NovelToon NovelToon
Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Office Romance / Cewek Gendut
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
​Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
​Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Sinar matahari pagi menyelinap malu-malu di balik gorden ruang tamu saat Linggar sudah rapi dengan setelan olahraga berwarna hitam yang menempel ketat di tubuh suburnya.

Ia sedang mengencangkan tali sepatu lari saat Nadya muncul dari arah dapur dengan wajah bantal dan rambut acak-acakan.

"Mbak? Mau ke mana?" tanya Nadya dengan tatapan matanya mengerjap tidak percaya melihat kakaknya sudah siap dengan botol minum.

Linggar mendongakkan kepalanya dengan sedikit salah tingkah.

"Mau jogging sebentar ke taman depan, Nad. Biar segar."

Nadya bersandar di bingkai pintu, sebuah senyum jahil terukir di wajahnya.

"Tumben? Biasanya hari Minggu itu jadwal Mbak 'hibernasi' sampai siang sambil makan mi instan. Apa mbak punya kekasih?" tanya Nadya.

Jantung Linggar berdegup kencang. Ia teringat suara berat Rangga di telepon semalam yang menyebutnya 'calon istri'.

"Ngaco kamu. Mbak cuma sadar kalau kesehatan itu mahal. Sudah ya, Mbak berangkat!"

Linggar bergegas keluar sebelum Nadya bertanya lebih jauh.

Di taman kompleks yang masih berkabut, ia mulai berlari kecil.

Napasnya terengah-engah setelah hanya lima menit bergerak, namun setiap tetes keringatnya terasa seperti upaya untuk memantaskan diri.

Di dalam kepalanya, suara Rangga terus bergema.

'Bagaimana jika suatu saat kami bertemu? Bagaimana jika dia kecewa melihat sosok di balik suara ini?' ucap Linggar dalam hati.

Ponsel di lengan atasnya bergetar. Sebuah pesan masuk.

[Selamat pagi, Nadya. Aku baru saja selesai lari pagi. Udara hari ini sangat segar, mengingatkanku pada kejujuran dalam suaramu semalam. Apa rencanamu hari ini?]

Linggar berhenti di bawah pohon rindang, menyeka keringat di dahinya.

Ia ragu sejenak, lalu memotret pemandangan sepatu larinya di atas rumput—tanpa memperlihatkan wajah atau tubuhnya.

[Pagi, Rangga. Aku juga sedang lari pagi dan membeli nasi pecel.]

[Boleh minta foto kamu yang sekarang?]

Linggar segera mencari foto Nadya yang sedang lari pagi.

Jari Linggar gemetar saat membuka folder tersembunyi di galeri ponselnya.

Folder itu berisi puluhan foto Nadya yang ia simpan diam-diam.

Foto-foto yang selalu ia kagumi sekaligus ia tangisi karena ia merasa tidak akan pernah bisa memiliki fisik sesempurna itu.

Ia menemukan satu foto dimana Nadya sedang mengenakan sport bra dan legging bermerek, rambutnya dikuncir kuda tinggi dengan sisa peluh yang justru membuatnya terlihat seperti model iklan minuman isotonik. Cantik, langsing, dan sangat berkelas.

[Baru selesai satu putaran. Maaf ya, mukanya agak berantakan karena keringat]

Detik-detik menunggu balasan terasa seperti siksaan bagi Linggar.

Ia merasa seperti pencuri yang sedang menunggu vonis hakim.

[Berantakan? Kamu bercanda. Kamu terlihat sangat energik, Nadya. Tapi, aneh ya, di telepon suaramu terdengar jauh lebih dewasa dan tenang, tapi di foto ini kamu terlihat seperti gadis remaja yang sangat modis.]

Jantung Linggar mencelos. Insting pria ini tajam sekali, batinnya panik.

[Mungkin karena efek endorfin, Ngga. Eh, sudah dulu ya. Tukang nasi pecelnya sudah memanggil. Sampai nanti!]

Linggar segera mematikan layar ponselnya. Ia tidak sanggup lagi berbohong pagi ini.

Ia berjalan gontai menuju gerobak nasi pecel di pojok taman.

Aroma bumbu kacang yang gurih biasanya menjadi penyemangat harinya, namun kali ini, setiap suapan nasi pecel itu terasa menyesakkan tenggorokan.

Setelah menghabiskan nasi pecelnya dengan pikiran yang melayang, Linggar berjalan pulang dengan langkah berat.

Setibanya di rumah, ia langsung menuju kamar dan merebahkan tubuhnya yang terasa remuk.

Bukan hanya karena lari pagi yang tak biasa ia lakukan, tapi karena beban kebohongan yang semakin menumpuk di pundaknya.

Kamar itu sunyi, hanya suara detak jam dinding yang menemani kegelisahannya.

Linggar menatap langit-langit kamar, membayangkan jika suatu saat Rangga tahu bahwa 'Nadya'yang ia puja hanyalah sebuah topeng digital.

Baru saja ia akan memejamkan mata untuk meredakan pening di kepalanya, ponsel yang ia letakkan di samping bantal bergetar hebat.

Nama 'Rangga' berkedip di layar, disertai ikon panggilan video yang membuat Linggar hampir melompat dari tempat tidur.

"Video call?!" pekik Linggar tertahan.

Ia melihat pantulan dirinya di cermin meja rias: wajah kemerahan karena kelelahan, rambut yang lepek oleh keringat, dan kaos olahraga yang basah. Sangat jauh dari foto Nadya yang baru saja ia kirim.

Ia menekan tombol merah untuk menolak panggilan tersebut, lalu dengan cepat mengetik pesan.

[Maaf, Rangga! Aku baru mau mandi, jangan video call dulu ya]

Namun, belum sempat pesan itu terkirim, ponselnya kembali berdering.

Kali ini panggilan suara biasa. Dengan tangan gemetar dan napas yang masih memburu, Linggar menggeser tombol hijau.

"Halo, Ngga? Maaf tadi kepencet..." suara Linggar terdengar serak.

"Kenapa ditolak? Aku hanya ingin memastikan apakah calon istriku benar-benar sedang kepedasan makan nasi pecel atau hanya menghindariku," suara Rangga terdengar renyah, ada tawa kecil di sana yang membuat jantung Linggar berdesir.

"Aku, berantakan sekali, Rangga. Benar-benar tidak layak dilihat," jawab Linggar jujur, meski kejujuran itu ia tujukan untuk fisiknya yang asli.

"Nadya, dengar. Aku tidak peduli seberapa berantakan kamu setelah olahraga. Bagiku, wanita yang mau berkeringat dan menikmati nasi pecel di pinggir jalan itu jauh lebih istimewa daripada wanita yang hanya duduk diam menjaga riasannya."

Linggar terdiam. Kata-kata Rangga terasa seperti sembilu yang menyayat hatinya.

Pria ini mencintai konsep 'Nadya' yang sederhana, namun tetap dengan bayangan wajah Nadya yang cantik.

"Aku tutup dulu ya, Sayang. Karena aku harus bersiap untuk besok masuk ke kantor baru," ucap Rangga dengan nada yang sangat lembut.

Klik!

Linggar mematung di tempat tidurnya, menelan salivanya dengan susah payah.

Panggilan 'Sayang' itu seharusnya membuat hatinya berbunga, namun kini justru terasa seperti lonceng kematian.

Linggar segera mandi dan mengganti pakaiannya, berusaha membasuh sisa keringat dan rasa panik yang masih menempel di pori-porinya.

Air dingin yang mengguyur tubuhnya sedikit memberikan ketenangan, namun kata-kata "kantor baru" dari Rangga terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.

Setelah berpakaian rapi dengan daster rumahan yang nyaman, ia melangkah menuju dapur.

Memasak selalu menjadi pelarian terbaik bagi Linggar saat pikirannya kalut.

Ia mulai mengiris bawang merah dan cabai dengan gerakan yang sedikit terlalu bertenaga, menciptakan bunyi tuk-tuk-tuk yang berirama di atas talenan.

"Mbak, ada apa? Mbak baik-baik saja, kan?" tanya Nadya yang mengejutkannya.

Adiknya itu sudah berdiri di ambang pintu dapur, memperhatikan punggung kakaknya yang tampak tegang.

Nadya jarang melihat Linggar memasak dengan ekspresi seserius itu di hari Minggu pagi, apalagi setelah baru saja pulang olahraga.

Linggar menganggukkan kepalanya tanpa menoleh, fokus pada wajan yang mulai memanas.

"Nggak apa-apa, Nad. Mbak, cuma ingin masak oseng tempe kesukaanmu saja."

Nadya berjalan mendekat, mengambil potongan timun di meja dan mengunyahnya.

Matanya yang jeli menatap ponsel Linggar yang tergeletak di atas meja makan, yang sesekali masih menyala karena notifikasi.

"Mbak sudah cari jodoh di aplikasi?" tanya Nadya tiba-tiba, suaranya naik satu oktav karena antusias.

Tangan Linggar yang sedang memegang sudip sempat kaku sejenak.

"B-belum, Nad," bohong Linggar dengan suara yang sedikit bergetar.

Ia berpura-pura sibuk mengaduk bumbu di wajan agar asapnya bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya.

"Yah, sayang banget. Padahal aku sudah bayangin Mbak punya pacar biar gak lembur terus di kantor," Nadya mendesah kecewa.

"Tapi beneran ya, kalau Mbak pakai foto yang cantik, pasti banyak yang antre. Mau aku fotoin yang bagus nanti sore?"

Linggar mematikan kompor, rasa bersalahnya mendadak terasa lebih panas daripada api di hadapannya.

"Enggak usah, Nad. Mbak lagi fokus sama pekerjaan. Apalagi besok ada acara di perusahaan," jawab Linggar.

Nadya memeluk tubuh kakaknya dan memintanya untuk percaya diri.

1
merry yuliana
hmmmmm pertarungan dimulai...kemana hatimu akan berlabuh linggar...sehat dan semangat terus kak..ditunggu crazy upnya
Fitra Sari
lanjut kk
my name is pho: ok kak
besok sahur ya🥰
total 1 replies
falea sezi
lanjut donk
my name is pho: ok kak 🥰
total 1 replies
falea sezi
mending resain pergi jauh
falea sezi
kpn kebongkar jangan bertele tele
falea sezi
cwek munafik gini banyak di fb pasang fto orang buat gaet cowok g jujur ma fisik diri sendiri
falea sezi
jd inget film India yg Rani Mukerji hitrik trs papu siapa ya lupa nama e q
merry yuliana
hmmmm jia you linggar jangan takut pasti ada lelaki yang benar2 melohatmu sebagai dirimu sendiri
Alis Yudha
kenapa aku ikut mewek ya/Whimper/
Nabila
linggar ini kayak aku, kata ibuku duku aku sakit sampai di opnam, harus sering minum obat, padahal eaktu kecil badan ku kecil katanya, karena kebanyakan minum obat sampai sekarang berat badanku bertambah terus, dak tahu mungkin itu sistem metabolismenya berubah sekarang saya umur 38thn dengan bb 115kg, mau nurunin susah banget.memang benar punya badan gemuk itu incecure banget, mau deket ma cowok malu banget kalau dikata2in.
awesome moment
maapkeun. koq jd berharap linggar g bertahan y. biar rangga nyesel. 🤭🤭🤭
kucing kawai
Bagus /Good/
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk 😍😍🙏
awesome moment
bagusnya....linggar stl sadar dri koma, menghilang. ke mana, seterah. dgn keprofesionalannya, dia kn bisa menclok jd tenaga profesional dimana2. buat linggar ketemu lingk yg tpt dan org yg tpt. biar j rangga nyesel bin nyesek. udh ngebully linggar c. biar tau rasane diabaikan. biar tau rasane bertahan dalam sakit tp g bisa ngeluh. stl rangga ngerasain yg dirasain linggar, seterah author wis. kn jodoh ditangan author. seblm.nya...tolong, buat rangga merasakan kesakitan linggar
my name is pho: siap 🥰
total 1 replies
Hesty Rahayu
kapok kamu rangga..syukurin...
Fitra Sari
lanjut lagi kk
awesome moment
blm titik, kan? msh koma ta?😉
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak.
total 1 replies
awesome moment
tebakan hayooo...koma ato titik?
awesome moment
y bgitulah...org kecewa
Fitra Sari
lanjut KK 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!