NovelToon NovelToon
Crowned Villains :The End Of Old World

Crowned Villains :The End Of Old World

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Fantasi
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Asjoe the writer

Dunia adalah sebuah luka yang menolak untuk sembuh. Di Utara, perang suci antara Holy Kingdom dan Demon Realm tak kunjung usai. Di Selatan, tirani matriarki menciptakan perbudakan sistematis terhadap kaum pria. Sementara di Timur, jutaan nyawa menjadi tumbal bagi ambisi Federasi dan Aliansi. Bahkan di Barat, Kekaisaran Berline yang agung telah membusuk dari dalam akibat korupsi, nepotisme, dan kelaparan yang mencekik rakyatnya.Saat dunia memprediksi keruntuhan Berline akan menjadi awal dari domino kehancuran global, sebuah anomali muncul dari balik bayangbayang. Bukan pahlawan yang bangkit, melainkan Chara Initiative Organization (CIO). Sebuah organisasi villain yang kejam dan tak terduga. Lewat kudeta berdarah, mereka merebut tahta Berline dan memulai langkah radikal untuk menjungkirbalikkan tatanan dunia yang lama. Bagi mereka, dunia yang rusak tidak butuh diperbaiki; dunia butuh dihancurkan untuk dibangun kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asjoe the writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara-Suara dari Takhta Suci

Berita tentang pembantaian Dead Legion oleh api putih CIO menyebar lebih cepat daripada wabah. Namun, yang lebih mengguncang dunia bukanlah senjata CIO, melainkan fakta bahwa Aliansi telah melanggar tabu kuno dengan menggunakan Nekromansi.

Di Holy Kingdom, sebuah wilayah teokrasi subur yang terletak di antara Federasi dan Aliansi, lonceng Katedral Agung berdentang tujuh kali—tanda duka dan peringatan suci. Berbeda dengan Holy Empire di Utara yang menyembah sepuluh dewa-dewi, rakyat di sini hanya bersujud pada satu entitas: Dewi Cahaya, Althea.

Paus Innocentius, pemimpin tertinggi Holy Kingdom, berdiri di altar utama dengan wajah yang sangat pucat. Di depannya, berdiri seorang pria tua berjubah biru tua dengan simbol bintang perak—Kepala Akademi Wisdom, Archmage Valerius.

"Menggunakan mayat sebagai alat perang adalah penghinaan terhadap jiwa yang telah tenang," suara Paus bergetar karena amarah yang tertahan.

"Aliansi telah mencabik-cabik hukum suci."

"Dan Barat, Yang Mulia," sela Valerius dengan suara berat.

"CIO tidak menggunakan sihir, tapi mereka melepaskan api yang tidak bisa padam bahkan oleh air. Itu adalah api yang melahap oksigen dan jiwa sekaligus. Dunia kita sedang hancur di tangan orang-orang yang tidak mengenal rasa takut kepada Dewi maupun hukum Mana."

Ibu Kota Aliansi – Istana Musim Dingin

Di saat otoritas agama memprotes, di dalam Istana Musim Dingin Aliansi, terjadi ketegangan yang lebih personal. Lacia, pemimpin de jure Aliansi—seorang gadis muda dengan garis keturunan bangsawan kuno yang masih dipertahankan sebagai simbol—berjalan masuk ke ruang kerja pamannya, Sekretaris Agung Volkov.

Lacia tidak mengenakan zirah, melainkan gaun beludru merah yang kontras dengan kedinginan ruangan itu.

"Paman, apa yang telah kau lakukan?" suaranya lembut namun penuh penekanan.

"Rakyat mulai berbisik. Mereka bilang tentara kita adalah monster yang tidak bisa mati. Paus telah mengirim surat ekskomunikasi kepada kita!"

Volkov, pemimpin de facto yang memegang kendali militer sepenuhnya, tidak menoleh dari petanya.

"Lacia, sayangku, mahkota yang kau pakai itu hanya akan tetap ada di kepalamu jika kita menang. Rakyat butuh keamanan, bukan moralitas saat peluru CIO mulai menghujani ladang gandum mereka."

"Tapi Nekromansi?!" Lacia memukul meja.

"Itu akan membuat seluruh dunia bersatu melawan kita! Federasi, Holy Kingdom, bahkan Akademi Wisdom akan mengirim tentara mereka untuk menghancurkan kita!"

"Biarkan mereka datang," Volkov berbalik, matanya menunjukkan kegilaan yang dingin.

"Saat ini, aku lebih takut pada satu truk CIO daripada seribu doa dari Paus."

Barloa – Tengah Malam

Di tengah tekanan internasional tersebut, Kaelen duduk di depan radio telegraf yang diberikan Elara. Cahaya lampu minyak yang redup memantul pada tombol-tombol logam alat tersebut.

"Elara, apakah kau yakin ini akan berfungsi?" tanya Kaelen.

Elara mengangguk kecil. Ia telah menyusun kabel-kabelnya dan menyesuaikan frekuensi sesuai diagram yang diberikan Aris.

"Alat ini tidak butuh mana, Kaelen. Ia hanya butuh denyut listrik yang diubah menjadi kode. Tekan tombol ini... sesuai dengan sandi yang ada di buku."

Kaelen menelan ludah. Ia mulai menekan tombol logam itu.

Dit-dit-dash-dit.

Di Berline, di meja kerja Aris, sebuah mesin kecil mulai mengeluarkan pita kertas dengan lubang-lubang kecil. Aris, yang sedang membaca laporan protes dari Holy Kingdom, melirik ke arah mesin tersebut. Ia tersenyum.

"Akhirnya, sang ksatria memutuskan untuk bicara," gumam Aris. Ia mengambil gagang telepon di mejanya.

"Hubungkan aku ke jalur radio Barloa. Aku ingin bicara dengan Kaelen."

Beberapa saat kemudian, suara statis terdengar dari kotak kayu di depan Kaelen, disusul oleh suara Aris yang jernih dan tenang.

"Selamat malam, Komandan Kaelen. Aku melihat kau akhirnya menggunakan hadiahku. Bagaimana rasanya melihat masa depan yang sedang membakar masa lalu di Timur?"

"Aris," suara Kaelen berat.

"Dunia sedang bersiap untuk perang suci melawanku, kau, dan Aliansi. Paus dan Akademi Wisdom tidak akan tinggal diam."

"Paus? Valerius?" Aris tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan logam.

"Mereka adalah sisa-sisa era yang akan segera kadaluwarsa. Kaelen, dengarkan aku baik-baik. Aku tidak butuh dukungan Paus. Aku punya baja. Dan kau... kau punya pilihan. Bergabunglah denganku untuk mengamankan Federasi, atau jadilah bagian dari sejarah yang akan aku bakar habis."

Kaelen menatap Elara. Ia tahu, langkah ini adalah pengkhianatan di mata Carlosc, namun mungkin satu-satunya cara untuk menyelamatkan rakyatnya dari kepunahan.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Kaelen akhirnya.

"Sederhana," jawab Aris.

"Aku ingin akses ke pelabuhan selatan Federasi. Dan sebagai gantinya, aku akan memberikan 'payung pelindung' agar mayat-mayat Aliansi tidak pernah menyentuh tanah Barloa.

Bagaimana? Apakah kedaulatanmu sebanding dengan nyawa ribuan rakyatmu yang sedang kelaparan?"

Percakapan di meja logam itu adalah titik balik. Di satu sisi, Nekromansi bangkit; di sisi lain, teknologi membakar. Dan di tengah-tengah, seorang ksatria harus memutuskan apakah ia akan tetap memegang pedangnya atau mulai memegang kabel.

1
anggita
mampir like👍 iklan ☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!