Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.
Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Tragedi Skincare Tertukar
Bagi Arka, sabun adalah sabun. Cair, berbusa, dan wangi—tiga variabel itu sudah cukup untuk mendefinisikan sebuah alat pembersih. Ia adalah tipe laki-laki yang bisa mandi hanya dengan satu botol sabun cair yang merangkap sebagai sampo, pencuci muka, bahkan mungkin sabun cuci piring jika kepepet. Namun, di Wisma Lavender, kesederhanaan Arka adalah sebuah dosa besar yang bisa memicu perang saudara.
Sore itu, suasana Wisma Lavender tampak lebih sibuk dari biasanya. Gendis, sang mahasiswi fashion design yang juga merangkap sebagai beauty influencer, sedang bersiap-siap untuk menghadiri acara peluncuran lini kosmetik terbaru di pusat kota. Area wastafel bersama di lantai dua pun berubah menjadi laboratorium kecantikan pribadi miliknya. Botol-botol kaca dengan berbagai ukuran, warna, dan label bahasa Prancis yang sulit dieja berjejer rapi di atas marmer putih.
Arka, yang baru saja selesai membantu Rara memindahkan peralatan gym darurat di halaman belakang, masuk ke area wastafel dengan tangan yang penuh noda oli dan debu. Ia hanya ingin membasuh tangannya dengan cepat sebelum kembali ke kamar untuk mengerjakan skripsi.
Di pinggir wastafel, ia melihat sebuah wadah kaca bundar berwarna emas dengan tutup kristal yang berkilau. Di dalamnya terdapat substansi berwarna putih mutiara dengan tekstur yang tampak sangat kental dan lembut. Tanpa curiga sedikit pun—dan karena sabun cuci tangan botolan biasanya sedang habis—Arka mencolek substansi itu dalam jumlah besar.
"Wah, tumben ada sabun cuci tangan yang mewah begini," gumam Arka.
Ia menggosokkan zat itu ke telapak tangannya. Rasanya aneh. Tidak ada busa yang keluar. Malahan, zat itu meresap ke kulitnya dengan sensasi dingin yang menyegarkan, meninggalkan aroma bunga melati yang sangat elegan dan mahal. Arka merasa tangannya mendadak menjadi sehalus pantat bayi, namun noda olinya masih tetap di sana. Penasaran, ia mencolek lagi, kali ini lebih banyak, mengoleskannya hingga ke lengan bawahnya.
Tepat saat Arka sedang asyik "menikmati" sabun aneh itu, pintu kamar mandi terbuka dengan sentakan keras. Gendis muncul dengan handuk kecil di leher dan wajah yang sudah setengah terpoles primer.
Langkah Gendis terhenti. Matanya membelalak lebar, menatap Arka yang sedang mengusap-usap lengannya dengan zat putih dari wadah emas miliknya. Dunia seolah berhenti berputar. Suara blender dari dapur Dira dan musik dari kamar Chika seolah lenyap, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.
"Arka..." suara Gendis bergetar, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang mencapai titik didih. "Apa yang kamu lakukan dengan wadah emas itu?"
Arka menoleh dengan polos. "Eh, Gendis. Ini sabun cuci tangannya kok nggak ada busanya ya? Tapi wanginya enak banget, Ndis. Tangan gue jadi halus."
Gendis mendekat dengan langkah pelan namun mematikan, seperti predator yang sedang mengepung mangsanya. Ia mengambil wadah emas itu dan melihat isinya yang kini tinggal separuh karena "kerakusan" Arka.
"Sabun... cuci... tangan?" Gendis mengulang kata-kata itu dengan nada yang bisa membekukan air terjun. "Arka, itu bukan sabun. Itu La Mer Gennaissance de la Mer. Itu night cream edisi terbatas yang gue indent dari Paris selama tiga bulan!"
Arka berkedip. "Krim malam? Maksudnya buat tidur?"
"Harganya enam juta lima ratus ribu per jar, Arka!" teriak Gendis, suaranya melengking menembus plafon Wisma Lavender. "Dan kamu pakai itu buat cuci tangan yang penuh oli?!"
Arka merasakan jantungnya merosot hingga ke jempol kaki. Enam juta lima ratus ribu. Itu setara dengan biaya kosnya selama tiga puluh dua bulan. Itu setara dengan satu laptop gaming kelas menengah. Dan ia baru saja mengoleskan separuh dari harga itu ke lengannya yang dekil.
"Gendis, sumpah, gue nggak tahu..." Arka mundur perlahan, tangannya yang masih beraroma melati mahal itu kini gemetar hebat.
"Nggak tahu?! Kamu lihat kemasannya, Arka! Mana ada sabun cuci tangan ditaruh di wadah kristal?!" Gendis mulai terisak secara dramatis. "Itu investasi wajah gue buat masa depan! Itu satu-satunya cara supaya gue nggak keriput gara-gara mikirin tugas kuliah! Dan sekarang, kamu pakai buat... buat oli?!"
Teriakan Gendis memancing seluruh penghuni keluar. Sari muncul dengan wajah siap menyidang, Rara muncul dengan barbel di tangan, dan Oma Rosa muncul tentu saja dengan ponsel di posisi rekam.
"Ada apa ini? Kok ada aroma melati mahal di lorong?" tanya Sari, hidungnya kembang kempis menghirup udara.
"Sari! Arka menghancurkan hidupku!" Gendis menunjuk Arka dengan jari yang gemetar. "Dia menghabiskan krim malamku seharga motor bekas buat cuci tangan!"
Seluruh gadis di sana terkesiap serempak. Mereka menatap Arka dengan pandangan horor yang lebih mengerikan daripada saat insiden kucing Maya. Bagi para wanita di Wisma Lavender, merusak skincare adalah kejahatan kemanusiaan tingkat berat yang tidak bisa diampuni hanya dengan kata maaf.
"Enam juta?" bisik Lulu sambil memegang kepalanya. "Arka, kamu tahu tidak kalau enam juta itu bisa beli beras untuk seluruh kos ini selama setahun?"
"Gue bakal ganti, gue bakal ganti!" seru Arka panik.
"Ganti pakai apa?!" sahut Gendis galak. "Gaji kamu sebagai pengangkat galon? Kamu harus angkat seribu galon buat ganti satu jar ini!"
Oma Rosa mendekat, mencium lengan Arka. "Wah, emang beda ya aromanya. Le, tanganmu sekarang lebih berharga daripada seluruh isi kamarmu sendiri. Jangan dicuci dulu ya, biar Oma bikin konten 'Review Skincare Termahal di Lengan Mahasiswa Teknik'."
Arka merasa ingin menghilang dari muka bumi. Di satu sisi, ia merasa bersalah karena telah menghancurkan barang berharga Gendis. Di sisi lain, ia merasa aturan hidup di kos ini semakin lama semakin tidak masuk akal bagi logika laki-lakinya.
"Dengar, Arka," Sari mengambil alih kendali situasi. "Sesuai hukum ganti rugi yang berlaku di Wisma Lavender, kamu tidak mungkin bisa membayar ini dengan uang tunai dalam waktu dekat. Jadi, sebagai hukuman tambahan, kamu harus menjadi asisten pribadi Gendis untuk seluruh proyek fashion design-nya semester ini. Kamu yang angkat manekin, kamu yang beli kain di pasar, dan kamu yang harus jadi model pas pengepasan baju kalau modelnya absen."
"Jadi model baju cewek?!" Arka terbelalak.
"Baju unisex, Arka. Jangan berlebihan," tukas Gendis sambil menyapu sisa-sisa krim di wadahnya dengan jari kelingking, berusaha menyelamatkan apa yang masih tersisa. "Dan kamu harus antar-jemput aku ke setiap acara influencer pakai motor bututmu itu. Setidaknya kamu harus terlihat seperti asisten yang berdedikasi."
Arka hanya bisa mengangguk pasrah. Tragedi skincare ini benar-benar menjadi titik balik baru dalam penderitaannya. Sore itu, alih-alih mengerjakan skripsi, Arka duduk di lantai kamar Gendis, memegangi kaki manekin sementara Gendis mengomel tentang betapa kasarnya pori-pori kulit Arka yang telah "tercemar" krim mahalnya.
Sambil memegangi manekin, Arka menatap tangannya yang masih sangat halus dan wangi. Ia teringat kata-kata Oma Rosa. Lengannya sekarang adalah bagian tubuh termahal yang pernah ia miliki. Namun, harga yang harus ia bayar jauh lebih mahal dari enam juta rupiah. Ia telah kehilangan sisa-sisa martabat maskulinnya.
"Satu giga per detik," bisik Arka dalam hati, matanya menatap kosong ke arah deretan gaun di kamar Gendis. "Ingat internetnya, Arka. Ingat skripsi lu. Jangan sampai lu pingsan sekarang."
Tragedi skincare itu meninggalkan bekas yang tak terlupakan. Bukan hanya di kulit Arka, tapi juga di dompet dan masa depannya di Wisma Lavender. Mulai hari itu, Arka bersumpah tidak akan pernah menyentuh barang apa pun di wastafel tanpa berkonsultasi dengan Sari terlebih dahulu—bahkan jika itu hanya selembar tisu. Sebab di rumah ini, setiap benda kecil bisa memiliki harga yang setara dengan harga diri seorang laki-laki.