Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Tidak Terlupakan
Ruang rapat kembali sunyi setelah pertemuan besar itu selesai.
Para direktur satu per satu meninggalkan ruangan, membawa berkas dan tablet mereka. Suara langkah kaki pelan terdengar di lantai marmer yang luas.
Rania masih duduk di kursinya.
Tangannya memegang berkas yang tadi dibuka di tengah rapat.
Berkas yang memuat nama perusahaan itu.
Pratama Corporation.
Perusahaan milik keluarga Adrian.
Ia menatap nama itu beberapa detik tanpa berkata apa-apa.
Aneh.
Ia berpikir setelah meninggalkan rumah itu, semuanya akan terasa jauh. Seolah kehidupan lamanya akan tertinggal di belakang seperti bayangan yang memudar.
Namun ternyata dunia tidak sebesar yang ia kira.
Nama itu kembali muncul… bahkan di meja rapat perusahaan keluarganya sendiri.
“Masih memikirkan itu?”
Suara seorang pria memecah keheningan.
Rania tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang bicara.
Arsen.
Pria itu berdiri di dekat jendela ruang rapat dengan tangan dimasukkan ke saku celana.
Ia menatap kota dari balik kaca tinggi yang membentang dari lantai hingga langit-langit.
Rania akhirnya menutup berkas itu.
“Aku hanya membaca laporan,” katanya santai.
Arsen tertawa kecil.
“Kalau hanya laporan bisnis biasa, kamu tidak akan menatapnya selama itu.”
Ia berjalan mendekat.
Langkahnya tenang, tapi tatapannya tajam seperti biasa.
“Pria itu,” katanya pelan.
“Dia yang membuatmu menghilang tiga tahun lalu, bukan?”
Rania menyandarkan punggungnya ke kursi.
Beberapa detik ia tidak menjawab.
Namun keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Arsen menghela napas pelan.
“Aku sudah menduganya.”
Rania mengangkat alis.
“Kamu selalu terlalu banyak menduga.”
Arsen tersenyum tipis.
“Biasanya dugaanku benar.”
Ia mengambil berkas dari tangan Rania dan membukanya lagi.
“Perusahaan mereka sedang kesulitan,” katanya sambil membaca cepat.
“Dua proyek besar gagal dalam enam bulan terakhir.”
Ia membalik halaman.
“Dan sekarang mereka mencoba mencari mitra distribusi besar.”
Rania menatapnya.
“Jadi?”
Arsen menutup berkas itu.
“Jadi… mereka butuh kita.”
Ia meletakkan berkas itu di meja dengan suara pelan.
“Jika Hartono Group menolak kerja sama ini, perusahaan mereka bisa jatuh dalam beberapa bulan.”
Ruang rapat kembali sunyi.
Rania menatap meja di depannya.
Ia tahu Arsen tidak sedang melebih-lebihkan.
Perusahaan keluarganya memang sebesar itu.
Satu keputusan saja bisa mengubah nasib banyak perusahaan.
Arsen bersandar di tepi meja.
“Kalau kamu ingin menghancurkan mereka,” katanya santai,
“hanya butuh satu kata darimu.”
Rania mengangkat kepalanya.
Tatapan mereka bertemu.
“Siapa bilang aku ingin menghancurkan mereka?”
Arsen tertawa kecil.
“Aku mengenalmu cukup lama, Rania.”
Ia menatapnya lebih serius.
“Dan aku juga tahu kamu bukan tipe orang yang membiarkan seseorang menyakitimu tanpa konsekuensi.”
Rania tidak menjawab.
Ia berdiri dari kursinya.
“Rapat sudah selesai,” katanya.
“Keputusan bisnis akan kita bahas nanti.”
Ia mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, Arsen berkata lagi.
“Rania.”
Ia berhenti.
“Kamu tidak perlu menahan diri hanya karena pernah mencintai seseorang.”
Beberapa detik berlalu.
Rania tidak menoleh.
“Aku tidak menahan diri.”
Lalu ia keluar dari ruangan.
Sementara itu…
Di gedung lain di pusat kota.
Suasana di ruang rapat Pratama Corporation jauh berbeda.
Beberapa pria berpakaian formal duduk dengan wajah tegang.
Laporan keuangan terbuka di depan mereka.
Angka-angka merah terlihat jelas di beberapa halaman.
Salah satu direktur menghela napas berat.
“Kita tidak punya banyak waktu lagi.”
Ia menatap pria yang duduk di ujung meja.
Adrian.
“Jika proyek distribusi bulan depan gagal, kita bisa kehilangan hampir tiga puluh persen pendapatan perusahaan.”
Ruangan menjadi sunyi.
Adrian menyilangkan tangan di depan dada.
Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tapi semua orang di ruangan itu tahu situasinya serius.
“Apa solusi yang kita punya?” tanyanya.
Direktur lain membuka berkas baru.
“Hanya satu.”
Ia memutar dokumen itu ke tengah meja.
Logo besar terlihat di halaman depan.
Hartono Group.
“Jika kita bisa mendapatkan kerja sama distribusi dengan mereka,” katanya,
“semua masalah keuangan kita akan selesai.”
Beberapa orang langsung mengangguk.
Hartono Group adalah raksasa industri.
Jika mereka mau bekerja sama, masa depan perusahaan Adrian akan aman.
Namun seorang direktur tua terlihat ragu.
“Mereka jarang bekerja sama dengan perusahaan di luar jaringan mereka.”
Adrian menatap dokumen itu beberapa detik.
“Hari ini kirim proposal resmi,” katanya akhirnya.
Direktur itu mengangguk.
“Kami sudah melakukannya pagi tadi.”
Ruangan kembali sunyi.
Salah satu staf tiba-tiba masuk dengan tergesa.
“Maaf mengganggu.”
Semua orang menoleh.
“Ada kabar dari Hartono Group.”
Direktur yang tadi bicara langsung berdiri.
“Sudah ada jawaban?”
Staf itu mengangguk.
“Mereka bersedia mempertimbangkan kerja sama.”
Beberapa orang di ruangan itu langsung terlihat lega.
Namun staf itu belum selesai bicara.
“Mereka juga ingin mengadakan pertemuan bisnis minggu ini.”
Direktur itu tersenyum.
“Bagus. Siapa perwakilan mereka?”
Staf itu membuka tablet di tangannya.
“Direktur baru mereka.”
Adrian mengangkat alis sedikit.
“Direktur baru?”
“Ya.”
Staf itu membaca dari layar.
“Namanya…”
Ia berhenti sebentar.
Seolah tidak yakin dengan apa yang ia baca.
“Rania Hartono.”
Ruangan langsung sunyi.
Beberapa orang saling menatap.
Namun Adrian tidak bereaksi.
Ia hanya mengerutkan kening sedikit.
“Siapa?”
Staf itu mengulang.
“Rania Hartono.”
Nama itu terasa asing di telinganya.
Ia belum pernah mendengarnya sebelumnya.
“Siapkan pertemuan itu,” kata Adrian tenang.
Staf itu mengangguk dan keluar.
Para direktur mulai membicarakan rencana presentasi.
Namun Adrian tetap menatap dokumen di depannya.
Entah kenapa…
Nama itu terasa aneh di kepalanya.
Rania.
Nama itu terlalu familiar.
Namun ia tidak bisa langsung mengingat kenapa.
Di sisi lain kota…
Rania berdiri di balkon kantor Hartono Group.
Angin sore bertiup lembut.
Kota terbentang luas di bawahnya.
Pak Arman datang dari belakang.
“Nona.”
Rania menoleh.
“Ada apa?”
Pak Arman menyerahkan tablet.
“Proposal dari Pratama Corporation.”
Rania mengambilnya.
Ia membaca beberapa halaman dengan cepat.
Lalu tersenyum tipis.
“Menarik.”
Pak Arman menatapnya hati-hati.
“Apakah Anda ingin menolak?”
Rania menutup tablet itu.
Ia menatap langit kota yang mulai berubah warna senja.
“Tidak.”
Pak Arman terlihat sedikit terkejut.
“Tidak?”
Rania menggeleng.
“Setujui pertemuan bisnisnya.”
“Baik.”
Pak Arman mencatatnya.
“Siapa yang akan mewakili perusahaan?”
Rania tersenyum kecil.
“Aku.”
Pak Arman terdiam sebentar.
Lalu ia juga tersenyum tipis.
Ia akhirnya mengerti.
Beberapa hari lagi…
dua orang yang pernah hidup dalam rumah yang sama akan kembali bertemu.
Namun kali ini…
posisi mereka tidak lagi sama.
Dan Adrian masih belum tahu satu hal penting.
Direktur Hartono Group yang akan ia temui
adalah wanita yang dulu ia usir dari rumahnya pada malam hujan itu.