NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB VIII

  Sudah genap satu bulan lamanya Luna terbaring tak sadarkan diri, tubuhnya diam tak bergerak seolah jiwanya telah pergi meninggalkan raga itu. Hingga pada suatu pagi, kelopak matanya perlahan terbuka. Pandangannya masih kabur, namun seketika kesadarannya kembali utuh, ia bangkit dengan gerakan mendadak dan kasar, seolah-olah sedang berada di sarang musuh. Ia mengamati sekeliling dengan waspada, lalu berjalan terhuyung-huyung keluar dari kamar itu, berniat mencari jalan keluar dan segera pergi dari tempat asing itu.

Di halaman, An Ran sedang sibuk menjemur pakaian. Mendengar langkah kaki, ia menoleh dan wajahnya seketika bersinar lega melihat sosok yang selama ini ia rawat akhirnya sadar. Ia segera menghampiri dengan langkah cepat.

“Kau sudah sadar… syukurlah,” ucap An Ran lembut. “Kalau boleh tahu, siapa namamu? Aku An Ran. Kau sudah terbaring tak sadar selama satu bulan penuh, aku sampai takut sesuatu yang buruk akan terjadi padamu. Ayo duduk dulu, tubuhmu masih sangat lemah.”

An Ran mengulurkan tangan hendak menopang lengan Luna, namun dengan kasar wanita itu menepisnya hingga tangan An Ran terhempas ke samping. Wajah Luna sedingin biasa, tanpa sedikit pun rasa terima kasih atau kehangatan.

“Tidak perlu bersikap baik padaku. Aku tidak membutuhkan belas kasihan siapa pun, dan aku tidak butuh bantuanmu. Sekarang aku akan pergi dari sini,” ucapnya tajam. Namun langkahnya terhenti sejenak, ia membuang muka dan berkata dengan nada datar, dingin, dan tanpa perasaan: “Terima kasih karena sudah merawat ku.”

Baru saja ia hendak melangkah melewati pintu halaman, tiba-tiba sosok kecil Lulu muncul dari arah berlawanan. Begitu mata anak itu bertemu dengan wajah Luna, raut ketakutan langsung memenuhi wajah mungilnya. Ia gemetar hebat, lalu secepatnya berlari menuju An Ran dengan ketakutan.

Melihat itu, sorot mata Luna berubah tajam dan mengerikan. Tanpa berpikir panjang, ia dengan cepat menangkap tubuh anak kecil itu dengan niat buruk, tangannya terulur hendak mencekik leher anak kecil itu.

“Jangan sentuh dia!”

An Ran bereaksi secepat kilat, ia menolak tubuh Luna sekuat tenaga hingga wanita itu mundur terhuyung. Wajah An Ran yang biasanya lembut kini merah padam menahan amarah dan kekecewaan yang mendalam.

“Kau masih berniat membunuhnya meski sudah diselamatkan? Benar kata Kakak… seharusnya aku tidak pernah menolongmu sama sekali! Kau memang orang yang sama sekali tak punya hati nurani!” bentak An Ran dengan suara bergetar.

“Kakak?” tanya Luna, alisnya terangkat penuh rasa ingin tahu dan nada mengejek terselip di sana.

Belum sempat An Ran menjawab, sosok Mu Chen tiba-tiba muncul. Dengan gerakan cepat dan tanpa ragu, ia mencabut pedangnya dan ujung tajam besi itu kini menempel tepat di leher Luna, hingga membuat goresan kecil disana.

Namun Luna sama sekali tidak takut. Ia malah menatap Mu Chen dengan pandangan sinis, penuh tantangan, dan senyum miring yang dingin terukir di bibirnya.

“Ternyata kaulah kakak dari wanita ini,” ucap Luna pelan, lalu tertawa kecil yang terdengar sangat menyebalkan. “Wah, dunia ini ternyata benar-benar sempit. Kenapa aku selalu saja harus bertemu dengan mu yang sangat mengganggu ini?”

“Jangan banyak bicara wanita Iblis!” bentak Mu Chen, matanya menyala penuh amarah. “Sekarang aku bisa langsung mengakhiri nyawamu di sini. Kau mengerti itu?”

Luna malah makin menyeringai, tak gentar sedikit pun meski nyawanya ada di ujung pedang. “Lihatlah… yang satu ingin membunuhku dengan kebencian, tapi yang satu lagi malah mati-matian menyelamatkan dan merawatku,” katanya sambil menoleh menatap An Ran dengan tatapan tajam. “Nona baik hati, sebaiknya kau biarkan aku mati saja waktu itu. Kenapa kau harus repot-repot menyelamatkan Iblis sepertiku? Sekarang kau lihat sendiri, hasilnya sama sekali tak ada gunanya.”

Mu Chen makin marah dan hendak menekan pedangnya lebih dalam, namun An Ran dengan sigap menepis tangan kakaknya itu hingga pedang sedikit menjauh.

“Kak! Cukup!” sergah An Ran tegas. “Lihatlah, Lulu masih ada di sini! Jangan biarkan dia melihat hal yang mengerikan ini!”

An Ran segera memeluk dan membawa Lulu masuk ke dalam rumah, meninggalkan Luna dan Mu Chen berdua saja di halaman yang kini terasa tegang dan sunyi.

Mu Chen menatap tajam wanita di hadapannya, perlahan ia menurunkan pedangnya namun nadanya tetap mengancam dan tegas.

“Aku akan membiarkanmu pergi hidup-hidup hari ini, semata-mata karena permintaan adikku yang bodoh itu. Tapi ingat baik-baik kata-kataku ini, jika aku melihatmu lagi terlibat dalam perbuatan jahat, merampok, atau menyakiti orang tak berdosa… aku tak akan ragu sedetik pun untuk langsung memenggal kepalamu sendiri. Ingat itu!”

Luna hanya menyeringai sinis, menatapnya dengan pandangan meremehkan, lalu berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebagai balasan.

Kepergiannya yang dingin dan angkuh itu membuat Mu Chen semakin menggeram kesal, tangannya mengepal erat menahan emosi yang meluap, berharap tak akan pernah lagi melihat wajah wanita berhati batu itu seumur hidupnya.

Luna melangkah menjauh dari rumah itu dengan langkah yang masih terasa berat dan sedikit sakit, namun ia tak mau berhenti sedikit pun. Di dalam benaknya, hanya ada satu tujuan, yakni pergi ke tempat persembunyian rahasia, tempat yang hanya diketahui oleh dirinya, ayah angkatnya, dan kedua pamannya. Di sanalah selama bertahun-tahun mereka menyimpan seluruh harta rampasan, emas, permata, dan barang berharga hasil dari segala perbuatan jahat yang telah mereka lakukan. Bagi Luna, itulah satu-satunya hal yang tersisa dan menjadi miliknya sepenuhnya sekarang.

  Sementara itu, di dalam rumah, An Ran masih sibuk menenangkan Lulu yang tubuhnya masih gemetar hebat karena ketakutan. An Ran memeluknya erat, membisikkan kata-kata penenangan, namun anak kecil itu masih terus menangis dan menenggelamkan wajahnya di dada An Ran, takut jika wanita yang mengerikan itu akan kembali datang.

Tak lama kemudian Mu Chen masuk, ia segera menggendong tubuh mungil Lulu ke dalam pelukannya, mengusap punggung dan rambut halus anak itu dengan lembut, tatapan tajam dan penuh amarah yang tadi ada di wajahnya kini seketika lenyap, berganti dengan kelembutan yang luar biasa.

“Sudah, Lulu sayang… jangan takut lagi ya. Wanita jahat itu sudah pergi jauh, dia tak akan kembali lagi ke sini. Di sini aman, ada Kakak dan Kak An Ran yang akan selalu menjagamu, tak akan ada yang menyakiti Lulu,” ucapnya pelan dan hangat.

Lama-kelamaan tangis Lulu mereda, perlahan ia mulai tenang dalam dekapan Mu Chen. Lalu Mu Chen mengajak mereka berdua pergi ke pasar kota. Ia membeli berbagai macam makanan enak, buah-buahan segar, dan banyak sekali camilan manis kesukaan Lulu, berusaha untuk menghapus rasa takut yang membekas di hati anak kecil itu.

Sejak kehilangan keluarganya, Lulu memang hidup bersama Mu Chen dan An Ran, mereka merawatnya, memanjakannya, dan mengasuhnya persis seperti adik kandung sendiri. Terutama Mu Chen, di mata orang lain, mungkin ia tampak dingin, tegas, dan menakutkan, tapi di depan Lulu ia berubah menjadi sosok yang sangat penyayang, sabar, dan penuh kasih, seolah-olah ia adalah ayah kandung anak itu.

Melihat kebaikan dan kelembutan kakaknya itu, An Ran yang berjalan di samping mereka tersenyum jahil, lalu mulai menggoda kakaknya dengan nada bercanda namun terdengar serius.

“Kak… menurutku sebaiknya kau segera menikah saja. Kau kan sudah tidak muda lagi, sudah waktunya punya istri dan anak sendiri. Lagipula aku juga sudah tak sabar ingin menggendong keponakan kecilku, ingin rasanya menjadi bibi yang bisa memanjakan mereka,” kata An Ran sambil tertawa kecil, matanya berbinar menggoda.

Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, plakk! Mu Chen langsung memukul kepala adiknya itu dengan ringan namun tegas, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tak habis pikir dengan ucapan adiknya itu.

“ucapanmu ini makin tidak karuan saja ya,” ucapnya, lalu kemudian menatap An Ran dengan pandangan yang serius. “Buatku kalian berdua (kau dan Lulu) sudah cukup, Aku tidak menginginkan yang lain, jadi jangan bicara hal-hal yang tidak perlu itu lagi.”

Jawaban tegas itu membuat senyum di bibir An Ran perlahan memudar. Ia menunduk, hatinya terasa agak kecewa, namun ia tahu betul sifat kakaknya yang begitu teguh pendirian itu, Ia hanya mengangguk pelan, lalu kembali tersenyum tipis, berusaha menghapus rasa kecewa itu demi kebahagiaan mereka bertiga yang selama ini hidup damai bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!