Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12: Surat Peringatan dan Hilangnya Proyek Emas
Rio melangkah masuk ke lobi kantor dengan langkah gontai. Dasinya sudah longgar, dan kemejanya basah di bagian ketiak karena keringat dingin sisa sidang mediasi tadi.
Kepalanya masih berdenyut mengingat ancaman Kara.
"Simpan penjelasanmu buat Siska nanti..."
"Nggak," gumam Rio, berusaha menyemangati diri sendiri saat menekan tombol lift. "Kara cuma gertak sambal. Dia pasti cuma sewa pengacara itu pake uang pinjolan. Dia nggak mungkin sekuat itu."
Ting. Pintu lift terbuka di lantai 15.
Suasana kantor yang biasanya riuh mendadak senyap begitu Rio melangkah masuk kubikel. Beberapa staf administrasi yang sedang bergerombol di dekat dispenser langsung bubar jalan, kembali ke meja masing-masing sambil saling lirik.
Rio merasakan tatapan-tatapan itu. Tatapan menghakimi. Gosip tentang "Istri Rio sewa pengacara mahal" pasti sudah menyebar secepat virus.
Mata Rio mencari sosok Siska. Wanita itu duduk di kubikelnya, sedang mengetik di laptop.
Rio mendekat, memasang senyum terbaiknya meski wajahnya lelah. "Sis, sori ya tadi pagi aku tinggal pas meeting. Ada urusan keluarga dikit. Nanti pulang kantor kita dinner yuk? Aku tau tempat steak baru yang—"
Siska tidak menoleh. Jari-jarinya tetap menari di atas keyboard.
"Siska?" panggil Rio lagi.
Wanita itu akhirnya menoleh, tapi tidak ada senyum manja di bibirnya. Wajahnya datar.
"Mas, jangan deket-deket dulu deh. Pak Herman lagi bad mood parah nyariin kamu dari tadi," ujar Siska ketus.
"Loh? Kok gitu? Emang ada apa?"
"Rio Pratama!"
Suara bariton yang menggelegar dari arah ruangan manajer membuat Rio terlompat kaget. Pak Herman berdiri di ambang pintu ruangannya dengan wajah merah padam. Jauh lebih merah dari wajah Bu Ratna tadi pagi.
"Ke ruangan saya. SEKARANG!"
Rio menelan ludah. Firasatnya tidak enak. Dia melirik Siska meminta dukungan, tapi Siska sudah pura-pura sibuk menelepon klien.
Dengan kaki gemetar, Rio masuk ke "kandang singa".
BRAK!
Sebuah map tebal dibanting ke atas meja kerja Pak Herman, tepat di depan wajah Rio.
"Kamu tau ini apa, Rio?!" bentak Pak Herman. Urat lehernya menonjol.
Rio mengambil map itu dengan tangan gemetar. "I-ini proposal proyek kerjasama dengan PT. Graha Sentosa, Pak. Yang saya presentasikan tadi pagi..."
"BACA SURAT DI DALAMNYA!"
Rio membuka map itu. Di halaman paling depan, ada surat resmi dengan kop emas yang sangat elegan.
PT. GRAHA SENTOSA (Subsidiary of ANINDITA GROUP)
Perihal: Pembatalan Kerjasama Strategis
Mata Rio membelalak membaca isinya.
Dengan hormat, melalui surat ini kami sampaikan bahwa PT. Graha Sentosa memutuskan untuk MEMBATALKAN seluruh rencana kerjasama pemasaran dengan Wijaya Corp.
Alasan: Ketidaksesuaian visi dan integritas personal dari Penanggung Jawab Proyek (PIC) Saudara Rio Pratama.
Lutut Rio lemas.
"Mereka batalin, Pak? T-tapi kenapa? Tadi pagi perwakilan mereka bilang suka sama ide saya!"
"Itu tadi pagi, Rio! Tadi pagi!" Pak Herman memijat pelipisnya yang pening. "Siang ini, tepat jam 12, Direktur Utama mereka telepon saya langsung. Dia bilang dia dapet laporan kalau PIC proyek ini—KAMU—punya masalah integritas serius. Katanya kamu nggak bisa dipercaya!"
Pak Herman menatap Rio tajam. "Kamu ngapain aja di luar sana, hah?! Kamu nipu orang? Kamu main judi? Atau drama rumah tanggamu yang memalukan itu sampe kedengeran ke telinga klien?!"
"Saya nggak ngapa-ngapain, Pak! Sumpah!" Rio membela diri, meski hatinya mencelos. Dia ingat ucapan Kara. Koneksi.
"Proyek ini nilainya 5 Miliar, Rio! 5 Miliar melayang gara-gara kamu!" Pak Herman menggebrak meja lagi. "Mulai hari ini, bonus tahunan kamu hangus. Dan ini..."
Pak Herman menyodorkan selembar kertas lain. Surat Peringatan 1 (SP1).
"Satu kesalahan lagi, saya nggak segan-segan pecat kamu. Sekarang keluar! Beresin kekacauan kamu!"
Rio berjalan keluar ruangan Pak Herman seperti zombie. Telinganya berdenging.
5 Miliar. Batal. Gara-gara "Integritas Personal".
Dia kembali ke kubikelnya, duduk terhempas di kursi kerjanya yang tiba-tiba terasa tidak nyaman.
Tangannya masih memegang surat pembatalan itu. Matanya terpaku pada kop surat di pojok kanan atas.
ANINDITA GROUP.
"Anindita..." gumam Rio pelan.
Keningnya berkerut. Nama itu...
Di surat gugatan cerai tadi pagi, nama lengkap istrinya tertulis jelas: Kara Anindita.
Rio terdiam. Napasnya tercekat.
Nggak mungkin.
Otaknya berputar cepat, mencoba menghubungkan titik-titik itu.
Kara Anindita. Anindita Group.
Kara yang "yatim piatu". Anindita Group yang konglomerat.
Kara yang masak sayur asem tiap hari. Pemilik gedung pencakar langit.
Rio tertawa kecil. Tawa yang penuh penyangkalan.
"Ah, gila kali gue," Rio melempar surat itu ke meja. "Nama Anindita kan pasaran. Di kelurahan juga banyak yang namanya Anindita. Nggak mungkin si Kara gembel itu punya hubungan sama raksasa properti ini."
"Ini pasti cuma kebetulan. Kebetulan yang sial banget."
Rio menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, memejamkan mata. Dia menolak percaya. Karena kalau dia percaya... itu artinya dia baru saja membuang wanita paling berkuasa yang bisa menghancurkannya hanya dengan jentikan jari.
Dan jauh di lubuk hatinya, ketakutan itu mulai tumbuh. Merayap pelan seperti racun.
Di seberang kubikel, Siska melirik Rio dengan tatapan dingin, lalu diam-diam mengirim pesan WhatsApp ke temannya di HRD:
"Eh, info loker dong. Kayaknya kantor gue bakal ada pengurangan karyawan nih. Atasan gue bermasalah."
Rio Pratama benar-benar sendirian sekarang.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...
...****************...
kanjooot..
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏