Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persaingan di Atas Meja
Pagi itu, suasana di kantor pusat Waren Group terasa lebih sibuk dari biasanya. Luna melangkah menyusuri lorong dengan setelan blazer formal berwarna krem, membawa map berisi sketsa desain interior untuk proyek hotel terbaru milik keluarga Waren. Ini adalah pertama kalinya ia bekerja secara profesional di bawah pengawasan langsung Isaac sebagai CEO.
Saat ia memasuki ruang rapat, Isaac sudah duduk di kepala meja, dikelilingi oleh beberapa staf senior. Pria itu tampak sangat berwibawa dengan setelan jas abu-abu gelap, kacamata bertengger di hidung mancungnya, menambah kesan serius yang mengintimidasi.
"Kau terlambat dua menit, Luna," ujar Isaac tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya.
Luna menghela napas, mencoba menekan kekesalannya. "Aku harus mengambil sampel material di gudang terlebih dahulu, Pak Isaac. Bisakah kita mulai?"
Isaac mendongak, memberikan isyarat agar Luna segera melakukan presentasi. Luna pun mulai menjelaskan konsep desainnya yang mengusung tema modern-classic. Namun, baru setengah jalan, Isaac mengangkat tangannya, menginstruksikan Luna untuk berhenti.
"Konsep ini terlalu lembut, Luna. Aku butuh sesuatu yang lebih tegas, lebih mencerminkan kekuatan Waren Group. Kau mendesain hotel, bukan rumah boneka," kritik Isaac tajam di depan semua orang.
Wajah Luna memanas. "Lembut bukan berarti lemah, Isaac. Desain ini memberikan kenyamanan bagi tamu. Bukankah itu poin utama dari sebuah hotel?"
"Kenyamanan tanpa karakter adalah kekosongan," balas Isaac dingin. Ia berdiri dan melangkah menghampiri papan presentasi Luna. "Aku ingin kau mengganti palet warnanya. Gunakan warna-warna yang lebih berani. Kau terlalu bermain aman, sama seperti caramu menghadapi perasaanmu."
Para staf di ruangan itu mendadak terdiam, merasakan ada ketegangan personal yang terselip dalam perdebatan profesional tersebut. Luna mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Aku sedang membicarakan desain, bukan hal lain. Jika kau tidak suka, kau bisa mencari desainer lain!" tantang Luna dengan nada yang mulai meninggi.
Isaac mendekat, mencondongkan tubuhnya ke arah Luna hingga aroma parfumnya menyelimuti indra penciuman Luna. "Aku tidak bisa mencari desainer lain, Luna. Kau tahu kenapa? Karena aku hanya memercayai matamu untuk membangun masa depan perusahaan ini. Sekarang, perbaiki ini sebelum sore. Aku tunggu di ruanganku."
Isaac kemudian membubarkan rapat dengan lambaian tangan, meninggalkan Luna yang mematung dengan amarah yang bercampur dengan rasa gengsi yang terluka. Ia tahu, Isaac sengaja menekannya bukan karena desainnya buruk, melainkan karena pria itu gemar melihatnya meradang.
Sore harinya, Luna berdiri di depan pintu ruangan Isaac dengan perasaan yang bergejolak. Ia membawa gulungan kertas desain yang baru saja ia revisi dengan setengah hati. Setelah mengetuk pintu dan mendengar suara bariton Isaac yang mempersilakannya masuk, ia melangkah dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan.
Isaac tampak sedang sibuk menandatangani berkas, namun ia segera meletakkan penanya saat melihat Luna. "Kau cepat juga. Aku kira kau akan butuh waktu seharian untuk menangisi kritikanku tadi."
"Aku tidak punya waktu untuk menangis, Isaac. Aku punya pekerjaan yang harus diselesaikan," balas Luna ketus sembari membentangkan kertas desain di meja besar Isaac. "Ini revisinya. Aku sudah menambahkan aksen metalik dan warna yang lebih gelap seperti yang kau inginkan. Puas?"
Isaac berdiri, memerhatikan desain itu dengan saksama. Alih-alih melihat kertasnya, matanya justru tertuju pada jari-jari Luna yang sedikit gemetar karena menahan kesal. "Kau masih menggunakan material kayu di bagian lobi? Aku sudah bilang aku ingin kesan yang lebih dingin."
"Kayu memberikan kehangatan, Isaac! Jika kau membuat segalanya menjadi dingin dan kaku, tamu akan merasa seperti sedang berada di dalam penjara mewah, bukan hotel!" Luna kehilangan kesabarannya. Ia memutar meja dan berdiri tepat di depan Isaac. "Kenapa kau selalu harus mendebat setiap keputusanku? Apakah ini caramu membalas dendam atas masa lalu kita?"
Isaac terdiam sejenak. Ia melangkah maju, memaksa Luna mundur hingga punggungnya membentur tepian meja kerja yang keras. Isaac meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Luna, mengurung wanita itu dalam jarak yang sangat intim.
"Kau pikir aku serendah itu, Luna? Menggunakan pekerjaan untuk membalas dendam?" bisik Isaac, suaranya kini terdengar parau. "Aku mengkritikmu karena aku tahu kau bisa melakukan yang lebih baik. Kau selalu perfeksionis, Luna. Tapi sejak kita bertemu lagi, fokusmu terpecah. Kau terlalu sibuk membenciku hingga kau lupa bagaimana cara menjadi dirimu yang hebat."
Luna mendongak, matanya bertemu dengan mata kelabu Isaac yang kini tampak begitu tajam namun penuh dengan kerinduan yang tersembunyi. "Bagaimana aku bisa fokus jika setiap kali aku melihatmu, aku hanya teringat betapa mudahnya kau meninggalkanku dulu?"
Suasana di ruangan itu mendadak sunyi. Isaac tidak membalas. Ia hanya menatap Luna dengan pandangan yang dalam, seolah sedang menimbang-nimbang untuk mengatakan sesuatu yang jujur. Perlahan, tangan Isaac terangkat, jemarinya hampir menyentuh pipi Luna yang merona.
"Luna, aku—"
Belum sempat Isaac menyelesaikan kalimatnya, pintu ruangan terbuka dengan kasar. Seorang sekretaris masuk dengan wajah panik. "Maaf, Pak Isaac, tapi Tuan Besar Waren sedang menuju ke sini untuk meninjau perkembangan proyek."
Isaac segera menarik dirinya kembali, memperbaiki posisi jasnya dengan gerakan cepat yang canggung. Luna juga segera merapikan blazernya, mencoba mengatur napasnya yang memburu.
"Simpan desain ini, Luna. Kita akan membahasnya lagi nanti malam... di rumah," ujar Isaac dengan nada formal yang dipaksakan.
Luna hanya bisa mengangguk pelan sembari menggulung kembali kertas-kertasnya. Ia segera keluar dari ruangan itu sebelum ayah Isaac melihat kekacauan di wajahnya. Namun, di dalam hatinya, Luna menyadari satu hal: pertahanannya mulai retak, dan Isaac tahu persis di mana titik terlemahnya.