NovelToon NovelToon
Business, Love And Lies

Business, Love And Lies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9 - Lost Without You

Pagi ini aku lagi-lagi terbangun di kamar Henry. Aku sendiri tidak ingat sejak kapan kebiasaan ini mulai terjadi—yang jelas, entah bagaimana, setiap malam kami selalu berakhir tidur di ruangan yang sama. Hanya tidur. Tidak lebih. Tapi tetap saja… rasanya seperti sudah terlalu dekat, terlalu nyaman, sampai aku sadar kami sedang berjalan di batas tipis yang seharusnya tidak kusentuh.

Namun bagaimana mungkin aku tega membiarkan Henry—pemilik apartemen, pria yang sudah begitu banyak membantuku—terpaksa tidur di sofa yang sempit dan keras, sementara aku nyaman di ranjangnya? Setiap kali membayangkannya, hatiku terasa sesak.

Di satu sisi aku tahu, kedekatan ini berbahaya. Tapi di sisi lain, kebersamaan ini membuatku lupa akan kesepian. Kehangatan Henry membuatku merasa aman… bahkan lebih dari rumahku sendiri.

Hari ini aku harus kembali bekerja, setelah tiga hari penuh hanya berbaring menenangkan tubuhku yang masih belum sepenuhnya pulih.

Aku meraih sisi tempat tidur, kosong. Henry tidak ada.

Perlahan aku keluar dari kamar. Dari dapur terdengar suara peralatan masak beradu. Saat kulihat, Henry sedang berdiri di sana, serius menatap wajan dengan ekspresi fokus.

Sejak hari ketika ia membelikanku jjajangmyeon, Henry yang selalu menyiapkan makanan. Entah memasak, entah membelikan, dia tidak pernah membiarkanku menyentuh dapur.

“Kak…” panggilku pelan sambil melangkah ke arahnya.

Henry menoleh cepat, sedikit terkejut. “Oh? Kamu udah bangun?”

“Kakak lagi bikin sarapan?” tanyaku.

“Iya.” jawabnya singkat.

“Kakak bikin apa?”

“Omelet,” sahutnya. Lalu dengan nada tegas tapi lembut ia menambahkan, “Udah sana, kamu mandi aja dulu.”

Aku mengangguk. “Ya.”

Aku kembali ke kamar, mengambil pakaian. Yang kupilih adalah salah satu baju yang dibelikan Henry beberapa hari lalu. Aku memang memintanya membeli baju untukku—aku tidak sanggup mengenakan pakaian yang kupakai saat kecelakaan, dan aku juga tidak mungkin kembali ke rumah hanya untuk mengambil pakaian.

Dua puluh menit kemudian aku keluar dari kamar mandi. Di meja makan, Henry sudah duduk dengan omelet di depannya.

“Udah selesai?” tanyanya sambil menoleh padaku.

Aku mengangguk.

“Maaf, aku makan duluan biar cepet.” ucapnya.

“Ya.” jawabku singkat.

Matanya sempat meneliti penampilanku. Lalu ia tersenyum tipis. “Bajunya cocok banget di kamu.”

Aku ikut tersenyum kecil. “Kan kamu yang pilih. Berarti selera fashion Kakak bagus.”

Henry terkekeh pelan. “Padahal aku cuma asal milih, lho.”

“Kalau hasilnya pas, berarti bukan asal. Kamu memang pinter milih.” kataku sambil duduk di depannya.

“Baguslah kalau kamu mikir gitu.”

Aku menatapnya sejenak, lalu memberanikan diri bicara. “Kak…”

“Hm?” Ia menoleh.

“Hari ini… aku pulang ke rumah.” ucapku lirih.

Sejenak, Henry terdiam. Tatapannya kosong sepersekian detik, lalu ia mengangguk singkat. “Ya.”

Ia mempercepat suapan terakhir omeletnya, segera menghabiskan makanan, lalu bangkit berdiri. “Setelah sarapan kamu berangkat duluan nggak apa-apa.” ucapnya sambil melangkah ke wastafel dan meletakkan piring.

“Ya…” hanya itu jawabku.

Tak lama kemudian, Henry masuk ke kamar, mengambil pakaiannya, lalu menghilang ke kamar mandi.

Aku menatap kursi kosong di depanku. Rasanya berat. Berat sekali harus kembali ke rumah, jauh dari Henry, jauh dari kebersamaan singkat yang nyaris membuatku lupa pada kenyataan.

Tapi begitulah seharusnya.

Aku tidak boleh melewati batas ini lebih jauh lagi.

Setelah sarapan dan mencuci piring, aku turun ke basement.

Motorku sudah dibawa Henry kemarin. Dengan Henry, aku merasa seperti punya keluarga; rasa yang tidak pernah benar-benar kudapatkan dari keluargaku sendiri.

Kuputar kunci motor, suara mesin menyala, lalu kujalankan keluar dari apartemen, menembus pagi ibu kota yang ramai. Jalanan penuh deru kendaraan, namun entah kenapa aku merasa lebih ringan setelah tiga hari terbaring di rumah.

Sesampainya di gedung Natura Foods, aku langsung menuju basement parkir. Saat hendak memarkir motor, kulihat Caca hendak masuk ke lift.

“Caca…” panggilku.

Caca menoleh kaget. “Lia? Kamu udah masuk kerja?”

Aku tersenyum sambil melepas helm. “Iya.”

“Kamu udah sembuh?”

“Udah.”

“Sebenernya kamu sakit apa sih?” tanyanya sambil mendekat.

“Demam biasa. Udah yuk, masuk.” ucapku seraya menekan tombol lift.

Kami naik bersama hingga lantai dua, lalu berpisah. Aku melangkah ke ruanganku.

“Pagi…” sapaku sambil membuka pintu.

Semua orang serentak menoleh.

“Lia?” Fera tampak terkejut.

“Akhirnya kamu masuk juga, Li.” sambung Riki sambil tersenyum lega.

“Mbak Lia sakit apa?” Merry bertanya penuh rasa ingin tahu.

“Demam.” jawabku singkat.

“Pantesan aja, sampai tiga hari nggak masuk.” kata Riki.

Aku menatap meja-meja kerja mereka—layar komputer menyala, papan tulis penuh coretan, serta beberapa sampel kemasan yang berserakan. “Maaf ya, sempat merepotkan. Kalian kelihatan sibuk banget.”

“Iya, sejak kamu nggak ada, Pak Arman minta kita kejar deadline buat konsep promosi produk baru itu.” jelas Fera.

“Produk tteokbokki sama jjajangmyeon instan, kan?” tanyaku sambil duduk di kursi.

Merry mengangguk cepat. “Iya. Dari R&D katanya uji rasa udah beres, tinggal finalisasi packaging.”

“Betul,” timpal Riki. “Nah, tugas kita nyiapin strategi campaign biar pas launching langsung rame.”

Aku menghela napas kecil. “Wah, aku ketinggalan banyak ya.”

“Tenang aja, Li,” kata Fera sambil menepuk bahuku. “Nanti siang ada rapat bareng Pak Arman. Kamu bisa update semuanya di sana.”

Siang harinya, kami berkumpul di ruang rapat. Aroma kopi masih terasa, sementara layar proyektor sudah menampilkan slide pertama. Pak Arman duduk di depan dengan laptop terbuka.

“Baik, kita mulai.” Suaranya tegas tapi hangat. “Progress dari R&D berjalan baik. Sekarang kita fokus ke strategi marketing.” Beliau menatapku sebentar. “Lia, kamu sudah sehat?”

Aku mengangguk. “Iya, Pak. Terima kasih.”

“Bagus. Kamu bisa bantu review konsep promosi yang disusun Fera dan Riki.”

Slide demi slide ditampilkan: ide teaser di media sosial, promo bundling di supermarket, hingga rencana kolaborasi dengan food vlogger.

“Menurut saya,” ucapku saat diminta pendapat, “teaser kalau ditambah countdown bisa lebih menarik. Misalnya tujuh hari sebelum launching, kita bikin kampanye ‘rasa Korea yang bisa dimasak di rumah’. Visualnya bisa nyambung sama tren K-drama.”

Pak Arman mengangguk puas. “Ide bagus. Tambahkan ke draft final.”

Merry ikut menimpali. “Kalau untuk food vlogger, lebih efektif pilih yang sering mukbang, Pak. Biar langsung kelihatan porsi besar dan menggugah selera.”

“Setuju. Riki, catat.” kata Pak Arman.

Rapat berjalan padat tapi lancar. Setelah semua masukan terkumpul, Pak Arman menutup laptop.

“Kerja bagus. Minggu depan saya ingin lihat progress final.”

Kami bubar, membawa catatan masing-masing. Suasana kerja kembali riuh, tapi kali ini dengan energi baru.

Sore harinya aku pulang dengan malas, karena harus kembali menghadapi keluargaku lagi. Beberapa hari di apartemen Henry terasa begitu damai, seakan aku menemukan rumah yang sesungguhnya. Tapi kini, aku kembali ke rumahku sendiri—rumah yang tak pernah benar-benar terasa seperti rumah.

“Oh? Kamu pulang?” ucap Mama begitu aku masuk.

“Kenapa? Mama berharap aku nggak pulang selamanya?” jawabku sinis.

“Bukan begitu. Mama cuma heran, kenapa kamu betah banget di rumah Caca.” sahut Mama pelan.

“Karena di sana, suasana keluarganya lebih terasa daripada di sini.” Kataku tanpa berpikir panjang.

“Apa?” Mama menatapku terkejut.

Aku menghela napas, malas memperpanjang. “Aku ke kamar dulu, mau mandi.” Aku langsung naik ke lantai dua.

Begitu pintu kamar kututup, aku rebahkan tubuh di atas ranjang. Tatapanku kosong menembus langit-langit. Ingatan tentang beberapa hari di apartemen Henry memenuhi kepalaku: kebaikannya, perhatiannya, bahkan pengakuan cintanya. Semuanya membuatku ingin berharap lebih, ingin bersamanya selamanya.

Tapi kenyataannya, orang tua kami sudah menentukan siapa yang akan mendampingi Henry. Bukan aku.

Aku hanya bisa berdoa dalam hati, semoga suatu saat takdir berpihak, dan aku bisa bersama Henry.

Malamnya, aku dan Mama makan malam berdua. Papa dan Ana masih di rumah sakit, katanya ada operasi besar.

“Malam minggu ini Mama mau undang keluarga Henry makan malam di sini. Paginya, tolong kamu ikut Mbak Ningsih belanja bahan masakan.” ucap Mama di sela-sela makan.

“Ya.” jawabku malas.

“Terus kamu jangan pasang tampang malas-malasan begitu. Nggak enak sama keluarganya Henry.”

“Ya.” ulangku datar.

Mama meletakkan sendoknya dan menatapku lekat. “Kamu kenapa sih?”

“Nggak apa-apa.” sahutku cepat.

“Nggak apa-apa tapi wajahmu jelas-jelas bilang ada yang salah.” Mama menggeleng.

Aku meremas sendok di tanganku. “Terus aku harus gimana, Ma? Harus teriak kegirangan karena keluarga Kak Henry mau ke sini? Padahal yang bakal nikah sama Kak Henry itu Kak Ana!” Nada suaraku meninggi, penuh kesal.

“Kamu harusnya senang. Bukannya dari kecil kamu pengen punya kakak laki-laki? Bahkan dulu kamu selalu bilang pengen Henry jadi kakak kamu.”

Itu dulu. Saat aku masih polos, belum tahu arti perasaan yang sebenarnya. Sekarang segalanya sudah berbeda.

Aku menunduk, menahan degup jantungku yang menyakitkan. “Aku udah nggak mau lagi Kak Henry jadi kakakku.”

Mama terdiam, bingung. “Kenapa?”

Aku memalingkan wajah. Tidak mungkin aku jujur, tidak mungkin aku mengaku bahwa aku mencintai pria yang akan menjadi calon suami kakakku sendiri.

“Nggak apa-apa.” ucapku akhirnya, mencoba menutup pembicaraan.

Hening sejenak. Yang terdengar hanya bunyi sendok Mama menyentuh piring.

Aku bangkit dari kursi, membawa piring kotor ke dapur. Hatiku berat, langkahku pun terasa asing di rumah ini.

Di saat Mama masih sibuk menatapku penuh tanda tanya, aku menatap sisa bayangan Henry di benakku.

Dan malam itu, untuk kesekian kalinya, aku sadar: semakin aku berusaha menjauh, semakin hatiku justru ingin mendekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!