NovelToon NovelToon
Satu Notifikasi Seribu Luka

Satu Notifikasi Seribu Luka

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.

Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.

Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7

Baru saja aku hendak menjawab ajakan Arkan, sebuah bayangan besar tiba-tiba menutupi cahaya matahari yang jatuh ke meja beton kami. Sebuah tangan kekar mendarat telak di bahu Arkan, membuat cowok itu hampir tersedak nasi goreng asinnnya.

"Wah, pantesan dicariin di kantin nggak ada. Ternyata lagi piknik berduaan di sini," suara berat yang sangat kukenal itu menggelegar.

Kak Pandu.

Tanpa diundang, kakakku itu langsung menarik kursi kayu di seberang kami dan duduk dengan santai. Ia merampas sendok plastik cadangan dari tangan Arkan dan tanpa berdosa menciduk nasi goreng dari kotak makan biru itu.

"Nasi goreng Tante siska ya? Enak nih, tapi tumben telurnya bentuknya kayak... apa nih? Hati yang habis kena tabrak lari?" ejek Kak Pandu sambil mengunyah dengan rakus.

Arkan mendengus, berusaha merebut kembali kotak makannya. "Heh, curut! Itu jatah gue sama Nara. Lo kan udah makan bakso tadi sama anak-anak!"

"Pelit amat lo sama calon ipar," sahut Kak Pandu santai, lalu melirikku dengan tatapan menyelidik yang menyebalkan. "Gimana, Ra? Arkan nggak gigit, kan? Kalau dia macem-macem, bilang gue. Biar gue skors dia dari jabatan Kapten Basket."

Aku memutar bola mata, rasa hangat di pipiku perlahan memudar digantikan rasa jengkel yang familiar. "Kak, jangan malu-maluin deh. Balik ke kantin sana."

"Dih, diusir. Oke, oke," Kak Pandu mengangkat kedua tangannya seolah menyerah, tapi matanya beralih ke Arkan dengan kilatan yang lebih serius. "Ar, jangan bawa adek gue pulang telat. Nyokap nanyain tadi, katanya lo mau jemput dia terus ya?"

Arkan menegakkan duduknya, auranya berubah sedikit lebih formal di depan Kak Pandu. "Iya, Ndu. Gue udah minta izin Tante. Tenang aja, Nara aman sama gue."

"Aman, aman. Awas lo ya kalau dia nangis gara-gara lo," Kak Pandu berdiri, menepuk puncak kepalaku dengan kasar sampai rambutku berantakan lagi. "Gue balik ke kelas dulu. Jangan kelamaan pacarannya, bel masuk bunyi dua menit lagi!"

"KITA NGGAK PACARAN!" teriakku berbarengan dengan Arkan.

Kak Pandu hanya tertawa terbahak-bahak sambil berlari menjauh, meninggalkan kami dalam keheningan yang mendadak canggung. Suasana romantis—atau apa pun itu—yang tadi sempat terbangun, hancur seketika berkat interupsi Kak Pandu.

Arkan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Abang lo emang perusak suasana paling handal, Ra."

"Emang. Dari dulu," jawabku lirih, sambil mulai merapikan sisa makanan.

Tepat saat itu, bel masuk berbunyi nyaring. Arkan berdiri, lalu mensejajarkan langkahnya denganku saat kami berjalan kembali ke arah koridor kelas.

"Jadi... soal tempat itu," bisik Arkan pelan, memastikan tidak ada telinga lain yang mendengar. "Gimana? Kak Pandu nggak bakal tahu kalau kita nggak kasih tahu."

Aku menatap Arkan sebentar. Ada binar penuh rahasia di matanya yang membuatku penasaran setengah mati. "Oke. Tapi jam lima sore gue harus sudah sampai rumah."

Arkan tersenyum kemenangan. "Siap, Tuan Putri. Gue jemput di gerbang belakang biar nggak ketemu intelijen macam Pandu."

Deal," jawabku singkat sebelum akhirnya memisahkan diri di persimpangan koridor menuju kelas masing-masing.

Sepanjang pelajaran Sejarah, aku sama sekali tidak bisa fokus. Mataku menatap papan tulis, tapi pikiranku sudah melayang ke gerbang belakang sekolah. Apa yang mau Arkan tunjukkan? Selama ini, aku hanya tahu Arkan sebagai kapten basket yang populer dan berisik. Apa dia punya sisi lain yang sengaja disembunyikan dari dunia?

1
Sutrisno Sutrisno
puitis banget, jadi makin penasaran
Sutrisno Sutrisno
semangat
Sutrisno Sutrisno
semangat Arkhan, semoga berhasil
falea sezi
lanjut donk g sabar liat arkan nikah ma nara
falea sezi
arkan aja goblok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!