Leticha gadis 22 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya demi menyelamatkan perusahaan. Seharusnya saudaranya yang dijodohkan, tetapi karena menurut sang ayah Leticha membutuhkan seorang pemimpin dalam keluarga, membuat sang ayah memilih untuk menjodohkannya.
Leticha berusaha dengan semampunya untuk membatalkan perjodohan dengan pria berusia 36 tahun. Pria agamis dengan segala ilmu pengetahuan, tetapi usahanya tidak berhasil yang akhirnya membuatnya menikah dengan pria tersebut.
Tidak sampai di sana, Leticha masih terus mencari cara agar bisa berpisah dari tingkah lakunya agar tidak disukai, tetapi suaminya memiliki hati dan sifat yang benar-benar sabar.
Jangan lupa terus ikuti cerita saya.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 Pertemuan Pertama
Leticha berada di dalam mobil bersama dengan Winona sahabatnya. Bisa-bisanya di mobil Leticha mengganti pakaiannya dengan sangat sexi.
"Kamu yakin berpakaian seperti ini?" tanya Winona.
"Kenapa?" tanyanya dengan santai melihat dirinya di cermin dari dalam mobil.
"Leticha, ini pakaian untuk dinas malam pengantin. Bagaimana mungkin kamu percaya diri keluar dari mobil dan berjalan dengan pakaian seminim itu. Jika papa kamu melihat kamu berpakaian seperti itu, aku bisa jamin kamu akan dicambuk habis-habisan," ucap Winona mengingatkan temannya itu.
"Aku juga tidak akan keluar langsung dengan pakaian seperti ini, ketika duduk di depannya, aku akan membukanya," jawab Leticha.
"Kamu ingin pria yang dijodohkan denganmu ilfil kepadamu dan membatalkan pernikahan itu?" tebak Winona.
"Benar! Karena aku tidak memiliki kuasa untuk membatalkan perjodohan itu, jadi harus orang yang bersangkutan. Ini bukan Pertama kali aku dijodohkan dengan pria ini dan itu dan selama ini usahaku selalu berhasil," ucap Leticha dengan percaya diri.
"Lalu bagaimana jika pria di dalam sana justru menyukai wanita seksi, bukankah pria-pria matang pengusaha itu memang doyan wanita-wanita terbuka seperti penampilan kamu," ucap Winona.
"Sebelum aku bertemu dengan pria yang akan dinikahkan denganku, terlebih dahulu aku sudah mencari tahu siapa dia. Pria matang berusia 36 tahun, CEO dari Perusahaan Alpha dan aku sangat mengenalnya begitu agamis, dan aku juga mencoba mencari tahu tentang keluarganya yang benar-benar sangat taat pada Tuhan. Jadi sudah pasti dia tidak mungkin memperistri wanita sepertiku, Jadi sebenarnya pilihan Papa sudah cocok menjodohkannya pertama kali dengan Vanila, sama-sama munafik," jawab Leticha.
"Leticha tidak semua manusia tunduk pada Tuhannya dengan penampilan mereka yang akhirnya dan kamu bisa menjudge buruk dengan mengatakan mereka munafik. Kamu jangan menyamakan saudaramu itu dengan orang yang benar sungguh-sungguh," ucap Winona.
"Baik guruku! Kalau begitu aku keluar dulu. Kamu doakan supaya perjodohan ini batal," ucap Leticha kemudian langsung keluar dari mobil.
Winona menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan.
"Aku berdoa semoga saja kamu mendapatkan jodoh yang bisa mencintaimu dan menerimamu apa adanya," ucap Winona dengan tulus.
Pria yang dijodohkan dengan Leticha tak lain adalah Raksha, pria tampan itu tampak duduk dengan tenang sembari membaca buku. Hanya ada secangkir kopi terletak di atas mejanya.
Leticha sudah memasuki Restoran tersebut, di dalamnya tidak terlalu ramai orang dan mungkin memang hanya untuk orang-orang yang memiliki kepentingan untuk mencari ketenangan.
Leticha melihat ponselnya dan menyamakan dengan pria yang sudah dia lihat sekitar beberapa meter.
"Sangat cocok untuk Vanila!" ucapnya dengan menghela nafas ketika melihat pria tersebut tampak membaca buku.
Dia sangat mengingat bagaimana saudaranya itu selalu menghabiskan waktu dengan membaca buku, tetapi sayang sekali waktu yang dia gunakan membaca buku hanya ketika di tempat ramai aku paling tidak harus ada sang ayah.
Raksha mengangkat kepala ketika menyadari ada seseorang berdiri di depannya.
"Leticha!" ucap Leticha dengan santai mengulurkan tangannya.
"Raksha!" jawab Raksha tampak menyambut uluran tangan tersebut.
Leticha menarik nafas panjang dan kemudian duduk di hadapan pria tersebut.
"Kenapa harus memilih tempat pertemuan panas seperti ini," ucapnya membuka jaket berbahan kulit yang dia kenakan sejak tadi.
Jelas pandangan Raksha langsung beralih begitu saja ketika melihat bagaimana terbukanya wanita di hadapannya.
"Hanya memesan satu minuman saja?" tanya Leticha.
"Saya tidak tahu apa yang kamu inginkan, daripada saya memesan asal-asalan dan nanti tidak diminum. Maka jatuhnya akan mubazir," jawab Raksha berbicara tanpa melihat ke arah Leticha.
"Pelit!" gumam Leticha.
"Bukankah bapak seorang CEO, memiliki kekayaan di atas rata-rata dan seharusnya tidak perhitungan jika memesankan minuman yang salah untuk calon istri," ucap Leticha.
"Kamu panggil saya apa?" tanya Raksha.
"Bapak!" jawab Leticha dengan santai.
"Kenapa? apa terdengar terlalu formal, saya sudah biasa belajar sopan santun, ketika wanita berusia 24 tahun dan bertemu dengan berbicara dengan seorang pria berusia 36 tahun, harus memanggil panggilan yang sopan, Bapak atau Om," ucap Leticha dengan santai.
"Baiklah! terserah jika kamu ingin memanggil saya apa," sahut Raksha.
"Astaga! Kenapa pria ini tidak ada marah-marahnya sama sekali, wajahnya datar sekali tanpa ekspresi," batin Leticha.
Dratt-drattt-drattt.
Ponsel Raksha berdering membuatnya langsung mengangkat telepon tersebut.
"Assalamualaikum!" sapa Raksha.
"Baiklah, saya kebetulan juga ada di dekat sini dan saya langsung ke sana," ucapnya dengan mengucapkan salam dan mematikan telepon tersebut.
"Mohon maaf, sepertinya kita harus melanjutkan pembicaraan lain kali. Saya kebetulan ada bertemu dengan klien di dekat sini," ucap Raksha berdiri dari tempat duduknya.
"Pergi begitu saja?" tanya Leticha membuat Rakash tidak jadi melangkahkan kaki.
"Hmmm, paling tidak pesankan saya makanan, makanan yang paling mahal di Restoran ini sebagai pertemuan pertama kita," ucap Leticha.
"Kamu bisa pesan sendiri karena kamu yang tahu apa yang kamu ingin makan," jawab Rakash.
"Kalau begitu berikan saya uangnya," Leticha tanpa rasa malu meminta kepada pria yang baru saja dia temui.
"Maaf, kamu bukan istri saya dan saya tidak punya kewajiban apapun untuk memberikan kamu uang," jawabnya tanpa basa-basi dan melanjutkan langkahnya.
Leticha tidak menyangka mendapat jawaban menohok seperti itu membuatnya sangat kesal. Raksha ternyata masih menghentikan langkahnya.
"Lain kali harus memikirkan untuk membeli kain untuk pakaian agar tidak kurang bahan seperti itu," ucap Rakash sebelum pergi dan kemudian melanjutkan langkahnya membuat Leticha langsung melihat ke belakang.
"Astaga! ternyata dia benar-benar sangat pelit, aku yakin pertemuan ini tidak akan berkesan baginya dan setelah ini dia akan menelpon Papa dan membatalkan pernikahan itu," batin Leticha dengan harapannya yang besar.
*****
Leticha, Vanila, Ricard dan Liana sedang menikmati makan malam.
"Apa salahnya jika setiap malam kamu berada di rumah dan tidak keluyuran? Apa kamu tidak malu menjadi bahan pembicaraan orang-orang. Kamu seharusnya menjaga harkat dan martabat keluarga ini," ucap Ricard memberi nasehat kepada Leticha.
"Leticha tidak melakukan apapun di luar, hanya bertemu dengan teman dan mengobrol. Apa yang salah dan bukan berarti wanita keluyuran di tiap malam itu akan melakukan hal aneh-aneh," jawabnya selalu mencari pembelaan.
"Leticha mengobrol bukan berarti harus keluyuran keluar rumah. Kamu bisa mengobrol di rumah ini. Kamu jangan mencari alasan dan terlalu bebas. Vanila juga tidak pernah keluyuran di malam hari, kamu seharusnya menjadikan dia sebagai contoh," sahut Liana.
"Mau seperti apapun diriku dan apa yang aku lakukan, semua resiko aku tanggung sendiri sendiri, sudahlah jangan mencari-cari kesalahanku dan jangan membanding-bandingkanku dengan siapapun," tegas Leticha.
"Jika diberitahu maka jawaban kamu akan terus seperti ini. Papa memang tidak salah menjodohkan kamu dengan Rakash dan papa akan mengatakan kepada keluarga mereka untuk mempercepat pernikahan kalian," ucap Richard.
"Pernikahan! maksud Papa apa?" tanya Leticha.
"Bukankah kalian sudah bertemu dan kalian juga setuju untuk pernikahan itu," ucap Richard.
"Maksud Papa, anak dari teman papa itu setuju kami menikah dan melanjutkan perjodohan ini?" tanyanya sekali lagi membuat Richard menganggukkan kepala.
"Bagaimana mungkin," batin Leticha terlihat begitu panik.
"Syukurin, jika sudah menikah maka kamu akan keluar dari rumah ini dan artinya aku satu-satunya akan menjadi anak di rumah ini," batin Vanila.
Bersambung....