NovelToon NovelToon
Ratu Yang Memilih Takdirnya

Ratu Yang Memilih Takdirnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cintapertama
Popularitas:715
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Malam setelah serangan itu, Lumin tidak pernah benar-benar tidur.

Lampu-lampu kota tetap menyala lebih terang dari biasanya. Penjaga Akademi Astral berpatroli dua kali lipat. Dan di aula tertinggi Dewan, nama Arcelia Virellia kembali disebut, bukan dengan nada kagum, melainkan waspada.

Di kamarnya yang sunyi, Arcelia duduk di tepi ranjang. Simbol di pergelangan tangannya kini redup, tapi tidak hilang. Ia menatapnya lama.

“Kota… atau kebenaran.”

Kalimat itu terus terngiang.

Jika memilih kota, berarti tetap berdiri sebagai pelindung Lumin, meski harus menjadi ancaman di mata Dewan. Jika memilih kebenaran… apa yang harus ia korbankan?

Ketukan pelan terdengar di jendela.

Bukan pintu.

Arcelia langsung berdiri.

Ravenor muncul dari balik bayangan atap, masuk tanpa suara. “Dewan memanggilmu besok pagi.”

“Secepat itu?” Arcelia menyilangkan tangan.

“Mereka tidak suka kehilangan kendali.” Tatapan Ravenor serius. “Dan kau baru saja menahan serangan makhluk Astral tingkat tinggi sendirian.”

“Aku tidak sendirian.”

“Aku hanya mengalihkan satu.”

Keheningan jatuh.

Arcelia menoleh ke arah menara tua yang terlihat dari jendelanya. Ujungnya menjulang seperti tombak hitam menembus langit.

“Ada sesuatu di sana,” katanya pelan. “Bukan retakan biasa.”

Ravenor tidak langsung menjawab. “Menara itu dibangun sebelum keluarga Virellia diakui sebagai pelindung kota.”

Arcelia menegang. “Kau tahu sesuatu.”

“Aku tahu cukup untuk menyuruhmu menjauh.”

Ia tersenyum tipis. “Itu tidak terdengar seperti dirimu.”

Ravenor menatapnya dalam. “Kau masih remaja, Arcelia. Kau tidak harus memikul semuanya.”

“Aku tidak pernah memilih untuk memilikinya,” balasnya cepat.

Hening lagi.

Lalu simbol di pergelangan tangannya menyala tiba-tiba, lebih terang dari sebelumnya.

Bukan hanya berpendar.

Bergetar.

Arcelia tersentak. Bayangan hitam membentuk garis tipis di lantai kamarnya, mengarah lurus ke arah menara tua. Seolah-olah… dipanggil.

Ravenor melihatnya juga. “Jangan bilang kau—”

“Aku harus ke sana.”

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Tanpa menunggu izin, Arcelia melangkah ke jendela dan melompat keluar. Cahaya bercampur bayangan kembali membentuk sayap tipis di punggungnya.

Ravenor mengumpat pelan sebelum menyusul.

Menara tua lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada penjaga. Tidak ada cahaya.

Aneh.

Arcelia mendarat tepat di depan pintu besarnya. Simbol di tangannya kini menyala stabil, seolah mengenali tempat itu.

Pintu terbuka sendiri.

Udara di dalam lebih dingin dari malam luar. Dinding batu dipenuhi ukiran kuno, simbol yang sama dengan yang ada di kulitnya.

“Apa ini…?” bisiknya.

Suara langkah kedua bergema. Ravenor masuk, pedangnya sudah siap.

Di tengah ruangan utama, lantai batu retak membentuk lingkaran besar. Di pusatnya, ada kristal hitam mengambang, berdenyut perlahan.

Dan ketika Arcelia melangkah mendekat, Kristal itu bersinar. Bayangan keluar darinya, membentuk sosok tinggi berkerudung.

Bukan makhluk Astral yang tadi malam.

Sosok ini… lebih tua.

Lebih sadar.

“Pewaris Virellia,” suara itu menggema dalam ruang dan pikiran sekaligus.

Ravenor berdiri di depan Arcelia, melindungi. “Siapa kau?”

Sosok itu tidak menjawabnya. Tatapannya hanya pada Arcelia.

“Gerbang terbuka karena darahmu kembali aktif. Menara ini bukan segel biasa. Ini adalah penjara.”

Arcelia menahan napas. “Penjara untuk apa?”

“Untuk kebenaran yang disembunyikan oleh Dewan.”

Ravenor menegang.

“Lumin berdiri di atas reruntuhan dunia lama,” lanjut sosok itu. “Dan keluarga Virellia bukan sekadar pelindung.”

Simbol di tangan Arcelia terasa panas.

“Kau adalah garis terakhir penjaga gerbang antar-dunia.”

Detik itu juga, lantai bergetar.

Dari luar, terdengar suara teriakan dan dentuman.

Ravenor berbalik. “Tidak mungkin…”

Arcelia berlari ke pintu.

Di atas langit Lumin, retakan itu muncul lagi. Kali ini lebih besar. Dan bukan tiga bayangan yang turun, tapi puluhan. Sosok berkerudung di belakangnya berbicara terakhir kali sebelum memudar.

“Waktu memilihmu lebih cepat dari yang kau kira.”

Arcelia mengepalkan tangan.

Kota atau kebenaran?

Langit kembali terbelah.

Dan Lumin… akan menghadapi malam terpanjangnya.

Sirene kota meraung.

Bukan satu. Bukan dua.

Semua.

Langit Lumin benar-benar retak kali ini, garis hitam seperti kaca pecah membentang dari timur ke barat. Dari celah itu, bayangan turun satu per satu. Tidak terburu-buru. Seolah yakin tak ada yang bisa menghentikan mereka.

Arcelia berdiri di depan menara, napasnya memburu.

“Ada berapa?” tanyanya pelan.

Ravenor menghitung cepat. “Terlalu banyak untuk ditahan dua orang.”

“Ya, tapi tetap harus ditahan.”

Bayangan pertama mendarat tak jauh dari alun-alun. Tanah bergetar. Makhluk itu tidak berbentuk sempurna. Tubuhnya seperti asap padat, dengan lengan panjang dan ujung tajam seperti sabit. Ketika ia bergerak, terdengar suara krekkk seperti logam digesek batu.

Arcelia melompat lebih dulu.

“Aku tarik perhatian! Kau lindungi sisi utara!” teriaknya.

Ia mendarat tepat di depan makhluk itu. Tanpa ragu, ia mengangkat tangan, cahaya dan bayangan membentuk pedang tipis di genggamannya.

Makhluk itu menyerang.

SWIING!

Arcelia menunduk. Ujung sabitnya melewati rambutnya, menyisakan angin dingin. Ia membalas cepat

CLANG!

Benturan energi memercikkan kilat putih dan hitam.

Tangannya bergetar.

Kuat.

Makhluk kedua turun di belakangnya.

“Lia!” suara Ravenor terdengar.

Arcelia berputar, menendang tubuh makhluk pertama agar mundur. Bayangan itu terhuyung, tapi tidak jatuh. Tidak ada ekspresi. Tidak ada rasa sakit. Tidak hidup. Tapi juga tidak mati. Makhluk kedua menyerang dari samping.

DRAKK!

Arcelia sempat menahan dengan pedangnya, tapi tenaga dorongnya membuatnya terseret beberapa meter di atas aspal. Lututnya menghantam jalan.

Perih.

Ia mendesis pelan.

Bangun. Jangan lemah sekarang.

Dari kejauhan terdengar suara teriakan warga. Tangisan. Derap langkah orang-orang yang berlari mencari perlindungan. Jantung Arcelia berdetak lebih cepat.

Ini kotaku.

Ia berdiri lagi.

Simbol di pergelangan tangannya menyala lebih terang dari sebelumnya. Cahaya dan bayangan tidak lagi tipis, kini lebih tebal, lebih stabil.

Ravenor mendarat di sampingnya, napasnya juga berat. “Retakan itu terus membesar. Kalau tidak ditutup, yang turun akan lebih banyak.”

“Aku tahu.”

“Kau harus ke atas.”

Arcelia menatap langit. Ke atas… berarti langsung menuju sumber retakan. Berarti meninggalkan kota di bawah.

Tangannya mengepal.

Makhluk pertama menyerang lagi. Kali ini Arcelia tidak bertahan, ia maju.

CLASH!

Pedangnya menembus tubuh bayangan itu. Makhluk tersebut bergetar hebat sebelum pecah menjadi serpihan gelap yang menghilang seperti debu.

Arcelia tertegun sepersekian detik.

“Bisa dihancurkan,” gumamnya.

Ravenor mengangguk. “Fokus pada inti energinya.”

Makhluk kedua menyerbu.

Arcelia melompat tinggi, berputar di udara, lalu menghantamkan pedangnya lurus ke pusat tubuhnya.

BOOM!

Gelombang energi menyebar. Kaca jendela gedung sekitar retak. Makhluk itu lenyap.

Namun di langit… retakan masih terbuka. Dan bayangan-bayangan lain mulai turun lebih cepat.

Arcelia menoleh ke Ravenor. “Kalau aku naik, kau bisa tahan di bawah?”

Ravenor menatapnya tanpa ragu. “Selama kau butuh.”

Itu bukan janji kecil.

Itu janji yang bisa membuatnya terluka.

Arcelia menelan napas.

Kalau aku gagal, kota ini hancur. Kalau aku tinggal, retakan tidak akan tertutup. Langit bergemuruh. Suara dari menara tadi terngiang kembali.

Garis terakhir penjaga gerbang.

Ia mengangkat wajah.

“Oke,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Kita lakukan.”

Cahaya dan bayangan kembali membentuk sayap di punggungnya, kali ini lebih besar, lebih jelas.

Ravenor mundur satu langkah. “Jangan sampai terluka.”

Arcelia tersenyum tipis. “Itu bukan rencanaku.”

Ia melompat.

Tubuhnya melesat menembus udara malam, menuju retakan di langit Lumin. Semakin dekat, udara semakin berat. Tekanan menekan dadanya. Cahaya di pergelangan tangannya hampir menyilaukan.

Di dalam retakan itu…

Bukan hanya kegelapan.

Ada sesuatu yang menatap balik.

Dan ketika Arcelia akhirnya mencapai batas retakan, suara berat bergema dari dalamnya,,,,

“Pewaris Virellia… akhirnya kau datang.”

1
Anaya Barnes
siap kaka
makasih udah mampir🙏
mfi Pebrian
aku dah mampir yah.....cerita nya bagus.....tetap semangat.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....
Raine
jujur ceritanya bagus, tapi sedikit bosan untuk saya, narasi author di setiap bab selalu mengulang kalimat dengan arti yg sama, kayak udah baca tadi trus di baca ulang lagi dan lagi
mfi Pebrian: mampir kak di novel saya"Dialah sang pewaris"
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!