Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak Dekat, Detak Jantung, dan Sepasang Mata
Suasana ruang kelas masih agak lengang setelah bel masuk jam pertama berbunyi. Guru mata pelajaran berikutnya dikabarkan terlambat datang karena ada rapat mendadak di ruang kepala sekolah. Kesempatan ini langsung dimanfaatkan oleh anak-anak untuk bersantai, kecuali bagi dua orang yang kini duduk berdampingan di meja guru bagian depan.
Sesuai draf bank soal yang mereka susun hari Sabtu kemarin, Alisha dan Shaka harus kembali mengemban tugas sebagai mentor kelas. Di atas meja, lembaran kertas kuis Fisika materi gelombang elektromagnetik sudah bertumpuk, siap untuk dibagikan.
Namun, alih-alih langsung memulai sesi, atmosfer di antara kedua mentor itu justru terasa sangat canggung. Efek dari kejadian baku hantam di koridor kemarin siang ternyata masih menyisakan kecanggangan yang tebal.
Alisha berkali-kali membolak-balik halaman buku cetaknya tanpa arah yang jelas, sementara Shaka duduk bersandar sambil melipat tangan di dada, menatap lurus ke papan tulis dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Ekhem." Alisha berdeham pelan, mencoba memecah keheningan yang menyiksa itu. Ia menoleh ke samping, menatap profil samping wajah Shaka. "Shak, soal nomor lima ini... apa gak terlalu susah buat anak-anak? Ini kan rumusnya harus diturunkan dua kali."
Shaka menoleh lambat, menatap Alisha dengan tatapan datarnya yang khas. "Susah dari mana? Itu tinggal pakai persamaan dasar ralat. Kalau mereka merhatiin penjelasan lo kemarin, pasti bisa."
Alisha mendengus kesal, sifat keras kepalanya langsung terpancing. "Ya tapi kan kapasitas otak anak kelas kita beda-beda, Reyshaka! Gak semua orang bisa langsung paham ralat modifikasi dalam waktu satu jam. Lo jangan samain standar otak mereka sama standar otak lo yang kelewat encer itu dong!"
"Gue gak nyamain standar," balas Shaka lempeng, nadanya terdengar menyebalkan di telinga Alisha. "Gue cuma mau mereka terbiasa mikir taktis. Kalau lo kasih soal yang terlalu gampang, esensi dari sesi mentoring kelas ini jadi gak ada. Lo-nya aja yang terlalu khawatir, Singa Betina."
Mendengar sebutan "Singa Betina" yang diucapkan Shaka dengan nada santai namun memancing emosi, Alisha merengut dalam. Rasa kesalnya melonjak naik.
"Gue khawatir karena gue yang megang bagian eksekusi rumusnya nanti! Lo mah enak, bagian teori abstrak doang habis itu tinggal duduk manis!" semprot Alisha dengan volume suara yang agak naik, membuat beberapa anak di barisan depan sempat menengok ke arah mereka.
"Ya makanya, sini gue liat draf hitungan lo," ucap Shaka, tidak memedulikan kekesalan Alisha.
Cowok jangkung itu tiba-tiba menggeser kursinya hingga menjadi sangat dekat dengan kursi Alisha. Jarak di antara mereka terpangkas drastis dalam sekejap. Shaka mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya terulur mengambil pulpen dari jemari Alisha, lalu menarik buku catatan Alisha ke tengah-tengah mereka.
Jarak yang terlalu dekat itu mendadak membuat Alisha kaku. Wangi parfum maskulin bercampur aroma sabun yang segar dari tubuh Shaka langsung menyeruak masuk ke indra penciumannya. Alisha bisa melihat dengan jelas helai-helai rambut Shaka yang jatuh di dahinya, serta garis rahang cowok itu yang tegas dari jarak kurang dari tiga puluh sentimeter.
"Sini, perhatiin. Lo salah masukin variabel di bagian sini," kata Shaka, menunjuk salah satu angka di buku catatan menggunakan ujung pulpen.
Karena kesal opininya terus-menerus dipatahkan sejak tadi, Alisha langsung memutar tubuhnya menghadap Shaka. Ia mendongak, menatap Shaka lekat-lekat dengan pandangan tajam, berniat memberikan argumen balasan yang tak kalah sengit.
"Variabel itu udah bener, Shaka! Itu sesuai sama—"
Kalimat Alisha terputus di udara.
Tepat saat Alisha mendongak, Shaka ternyata juga sedang memalingkan wajahnya ke arah Alisha untuk menjelaskan. Alhasil, wajah mereka kini berada di satu garis lurus yang luar biasa dekat. Embusan napas hangat Shaka bahkan bisa dirasakan Alisha di permukaan kulit wajahnya.
Detik itu juga, waktu seolah berhenti berputar di dalam kelas.
Shaka yang tadinya bersiap untuk memotong ucapan Alisha, mendadak membeku. Sepasang mata elang milik cowok itu terkunci sempurna pada wajah Alisha. Dari jarak sedekat ini, dengan pencahayaan matahari pagi yang masuk menyudut lewat jendela kelas, Shaka terpaku pada satu hal yang belum pernah ia sadari sebelumnya secara detail.
Mata Alisha.
Di balik warna kulit sawo matangnya yang selama ini sering dijadikan bahan gunjingan rasis oleh orang-orang bodoh seperti Rendi, Alisha memiliki sepasang mata yang luar biasa indah. Matanya berbentuk bulat besar dengan pupil hitam pekat yang jernih, memancarkan kecerdasan yang tajam. Ditambah lagi, bulu mata alami gadis itu sangat lebat dan lentik sempurna di bagian ujungnya, bergerak halus setiap kali Alisha berkedip tanpa perlu sentuhan maskara sedikit pun.
Ada binar yang sangat hidup di dalam mata itu—sebuah perpaduan antara ketegasan seorang singa betina yang tak mau kalah, sekaligus kelembutan yang tersembunyi rapat. Binar mata yang begitu indah, teduh, dan memikat hingga mampu membuat seorang Reyshaka kehilangan fokusnya dalam hitungan milidetik. Otak Shaka yang biasanya dipenuhi oleh rumus-rumus fisika rumit, mendadak blank total.
Alisha yang menyadari perubahan ekspresi Shaka yang tiba-tiba diam dan menatapnya tanpa kedip, mendadak kehilangan keberaniannya untuk marah. Jantungnya langsung berdegup ugal-ugalan di dalam dada, menciptakan suara gemuruh yang ia takutkan bisa terdengar oleh Shaka.
Rona merah muda yang pekat perlahan menjalar dari leher hingga memenuhi pipi sawo matang Alisha. Suasana di antara mereka yang tadinya penuh kekesalan, mendadak berubah menjadi ketegangan romantis yang begitu pekat dan mendebarkan.
"S-Shak...?" panggil Alisha dengan suara yang sangat pelan, nyaris berbisik karena terlalu gugup. "Kenapa lo malah ngeliatin gue kayak gitu? Muka gue ada coretan spidolnya, ya?"
Shaka tersentak, tersadar dari sihir sesaat yang baru saja mengikatnya. Ia buru-buru menegakkan tubuhnya kembali, berdeham salah tingkah sambil mengusap tengkuk lehernya yang mendadak terasa panas. Untuk pertama kalinya, seorang Reyshaka terlihat salah tingkah di depan umum.
"Nggak," jawab Shaka, suaranya terdengar agak serak. Ia membuang pandangannya ke arah bank soal di meja, mencoba menata kembali detak jantungnya yang mendadak ikut ugal-ugalan. "Gue cuma baru sadar... ternyata mata lo kalau lagi kesel makin mirip singa beneran. Tajam."
Alisha reflek memegang kedua pipinya yang masih terasa panas membara, lalu buru-咆哮 memalingkan wajahnya ke arah berlawanan, menyembunyikan senyuman manis yang tidak bisa ia tahan lagi. Rasa kesalnya pada Shaka menguap begitu saja, digantikan oleh debaran manis yang membuat perutnya serasa dipenuhi oleh ribuan kupu-kupu yang beterbangan.
Pemandangan super dekat dan intim di meja guru itu ternyata tidak luput dari sepasang mata yang sejak tadi mengawasi dengan penuh kedengkian. Di barisan kursi ketiga, Ivanka duduk dengan tubuh tegang. Tangannya meremas pulpen plastik di genggamannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Wajah Ivanka yang biasanya mulus berkat polesan bedak mahal, kini tampak berkerut menahan kesal luar biasa. Sejak kemarin, hatinya sudah panas mendengar kabar bahwa Shaka sampai rela baku hantam dengan Rendi demi membela Alisha dan adiknya. Dan sekarang? Di depan matanya sendiri, Ivanka harus menyaksikan bagaimana Shaka—cowok yang selama ini terkenal sedingin es dan tidak pernah membiarkan cewek mana pun mendekat—justru menggeser duduknya begitu dekat hingga nyaris menempel pada Alisha.
"Gila ya, centil banget si Alisha," bisik Siska yang duduk di sebelah Ivanka, sengaja mengompori suasana. "Liat tuh, Van. Sok-sokan bahas soal, padahal sengaja mepet-mepet Shaka. Mana pake jepit rambut beruang norak kayak gitu lagi ke sekolah. Gak tahu malu banget."
"Diem lo, Sis," desis Ivanka tajam, suaranya bergetar menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.
Ivanka menatap Alisha dengan pandangan benci. Baginya, Alisha hanyalah cewek kuper berkulit sawo matang yang tidak punya daya tarik apa-apa. Ivanka sama sekali tidak rela melihat cowok sekelas Shaka memberikan atensi se-intens itu pada gadis yang selalu ia rundung.
Melihat bagaimana Alisha merona merah dan Shaka yang sempat salah tingkah membuang muka, dada Ivanka serasa dihantam batu besar. Rasa iri dan dengki membakar hatinya. Nggak bisa dibiarin, batin Ivanka geram. Gue gak bakal biarin si anak ralat itu caper terus di depan Shaka!
Ivanka menghentakkan kakinya ke lantai kelas dengan kasar, lalu sengaja berdiri dari kursinya dengan sengaja membuat suara decitan yang nyaring, mencoba memecah atmosfer baper yang sedang tercipta di depan kelas. Namun, Shaka dan Alisha sudah terlanjur tenggelam dalam draf soal mereka kembali, mengabaikan eksistensi Ivanka yang makin kepanasan di sudut ruangan.