Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Lonceng Pemanggil Jiwa
Suara lonceng perunggu itu bergemerincing pelan, Teng... Teng... menyayat kesunyian sore yang basah. Kabut putih susu bergulung dari arah sungai, menelan jalanan tanah liat inci demi inci, membawa serta hawa dingin yang berbau seperti tanah kuburan basah dan daging yang membusuk.
Zeng Niu berdiri di ambang jendela kayunya yang reyot. Dantiannya kosong, tidak ada setitik pun Qi yang bisa ia putar. Namun, insting tempurnya yang telah ditempa dalam ratusan pembantaian berteriak memberikan peringatan. Kabut itu bukanlah fenomena alam. Ada sesuatu yang hidup atau pernah hidup berjalan di dalamnya.
Di ujung jalan, Zhao Ying mempercepat langkahnya. Keranjang anyaman di tangannya berayun keras. Gadis itu menoleh ke belakang, matanya yang jernih membelalak menyadari kabut pekat itu bergerak jauh lebih cepat dari langkah kaki nya.
Dari balik kabut, sebuah siluet jangkung dan kurus kering perlahan menampakkan wujudnya. Ia mengenakan jubah pendeta Tao yang compang-camping dan memegang sebuah lentera kertas pucat yang tidak menyala. Di tangan kirinya, sebuah lonceng perunggu berkarat diayunkan dengan ritme kaku.
Teng... Teng...
"Mayat Hidup Pengumpul Jiwa," gumam Zeng Niu dengan gigi gemeretak.
Di masa lalu, entitas Yin tingkat rendah semacam ini bahkan tidak pantas membuatnya melirik. Sepercik petir ungu dari jari kelingkingnya sudah cukup untuk menguapkan seribu mayat hidup ini menjadi ketiadaan.
Namun sekarang? Hawa dingin dari jarak lima puluh tombak itu saja sudah membuat luka di dada Zeng Niu berdenyut menyakitkan, seakan es menusuk-nusuk paru-parunya.
Siluet pendeta mayat itu tiba-tiba berhenti mengayunkan loncengnya. Wajahnya yang tertutup rambut kusut terangkat, menatap langsung ke arah punggung Zhao Ying. Ia mencium aroma Esensi Darah yang sangat murni dari tubuh gadis itu, meskipun terhalang oleh segel dunia.
Pendeta mayat itu menjatuhkan loncengnya. Kecepatannya yang kaku mendadak berubah. Ia melesat menerjang maju layaknya anjing liar yang kelaparan, cakar-cakarnya yang hitam legam terulur ke arah leher Zhao Ying.
"Zhao Ying! Tunduk!" raung Zeng Niu.
Suara serak itu membelah ketegangan. Zhao Ying, yang insting bertahannya masih setajam dewi perang, tanpa ragu menjatuhkan dirinya ke lumpur yang basah. Cakar hitam mayat itu menyapu udara kosong hanya sehelai rambut dari atas kepala gadis tersebut, memotong beberapa helai rambut peraknya.
Zeng Niu tidak menunggu. Ia memutar tubuhnya yang penuh luka, menyambar sebuah sabit pemotong kayu berkarat yang tergeletak di dekat tungku tanah liat, lalu menerjang keluar dari pintu pondok.
SRAT!
Setiap langkah yang diambil Zeng Niu merobek kembali jahitan di dadanya. Rasa sakit yang luar biasa tajam membakar saraf-sarafnya, membuat pandangannya dipenuhi bintik-bintik hitam. Napasnya terengah-engah, tubuhnya terasa seberat gunung besi.
Ini adalah kutukan terberat dari kehilangan kultivasi. Pikiran sang algojo memerintahkan tubuhnya untuk bergerak secepat kilat, namun daging fananya yang rusak berteriak menolak.
Mayat pendeta itu berbalik, menatap Zhao Ying yang sedang berusaha bangkit dari lumpur. Mulutnya yang hancur terbuka, mengeluarkan desisan berbau busuk. Ia kembali menerjang.
"Tanganmu jangan menyentuhnya, Mayat Busuk!"
Zeng Niu tiba tepat pada waktunya. Ia tidak memiliki Sutra Langkah Hantu, tidak ada petir ungu, dan tidak ada tubuh baja. Yang ia miliki hanyalah momentum, berat badan, dan insting membunuh murni.
Zeng Niu menabrakkan bahunya tepat ke dada mayat pendeta tersebut.
BRUK!
Keduanya berguling di atas lumpur jalanan. Bau busuk mayat menyengat hidung Zeng Niu, membuat perutnya bergejolak. Mayat itu memiliki kekuatan setara dengan kultivator Pengumpulan Qi Tahap 2 kekuatan yang bagi manusia biasa seperti dewa kecil.
Mayat itu meronta, mencengkeram lengan Zeng Niu dengan cakar hitamnya. Rasa dingin yang mematikan langsung merambat masuk ke pori-pori Zeng Niu, membekukan aliran darahnya.
"Zeng Niu!" jerit Zhao Ying, melihat darah segar mulai merembes membasahi perban di dada pemuda itu.
"Jangan mendekat! Masuk ke rumah!" geram Zeng Niu.
Ia membebaskan tangan kanannya yang memegang sabit berkarat. Tidak ada seni pedang yang indah, tidak ada jurus langit. Ia mengayunkan sabit itu dengan brutal, mengincar persendian leher mayat tersebut!
TRANG!
Bilah sabit itu menghantam tulang leher mayat, memunculkan percikan api kecil. Tulang mayat yang telah menyerap energi Yin bertahun-tahun sekeras batu. Sabit fana milik Zeng Niu retak parah, tangannya bergetar hebat hingga nyaris mati rasa.
Mayat itu membuka rahangnya lebar-lebar, mencoba menggigit wajah Zeng Niu.
Menyadari senjata fana tidak bisa menembus tulang yang diperkuat Qi, otak Zeng Niu berputar cepat. Ia menarik sabitnya, lalu bukannya menebas, ia menusukkan ujung sabit yang melengkung itu tepat ke dalam rongga mata mayat yang kosong, lalu memutarnya dengan paksa.
CRAT!
Cairan hitam menyembur keluar. Mayat itu mengeluarkan jeritan tanpa suara yang menggetarkan udara. Genggamannya pada lengan Zeng Niu melonggar sejenak akibat kerusakan pada pusat saraf mati di kepalanya.
Zeng Niu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia menendang dada mayat itu sekuat tenaga, menggunakan dorongan itu untuk melepaskan diri dan bangkit berdiri. Napasnya memburu keras, dadanya naik turun dengan liar, darah menetes dari bibirnya yang pucat.
"Berdiri," ucap Zeng Niu parau, menarik lengan Zhao Ying yang masih berada di tanah.
Ia tidak berniat melanjutkan pertarungan. Sabitnya sudah hancur, dan fisiknya berada di batas nya. Tanpa menoleh lagi ke arah mayat yang sedang menggelepar mencabut sabit dari matanya, Zeng Niu menarik Zhao Ying berlari kembali ke dalam pondok jerami mereka.
Begitu mereka masuk, Zeng Niu membanting pintu kayu itu hingga tertutup dan menggeser sebuah lemari kayu lapuk untuk menahannya.
Keduanya jatuh terduduk di lantai tanah liat, bersandar pada dinding yang dingin. Di luar, kabut hantu menelan rumah mereka. Udara di dalam ruangan anjlok drastis, membuat napas mereka membentuk uap putih yang tebal.
Dari luar, terdengar suara langkah kaki yang diseret, mengelilingi rumah tersebut. Sreek... Sreek... Cakar hitam menggaruk dinding bambu di bagian luar, mencari celah.
Zeng Niu menahan napasnya, mencengkeram sepotong kayu bakar tajam di tangannya. Di sampingnya, Zhao Ying menutup mulutnya dengan kedua tangan, mata jernihnya menatap tajam ke arah pintu. Kesunyian itu terasa sangat mencekam. Ketakutan sesungguhnya bagi seorang penguasa adalah ketika mereka tidak lagi memiliki kendali atas nasib mereka sendiri.
Lima menit berlalu seperti lima abad.
Akhirnya, suara garukan itu berhenti. Suara lonceng perunggu kembali terdengar, perlahan menjauh, Teng... Teng..., ditelan oleh kabut yang bergerak menyusuri aliran sungai menuju bukit di belakang desa.
Zeng Niu melepaskan kayu bakar di tangannya. Benda itu jatuh ke lantai dengan bunyi pelan. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding bambu, memejamkan mata, dan tertawa pelan. Tawanya pelan, kering, dan penuh dengan ironi.
"Apa yang kau tertawakan?" bisik Zhao Ying, suaranya sedikit bergetar. Gadis itu menatap Zeng Niu dengan gaun raminya yang kini kotor oleh lumpur.
"Aku menertawakan diriku sendiri," jawab Zeng Niu parau. Ia mengangkat kedua tangannya yang gemetar dan berlumuran darah kotor mayat, menatapnya di bawah cahaya temaram ruangan.
"Dulu, saat aku memiliki petir, aku merasa bahwa hidup dan mati hanyalah masalah siapa yang memiliki kepalan tangan lebih besar. Aku membunuh kultivator Golden Core seolah mereka adalah ternak," gumam Zeng Niu, matanya memancarkan kedalaman yang belum pernah ada sebelumnya.
"Tapi hari ini... di hadapan mayat berjalan yang paling rendah, aku baru merasakan apa itu ketakutan. Aku merasakan jantungku berdetak dengan liar, bukan karena antusiasme pertarungan, tapi karena keputusasaan murni untuk mempertahankan satu tarikan napas."
Zeng Niu menoleh ke arah Zhao Ying.
"Selama ini, Dao Bencana dan Kematian yang kupelajari terlalu dangkal. Aku hanya memahami cara memberi kematian, tapi tidak memahami beratnya kehidupan. Kau tidak akan pernah memahami arti dari sepotong kayu jika kau belum pernah nyaris tenggelam."
Zhao Ying terdiam mendengarkan kata-kata pemuda itu. Di balik wajah perunggu yang kelelahan dan penuh luka itu, ia melihat sebuah pencerahan spiritual yang sangat langka. Ini adalah penempaan Hati Dao tingkat tertinggi. Banyak kultivator mencari pencerahan dengan bermeditasi ratusan tahun di gua suci, namun Zeng Niu menemukannya di dalam keputusasaan murni seorang manusia fana.
Zhao Ying merangkak mendekat di atas lantai tanah liat. Mengabaikan kotoran dan bau busuk di tubuh pemuda itu, ia merobek ujung lengan baju raminya yang bersih, lalu mulai membersihkan darah segar yang mengalir dari dada Zeng Niu.
"Kau bodoh," tegur Zhao Ying pelan, suaranya sangat lembut, memecah ketegangan yang tersisa. "Jika cakar mayat itu mengandung racun mayat pekat, kau pasti sudah mati sekarang."
"Aku tidak bisa membiarkan tangannya mengotori kulitmu," jawab Zeng Niu sederhana, seolah itu adalah hukum alam yang mutlak.
Tangan Zhao Ying yang sedang mengusap luka itu terhenti sejenak. Jantung nya berdesir hangat. Di Surga Atas, ribuan pangeran rela memberikan pusaka dunia untuknya, namun di desa lumpur ini, seorang pemuda yang tidak memiliki apa-apa rela menukar nyawa fana dan menahan rasa sakit demi melindunginya dari sentuhan kotor.
"Lain kali, biarkan aku yang berlari lebih cepat," bisik Zhao Ying, membalut luka itu dengan hati-hati.
Di luar, kabut perlahan menyingsing, dan hujan rintik-rintik kembali turun membersihkan sisa hawa Yin. Di dalam pondok reot itu, dua sosok yang dulunya ditakuti oleh langit, kini duduk bersisian di atas lantai tanah, berbagi sisa kehangatan tubuh dan merajut kembali pemahaman mereka tentang makna sebuah kehidupan.
Jalan menuju keabadian terkadang mengharuskan seseorang untuk belajar bagaimana rasanya menjadi manusia yang bisa mati kapan saja.