NovelToon NovelToon
Garis Khatulistiwa

Garis Khatulistiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Kisah cinta masa kecil
Popularitas:934
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Saputra 0416

Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.

Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.

Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.

Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.

novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22. Teruntuk Alderza

Happy Reading

Alderza menatap Aily. Matanya yang indah, rambut panjangnya yang terurai, bibir yang tersenyum tulus membuat Alderza tidak bisa mengalihkan perhatiannya.

Aily memetik bunga itu, dan menciumnya sembari tersenyum kecil.

"Tapi aku suka bunga mawar, meskipun rasanya sakit."

Alderza menghampiri Aily sambil mengerutkan keningnya dengan memasang wajah tanda tanya.

"Kenapa sakit?"

"Karena dulu aku pernah dikasih bunga mawar sama cinta pertama aku."

Perasaan apa ini?

Bagaimanapun Aily itu adalah cewek normal yang bisa jatuh cinta kapan pun dan kepada siapa pun. Tapi, kenapa tetap saja ada yang sedikit mengganjal.

Sepertinya kali ini, Alderza sangat berat untuk tersenyum, bahkan sedikit pun tidak bisa.

"Bunga mawarnya jelek, gak ada bagus-bagusnya."

Aily hanya tersenyum kecil, tidak mau berkata apa-apa selain tersenyum. Masih dengan posisi menunduk dan memegang mawar itu.

Alderza berkacak pinggang sembari menatap Aily yang tengah memegang bunga mawar sialan itu.

"Lagian, lo mau-mau aja dikasih bunga jelek kayak gitu!" Alderza menggerutu dan itu sukses membuat Aily tertawa.

"Gue serius. Jangan ketawa!"

"Sekarang, kita mau ngapain ke sini?" Tanya Aily sembari tersenyum. Pandangannya beralih menatap danau yang membuat matanya segar.

Alderza berjalan menuju sebuah pohon besar yang rindang, batangnya besar dan kokoh, sangat sempurna untuk dijadikan tempat berteduh.

Alderza dapat melihat rumah pohon yang tua. Sederhana dan tidak mencolok, bahkan kayu-kayunya terlihat usang dan kotor.

Rasanya, dulu saat Alderza masih kecil pohon itu tidak besar seperti sekarang, batangnya yang rindang begitu... menyeramkan?

Tapi tetap saja tempat ini menyimpan banyak kenangan, membuat rasa menyeramkan itu sirna seketika.

"Mau naik ke atas?" Tanya Alderza.

"Boleh."

Alderza mengizinkan Aily untuk naik terlebih dahulu. Tangannya mulai memanjat satu per satu tangga kayu yang tua itu.

Aily tidak mengerti kenapa Alderza mengajaknya ke atas sana. Kenapa dia tidak membawa teman-temannya saja ke tempat rahasianya ini?

Entahlah, Aily tidak bisa menolaknya. Setelah sampai diatas sana, Aily tersenyum sambil menikmati pemandangan danau yang luas dengan angin sepoy-sepoy yang begitu menyejukkan hatinya.

Udara ini, pemandangan ini, rumah pohon ini, membuat Aily tersenyum terus-menerus tanpa henti.

Alderza menatap Aily yang tengah tersenyum. Dia mengambil sebuah floppy hat yang menggantung di atas paku, topi bundar berukuran mini tapi masih pas untuk Aily.

"Lo diem deh di situ." Ucap Alderza sembari mengeluarkan sebuah buku khusus untuk menggambar.

Aily memegang topi itu sambil tersenyum. Alderza heran kenapa Aily terlihat bahagia sekali dengan topi lama seperti itu, bahkan topi itu sudah bertahun-tahun tidak dipakai. Aily masih terus tersenyum membuat Alderza tidak bisa mengalihkan perhatiannya.

"Tetep senyum. Jangan berenti senyum." Ucap Alderza sambil mengambil pensil dan mulai menggambar Aily dengan cekatan.

Setelah hampir setengah jam Aily memandangi danau, Alderza memberikan sebuah kertas. Di sana, terdapat gambar Aily tengah tersenyum memakai topi tersebut.

Aily cemberut melihat gambar tersebut. Gambarnya sangat bagus, sangat mirip dengan kenyataan tapi....

"Kok rambutnya pendek?" Tanya Aily heran.

"Lo mirip temen kecil gue, makanya gue cba gambar pake rambut pendek sama topi itu."

Aily memicingkan matanya dengan wajah tanda tanya. Dia kembali melihat kertas tersebut. Gambar itu sangat mirip dengannya.

Senyuman itu kembali terpancar. Sepertinya hari ini, Aily banyak sekali tersenyum dan itu membuat Alderza gelagapan.

"Gu-gue ke sini cuma pengen gambar lo pake topi itu, dan hasilnya... ternyata mirip." Alderza menarik napas sejenak, lalu melanjutkan perkataannya lagi.

"Jadi, lo harus jawab pertanyaan gue dengan jujur."

Aily mengalihkan pandangannya dari gambar tersebut, sementara Alderza menatap Aily dengan tatapan serius. Suasana yang tadinya damai kini berubah menjadi lebih serius.

"Apa lo temen kecil gue yang waktu itu-" Belum sempat Alderza menyelesaikan perkataannya, Aily langsung menyela.

"Temen kecil apaan sih. Kita kan baru ketemu di SMA." Balas Aily sambil menarik napas dalam-dalam dan merekatkan tangannya pada gambar tersebut.

Tidak. Tidak. Tidak. Entah kenapa untuk kesekian kalinya Alderza merasa Aily adalah teman kecilnya. Gambar yang dia buat memang sangat tepat, tidak mungkin salah.

Warna mata cokelat terang itu, senyumnya, semuanya, Alderza tidak mungkin salah. Hal yang berbeda hanyalah rambut Aily lebih panjang saat ini.

"Alderza." Panggil Aily dengan suara lembutnya.

"Hmm?"

"Aku mau pulang."

Aily merasa kaki ini suasananya menjadi lebih canggung dibandingkan dengan sebelumnya. Apalagi saat Alderza bertanya apakah dia teman kecilnya atau bukan.

Alderza menunduk, pikiran dan hatinya campur aduk antara tak Terima dan menyadari kenyataan bahwa Aily bukanlah teman kecilnya.

"Kok diem aja?" Tanya Aily.

"Gue gak mungkin salah, Aily."

"Tapi kali ini kamu salah, Alderza."

Alderza mengembuskan napas berat, merasa tidak terima. Tapi dia tidak bisa melawan takdir. Jika memang Aily bukan orangnya, Alderza hanya bisa menerima apa pun kenyataannya sekarang.

"Oke, ayo pulang." Balas Alderza tidak semangat.

***

Sepanjang perjalanan, Alderza membungkam mulutnya. Begitu pun Aily, dia hanya memainkan kukunya yang lentik dan agak panjang itu, agar dia bisa mengalihkan perhatiannya.

"Lo mirip temen kecil gue, kalo gugup mainin kuku." Ucap Alderza memecah keheningan.

Aily langsung berhenti memainkan kukunya. Dia mengalihkan matanya menatap jalanan yang lenggang.

"Aku baru ketemu kamu pas SMA, Alderza. Kenapa masih gak percaya?" Jawab Aily lembut dengan tatapan kosong.

Baiklah, mungkin Aily memang bukan teman kecilnya. Alderza harus berhenti membuat pertanyaan yang membuat keadaan semakin buruk tak karuan seperti sekarang.

Setelah beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah Aily, dan yang paling menyebalkan ada Tiara dan Tama yang diam di depan rumah sambil berkacak pinggang.

Sial!

"Gak usah tegang, biar gue yang hadepin nyokap ama abang lo." Ucap Alderza sembari turun dari mobilnya.

Aily yang hanya berjalan sambil tersenyum kikuk, mengerti kalau dirinya sedang menghadapi masalah besar.

"Masuk!" Ucap Tiara tegas.

Aily lari masuk ke dalam rumah dan langsung mengurung diri di dalam kamar.

Entah apa yang terjadi di luar, Aily tidak mau tahu. Dia yakin Alderza akan dimarahi habis-habisan.

Air matanya perlahan menetes membasahi pipinya. Dia berjalan membuka lemari dan mengambil diary ungu miliknya.

Rasa bersalahnya berlipat ganda. Pertama dia sudah berbohong. Kedua, dia membiarkan Alderza menghadapi ibunya dan abangnya sendirian.

Tangan mungilnya bergetar. Air matanya menetes saat dia menulis.

Teruntuk Alderza Rajendra

Maaf, aku tidak bisa berkata sejujurnya.

Aku bukan bermaksud untuk membohongimu.

Aku memang teman kecilmu yang selalu merindukanmu, memikirkanmu, dan melihatmu dari jauh.

Namun, tangan ini selalu tak bisa menggapaimu sampai kapan pun. Dan itu membuatku menahan sakit seorang diri.

Kau selalu menjadi cinta pertama ku, Alderza Rajendra.

Maaf, teman kecilmu ini selalu berbohong.

Mengetahui bahwa kau mengingatku saja itu sudah membuatku bahagia.

Terima kasih, Alderza.

Thank you yang udah baca, kalo ada kesalahan kata, typo, atau semacamnya, jangan lupa di koreksi ya. Love you guys.

1
Nhi Nguyễn
/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!