Syra Aliyah Farhana, seorang gadis kota yang hidup bebas dengan deru mesin motor, mendapati dunianya jungkir balik saat dipaksa "mondok" dan dijodohkan dengan putra mahkota Pesantren Al-Fathan. Ia datang dengan jaket denim robek dan knalpot bising, siap untuk memberontak.
Namun, ia harus berhadapan dengan Arkanza Farras Zavian, Gus muda yang berwibawa, dingin, dan tak mudah goyah oleh gertakan. Di tengah aroma kopi dan lantunan kitab kuning, Syra terjebak dalam perjanjian yang merampas fasilitas mewahnya. Di balik tembok pesantren, ia tidak hanya harus berhadapan dengan aturan yang mencekik, tapi juga rahasia hati, kecemburuan, dan masa lalu yang mengejarnya dari Jakarta.
Ini bukan sekadar tentang perjodohan, tapi tentang perjalanan mencari arah pulang di tempat yang Syra sebut sebagai "Neraka Suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Special chapter 1 : Pelarian suci sang imam
Malam di Pesantren Al-Fathan selalu memiliki atmosfer yang magis sekaligus menenangkan. Suara serangga malam di sela-sela pohon jati bersahut-sahutan dengan sayup-sayup suara santri yang masih melantunkan bait-bait Alfiyah di kejauhan, menciptakan harmoni antara alam dan spiritualitas. Namun, di lantai dua dhalem, suasana terasa sedikit berbeda. Syra sedang menatap layar laptopnya dengan pandangan kosong. Barisan angka dalam laporan tahunan Creative Hub dan kurikulum baru untuk kelas teknik otomotif santriwati tampak seperti semut yang menari-nari di matanya. Pikirannya buntu; otaknya terasa seperti mesin yang dipaksa bekerja di tanjakan curam tanpa pendingin yang cukup.
Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh mendarat di bahunya, memberikan pijatan ritmis yang sangat ia kenal. Sentuhan itu hangat, seolah menyalurkan energi yang baru saja terkuras habis.
"Mesinnya sudah berasap, Sayang. Butuh didinginkan sebentar sebelum piston-nya macet total," bisik Arkanza tepat di telinga Syra. Suara baritonnya yang rendah selalu berhasil membuat detak jantung Syra berirama lebih cepat, bahkan setelah bertahun-tahun pernikahan mereka.
Syra mendongak, mendapati suaminya sudah tidak lagi mengenakan baju koko putihnya yang formal. Arkanza kini mengenakan kaos hitam polos yang pas di badan, memperlihatkan bahu kokohnya, dan ia membawa dua jaket kulit di tangannya—satu miliknya yang legendaris dengan logo Black Hawk yang sudah memudar, dan satu lagi jaket denim tebal berlapis bulu milik Syra. Arkanza melirik ke arah boks bayi di sudut kamar, tempat Zavian yang kini berusia dua tahun sedang terlelap dengan sangat tenang. Bocah kecil itu tidur dengan posisi meringkuk, memeluk bantal kecil berbentuk ban motor buatan Syra—sebuah warisan hobi yang tampaknya mulai mengalir di darahnya.
"Zavian sudah nyenyak. Umi juga sudah 'siaga satu' di kamarnya, beliau senang sekali kalau kita beri kesempatan untuk menjaga cucu kesayangannya," tambah Arkanza sambil memutar-mutar kunci motor BMW R25 di jarinya. Suara denting kunci itu adalah undangan yang tidak mungkin ditolak oleh Syra.
Syra tersenyum lebar, rasa lelahnya seolah menguap begitu saja. Adrenalinnya, yang sudah lama terpendam di balik tumpukan kertas, kini terpompa seketika. Mereka menyelinap keluar lewat pintu belakang dhalem layaknya sepasang remaja yang sedang melakukan pelarian rahasia dari aturan ketat asrama. Arkanza mengeluarkan motor klasiknya dari bengkel kecil mereka tanpa menyalakan mesin terlebih dahulu agar tidak membangunkan Kyai Ahmad. Setelah sampai di gerbang belakang yang mengarah langsung ke jalanan perbukitan, barulah Arkanza menekan tombol starter.
Blam! Brum... brum...
Suara rendah dan berwibawa dari mesin R25 itu memecah kesunyian malam. Arkanza memacu motornya perlahan, membiarkan mesinnya beradaptasi dengan udara malam yang dingin. Syra memejamkan mata di kursi belakang, menghirup aroma tanah basah dan wangi kayu cendana dari tengkuk suaminya. Ia membiarkan kepalanya bersandar sepenuhnya di punggung Arkanza, merasakan getaran mesin merambat ke tubuhnya.
"Dulu di Jakarta, gue sering balapan malam cuma buat ngerasa 'hidup', Gus. Karena saat itu, gue ngerasa mati di rumah sendiri yang penuh tekanan," bisik Syra di balik helmnya, suaranya teredam angin namun sampai dengan jelas ke telinga Arkanza.
Arkanza menggenggam tangan Syra yang melingkar erat di pinggangnya, membawanya ke depan dada dan mengecup jemari istrinya yang terbalut sarung tangan kulit. "Dan dulu saya balapan malam karena saya benci pulang ke rumah yang sepi dan tanpa arah. Tapi sekarang, setiap kilometer yang kita lalui, tujuannya bukan lagi untuk melarikan diri. Tujuannya cuma satu: pulang ke kamu, ke Zavian, dan ke jalan yang sudah direstui-Nya. Sekarang balapan kita bukan lagi tentang siapa yang pertama menyentuh garis finis, tapi siapa yang paling konsisten menjaga niat sampai ke Jannah."
Di bawah sinar bulan purnama yang menggantung rendah di atas bukit jati, Syra menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak pernah tentang kecepatan. Kebahagiaan adalah tentang memiliki seseorang yang bersedia mengurangi kecepatannya hanya agar tetap bisa berjalan bersisihan denganmu.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...