Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Hilang
Sinar matahari pagi menembus celah-celah gorden kain yang sudah mulai pudar warnanya, menyinari dapur kecil yang tertata rapi. Aroma gurih nasi goreng mentega dan telur mata sapi yang baru matang menguar, memenuhi seluruh sudut rumah sederhana berlantai dua itu.
Chloe berdiri di depan kompor, mematikan kenop gas dengan gerakan tangan yang teratur. Gadis berusia dua puluh satu tahun itu menyeka peluh tipis di keningnya dengan ujung celemek motif bunga yang diikatkan di pinggangnya. Rambut cokelat gelapnya yang panjang diikat asal ke belakang, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajahnya yang polos dan berkulit bersih seputih susu. Sepasang mata besarnya yang jernih menatap dua piring sarapan yang sudah tersaji di atas meja makan kayu kecil.
"Ayah pasti lapar saat pulang nanti," gumam Chloe dengan senyum tipis yang tulus menghiasi bibir merah mudanya.
Bagi Chloe, ditinggal oleh ayahnya, Haris, semalaman penuh bukanlah hal yang aneh lagi. Sejak ibunya meninggal dunia lima tahun yang lalu karena sakit keras, sang ayah memang kerap pulang terlambat atau bahkan tidak pulang sama sekali hingga keesokan paginya. Haris selalu beralasan ada pekerjaan lembur atau urusan mendesak di kantor logistik tempatnya bekerja. Chloe, dengan kepolosan dan bakti yang mendalam sebagai anak tunggal, tidak pernah menaruh curiga. Dia tidak pernah tahu bahwa di luar sana, sang ayah sebenarnya sedang mempertaruhkan sisa uang belanja mereka di meja-meja judi gelap atau terjebak di dunia bawah tanah yang kelam.
Chloe melirik jam dinding berbentuk bulat yang berdetak di atas lemari makan. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Biasanya, paling lambat pukul enam lewat tiga puluh menit, suara deru motor tua ayahnya atau ketukan pintu depan sudah akan terdengar.
Chloe berjalan menuju jendela depan, menyibak gorden tipis dan memandang ke arah halaman rumah yang sepi. Hanya ada beberapa tetes air sisa hujan semalam yang jatuh dari daun-daun pohon mangga. Jalanan di depan rumahnya masih tampak lengang, hanya dilewati oleh satu dua tetangga yang hendak berangkat bekerja. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Haris.
Perasaan cemas mulai tumbuh, perlahan namun pasti, menyelinap ke dalam dada Chloe. Dia meremas ujung celemeknya, mencoba mengusir pikiran-pikiran buruk yang mulai bermunculan. Mungkin ban motor Ayah bocor, pikirnya mencoba menenangkan diri sendiri. Atau mungkin urusan pekerjaannya benar-benar menyita waktu hingga pagi ini.
Dia berjalan kembali ke meja makan, mengambil ponsel pintarnya yang sudah agak usang untuk mencoba menghubungi nomor sang ayah. Namun, setiap kali panggilan dialirkan, hanya suara operator dingin yang menjawab bahwa nomor tersebut berada di luar jangkauan atau sedang tidak aktif. Chloe mencoba mengirimkan beberapa pesan singkat, menanyakan keberadaan dan kondisi ayahnya, namun tidak ada satu pun yang terkirim dengan tanda centang biru.
Satu jam berlalu. Jam dinding kini menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Nasi goreng yang disiapkannya dengan penuh kasih sayang di atas meja kini sudah mendingin, begitu pula dengan udara di dalam rumah yang mendadak terasa hampa dan mencekam. Rasa cemas di hati Chloe kini telah berubah menjadi ketakutan yang nyata. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Sepasang mata rusa yang jernih itu mulai berkaca-kaca karena rasa khawatir yang membubung tinggi. Ayahnya tidak pernah mematikan ponsel dalam waktu lama jika hanya sekadar lembur biasa.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan keras di pintu depan seketika memecah keheningan rumah, membuat Chloe tersentak kaget dari lamunannya. Harapan langsung membuncah di dalam dadanya. Dengan langkah tergesa-gesa dan senyuman yang kembali terbit, Chloe setengah berlari menuju ruang tamu.
"Ayah!" serunya sembari memutar kunci dan membuka pintu kayu depan lebar-lebar.
Namun, senyuman di wajah cantik Chloe langsung membeku seketika.
Di ambang pintu, bukan sang ayah yang berdiri, melainkan dua orang pria bertubuh tinggi besar dan tegap yang sama sekali tidak dikenalnya. Kedua pria itu mengenakan setelan jas hitam rapi yang tampak mahal, lengkap dengan kacamata hitam yang menutupi tatapan mata mereka. Aura yang dipancarkan oleh kedua orang asing ini begitu dingin, dominan, dan sangat mengintimidasi—sama sekali berbeda dengan orang-orang biasa yang sering ditemui Chloe di lingkungan rumahnya.
Chloe mundur satu langkah secara refleks, rasa takutnya kini mencapai puncaknya. "S-Siapa Anda? Ada perlu apa?" tanya Chloe dengan suara yang bergetar hebat, mencoba menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik punggung.
Kedua pria misterius itu tidak menjawab pertanyaannya. Mereka saling melirik satu sama lain, memberikan isyarat rahasia yang tidak dipahami oleh Chloe. Pria yang berdiri di sebelah kanan melangkah maju, melewati ambang pintu dengan lancang, memaksa masuk ke dalam ruang tamu kecil milik Chloe.
"Apakah kau putri dari Haris?" tanya pria itu dengan suara bariton yang berat dan tanpa ekspresi.
"I-Iya, benar. Saya putrinya. Tapi Ayah saya sedang tidak ada di rumah. Jika ada urusan pekerjaan, silakan kembali lagi nanti," ucap Chloe dengan lantang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya meskipun lututnya sudah terasa lemas luar biasa. Dia berniat untuk mundur dan menutup pintu, namun pria kedua yang berada di luar dengan cepat menahan daun pintu tersebut, menutup jalan keluar bagi Chloe.
"Bagus. Berarti kami tidak salah alamat," ucap pria pertama dingin.
Sebelum Chloe sempat mencerna situasi atau berteriak meminta pertolongan kepada tetangga, pria pertama bergerak dengan kecepatan dan presisi yang mengerikan. Dia merobek sebuah sapu tangan putih dari saku jasnya yang ternyata sudah dibasahi oleh cairan kimia pekat berbau menyengat—kloroform.
Dengan satu gerakan tangan yang kuat, pria itu mencengkeram bahu mungil Chloe, menarik tubuh gadis itu mendekat, dan langsung membekap mulut serta hidung Chloe dengan sapu tangan tersebut.
"Mmph... Lepas... Mmph!"
Chloe meronta-ronta dengan histeris. Sepasang mata rusanya terbelalak lebar penuh teror. Tangan-tangan kecilnya memukul-mukul dada bidang pria yang membekapnya, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman besi yang mengunci tubuhnya. Namun, perbedaan kekuatan fisik yang terlampau jauh membuat usaha Chloe sia-sia.
Aroma manis yang menyengat dan memuakkan dari cairan itu langsung menyerbu masuk ke dalam saluran pernapasan Chloe. Hanya dalam hitungan detik, pandangan mata Chloe yang jernih mulai mengabur. Dunia di sekitarnya seolah berputar dengan cepat. Energi di dalam tubuhnya mendadak lenyap, membuat kedua tangannya perlahan terkulai lemas di sisi tubuhnya. Kesadarannya ditarik paksa ke dalam kegelapan yang pekat. Sebelum matanya benar-benar terpejam sepenuhnya, bayangan wajah sang ayah dan nasi goreng yang mendingin di dapur menjadi hal terakhir yang melintas di benaknya, sebelum akhirnya tubuh mungil Chloe jatuh terkulai tak sadarkan diri di pelukan pria asing tersebut.
Pria yang membekapnya dengan sigap menangkap tubuh Chloe agar tidak jatuh terempas ke lantai marmer. Dia mengangkat tubuh gadis yang sudah pingsan itu ke dalam gendongannya dengan sangat mudah, seolah berat tubuh Chloe tidak lebih dari selembar kain.
"Barang tebusan sudah diamankan. Kondisinya murni seperti yang dilaporkan tua bangka itu," ucap pria pertama kepada rekannya, memastikan tidak ada cedera fisik pada tubuh Chloe yang bisa memicu amarah sang bos besar.
"Cepat bawa ke mobil sebelum ada tetangga yang melihat. Kenzo sudah menunggu laporan di kediaman utama," balas pria kedua sembari mengawasi situasi di luar rumah yang untungnya masih sepi.
Kedua pria itu bergerak dengan cepat dan efisien. Mereka membawa tubuh Chloe yang tak berdaya keluar dari rumah, memasukkannya ke dalam kursi belakang sebuah mobil sedan mewah hitam berpintu empat yang jendelanya dilapisi kaca film sangat gelap, lalu melesat pergi membelah jalanan kota yang masih menyisakan sisa-sisa kabut pagi. Rumah sederhana itu kini kembali sunyi, meninggalkan dua piring sarapan di atas meja makan yang akan tetap mendingin, menandai akhir dari kehidupan damai seorang gadis polos bernama Chloe, yang kini telah resmi diseret masuk ke dalam pusaran dunia hitam milik sang bos mafia, Asher.