"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: SANG RAJA YANG KEMBALI DARI KEMATIAN
Lantai dasar Menara Adiguna yang megah kini terasa seperti penjara kaca. Puluhan pria berseragam The Hive berdiri mematung dengan kedisiplinan militer yang mengerikan. Di tengah mereka, pria tua berambut putih dengan tongkat emas itu menatap Gwen dan Elang dengan tatapan yang sangat tenang—ketenangan yang hanya dimiliki oleh seorang predator puncak.
"Gwen, cucuku... kau memiliki api yang sama dengan ibumu," suara pria tua itu berat dan berwibawa.
"Cucu?" Gwen mengerutkan kening, tangannya yang menggenggam tangan Elang semakin berkeringat. "Siapa kau sebenarnya?"
"Dia adalah Maximilian Adiguna," Elang yang menjawab, suaranya terdengar seperti geraman rendah. "Pendiri utama The Hive dan pria yang dikabarkan tewas dalam kecelakaan pesawat lima belas tahun lalu. Ayah dari ayahmu, Gwen."
Gwen merasa dunianya berputar. Satu per satu anggota keluarganya yang "mati" bangkit kembali dari kubur hanya untuk mengincarnya. "Keluarga macam apa ini? Apakah kematian hanyalah sebuah tren di keluarga Adiguna?"
Maximilian terkekeh pelan, ketukan tongkat emasnya di lantai marmer bergema di seluruh aula. "Kematian adalah perlindungan terbaik bagi mereka yang sedang membangun imperium, Sayang. Tapi sekarang, bermain petak umpet sudah selesai. Bawa mereka!"
Tanpa sempat melawan, sekelompok pria berseragam hitam menyergap mereka. Elang yang terluka mencoba memberikan perlawanan, namun sebuah suntikan penenang menghujam lehernya dari belakang.
"Elang!" jerit Gwen.
Pandangan Gwen mendadak kabur saat sebuah kain hitam menutupi kepalanya. Hal terakhir yang ia rasakan adalah aroma obat bius yang kuat sebelum kegelapan total menelannya.
Markas Besar The Hive, Lokasi Tak Diketahui.
Gwen terbangun dengan rasa sakit yang menusuk di kepalanya. Saat ia membuka mata, ia menyadari dirinya berada di sebuah ruangan serba putih yang sangat futuristik. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca tebal yang memperlihatkan pemandangan luar biasa: hamparan samudera biru yang tak berujung.
Mereka berada di sebuah pangkalan lepas pantai yang terisolasi.
"Sudah bangun, Putri Tidur?"
Gwen menoleh dengan cepat. Di sudut ruangan, Elang duduk di sebuah kursi besi. Lengannya terikat dengan borgol elektronik, namun luka-lukanya tampak sudah dibersihkan dan dibalut dengan rapi.
"Elang! Kamu tidak apa-apa?" Gwen mencoba berlari ke arahnya, namun ia menyadari pergelangan kakinya juga terikat oleh rantai halus namun kuat yang terhubung ke tempat tidur.
"Aku baik-baik saja, Gwen. Hanya sedikit pening," jawab Elang, matanya menatap tajam ke arah pintu otomatis yang baru saja terbuka.
Maximilian masuk, diikuti oleh Ares yang kini tampak menggunakan perban di kepalanya akibat hantaman Gwen sebelumnya. Namun, yang membuat jantung Gwen seolah berhenti berdetak adalah sosok ketiga yang berjalan di belakang mereka.
Seorang pria paruh baya dengan kursi roda elektrik. Wajahnya penuh bekas luka bakar, namun matanya... mata itu adalah mata yang sama dengan yang Gwen lihat di setiap foto masa kecilnya.
"Ayah?" suara Gwen nyaris tidak terdengar.
Pria di kursi roda itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kesedihan dan penyesalan. "Gwen... anakku."
Gwen jatuh terduduk di lantai. "Ini tidak mungkin. Aku melihat makammu! Aku menaburkan bunga di sana setiap tahun!"
"Makam itu kosong, Gwen," pria itu, Arthur Adiguna, bicara dengan suara yang serak. "Ayah harus menghilang. Ayah harus menjadi 'tahanan' di sini agar The Hive tidak menghancurkanmu. Ayah memberikan semua aset Adiguna Group padamu agar kamu punya perlindungan finansial, namun Ayah tidak menyangka kakekmu akan sekejam ini."
"Arthur, jangan terlalu melankolis," Maximilian memotong dengan dingin. "Gwen di sini karena dia telah mengaktifkan virus 'Diana's Tears'. Dia satu-satunya yang bisa memulihkan sistem Proyek Gerhana yang asli."
Gwen menatap ayahnya, lalu beralih ke kakeknya yang kejam. Rasa muak mulai menjalar di hatinya. "Kalian semua gila. Kalian menggunakan nyawa orang-orang yang kalian cintai hanya untuk sebuah sistem peretasan?"
"Bukan sekadar peretasan, Gwen," Ares menyela dengan ambisi yang meledak-ledak. "Ini adalah sistem kontrol perdamaian dunia. Jika kita bisa mengendalikan aliran uang dan informasi di seluruh planet ini, tidak akan ada lagi perang. Kita akan menjadi Tuhan yang baru."
"Dengan cara membunuh ibuku?" tanya Gwen tajam.
Ruangan itu mendadak sunyi. Arthur menundukkan kepalanya, sementara Maximilian tetap tenang.
"Ibumu adalah martir bagi tujuan ini, Gwen," ucap Maximilian. "Dan sekarang, kau akan meneruskan tugasnya. Jika kau menolak, Ayahmu akan dieksekusi di depan matamu sendiri. Dan pengawalmu itu..."
Maximilian menunjuk ke arah Elang. "Kami akan mengambil chip di jantungnya dengan cara yang paling menyakitkan yang bisa kau bayangkan."
Gwen menatap Elang. Pria itu menatapnya balik dengan gelengan kepala yang tegas. "Jangan lakukan itu, Gwen. Biarkan mereka membunuhku. Jangan beri mereka apa yang mereka inginkan."
Gwen berdiri, air matanya sudah kering, digantikan oleh sorot mata yang dingin dan mematikan—sorot mata seorang Ratu Adiguna yang sesungguhnya.
"Ayah," Gwen menatap Arthur. "Apakah Ayah masih mencintai Ibu?"
Arthur mendongak, matanya berkaca-kaca. "Lebih dari nyawaku sendiri, Gwen."
"Kalau begitu, Ayah tahu apa yang harus dilakukan," ucap Gwen penuh teka-teki.
Gwen berjalan menuju meja kontrol di tengah ruangan yang berisi alat pemindai biometrik. "Baiklah, Kekek. Aku akan memberikan aksesnya. Tapi biarkan aku berbicara berdua dengan Ayah untuk terakhir kalinya."
Maximilian memberikan isyarat pada penjaga. Rantai di kaki Gwen dilepaskan. Ia berjalan mendekati kursi roda ayahnya. Gwen membungkuk, memeluk ayahnya erat-erat.
"Maafkan aku, Ayah," bisik Gwen di telinga Arthur.
Tangan Gwen secara diam-diam meraih sesuatu dari balik saku kursi roda ayahnya—sebuah pemantik api perak yang selalu dibawa ayahnya dulu. Gwen tahu ayahnya selalu menyembunyikan kunci darurat di dalam pemantik itu.
Saat Gwen melepaskan pelukannya, ia memberikan kode lewat matanya kepada Elang. Elang yang sudah mengenal Gwen dengan sangat baik, segera bersiap.
Gwen meletakkan tangannya di atas mesin pemindai. "Akses dimulai."
BIIIIP!
Layar menunjukkan progres: AUTHENTICATING BIOMETRIC... 10%... 40%...
Namun, tepat saat mencapai 90%, Gwen tidak melanjutkan prosesnya. Ia justru menggunakan pemantik api itu untuk memicu sensor panas di bawah meja kontrol secara paksa.
TIIIT! TIIIT! TIIIT! FIRE HAZARD DETECTED. EMERGENCY LOCKDOWN INITIATED.
Dalam sekejap, sistem keamanan pangkalan itu menjadi kacau. Pintu-pintu terkunci otomatis, dan gas pemadam api mulai menyembur ke seluruh ruangan, menciptakan kabut tebal yang membutakan.
"ELANG, SEKARANG!" teriak Gwen.
Elang yang sudah mengantisipasi gerakan Gwen, menggunakan kekuatan otot bahunya untuk menyentak borgol elektroniknya. Dengan sistem yang sedang glitch akibat alarm kebakaran, kunci borgol itu terlepas.
Elang melompat, memberikan tendangan maut ke arah dua penjaga terdekat. Ia merebut senjata mereka dan segera berlari ke arah Gwen.
"Tangkap mereka!" raung Maximilian di tengah kabut asap.
Gwen menarik kursi roda ayahnya. "Kita pergi dari sini, Ayah!"
"Gwen, bawa Elang saja! Ayah hanya akan menghambatmu!" Arthur mencoba melepaskan tangan Gwen.
"Tidak! Keluarga Adiguna tidak meninggalkan siapapun lagi!" Gwen bersikeras.
Elang melepaskan tembakan pelindung, membuat Ares dan Maximilian terpaksa berlindung di balik meja beton. "Ke arah dek pelarian! Aku melihat kapal cepat di sana!"
Mereka berlari menembus lorong-lorong pangkalan yang bergetar akibat sistem self-destruct yang mulai dipicu oleh virus Gwen sebelumnya. Suara ledakan terdengar di kejauhan.
Saat mereka mencapai dek luar, angin laut yang kencang menerjang wajah mereka. Sebuah kapal cepat sudah menanti di bawah sana, namun Sarah sudah berdiri di depan kapal itu dengan senapan mesin.
"Mau ke mana, Nona Besar?" Sarah tersenyum dingin.
Namun, sebelum Sarah menarik pelatuknya, sebuah helikopter tanpa lambang muncul dari balik awan. Pintu helikopter terbuka, dan puluhan tali meluncur turun.
"Bukan Sarah... itu tim bantuan!" Elang menyadari sesuatu. "Hendra?!"
Ya, Hendra—asisten Gwen yang setia—ternyata berhasil melacak sinyal pelacak yang ditanam Gwen di liontinnya.
"Nona, naik!" teriak Hendra dari atas helikopter.
Di tengah hujan peluru dan ledakan pangkalan yang mulai tenggelam, Elang mengangkat tubuh Arthur ke dalam helikopter, lalu menarik Gwen naik.
Saat helikopter itu terbang menjauh, Gwen menatap ke arah pangkalan yang meledak di tengah laut. Ia melihat Maximilian dan Ares berdiri di dek yang mulai tenggelam, menatap mereka dengan penuh dendam.
Gwen menyandarkan kepalanya di bahu Elang, sementara tangannya menggenggam tangan ayahnya yang gemetar. Untuk pertama kalinya dalam enam bulan, Gwen merasa benar-benar bebas.
"Ini belum berakhir, kan?" bisik Gwen pada Elang.
Elang mencium puncak kepala Gwen. "Belum. Tapi setidaknya sekarang, kita bertarung sebagai sebuah keluarga."
Di dalam saku jaketnya, Gwen menyadari ia masih memegang micro-SD yang asli. Ia telah menukar datanya saat di Menara Adiguna tadi. Proyek Gerhana yang asli kini ada di tangannya.
"Permainan baru saja dimulai, Kakek," gumam Gwen sambil menatap cakrawala.
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia