NovelToon NovelToon
Kuali Penelan Bintang

Kuali Penelan Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Starlope

Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.

Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.

Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dekrit

Puncak Naga Api adalah kebalikan mutlak dari Puncak Teratai Salju. Jika tempat tinggal Su Yue adalah surga musim dingin yang sunyi, maka Puncak Naga Api adalah perwujudan dari neraka yang mendidih.

Gunung melayang itu sebenarnya adalah sebuah gunung berapi aktif yang apinya telah dijinakkan oleh formasi segel raksasa dari para pendiri sekte. Asap belerang mengepul ke udara menyelimuti langit, dan ribuan kuali alkimia dari berbagai tingkatan terus menyala siang dan malam, menghasilkan aroma obat-obatan spiritual yang luar biasa pekat. Di sinilah urat nadi kekayaan Sekte Pedang Awan Mengalir berpusat.

Di dalam Aula Inti Puncak Naga Api yang terbuat dari batu obsidian merah, suasana saat ini terasa mencekam hingga ke titik beku, sangat bertolak belakang dengan hawa panas di luar.

Tetua Bai Qingtian, penguasa Puncak Naga Api sekaligus Tetua Agung Alkimia, duduk di atas singgasana batu berukir naga. Wajah tuanya yang biasanya memerah karena uap alkimia kini sepucat kertas, namun matanya memancarkan amarah yang bisa membakar lautan. Kultivasinya telah mencapai Setengah Langkah Inti Emas. Di seluruh sekte, hanya Pemimpin Sekte yang memiliki kedudukan lebih tinggi darinya.

Di tengah aula, terbaring cucu kesayangannya, Bai Yunfei. Pemuda yang beberapa jam lalu masih bersikap arogan di depan pintu gerbang Su Yue itu kini merintih lemah, wajahnya basah oleh keringat dingin dan air mata keputusasaan.

Tetua Bai Qingtian baru saja menarik tangannya dari lutut kanan cucunya. Tangan keriput sang Tetua bergetar hebat.

"Bagaimana mungkin..." gumam Tetua Bai, suaranya terdengar seperti gesekan dua lempeng besi tua. "Tidak ada riak Qi es. Tidak ada racun. Tidak ada sisa Niat Pedang. Tempurung lutut, tulang kering, hingga sumsum tulang di paha kanannya hancur lebur... murni karena hantaman kekuatan fisik."

"Kakek... sakit... tolong sembuhkan aku..." rintih Bai Yunfei, mencengkeram ujung jubah kakeknya. "Itu pasti ulah jalang Su Yue itu! Dia pasti menggunakan pusaka terlarang!"

"Diam!" bentak Tetua Bai Qingtian, membuat seluruh murid senior yang berlutut di aula menundukkan kepala mereka semakin dalam.

Tetua Bai berdiri, menatap ke arah luar aula. Pikirannya yang tajam berputar cepat. Pusaka terlarang? Tidak ada pusaka tingkat fana yang bisa menembus perisai Qi Pembentukan Fondasi tanpa memancarkan fluktuasi sihir. Kekuatan yang menghancurkan lutut ini... sangat terpusat, setara dengan hantaman palu seberat puluhan ribu kati yang dimampatkan ke ukuran sebesar ujung jari.

"Siapapun atau apapun yang melindungi bocah Su Yue itu, eksistensi itu memiliki penguasaan kekuatan jasmani yang menakutkan," batin Tetua Bai. Ia adalah rubah tua yang telah hidup ratusan tahun. Ia tidak akan gegabah menyerang langsung ke Puncak Teratai Salju dan menyinggung eksistensi misterius yang mungkin saja seorang ahli dari Alam Atas.

Namun, ia juga tidak bisa membiarkan Puncak Naga Api kehilangan muka. Cucu kandungnya dibuat cacat di hari pertama kedatangan seorang murid baru. Jika ia diam saja, bagaimana ia bisa memimpin faksi alkimia di masa depan?

"Yan Huo!" panggil Tetua Bai Qingtian dengan suara bergemuruh.

Seorang pemuda tegap berjubah merah tua melangkah maju dari barisan murid. Rambutnya berwarna merah menyala, dan auranya memancarkan panas yang liar. Ia adalah Yan Huo, Murid Inti Peringkat Pertama dari Puncak Naga Api, seorang jenius di Pembentukan Fondasi Tahap Menengah.

"Murid siap menerima perintah, Guru!" jawab Yan Huo dengan suara lantang, menangkupkan kedua tangannya.

"Pergilah ke Puncak Teratai Salju. Bawa Dekrit Naga Api. Gunakan aturan sekte untuk menekan Su Yue. Jangan serang dia secara langsung, jangan beri alasan bagi 'pusaka' di belakangnya untuk bereaksi," perintah Tetua Bai, matanya menyipit licik. "Tantang dia dalam Duel Perebutan Wilayah. Puncak Teratai Salju terlalu berharga untuk seorang anak kemarin sore. Jika dia menolak, Puncak Naga Api akan menghentikan seluruh pasokan pil spiritual untuk Puncak Es tempat gurunya berasal!"

"Murid mengerti! Saya akan membuat jalang kecil itu berlutut dan menyerahkan puncak itu dengan tangannya sendiri!" Yan Huo menyeringai kejam. Ia berbalik dan melesat keluar dari aula, berubah menjadi garis cahaya merah yang membelah langit menuju Puncak Teratai Salju.

Sementara itu, di pelataran paviliun utama Puncak Teratai Salju.

Udara di sekitar pelataran terasa membeku, membentuk kristal-kristal salju yang melayang indah di udara seolah tak memiliki beban. Di tengah pelataran, Su Yue sedang duduk bersila. Tiga kelopak Teratai Darah Pedang Kuno yang ia telan mulai menunjukkan khasiat surgawinya.

Cahaya biru dan emas silih berganti berpendar dari balik kulitnya. Keringat dingin bercampur kotoran hitam sisa racun Yin masa lalunya menguap dari pori-porinya. Dantian-nya yang sebelumnya dipenuhi Qi es Tingkat Keenam kini bergolak hebat, memadat, dan mulai membentuk fondasi spiritual berupa pilar es kristal.

Di sudut pelataran, Lin Ye berdiri santai, bersandar pada sapu lidinya. Ia mengawasi proses terobosan Su Yue dengan mata hitam pekatnya.

Terlalu terburu-buru, batin Lin Ye menilai. Qi es-nya berkumpul di Dantian, namun meridian di dada kirinya masih sedikit membeku. Jika ia memaksakan terobosan sekarang, fondasinya akan retak.

Tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang datar, tangan Lin Ye bergerak sangat pelan. Jari telunjuk kanannya menyentil udara kosong di sebelahnya.

Pletik.

Sebuah dorongan angin murni—sangat kecil, tak kasatmata, dan sepenuhnya terbebas dari fluktuasi Qi sihir—melesat secepat kilat dan menghantam titik nadi meridian di dada kiri Su Yue.

Su Yue yang sedang berada di ambang kegagalan, tiba-tiba merasakan sebuah hantaman hangat yang seketika mencairkan sumbatan es di dadanya. Jalur Qi-nya mendadak terbuka lebar. Aliran energi dari Teratai Darah langsung mengalir deras menuju Dantian tanpa hambatan.

BOOOM!

Sebuah pilar cahaya biru muda meledak dari tubuh Su Yue, menembus awan di atas Puncak Teratai Salju. Hawa dingin yang sangat murni menyapu seluruh pelataran, membekukan sisa-sisa daun kering menjadi patung es.

Alam Pembentukan Fondasi Tahap Awal!

Su Yue perlahan membuka matanya. Matanya kini sedingin samudra abadi namun memancarkan kekuatan yang meluap-luap. Ia merasakan Dantian-nya yang kini sekeras kristal. Perasaannya melambung tinggi, namun ia segera menoleh ke arah sudut pelataran.

Ia melihat Lin Ye yang sedang menyapu debu es dengan wajah bosan. Su Yue tidak bodoh. Ia tahu persis dorongan energi yang menyelamatkannya dari kegagalan barusan bukanlah keajaiban alam.

Su Yue segera berdiri dan membungkuk dalam-dalam. "Junior mengucapkan terima kasih atas bimbingan tak terlihat Senior. Tanpa teguran Senior di titik meridian dada kiri, Junior pasti sudah mengalami penyimpangan Qi."

"Jangan terlalu memuji dirimu sendiri. Aku hanya mengusir nyamuk," jawab Lin Ye serak tanpa menghentikan sapuannya. "Sebagai pionku, sungguh memalukan jika kau mati karena hal sepele seperti terobosan fondasi."

Meski kata-katanya sangat kasar dan merendahkan, hati Su Yue justru terasa sangat tenang. Memiliki ahli setingkat dewa yang menjaganya dari bayang-bayang memberinya rasa aman yang belum pernah ia rasakan sejak keluarganya dibantai saat ia masih kecil.

Tiba-tiba, formasi pertahanan di luar gerbang Puncak Teratai Salju bergetar hebat. Hawa panas yang brutal mencoba menerobos masuk, melelehkan salju abadi di sekitar gerbang perunggu.

"Su Yue! Keluar dan terima Dekrit Naga Api!"

1
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor menarik ceritanya semoga sampai tamat ceritanya
Aman Wijaya
lanjut terus gaaas njeduk Thor semangat
Aman Wijaya
jadilah kuat su Yue
Imam Abiyu Dzaky
teruss lanjutkan
Andira
mmm
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Wy Pereret
lanjut
SENJA
waaah
Andira
👍
Aman Wijaya
markotop top top lanjut terus
Aman Wijaya
gaaas terus Thor semangat semangat semangat
Aman Wijaya
mantab su Yue
Aman Wijaya
mantab Lin Ye
Aman Wijaya
lanjut terus Thor tambah lagi updatenya 💪💪💪
Aman Wijaya
gaaas njeduk terus Thor
Aman Wijaya
mantab Thor semangat semangat
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut
Aman Wijaya
top top markotop lanjut
Aman Wijaya
lanjut terus semangat semangat terus Thor
Aman Wijaya
gaaas njeduk Thor lanjut terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!