleh petugas keamanan, suasana di kantor menjadi sangat sunyi. Para karyawan berpura-pura sibuk, namun telinga mereka tegak lurus. Devan berbalik, berjalan menuju ruangannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Nika mengikuti dari belakang, hatinya hancur melihat punggung Devan yang kembali kaku. Begitu pintu ruangan tertutup, Nika langsung memeluk Devan dari belakang.
"Mas, maafkan aku. Aku tidak pernah mengundangnya datang. Aku tidak punya hubungan apa-apa lagi dengannya," isak Nika.
Devan berbalik, ia menatap Nika dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku tahu, Ni. Tapi mendengar dia bilang aku 'membelimu'... itu menyakitkan. Karena sebagian dariku dulu memang merasa seperti itu."
Nika menggeleng kuat-kuat. Ia meraih wajah Devan dengan kedua tangannya. "Kamu tidak membeliku, Mas. Kamu menyelamatkanku. Dan sekarang, kamu memiliki hatiku sepenuhnya. Rendy itu masa lalu yang bodoh, kamu adalah masa depanku yang nyata."
Untuk membuktikan ucapannya, Nika melakukan hal yang cukup random. Ia mengambil topi proyek milik Devan yang ada di meja, memakainya hingga menutupi sebagian wajahnya, lalu melakukan tarian konyol yang pernah mereka lihat di TikTok.
"Lihat! Istrimu yang cantik dan pemegang saham mayoritas ini sedang menari untukmu! Masa kamu masih mau cemberut?" seru Nika sambil terus bergerak konyol dengan topi yang kebesaran.
Devan yang tadinya ingin marah, akhirnya tidak bisa menahan tawa. Ia menarik Nika ke dalam pelukannya, mencium bibir istrinya dengan penuh gairah dan rasa memiliki. "Kamu benar-benar aneh, Nika. Bagaimana bisa aku marah pada wanita yang menari pakai topi proyek di saat seperti ini?"
"Habisnya aku tidak mau kamu sedih karena hantu dari London itu," jawab Nika sambil menyandarkan kepalanya di dada Devan. "Mas, nanti malam kita makan di pinggir jalan lagi ya? Aku mau makan martabak telur yang ekstra daun bawang. Biar bau mulut kita sama, jadi tidak ada orang ketiga yang mau mendekat."
Devan tertawa lepas, ia menggendong Nika dan mendudukkannya di atas meja kerjanya. "Apapun untukmu, Nyonya Adiguna. Tapi janji, jangan pakai jas saya ke kantor lagi kalau ada mantan pacarmu di sekitar sini. Saya tidak mau dia mengira Anda sedang memakai baju pinjaman karena saya tidak mampu membelikan baju."
"Siap, Mas Bos!" Nika memberikan hormat militer yang lucu.
Sore itu berakhir dengan manis. Meskipun Rendy datang sebagai pengingat masa lalu yang pahit, ia justru menjadi katalisator yang membuat Devan dan Nika menyadari bahwa cinta mereka sudah jauh melampaui sekadar kontrak atau utang budi. Mereka adalah dua jiwa yang telah memilih satu sama lain, di tengah badai maupun di bawah sinar lampu martabak pinggir jalan.