"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: IDENTITAS YANG TERBELAH
Udara dingin Alpen, Swiss, menusuk hingga ke tulang, namun suasana di dalam jet pribadi Adiguna jauh lebih membeku. Gwen duduk di kursi first class, matanya terpaku pada botol kecil berisi sampel darah yang baru saja diambil dari pembuluh vena Bintang. Di seberangnya, Elang tertunduk diam, sementara Bintang tertidur lelap di pangkuan Maya.
"Kenapa kau tidak bilang kalau kau pernah menikah dengan Maya?" suara Gwen memecah keheningan, setajam silet yang menyayat sutra.
Elang mendongak, matanya merah. "Kami tidak pernah menikah secara resmi, Gwen. Itu adalah pernikahan di bawah sumpah prajurit saat kami terjebak di zona perang Myanmar. Aku pikir dia sudah mati saat helikopter evakuasi diledakkan. Aku tidak tahu dia hamil!"
"Di bawah sumpah prajurit tetaplah sumpah, Elang!" Gwen berdiri, berjalan mendekati jendela jet. "Selama ini aku mengira aku adalah satu-satunya wanita dalam hidupmu. Ternyata, aku hanyalah bab kedua dari buku yang belum selesai kau baca."
Maya, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. "Gwen, aku tidak menginginkan hartamu. Aku juga tidak menginginkan Elang kembali. Aku hanya ingin Bintang selamat. Kau harus tahu... Bintang bukan anak biasa. Dia adalah alasan kenapa ibumu, Diana Adiguna, menciptakan Proyek Nemesis."
Gwen berbalik dengan cepat. "Apa maksudmu?"
"Bintang bukan dikandung secara alami," bisik Maya, air matanya jatuh. "Sepuluh tahun lalu, sebelum aku dikirim ke perbatasan, aku adalah subjek uji coba di laboratorium ibumu. Mereka menanamkan embrio yang sudah dimodifikasi secara genetik ke rahimku. Elang adalah donornya tanpa dia sadari, dan DNA-mu... DNA-mu juga ada di dalam darah Bintang."
Gwen merasa bumi yang ia injak runtuh seketika. "DNA-ku? Maksudmu... Bintang adalah anakku juga secara biologis?"
"Dia adalah hibrida, Gwen. Gabungan dari gen terbaik Adiguna dan gen tempur Elang. Dia adalah 'Senjata Hidup' yang diinginkan oleh The Hive sejak dulu," Maya menatap Bintang dengan tatapan ngeri. "Itulah sebabnya aku melarikan diri."
Klinik Privat Adiguna, Zurich.
Hendra menyambut mereka dengan pengamanan super ketat. Begitu mendarat, Bintang langsung dibawa ke ruang pemindaian genetik. Gwen menunggu di lorong yang sunyi, sementara Elang berdiri di sudut lain, dipisahkan oleh dinding tak kasat mata bernama rahasia masa lalu.
"Nona," Hendra mendekat dengan wajah sepucat kertas. Ia memegang tablet digital yang menampilkan struktur heliks DNA yang sangat rumit. "Hasilnya sudah keluar. Dan... ini jauh lebih buruk dari yang kita duga."
Gwen merampas tablet itu. Matanya membelalak. Grafik itu menunjukkan bahwa DNA Bintang 100% cocok dengan Elang, namun bagian DNA ibunya... tidak hanya cocok dengan Gwen, melainkan identik.
"Bagaimana bisa identik?" tanya Gwen dengan suara bergetar.
"Karena Anda dan Bintang berasal dari sumber yang sama, Nona," Hendra menelan ludah. "Tuan Arthur... dia baru saja mengirimkan file terenkripsi dari Jakarta. Nona, Anda harus melihat ini."
Gwen membuka file video tua yang tertanggal 25 tahun lalu. Di layar, tampak ibunya, Diana Adiguna, sedang berdiri di depan tabung inkubasi.
"Proyek Eva berhasil," suara Diana di video itu terdengar sangat dingin. "Embrio pertama telah berhasil dikloning dari sel somatikku sendiri. Aku akan menamakannya Gwen. Dia akan menjadi wadah sempurna bagi kecerdasan buatan Nemesis. Namun, kloning ini butuh pelindung alami. Aku akan menciptakan 'Adam'-nya dari garis keturunan pengawal terbaik kita."
Gwen menjatuhkan tablet itu hingga layarnya retak. Seluruh hidupnya... masa kecilnya, ingatannya tentang kasih sayang ibu, semuanya adalah kebohongan. Ia bukan anak kandung yang diinginkan; ia adalah produk laboratorium. Sebuah kloning.
"Aku... aku bukan manusia?" bisik Gwen, tubuhnya gemetar hebat.
"Gwen!" Elang berlari memeluknya, namun Gwen mendorongnya dengan kasar.
"Jangan sentuh aku! Kau tahu, kan?! Ayahmu dan ayahku... mereka semua bagian dari eksperimen gila ini! Kau dikondisikan untuk mencintaiku karena gen kita sudah diprogram untuk saling tarik-menarik!" Gwen berteriak histeris di lorong rumah sakit.
"Tidak, Gwen! Aku mencintaimu karena itu pilihanku, bukan karena program!" Elang mencoba meraih tangan Gwen lagi.
Di tengah kekacauan emosional itu, alarm rumah sakit meraung keras. Suara ledakan terdengar dari arah gerbang depan.
"Mereka di sini!" teriak Hendra.
Pintu lift terbuka, dan sesosok wanita muda dengan pakaian taktis berwarna perak masuk dengan langkah tenang. Wajahnya... adalah wajah Gwen. Identik, namun dengan mata yang berwarna biru elektrik hasil modifikasi.
"Halo, Kakak Kloningku," ucap wanita itu sambil memutar pisau di tangannya. "Perkenalkan, namaku Lili. Versi yang lebih baru, lebih kuat, dan tanpa cacat emosi sepertimu."
Lili Adiguna. Sang 'Gwen' yang sempurna yang selama ini disembunyikan oleh faksi Silver Hive.
"Kau..." Gwen menatap kembarannya dengan ngeri.
"Ibu mengirimku untuk menjemput Bintang," Lili tersenyum dingin. "Dan untuk melenyapkan produk gagal sepertimu. Adiguna tidak butuh dua ratu."
Lili bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Ia meluncur ke arah Gwen, namun Elang segera menghadangnya. Pertarungan antara Elang dan Lili terjadi di lorong sempit. Elang terkejut; gerakan Lili sangat mirip dengan gerakannya, seolah-olah wanita itu telah mempelajari setiap gaya bertarungnya.
"Jangan lawan aku, Kakak Ipar," Lili menendang dada Elang hingga pria itu terpental menabrak dinding kaca. "Aku punya semua data tempurmu di otakku."
Gwen melihat pisaunya yang terjatuh. Ia memungutnya, kemarahannya kini meluap melampaui rasa takutnya. Jika dia memang sebuah kloning, maka dia akan menjadi kloning yang paling mematikan bagi penciptanya.
"Kau ingin Bintang? Kau ingin posisiku?" Gwen berdiri tegak, auranya berubah menjadi sangat gelap. "Ambil jika kau bisa, Adik kecil."
Gwen menerjang Lili. Dua wanita dengan wajah yang sama bertarung dengan brutal. Darah yang sama menetes di lantai yang sama. Gwen bertarung dengan kemarahan manusia, sementara Lili bertarung dengan presisi mesin.
Di saat yang sama, Maya mencoba membawa Bintang lari lewat pintu belakang, namun ia dihadang oleh bayangan besar. Arkas kembali muncul, kali ini dengan baju zirah tempur lengkap.
"Anak itu milik The Hive!" Arkas mencengkeram leher Maya.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Bintang, yang tadinya ketakutan, tiba-tiba membuka matanya. Matanya berubah menjadi merah menyala—warna yang sama dengan chip Nemesis.
"Lepaskan ibuku," suara Bintang berubah menjadi berat, bukan suara anak kecil.
Sebuah gelombang kejut elektromagnetik keluar dari tubuh Bintang, membuat seluruh alat elektronik di rumah sakit itu meledak. Arkas terlempar sepuluh meter ke belakang. Bintang telah "bangun". Proyek Nemesis 2.0 yang tertanam di nadinya telah aktif secara prematur.
Gwen dan Lili terhenti dari pertarungan mereka, menatap ke arah Bintang yang kini melayang sedikit dari lantai, dikelilingi oleh percikan listrik biru.
"Bintang!" teriak Gwen dan Elang bersamaan.
Lili tertawa terbahak-bahak di tengah kekacauan. "Lihat itu! Inilah kiamat yang Ibu inginkan! Anak itu bukan lagi manusia, dia adalah kunci pemusnah massal!"
Gwen menatap Elang. Di tengah kehancuran identitasnya, ia menyadari satu hal: dia harus menyelamatkan anak itu, bukan karena DNA, tapi karena Bintang adalah korban dari ambisi ibunya, sama seperti dirinya.
"Elang! Kita harus menenangkan Bintang sebelum dia menghancurkan seluruh kota ini!" teriak Gwen.
Gwen berlari menuju Bintang, mengabaikan serangan Lili. Ia memeluk anak kecil itu di tengah badai listrik. "Bintang, dengarkan aku... ini Ibu... Ibu Gwen..."
Sentuhan Gwen memberikan efek aneh. Karena DNA mereka identik, sistem Nemesis dalam tubuh Bintang mengenali Gwen sebagai "Administrator Utama". Aliran listrik mulai mereda. Bintang jatuh pingsan di pelukan Gwen.
Lili yang tidak terima melihat rencananya gagal, mencoba menembak Gwen dari belakang, namun Elang lebih cepat. Elang menusukkan pisaunya ke bahu Lili, memaksa wanita itu mundur ke arah helikopter yang sudah menunggu di balkon.
"Ini belum berakhir, Gwen!" teriak Lili saat helikopter itu terbang menjauh. "Ibu tidak akan berhenti sampai Nemesis menguasai dunia!"
Gwen mendekap Bintang erat-erat. Ia menatap Elang yang berdarah di depannya. Mereka berdua adalah monster di mata dunia, namun di lorong rumah sakit yang hancur itu, mereka menemukan tujuan baru.
"Kita akan pergi ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh satelit mana pun," ucap Gwen dingin. "Kita akan menemui Ayah... Arthur Adiguna. Dia punya banyak hal yang harus dijelaskan tentang laboratorium bawah tanah di Tibet."
Gwen berdiri, menggendong Bintang. Ia menatap bayangannya di pecahan kaca—wajah seorang kloning yang kini siap menantang penciptanya.
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia