NovelToon NovelToon
Kegilaan Sang Immortal

Kegilaan Sang Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Ruang Ajaib
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Chizella

Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.

Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.

Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Kenapa aku tidak menyesal?

Di pagi hari, matahari mulai terbit.

Cahayanya yang hangat masuk dari jendela, menembus celah-celah tirai bambu, dan menerangi ruang tamu yang masih berantakan sisa ledakan spiritual semalam.

Debu-debu beterbangan di udara, terlihat jelas di bawah sinar keemasan pagi.

Qing Yi masih belum pulang. Ia masih sibuk dengan urusannya sendiri, mungkin masih berlatih, atau mungkin pergi ke suatu tempat tanpa memberi tahu.

Rumah itu terasa sunyi, hanya ada suara jangkrik yang mulai meredam dan suara burung pipit yang berkicau di atap.

Sementara itu di dalam ruang tamu, Liu Chiyang perlahan bangun.

Ia mengusap-usap matanya sejenak, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih berantakan.

Kepalanya sedikit pusing, tubuhnya terasa sakit, seperti baru saja selesai bertempur selama tiga hari tiga malam tanpa istirahat.

"Apa yang terjadi..."

Beberapa saat setelahnya, ia menyadari sesuatu.

Dirinya saat ini sedang telanjang.

Handuk yang semalam melilit tubuhnya kini entah berada di mana. Kain tipis itu tidak terlihat di sekitarnya.

Wajah Liu Chiyang langsung memerah.

Tangannya spontan menutupi tubuhnya, satu tangan di dada, satu tangan di pangkuan, berusaha menutupi apa pun yang bisa ditutupi. Jantungnya berdegup kencang, tidak karuan.

"Mustahil..."

Bisiknya pelan, hampir tidak percaya dengan apa yang sedang ia alami.

Perlahan, ia menggerakkan kepalanya ke samping.

Di sebelahnya, Wang Chan masih tertidur. Pakaian bagian atasnya entah di mana, hanya celana panjang yang masih melekat di tubuhnya.

Dada bidangnya naik turun perlahan mengikuti napasnya yang teratur.

Ada bekas goresan merah di punggungnya, mungkin karena terbentur dinding atau karena hal lain yang tidak ingin ia ingat.

Liu Chiyang menelan ludah. Bukan karena takut. Tapi karena sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

'Jangan-jangan tadi malam... kami...'

Pikirannya berhenti di situ. Ia tidak bisa melanjutkan. Terlalu memalukan. Terlalu kacau.

Wang Chan adalah adik angkatnya, setidaknya itu yang selama ini ia rasakan.

Tapi sekarang, setelah semalam, batas itu terasa kabur. Entah apakah masih ada atau sudah hilang sama sekali.

Liu Chiyang menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Ia kemudian menyadari sesuatu yang aneh.

Kekuatan spiritual di tubuhnya sedikit berubah. Tidak seperti biasanya. Lebih padat. Lebih kuat. Lebih... hidup.

Cahaya samar menyelimuti tangannya ketika ia mengangkat telapak tangan. Biru keemasan, lembut, tapi terasa berat. Ranah yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.

"Ranah Nirvana tahap menengah..."

Ia hampir tidak percaya. Semalam ia baru saja menerobos ke Ranah Nirvana, dan itu sudah mengejutkan.

Tapi sekarang, hanya dalam semalam, ia sudah berada di tahap menengah? Itu tidak masuk akal.

Biasanya butuh waktu bertahun-tahun, untuk naik satu tahap di ranah setinggi Nirvana.

Liu Chiyang tidak tahu apakah kekuatannya meningkat sebanyak itu karena pil yang diberikan Wang Chan, atau karena... hal lain yang terjadi tadi malam.

Kultivasi ganda, begitu para kultivator menyebutnya. Metode kuno yang memungkinkan dua kultivator meningkat secara bersamaan dengan menyatukan energi yin dan yang.

Tapi itu berarti... ia dan Wang Chan benar-benar...

Liu Chiyang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Wajahnya terasa panas, seperti digosok dengan cabai. Ia sangat malu.

Ia telah berhubungan dengan Wang Chan, pemuda yang sudah ia anggap seperti adik sendiri.

Pemuda yang membantunya. Pemuda yang selalu ia goda tapi tidak pernah ia bayangkan akan berakhir seperti ini.

"Aku benar-benar buruk."

Bisiknya pelan, di sela-sela jarinya. Matanya terasa perih, tapi tidak ada air mata yang keluar.

Hanya rasa malu yang menggunung, bercampur dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak ia kenali.

Mata Wang Chan perlahan terbuka.

Pandangannya masih buram karena baru bangun. Ia berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang masuk.

Tubuhnya terasa sakit di sana-sini, terutama di punggung dan dada. T

api anehnya, ada rasa segar yang menyertainya, seperti setelah berlatih keras dan berhasil menerobos batas.

Ia perlahan bangun, duduk di lantai bambu yang dingin. Pakaian bagian atasnya tidak ada, hanya celana panjang yang masih melekat.

Tubuhnya yang tanpa pakaian terlihat cukup bagus, tidak begitu berotot seperti kuli, tapi tegap dan proporsional.

Liu Chiyang menelan ludah lagi saat melihatnya. Bukan sengaja, tapi matanya seperti tidak bisa berpaling.

Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, ke dinding yang retak, ke lantai yang berdebu, ke mana pun asal tidak ke arah Wang Chan.

Suasana benar-benar canggung.

Keheningan yang pekat menyelimuti ruangan itu. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang bergerak.

Hanya napas mereka berdua yang terdengar, tidak beraturan, saling menyadari keberadaan satu sama lain.

Wang Chan menggaruk-garuk kepalanya yang masih berantakan. Rambutnya kusut, ada beberapa helai yang berdiri tidak karuan.

Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Kata-kata terasa sulit keluar.

"Kak Liu..."

Suaranya pelan, hampir berbisik.

"Jangan bicara lagi. Aku tahu."

Liu Chiyang memotongnya cepat. Bukan karena marah, tapi karena ia belum siap mendengar apa pun yang akan dikatakan Wang Chan.

Mungkin permintaan maaf. Mungkin penjelasan. Mungkin juga pengakuan yang tidak ia siapkan hatinya untuk menerima.

Wang Chan menghela napas.

Ia berdiri, tubuhnya sempoyongan sebentar karena kakinya sempat kesemutan, lalu berjalan ke sudut di mana handuk Liu Chiyang jatuh semalam.

Handuk putih tipis itu kini kusut dan sedikit basah, tapi masih layak pakai.

Ia mengambilnya, lalu kembali mendekati Liu Chiyang dari belakang.

Dengan hati-hati, ia menutupkan handuk itu di pundak wanita itu, merapikannya hingga menutupi tubuh Liu Chiyang yang masih telanjang.

Liu Chiyang terdiam. Tangannya yang tadinya menutupi tubuhnya perlahan turun, membiarkan Wang Chan menyelesaikan apa yang ia lakukan.

Ada kehangatan di punggungnya, kehangatan yang tidak hanya berasal dari handuk.

"Maaf. Ini salahku."

Wang Chan berjalan kembali ke depan Liu Chiyang, lalu duduk berlutut di hadapannya.

Matanya menatap lurus ke mata Liu Chiyang.

"Aku akan bertanggung jawab untuk itu."

Liu Chiyang sedikit menoleh. Matanya bertemu dengan mata Wang Chan.

Ada kesungguhan di sana, tidak ada keraguan, tidak ada kebohongan.

"Kau serius?"

Wang Chan mengangguk. Satu anggukan yang tegas.

"Entah apa yang terjadi, tapi kultivasiku meningkat dengan cepat. Aku sudah mencapai Ranah Transformasi Roh."

Liu Chiyang terkejut. Matanya membuka lebar. Ia mengamati Wang Chan lebih saksama, merasakan aura spiritual yang terpancar dari tubuh pemuda itu.

Benar. Wang Chan tidak berbohong. Aura itu jelas sekali, Ranah Transformasi Roh. Bukan tahap awal, tapi sudah mendekati tahap menengah.

Dalam satu malam, tanpa pil, tanpa latihan keras, hanya karena... hubungan itu.

Wang Chan sendiri tahu ini sangat memalukan. Menerobos ranah saat berhubungan seks, itu kedengarannya seperti lelucon kotor dari novel-novel murahan.

Tapi fakta tetap fakta. Tubuhnya tidak berbohong.

Kekuatannya meningkat secara signifikan, dan ia tahu persis penyebabnya.

Wang Chan kemudian berdiri. Tubuhnya masih terasa pegal, tapi ia memaksakan diri untuk bergerak.

Ia meraih pakaiannya yang tergeletak di sudut ruangan, kemeja abu-abu lusuh yang sudah basah oleh keringat dan debu, lalu mengenakannya perlahan.

"Aku akan pergi sebentar."

Liu Chiyang menatapnya.

"Kau mau ke mana?"

Wang Chan hanya tersenyum.

Senyum yang tipis, senyum yang biasa ia tunjukkan ketika sedang memikirkan sesuatu yang tidak ingin ia bagikan dengan orang lain.

"Menemui seseorang."

Liu Chiyang tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk pelan, lalu menunduk, menatap tangannya sendiri yang masih gemetar.

Wang Chan melangkah menuju pintu. Tepat sebelum keluar, ia berhenti sejenak, setengah menoleh.

"Kak Liu."

"Ya?"

"Terima kasih untuk semalam."

Liu Chiyang tidak menjawab. Wajahnya kembali memerah, dan ia membuang muka ke arah lain.

Wang Chan tersenyum lagi, lalu melangkah keluar. Pintu geser kayu ditutup di belakangnya dengan bunyi pelan.

Matahari pagi sudah semakin tinggi. Cahayanya hangat, menyilaukan.

Wang Chan berjalan menyusuri jalan setapak di depan rumah, meninggalkan Liu Chiyang yang masih duduk termangu di ruang tamu.

Di dalam hatinya, ada banyak hal yang berantakan. Tanggung jawab pada Liu Chiyang. Perasaan Qing Yi. Tawaran dari Nuan Shuang.

Tapi untuk saat ini, ada satu hal yang harus ia lakukan.

Menemui Nuan Shuang.

Langkahnya semakin cepat, meninggalkan rumah di belakangnya.

Sementara di dalam rumah, Liu Chiyang masih duduk diam di lantai, handuk putih melilit tubuhnya, memandangi pintu yang baru saja ditutup oleh Wang Chan.

"Aku yang lebih tua..." bisiknya pelan. "Harusnya aku yang lebih dewasa."

Ia menunduk, menatap lantai.

"Tapi kenapa rasanya... aku tidak menyesal?"

Tidak ada yang menjawab.

Hanya sinar matahari pagi yang terus masuk, hangat, diam-diam menyaksikan.

1
yayat
wah2 baru belajar sebntr tp sudah nunjukin perubhn besar berarti harus swring kultivasi ganda ni sama ketiga wanitanya biar cept ningkt lg ahaaay
yayat: pangilan author penulis aq biasa nyebutnya ator
total 5 replies
syarif ibrahim
kayaknya bakalan kalah wang Chan nih.... /Frown//Grimace//Cry/
syarif ibrahim
terlalu cepat ya... /Determined/🤭🙏
yayat
akan kn wang chen menang n menjadi musuh keluarga wen
Cecilia: ehehe, ikuti terus kisahnya kak
total 1 replies
yayat
wah adenya mlh belain wang chen ni suka sepeetinya
yayat
ada yg cemburu ni kayanya
Windhana Binar
Awal yg bagus Thor 👍👍👍👍
Cecilia: iyeyy
total 1 replies
yayat
yg 3 blm diberesin dah nambh lg ja ni penjhat kelamin ahaaay
yayat
wang chen jdi golongn hitam donk nantinya karna belajar ilmu iblis langit
yayat: boleh kita liat apa makin seru or mlh jauh dari expetasi
total 4 replies
yayat
jadi golongn hitam donk wang chen
Swushe
suka bangett mcnya, lagi males? ya kabur. ditantangin ya serius. asik banget lagi cara ngomongnya yang kadang ngawur wkwk
Swushe
Liu Chiyang >>>>>>> semua cewek. Mana ada guru sekelas dia? Cantik, anggun, strong, trus ketahuan coly sama muridnya sendiri 🤣🤣🤣 aku ngakak campur malu bacanya. Tapi justru itu bikin karakternya hidup.
yayat
wah wah 3 wanita ni sepeetinyw
yayat
pilnya campur obat perangsang ni
yayat
wah rada beda ya penyebutan ranahnya dengn yg lain2 lanjut
Cecilia: ehehe, nyoba ngambil dari TOHG sama my senior brother
total 1 replies
yayat
tingkatkn terus kekuatannya biar bisa melindungi yg disayang
yayat
lanjutlah sampai tamat ya
yayat
lari bersama susah bersama latihan bersama n hidup bersama asal jngn salh 1nya peegi jd ga seru nanti kurang greget
yayat
baru diawal alurnya dah alus mengalir ga ribet ga bikin mikir bacanya moga konsisten n terus jd lbh baik n bikin pembaca betah
Cecilia: siappp kak
total 1 replies
Mommy Chen Xi
Suka banget sama tipe MC gini. Bukan sok suci, bukan pahlawan yang rela mati buat orang lain. Pas desanya diserang, dia milih ninggalin yang lain. Brutal sih, tapi logis. Dia sadar diri lemah, makanya lari dulu, hidup dulu. Utama kan diri sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!