Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Aturan Sang Penguasa
Pintu besar di belakang mereka tertutup rapat, menimbulkan bunyi berat yang bergema di sepanjang lorong luas itu. Suara itu terdengar seperti penanda—bahwa dunia luar yang bebas, tempat Grey biasa berlari dan bermain, kini sudah tertutup sepenuhnya baginya. Di hadapannya sekarang hanya ada kemewahan yang dingin, keheningan yang mendalam, dan sosok pria raksasa di sampingnya yang seolah menjadi pusat dari segala aturan dan kekuasaan di tempat ini.
Lantai marmer yang berkilau memantulkan bayangan tubuh mereka. Dinding-dindingnya dihiasi lukisan-lukisan mahal dan ukiran indah yang bernilai jutaan rupiah, namun bagi Grey, semuanya terasa seperti hiasan di dalam sebuah istana yang sekaligus berfungsi sebagai penjara. Dia masih tergenggam erat oleh tangan Davian, jari-jari besar itu mengunci pergelangan tangannya dengan kekuatan yang cukup untuk memastikan dia tidak bisa lari, namun cukup lembut agar tidak melukai kulit halusnya.
Grey melirik ke sekeliling. Tidak ada pelayan yang terlihat, tidak ada suara percakapan, bahkan tidak ada langkah kaki orang lain. Hanya ada mereka berdua dan keheningan yang begitu tebal hingga terdengar menyesakkan.
"Di mana semua orang? Rumah ini… rasanya seperti kosong melompong," gumam Grey, berusaha memecah keheningan yang membuatnya merasa semakin kecil dan terkurung.
Davian terus berjalan sambil menariknya perlahan menuju tangga besar yang melengkung indah di ujung lorong. Dia tidak menoleh, namun jawabannya terdengar jelas dan tenang.
"Di rumah ini, hanya ada aku, kamu, dan orang-orang yang aku izinkan ada di sini. Aku tidak suka keramaian yang tidak perlu, aku tidak suka suara-suara yang mengganggu, dan aku paling tidak suka ada mata asing yang mengawasi apa yang menjadi milikku. Para pelayan hanya akan datang saat dipanggil, dan mereka tahu batasan mereka. Mereka tidak akan berani menatapmu terlalu lama, tidak akan berani berbicara padamu kecuali diperintah, dan yang paling penting… mereka tahu bahwa menyentuhmu atau mendekatimu adalah dosa terbesar yang bisa mereka lakukan."
Grey menelan ludah. Nada bicara Davian begitu biasa, seolah dia sedang berbicara tentang aturan sepele seperti soal jam makan atau jam tidur, tapi maknanya begitu berat dan menakutkan. Pria ini benar-benar menganggapnya sebagai barang yang harus dijaga ketat, dikunci, dan dijauhkan dari jangkauan siapa pun. Sifat posesifnya bukan sekadar rasa cemburu biasa, melainkan sebuah kepemilikan mutlak yang berakar dari kekuasaan tak terbatas yang dia miliki.
"Kau benar-benar gila, Davian," ucap Grey pelan, namun kali ini suaranya tidak lagi setajam sebelumnya. Rasa lelah mulai merayapi tubuhnya, bercampur dengan rasa bingung yang semakin dalam. "Kau pikir kau bisa mengurungku di sini selamanya? Menganggapku sebagai barang berharga yang harus dikunci di dalam kotak kaca? Aku manusia, aku punya keinginan, aku punya kebebasan."
Davian berhenti berjalan tepat di depan pintu kayu besar di lantai atas. Dia berbalik, menghadap Grey sepenuhnya. Di bawah cahaya lampu gantung yang bergantung tinggi di langit-langit, wajah pria itu tampak lebih keras dan lebih mendominasi dari sebelumnya. Dia mengangkat tangan bebasnya, menyentuh pipi Grey, mengusapnya perlahan dengan pandangan yang begitu tajam seolah ingin menghafal setiap inci wajah itu.
"Selamanya adalah waktu yang sangat lama, Sayang. Dan aku berharap sekali kita bisa menghabiskannya bersama-sama di sini," jawab Davian rendah, nadanya berubah menjadi lebih berat dan penuh penekanan. "Dan dengarkan baik-baik, Grey Cha Lavian. Kau bukan sekadar barang berharga bagiku. Kau adalah satu-satunya hal yang paling berharga yang pernah kumiliki. Dan karena kau sangat berharga, maka kau harus dijaga. Kau harus dijaga dari laki-laki sampah yang hanya menginginkan tubuhmu, dijaga dari bahaya di luar sana yang bisa menyakitimu, dan dijaga dari dirimu sendiri yang terlalu suka bermain api tanpa memikirkan akibatnya."
Dia menundukkan wajahnya sedikit, mendekatkan bibirnya tepat di depan bibir Grey, membuat gadis itu terpaksa menengadah untuk menatapnya. Napas hangat Davian menyentuh kulit wajahnya, membuat jantungnya kembali berdebar kencang—perasaan campur aduk antara ingin mendorongnya menjauh dan ingin merasakan kedekatan itu lebih lama.
"Di tempat ini, ada aturan yang harus kau taati. Tidak ada negosiasi, tidak ada pengecualian. Jika kau mau hidup nyaman, aman, dan dicintai olehku dengan segala yang aku punya… maka kau harus patuh. Mengerti?"
Grey mengerutkan keningnya, matanya menyala kembali dengan api perlawanan yang belum sepenuhnya padam. Dia mendorong dada bidang itu sedikit, meski rasanya seperti mendorong tembok batu yang tak bergeming.
"Aku bukan anak kecil yang perlu diatur dengan peraturan kaku! Dan aku tidak pernah patuh pada siapa pun, ingat itu!" serunya berapi-api.
Davian justru tersenyum tipis, senyum yang terlihat mengerikan namun juga memikat. Dia tidak marah. Justru kemarahan dan sifat keras kepala Grey seolah menjadi bahan bakar yang semakin membuat rasa ingin memilikinya tumbuh besar di dada pria itu.
"Kita akan latih itu pelan-pelan. Kau akan belajar untuk patuh padaku, Grey. Percayalah, pada akhirnya, mulutmu mungkin masih banyak bicara, tapi hatimu dan tubuhmu akan tahu persis siapa tuannya," ucap Davian dengan penuh keyakinan. Dia lalu memutar gagang pintu di sampingnya dan mendorongnya hingga terbuka lebar.
"Masuk."
Grey melangkah masuk dengan enggan, dan matanya langsung terbelalak melihat isi ruangan itu. Itu adalah kamar tidur yang sangat luas, hampir sebesar rumah biasa. Perabotannya serba mewah, didominasi warna hitam, emas, dan krem yang memberikan kesan megah namun dingin. Di tengah ruangan ada tempat tidur besar dengan penutup kain beludru tebal yang tampak sangat empuk. Di sisi lain ada ruang ganti yang terbuka, penuh dengan pakaian-pakaian berlabel mahal yang entah kapan dan bagaimana Davian bisa mengumpulkannya di sana—semuanya berukuran pas untuk tubuh Grey.
Grey berbalik menatap Davian dengan tatapan tak percaya. "Kau… kau sudah menyiapkan semuanya ini? Kau sudah merencanakan ini jauh-jauh hari sebelum kita bertemu malam ini?"
Davian menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Bunyi klik halus itu terdengar sangat jelas di telinga Grey. Pria itu berjalan santai ke arahnya, melewati lemari-lemari besar dan meja rias yang indah, hingga dia berdiri tepat di hadapan gadis itu lagi.
"Aku tidak merencanakan pertemuan kita, Grey. Pertemuan itu takdir yang mengatur. Tapi begitu aku melihatmu, begitu aku tahu siapa kamu… aku tahu, kau adalah milikku. Dan ketika aku menginginkan sesuatu, aku akan menyiapkan segalanya agar sesuatu itu nyaman dan sempurna saat sudah ada di tanganku. Pakaian-pakaian itu, sepatu-sepatu itu, perhiasan-perhiasan itu… semuanya milikmu sekarang. Kau boleh memakai apa saja, sesuka hatimu. Itu satu-satunya kebebasan yang akan aku berikan padamu di sini: kebebasan untuk berpakaian indah agar hanya aku yang bisa melihat keindahanmu."
Grey menggeleng pelan, merasa kewalahan. Semua kemewahan ini, semua perhatian ini… seharusnya membuat wanita mana pun tersanjung, tapi bagi Grey yang mencintai kebebasan, semua ini terasa seperti rantai yang terbuat dari emas berlian—indah, tapi tetap saja mengikat.
"Aku tidak butuh semua ini, Davian. Aku hanya butuh kebebasanku. Aku hanya ingin bisa pergi ke mana saja aku mau, bertemu siapa saja yang aku suka, dan hidup seperti dulu," ucapnya lirih, suaranya sedikit bergetar.
Wajah Davian kembali berubah menjadi serius. Dia menarik Grey mendekat, membiarkan tubuh mungil itu bersandar sepenuhnya pada dadanya yang kokoh. Dia memegang kedua bahu gadis itu dengan kedua tangannya, menatap lurus ke dalam mata abu-abu yang mulai tampak berkaca-kaca itu.
"Dengar aku baik-baik. Hidupmu yang dulu sudah selesai. Hidup di mana kau bisa bermain-main dengan perasaan laki-laki, hidup di mana kau membiarkan mata asing menelanjangimu dengan pandangan kotor… itu sudah berakhir. Mulai hari ini, kau hidup untukku, dan hanya untukku. Aturan-aturanmu sederhana, dan kau harus menghafalnya sekarang juga."
Dia berhenti sejenak, memastikan tatapan Grey terkunci padanya.
"Pertama: Kau tidak boleh pergi keluar rumah ini tanpa ditemani olehku atau orang yang aku percayai. Dan itu pun hanya akan terjadi jika aku mengizinkan. Kedua: Kau tidak boleh menerima telepon, pesan, atau bertemu dengan laki-laki mana pun—baik itu teman lama, mantan kekasih, atau siapa pun. Semua hubungan laki-lakimu sudah putus sejak detik ini. Ketiga: Kau harus selalu memberitahuku ke mana kau pergi di dalam rumah ini, apa yang kau lakukan, dan dengan siapa kau berbicara. Aku ingin tahu setiap detik hidupmu. Dan keempat… yang paling penting: Kau tidak boleh menyembunyikan apa pun dariku, dan kau tidak boleh memiliki rahasia. Hidupmu, tubuhmu, pikiranmu, dan hatimu… semuanya harus terbuka sepenuhnya untukku."
Grey merasa napasnya sesak mendengar aturan-aturan itu. Itu bukan sekadar aturan, itu adalah perampasan total atas seluruh dirinya.
"Itu… itu tidak masuk akal! Kau ingin menguasai seluruh jiwa dan ragaku? Kau ingin membuatku menjadi boneka yang hanya bergerak sesuai keinginanmu?" seru Grey, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman bahu itu, namun sia-sia.
"Ya," jawab Davian singkat dan tegas, tanpa ragu sedikit pun. "Aku memang ingin begitu. Dan percayalah, Grey… aku bukan hanya akan menguasaimu. Aku akan memanjakanmu, aku akan melindungimu, aku akan memberimu segalanya yang tidak pernah bisa diberikan oleh laki-laki lain. Tapi sebagai gantinya, kau harus menjadi milikku sepenuhnya. Tanpa sisa."
Dia menundukkan kepalanya, mencium kening Grey dengan ciuman yang berat dan panjang, seolah menandai wilayah kekuasaannya.
"Kau mungkin benci aku sekarang karena aku terlalu mengikatmu. Tapi nanti, kau akan mengerti. Kau akan mengerti bahwa rasa posesifku ini adalah bentuk cinta yang paling murni dan paling besar yang pernah ada. Aku tidak membagi, Grey. Aku tidak berbagi apa pun, dan terutama… aku tidak akan pernah berbagi kamu dengan siapa pun di dunia ini."
Davian melepaskan bahu Grey, lalu berbalik berjalan menuju sisi tempat tidur besar itu, mulai membuka kancing jasnya satu per satu dengan gerakan santai namun penuh wibawa.
"Cukup untuk pembicaraan malam ini. Kau pasti lelah. Mandilah, ganti pakaianmu. Di kamar mandi sudah tersedia semua yang kau butuhkan. Dan ingat satu hal lagi…"
Dia berhenti bergerak, menoleh kembali ke arah Grey dengan pandangan yang gelap dan berbahaya, namun juga penuh kepemilikan yang mendalam.
"Kamar ini adalah kamarku, dan sekarang menjadi kamarmu juga. Tempat tidur ini adalah tempat tidurku, dan sekarang menjadi tempat tidurmu juga. Kau tidur di sini, di sampingku, setiap malam. Jangan pernah berpikir untuk mencari kamar lain atau mengunci pintu apa pun dariku. Karena pintu apa pun di rumah ini tidak akan pernah bisa tertutup rapat untukku, dan tidak ada tempat persembunyian bagimu di sini. Kau selalu dalam jangkauanku, selalu dalam pandanganku."
Grey berdiri terpaku di tengah ruangan, merasakan betapa lengkapnya dia sudah terperangkap. Dia melihat sekeliling, melihat kemewahan yang mengelilinginya, dan melihat pria yang kini sedang menatapnya seolah dia adalah satu-satunya cahaya di dalam hidupnya yang gelap.
Dia marah, dia kesal, dia merasa dikhianati oleh nasib. Tapi di dasar hatinya yang paling dalam, ada rasa dingin yang menyenangkan yang menjalar, rasa aneh karena begitu sangat diinginkan, begitu sangat dicari, dan begitu sangat dimiliki oleh seseorang yang berkuasa seperti Davian.
Malam itu, Grey menyadari bahwa perang baru saja dimulai. Perang antara kebebasan yang dia cintai melawan ikatan cinta yang berbahaya namun tak terbantahkan dari seorang mafia yang sangat posesif ini. Dan dia tidak tahu, apakah dia akan memenangkan perang ini, atau dia justru akan menyerah sepenuhnya, melemparkan seluruh dirinya ke dalam pelukan pria itu selamanya.
(Lanjut ke Bab 4)